Rabu, 18 November 2009

Menjadi Pejuang, 17 Kisah Inspiratif Aktivis IPM

Judul : MENJADI AKTIVIS, 17 Kisah Inspiratif Aktivis IPM
Penulis : Para Aktivis IPM
Kata Pengantar: Ridho Al-Hamdi
Penerbit : Bidang PIP PP IPM
Cetakan 1 : Desember 2009
Harga : 25.000,-


SINOPSIS
Buku ini merupakan karya pertama kali dalam sejarah pergerakan IPM/IRM sejak kelahirannya 1961 yang berkisah tentang pasang-surut perjalanan menjadi seorang aktivis. Kisah-kisahnya langsung dialami dan ditulis oleh para aktivisnya yang sedang menjadi sang pejuang.

Gaya bahasanya sederhana, renyah, berdasarkan pengalaman, serta memiliki semangat bahwa mereka harus memiliki karya. Inilah bukti bahwa mereka telah mewujudkan semangat Gerakan Iqra, yakni gerakan gemar membaca dan aktif menulis. Buku ini layak dimiliki dan dibaca!
***

BAGAIMANA MEREKA BERKOMENTAR?
Mentradisikan menulis imaginatif oleh pelaku kepemimpinan kemudian dibukukan dan dipublikasikan ke kalangan luas adalah karya berkeadaban tinggi, malah lebih bermartabat daripada mereka yang memoles wajah kepemimpinannya dengan hipokrisi dan menyesakkan nafas itu. Selamat kepada para aktivis IPM atas kreativitasnya yang elegan dan cerdas.
Drs. M. Busyro Muqoddas, M.Hum
Ketua PP IPM Periode 1975-1979,
kini Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia

Sebuah kisah yang ditulis dengan gaya pelajar. Mengingatkan kembali saat saya masih belajar berjuang di IPM dulu. Patut dibaca oleh semua aktivis maupun alumni IPM.
Dr. Khoiruddin Bashori, Ketua Umum PP IPM Periode 1986-1989

Tulisan-tulisan di dalam buku ini membuktikan bahwa mereka telah berkarya melalui kreativitasnya yang unik. Sebenarnya masih banyak penulis-penulis dari kalangan aktivis IPM. Hanya saja mereka belum berani tampil atau karena kita belum tau saja.
Raja Juli Antoni, MA
Ketua Umum PP IRM Periode 2000-2002,
kini Direktur Eksekutif Maarif Institute Jakarta

Kamis, 13 Agustus 2009

Santri Sableng

Judul : SANTRI SABLENG
Penulis : Ridho Al-Hamdi
Kata Pengantar: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU
Penerbit : Leutika Yogyakarta
Cetakan 1 : Oktober 2009
Harga : 35.000,- (Diskon 20 %)

SINOPSIS
Kita pasti ingat dengan Wiro Sableng, tokoh ndagel dan pemilik kapak geni 212. Walaupun terkesan selenge’an, tapi dia sosok yang cinta damai, pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan di muka bumi ini. Karakter tersebut tak jauh berbeda dengan Santri Sableng yang ditokohkan Ridho Al-Hamdi melalui buku ini.

Pesantren kerap dilekatkan dengan sekelompok anak muda berkopiah, bersarung, berjilbab yang membawa Al-Qur’an atau buku-buku Arab, yang fasih berbahasa Arab, dan lain sebagainya. Namun, penulis buku ini melukiskan sosok santri yang lain, yaitu santri yang melakukan kritik terhadap segala kejanggalan yang terjadi di bumi pesantren, baik dari sistem pengajarannya yang masih memasung kreativitas anak, kehidupan sehari-hari yang jorok, pelajaran akidah yang tidak “membumi” hingga santri yang suka sesama jenis alias homreng (homo bareng, hehehe). Nampaknya kita masih terlalu mensucikan pesantren sehingga “borok-borok”-nya terlupakan.

Buku ini cocok buat kalian yang doyan baca buku, pemerhati dan pengamat pendidikan, pengajar di pesantren, wali santri, para santri, dan siapa aja yang ingin melihat pesantren dari sudut yang berbeda.

