<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640</id><updated>2012-01-26T13:24:08.296+07:00</updated><title type='text'>Ridho Al-Hamdi</title><subtitle type='html'>The Failure doesn’t mean we cannot reach anything. At least, we have understood something.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-1116856861242350428</id><published>2012-01-26T12:29:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T12:29:05.618+07:00</updated><title type='text'>MENJADI INSAN BERMARTABAT UNTUK  BANGSA YANG BERMARTABAT</title><content type='html'>Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd&lt;br /&gt;Sidang Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum agung kembali menghampiri kita, yakni Idul Adha 1432 Hijriyah. Hari Raya Qurban. Secara historis, hari ini merupakan peristiwa heroik yang diteladankan oleh panutan kita Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Pada hari ini, jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Allah Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan pagi hari yang mulia ini, izinkan kami menyampaikan khutbah tentang menjadi manusia yang bermartabat untuk bangsa yang bermartabat. Menjadi manusia yang bermartabat berarti menjadi manusia yang memiliki harga diri, tidak mudah diremehkan orang lain bahkan ditakuti lawan, serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, kita menentang segala bentuk kejahatan yang tidak memanusiaan manusia, seperti penjajahan dalam arti fisik maupun non fisik. Dalam pembukaan UUD kita telah dikatakan, bawah segala bentuk penjajahan di atas dunia tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sebagaimana. Karena itulah, menjadi pribadi yang bermartabat harus berani menegakkan dan menunjung tinggi nilai-nilai kebenaran di atas segala-segalanya tanpa pandang bulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hakiki, menjadi manusia yang bermartabat merupakan proses menjadi insan yang bertaqwa. Insan yang bertaqwa adalah hamba yang mendekatkan diri pada Sang Khaliq dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena itu, derajat taqwa tidak memandang kaya atau miskin, presiden atau rakyat jelata, tampan dan cantik atau buruk. Posisi taqwa dapat diraih oleh siapa saja dan dari latar belakang sosial ekonomi apa saja. Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat ayat 13 yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa ayyuhannas inna kholaqnaakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnaakum min syu’uban wa qobaaila lita’aarofuu. Inna akromakum ‘indallahi atqookum. Innallaha ‘alimun khobiir. (Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd&lt;br /&gt;Ma’asyirol mu’minin wal mu'minaat raimakumullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita merefleksikan tentang berbagai peristiwa nasional akhir-akhir ini, kita seolah sulit menemukan sosok manusia yang bermartabat seperti mencari setetes embun di tengah padang pasir yang gersang. Runtuhnya orde otoriter dan berganti dengan orde reformasi diharapkan membawa pada perubahan. Tetapi itu semua seperti dongeng belaka di siang hari. Sudah lebih dari satu dekade orde reformasi berjalan, kita hanya disajikan berbagai sinetron dan sandiwara politik yang kian lama semakin membodohi generasi muda. Para pemimpinnya bukan memberikan sikap teladan, tetapi sibuk memoles diri dengan sejuta atraksi. Kita bisa melihat betapa sibuknya mereka melakukan lawatan studi banding ke berbagai negara di tengah rakyat sedang menderita. Sebagian petinggi di parlemen tetap ngotot melanjutkan pembangunan gedung senayan menjadi gedung supermegah. Sejumlah kasus korupsi yang mahadahsyat yang dilakukan oleh segelintir orang telah juga menggegerkan seantero negeri ini. Begitu juga dengan bentuk pelemahaman terhadap KPK sebagai simbol penegak keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas demikian semakin meyakinkan kita pada syair lagu ciptaan Franky Sahilatua yang berjudul “Perahu Retak”: Dalam salah satu syairnya dikatakan: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;… Tapi ku heran, di tengah perjalanan, muncul lah ketimpangan / Aku heran, aku heran, yang salah dipertahankan / Aku heran, aku heran, yang benar disingkirkan …Tanah pertiwi, anugerah ilahi, jangan ambil sendiri / Tanah pertiwi, anugerah ilahi, jangan makan sendiri / Aku heran, aku heran, satu kenyang seribu kelaparan / Aku heran, aku heran, keserakahan diagungkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd&lt;br /&gt;Jamaah kaum muslimin wal muslimaat yang dimuliakan Allah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi manusia yang bermartabat di era yang serba antah berantah ini bagaikan mencari satrio piningit yang ditunggu-tunggu ummat. Karena itu, tidak ada kata lain, untuk menjadi manusia yang bermartabat harus dimulai dengan kerja keras. Ada tiga cara untuk menjadi kaya. Pertama, lahir dari keluarga raja. Namun, tidak banyak dari kita yang lahir dari kelas bangsawan. Jika kita menempuh dengan cara ini, maka sedikit orang yang akan menjadi kaya. Kedua, menikah dengan keturunan raja. Sayangnya, kerajaan bukanlah mesin produksi yang setiap saat melahirkan anak dan dinikahkan dengan banyak manusia. Cara kedua ini tidak dapat ditempuh oleh semua manusia, karena kebanyakan dari kita tidak dapat menikah dengan keturunan raja. Ketiga, bekerja keras. Hanya dengan cara inilah kita bisa menjadi orang kaya. Dengan kerja keras, kita semakin menghargai hasil jerih payah dari setiap tetes keringat kita. Dari kerja keras pula, kita yakin bahwa manusia dapat meraih hasilnya karena dia telah melewati segala rintangan yang dihadapinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT sendiri sudah berkali-kali mengingatkan pada ummatnya, bahwa Dia tidak akan pernah membebankan pada manusia kecuali manusia itu mampu melakukannya, sebagaimana firmannya: Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha (QS. Al-Baqarah: 286). Karena itu, sesulit apapun pekerjaan yang kita lakukan, kita harus yakin bahwa kita masih dapat melakukannya. Jangan pernah mengatakan “tidak” sebelum melakukannya. Hal yang demikian diperkuat juga dalam firman