***

KOMENTAR-KOMENTAR
Buku ini wajib dibaca oleh para orang tua untuk bisa lebih memahami anak-anak mereka yang sejak lulus SD sudah dikirim ke pesantren. Bagi pengelola pendidikan, khususnya pendidikan Islam, tulisan ini penting dibaca untuk menyelami dunia batin anak-anak selama mereka menjalani hidup di pesantren.
Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, SU., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Melalui tokohnya yang ndagel, penulis buku ini menggambarkan dengan berani dan kreatif tentang dapur pesantren. Pengalaman yang dikemukakannya akan banyak menginspirasi banyak orang.
Nur Khalik Ridwan, Kaum Muda NU, Penulis Buku “Islam Borjuis”

Anda akan memperoleh banyak hal baru. Penulis berhasil menyibak dunia yang selama ini tersembunyi di balik kehidupan pondok pesantren. Buku ini kaya kisah-kisah unik, kocak, menggugah, dan penuh hikmah. Pembaca dapat memetik pesan tanpa bersusah payah, karena buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan renyah sehingga mudah dipahami.
Miftachul Huda, Penulis buku

Buku yang tidak biasa. Menampakkan sisi lain dari santri dan pesantren. Bayangkan saja ada sub-judul ‘Takut Sodomi’ dan ‘Ada Kyai Cabul, Ada Kyai Poligami’. Sesuai judulnya, buku ini betul-betul sableng, tapi perlu dibaca.
Dr. Agus Nuryatno, Alumni Ponpes Gontor Ponorogo dan McGill University of Canada

Senin, 29 Juni 2009

Terbit Buku: JOGJA EDAN, BRO!


Judul : Jogja Edan, Bro!
Penulis : Ridho "Bukan" Rhoma
Penerbit : Leutika Yogyakarta
Cetakan 1 : Juli 2009
Harga : 30.000,- (Diskon 20 %)

Jangan hanya melihat Jogja sebagai kota pendidikan, karena banyak tempat pendidikan. Tapi di baliknya ada yang membuat kita terkejut. Setidaknya setelah kita membaca buku ini. Ada hal yang tak kita ketahui, tapi tak bisa ditutupi. Jogja barangkali bisa dilihat dengan kacamata kehidupan.
Arwan Tuti Artha, Wartawan Harian Kedaulatan Rakyat


Kenali Jogja lebih dalam melalui buku ini. Penulis menyajikan sebuah fakta bukan basa-basi, agar kita bersama bisa menjaga Jogja untuk jauh lebih baik sebagai kota pelajar dan kota budaya. Semoga dengan buku ini menjadi PR kita untuk memasyarakatkan pendidikan mental positif.
Diah Safitri Rs, International Trainer, Owner Tiens Centre Jogja

Buku ini Menarik untuk disimak terutama bagi penggemar 'Dunia Bawah Tanah' , karena menceritakan sisi lain dari samudera kebijakan sosial masyarakat Jogja yang mulai tergerus oleh putara zaman. Meskipun kisahnya mungkin sudah sering kita baca dan dengar dari berbagai sumber, namun Ridho bershasil mengungkapkannya melalui riset sederhana secara detail dengan bahasa khas anak musa masa kini.
M. Afnan Hadikusumo, Anggota DPD RI


Mengupas tentang ”sisi lain” Jogja yang perlu direnungkan tapi tak lepas dari perdebatan. Ini interupsi kecil yang patut didengarkan tapi jangan dihakimi!
Achmad Munif, Penulis Novel ”Perempuan Jogja”

Jogja sekarang bukan lagi kasur tua yang apak sebagaimana pernah dikatakan Rendra di tahun 70-an. Jogja sekarang kasur empuk yang wangi penuh goda dan pesona. Bagi yang ingin jadi pemuja nikmat dan syahwat dapat belajar di berbagai ‘situs’ seronok di sini.
Musthofa W. Hasyim, Aktivis Sastra, Seni, dan Budaya di Jogja

Kamis, 11 Juni 2009

Terbit: Buku Baru "Budaya Pop"


Judul : Berhala Itu Bernama Budaya Pop
Penulis : Ridho "Bukan" Rhoma
Penerbit : Leutika Yogyakarta
Cetakan 1 : Juni 2009
Harga : 27.000,- (Diskon 20 %)

Di zaman goblogisasi dan gombalisasi ini, manusia modern semakin tidak bisa bebas bergerak. Mereka sudah mulai tergantung, lebih tepatnya kecanduan, dengan produk-produk modern yang sebenarnya buatan mereka sendiri. Sebut saja tivi, HP, game, alat-alat kosmetik (khusus para ladies), butik-butik kecantikan, internet, dan sederet produk lainnya. Peran media sangat penting dalam hal ini untuk menciptakan image pasar.

Itulah yang disebut budaya pop. Budaya yang kini telah berubah wujud menjadi berhala yang disembah-sembah. Berhala itu kini bukan ditakuti, tapi justru disenangi dan digandrungi menjadi pujaan hati. Buku ini dipenuh juga gambar-gambar kartu yang lucu dan gokil. Dipersembahkan buat meraka yang suka memlototi tivi. Buat yang suka mencet-mencet HP. Buat yang gandrung ngegame. Buat yang suka nongkrong di Mall and cafe. Buat yang suka bergaya ama fesyen. Buat yang suka bersolek ama alat-alat kosmetik. Buat netters (pecandu internet), serta mereka yang doyan googling dan yang dah jadi Jemaat Al-Facebookiyah.
***

Buku ini menarik untuk tidak sekadar dibaca, tapi menjadi renungan. Sebuah renungan yang akan membangunkan kita bahwa ‘nalar dan kesadaran’ kritis memang tak mudah ditidurkan begitu saja. Ridho memancing kita untuk mengusut keyakinan kita. Nyatanya hidup dalam budaya pop tak sekadar disiasati tapi juga butuh perlawanan tangguh. Ia menjadi salah satu sosok muda yang berusaha untuk membaca dengan ‘tafsir baru’ atas budaya pop.

Eko Prasetyo, Penulis Buku Serial Dilarang Miskin

Minggu, 19 April 2009

Lama Gak Nulis di Blog

Eh, dah lama nih aq gak nulis di sini..
nih psti gara2 da Facebook...
Juga tugas kul pasca yg buanyakk bgt.. english lg..
duh, jd bejubel deh kerjaannya..
kadang penat jg
tp so what gitu lho.. jalani aja.. smua pst jalan..
oh ya, td da ikan paus yg terdampar di Radja FM.. anaknya jg ada lg, ha, ha...
Dasar tuh ikan, terdampar kok gak ngomong2.. kan bs kontak media tuh.. minimal IPM.or.id. muhammadiyah.or.id. atau kuntum dan gudeg...
..
aq ikut nulis kyk gini biz baca kambing jantan.. pinter jg tuh bahasanya.. ngacau n gokil abis emang..
so, tulisan ini beda bgt sm sblmnya yaw.. he, he..

Minggu, 19 april 09

Senin, 09 Maret 2009

Fatsun Politik Muhammadiyah


Muhammadiyah memiliki hajat bernama tanwir yang akan diadakan pada tanggal 5-8 Maret 2009 di Bandar Lampung, sebuah forum terbesar di Muhammadiyah setelah muktamar. Salah satu agenda besar yang akan dibahas adalah meneguhkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam menuju terciptanya masyarakat yang mandiri dan berkeadaban. Sebulan kemudian, tepat 9 April 2009, pesta demokrasi digelar di republik ini untuk memilih para anggota legislatif. Jarak yang tidak jauh antara tanwir dan pemilu, apalagi tanwir diadakan sebelum pemilu.

Sebagai organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk mengarahkan masa depan negeri ini. Apalagi tema dalam tanwir adalah membangun visi dan karakter bangsa. Sebuah momentum yang cukup tepat bagi Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam menuntun jalannya demokrasi di negeri ini. Selain itu, kader-kader Muhammadiyah sudah tersebar di berbagai sektor pemerintahan, sehingga kualitas dan kapabilitas mereka perlu dikembangkan ke jenjang yang lebih luas lagi. Kader Muhammadiyah juga kader bangsa, sehingga bukan menjadi sesuatu yang mengherankan jika ada kader Muhammadiyah yang berkontestasi di tingkat nasional. Toh, dia juga warga negera Indonesia yang memiliki hak sama dengan warga negara lain yang non Muhammadiyah.

Jika pada pemilu 2004, Muhammadiyah memiliki kader yang maju sebagai salah satu kandidat presiden, mengapa pada pemilu 2009 ini tidak berperan juga. Ini bukan berarti ingin mengulangi kesalahan, tetapi justru belajar dari sejarah untuk menciptakan sejarah baru. Realitas lahirnya Partai Matahari Bangsa merupakan bentuk ’kekecewaan’ terhadap Partai Amanat Nasional yang selama ini tidak bisa menampung aspirasi warga Muhammadiyah, padahal pendiri partai berwarna biru ini adalah mantan ketua umum Muhammadiyah.

Atas dasar realitas di atas, muncul egoisme di kalangan elit gerakan ini, mengapa kader Muhammadiyah tidak maju sebagai salah satu kandidat presiden? Di antara para pimpinan Muhammadiyah yang popularitasnya cukup tinggi adalah Dien Syamsuddin, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Popularitasnya sebagai cendikiawan muslim tidak hanya terdengar di Indonesia saja, gaungnya bahkan hingga ke taraf internasional. Sebuah modal sosial yang cukup kuat untuk berkontestasi dengan para pesaing lainnya.

Gelombang demokrasi membuka kran bagi semua warga negara untuk terlibat sebagai pemain baik di tingkat lokal maupun nasional. Kalaupun hanya sekadar menjadi penonton, harus menjadi penonton yang kritis. Di antara salah satu pemain ataupun penonton itu pasti ada warga Muhammadiyah. Namun, Muhammadiyah sudah sejak lama menetapkan garisnya untuk tidak berpolitik praktis, tetapi tetap menghormati dan tidak buta terhadap politik. Jika berpolitik praktis, maka imbasnya akan terseret pada struktur Muhammadiyah itu sendiri.

Sebagai contoh, jika ada ketua PWM yang maju sebagai calon legislatif dan dia menang dalam pemilihan, maka akan muncul logika di masyarakat bahwa untuk mendapatkan kursi legislatif tidak harus kemana-mana (apalagi mengeluarkan banyak biaya), tetapi cukup merebut kursi ketua PWM saja. Lalu, untuk merebut kursi ketua PWM harus melalui tahap persaingan ketat di antara para calon yang bersaing. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi segala cara untuk mendapatkan jabatan ketua PWM, termasuk money politic dan black campaign di antara para calon. Jika hal ini terjadi, struktur Muhammadiyah akan terseok-seok.

Karena itulah, melihat adanya perkembangan tersebut, Muhammadiyah mengeluarkan surat keputusan tentang pelarangan bagi pimpinan Muhammadiyah, ortom, dan amal usaha untuk terlibat dalam politik praktis yaitu maju sebagai calon legislatif, kepala daerah, ataupun DPD. Jika para kadernya tetap maju, maka harus meninggalkan jabatannya di struktur Muhammadiyah. Di samping itu pula, Muhammadiyah mungkin belajar pada sejarah bahwa di pemilu 2004 telah gagal menghantarkan kadernya menuju kursi RI satu, maka sejarah itu jangan berulang lagi. Sebagian opini publik mengatakan, bahwa orang sekaliber tokoh reformasi Amien Rais saja kalah, apalagi orang lain.

Sebagaimana kita tahu, bahwa Dien Syamsuddin sudah bergegas akan maju menjadi salah satu kandidat yang akan meramaikan bursa calon presiden ketujuh di republik ini. Hal ini terus menjadi perbicangan liar di internal Muhammadiyah. ’Bola liar’ itu seperti tak berpangkal. Ada beberapa hal catatan penting yang dikemukakan di sini. Pertama, Muktamar Muhammadiyah Malang 2005 melahirkan adanya kontrak moral di antara ketigabelas pimpinan Muhammadiyah yang terpilih (berikut tanda tangannya), bahwa mereka akan mengabdi di Muhammadiyah hingga akhir periode. Artinya, mereka semua telah berkomitmen atau mewakafkan diri untuk benar-benar berjuang di Muhammadiyah.

Kedua, realitas saat ini mengatakan bahwa Muhammadiyah belum memberikan restu kepada Dien untuk maju sebagai capres, terutama di kalangan elit. Ketiga, partai yang mengusung Dien maju sebagai calon presiden bukanlah partai besar yang sudah teruji pada pemilu-pemilu sebelumnya, apalagi basis suaranya belum bisa dibuktikan secara konkrit. Sebagian masyarakat mengatakan, partai pengusung Dien adalah partai pecahan dan setiap partai pecahan biasaya sulit untuk menjadi partai besar. Keempat, kader-kader Muhammadiyah tersebar di parelemen dan partai yang berbeda-beda, sehingga menjadi sulit bagi Dien untuk bisa merangkul mereka dan membulatkan suara pada satu fokus isu. Kelima, kecenderungan pemilih warga Muhammadiyah adalah pemilih rasional (rational voter), walaupun masih ada sebagian yang cenderung ideologis.

Tanwir yang akan berlangsung pada awal Maret nanti merupkan arena netral yang siapa saja bisa memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Karena itu, sebelum itu semua terjadi, kita jangan mempolitisir tanwir sebagai ajang untuk merapatkan isu tertentu, misal pencalonan presiden. Tanwir merupakan forum yang dihadiri oleh semua perwakilan wilayah, maka hendaklah forum ini dijadikan sebagai arena untuk membangun negeri ini menjadi negeri yang memiliki karakter yang bermartabat di hadapan semua negara.

Tujuan di atas jauh lebih mulia daripada tujuan-tujuan pragmatis yang kepentingannya hanya sesaat. Jangan sekali-kali menodai tanwir dengan kepentingan politik praktis segelintir orang. Muhammadiyah jangan terlalu lelah dan kehabisan energi pada tahun yang serba demokrasi ini, karena Muhammadiyah memilik fatsun dalam berpolitik. Masih ada pekerjaan rumah yang akan menanti, yaitu Muktamar Muhammadiyah 2010 yang agendanya jauh lebih besar dan tentu menguras pemikiran yang sangat mendalam. Pada muktamar satu abad inilah, pikiran-pikiran Ahmad Dahlan akan diformulasikan ulang untuk menginjak pada abad kedua. Kiranya Dien dan warga Muhammadiyah bisa memahami realitas ini.

Ridho Al-Hamdi
Mahasiswa Pascasarjan Ilmu Politik UGM

Sabtu, 07 Maret 2009

Dan Humor pun Harus Kritis

Dunia lawak Indonesia semakin marak dengan hadirnya jenis lawakan baru berupa musik humor. Hal itu ditandai dengan kesuksesan grup musik humor asal Surakarta, Team Lo, yang mengusung tema-tema humor menggelitik. Keadaan tersebut semakin menemukan jati dirinya setelah sering muncul sebagai band tamu di acara Audisi Pelawak Indonesia (API) oleh stasion televisi swasta TPI. Lagu-lagu yang dibawakan sangat beragam. Namun, tetap bernuansa plesetan. Mulai dari rock, pop, Islami, melayu, hingga lagu-lagu daerah.

Melawak di televisi adalah melawak yang paling berat, karena harus melayani berbagai macam selera. Ia harus mampu menghibur anak umur tujuh tahun hingga kakek-kakek, yang lulusan S-3 maupun yang tidak pernah mencium bau sekolah. Ia juga harus menghibur orang yang senang kritik sosial sampai orang yang senang dengan lelucon timpuk-timpukan.

Bagi sebagian orang, dunia lawak dijadikan sebagai tempat pencarian nafkah. Jika tahun sebelum 70-an diadakan lomba lawak, pesertanya bisa dihitung dengan jari. Tapi, sejak tahun 80-an, peserta lomba lawak selalu berjubel pesertanya. Banyak orang berminat menjadi pelawak. Sekarang humor bisa di atas satu milyar. Orang menjadi terkesima hanya menjual lelucon sekitar 20 menit. Itu pun tidak seluruhnya lucu. Honornya betul-betul edan. Siapa yang tidak ngiler. Tiba-tiba pelawak melesat masuk ke dalam kelas ekonomi atas. Barangkali inilah yang dituntut masyarakat, honor tinggi, harus menampilkan lawakan yang berkualitas tinggi pula.

Dengan diiming-imingi duit, banyak orang berbondong-bondong membuat grup lawak. Hal ini muncul sekitar tahun 90-an. Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada anggapan, lawakan sekarang tidak lucu dan hanya dilucu-lucukan. Pernyataan ini amat sederhana, tetapi mengandung sebuah tuntutan lebih. Kebutuhan akan tertawa tidak saja terkekeh-kekeh, namun harus mempunyai muatan tertentu. Istilah sekarang, ikut berperan mendidik bangsa. Masyarakat kita semakin kritis, sehingga diperlukan pula humor yang kritis.

Berbagai pihak nampaknya mulai sepakat. Ada kecenderungan bahwa lawak yang berkelas atas adalah yang memiliki unsur kritis. Lawak harus menjadi gerakan moral, menjadi semacam kontrol dalam kehidupan bernegara. Maka, lawak harus sedikit menyerempet ke arah politik. Hal yang demikian itu didukung lagi oleh media massa, baik elektronik maupun cetak, yang sering menyiarkan dan memberitakannya. Namun, melawak ke arah politik tidak gampang alias susah. Bahkan sebagian orang mengatakan, susahnya setengah mati.

Makanya, seorang pelawak harus cerdas. Kritik bisa disampaikan lewat canda, agar yang dikritik tidak merasa dikritik. Pelawaklah yang kin tampil untuk menyuarakan keinginan itu. Bisa dikatakan, pelawak itu orang-orang lugu, sehingga kalau menyampaikan sesuatu hanya dianggap melucu, tidak serius. Dengan bahan yang sama nilainya, akan berbeda pengaruhnya jika diucapkan oleh Amin Rais dengan yang meluncur dari mulut Tessy Srimulat.

Dalam pengertian paling dasar, lelucon terjadi karena dua sebab: tak sengaja dan disengaja. Lelucon tak sengaja terjadi begitu saja dan lucu.. Lelucon sengaja merupakan hasil kreasi. Bisa digolongkan sebagai buah karya dan cipta manusia.

Dari beberapa karya lelucon hasil kreasi bisa dilacak "jurus" atau "senjata" yang menjadi pilihan para kreator sebagai alat pengungkapan ekspresinya. Jurus yang digunakan kreator bisa saja berlainan atau sama, namun tiap kreator biasanya berupaya mencapai sesuatu yang khas dan pas untuknya. Di antaranya ada guyon parikena. Isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir. Tapi tidak tajam-tajam amat. Bahkan cenderung sopan. Dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati.

Ada juga satire dan slapstick. Satire sama-sama menyidir, tapi muatan ejekannya lebih banyak. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat tidak mengenakkan. Beberapa karikatur di media barat punya kecenderungan yang kuat ke arah ini. Jika slapstick leluconnya kasar. Orang terjengkang. Kepala dipukul pakai tongkat. Perut diselomot setrika panas. Pendek kata, banal. Lelucon ini sangat efektif untuk memancing tawa masyarakat dari latar belakang pendidikan, sosial, dan ekonomi tertentu. Beberapa film kartun untuk konsumsi anak-anak, juga banyak menampilkan lelucon model ini. Si bebek dilempari benda oleh musuh dan masuk ke mulutnya. Benda itu ternyata granat. Lalu, meledak. Tubuhnya berantakan seperti kain yang diptong-potong. Tak lama kemudian, pulih lagi. Lalu si bebek cengar-cengir balas menyerang lawan.

Selain ketiga jenis lelucon di atas, masih ada jenis lelucon lainnya, seperti sinisme, pelesetan, analogi, surealisme, kelam, olah estetika, eksperimental, apologisme, dan lain sebagainya. Huh, dasar humor. Boleh tertawa asal mingkem.


Ridho Al-Hamdi
Redaktur Majalah Kuntum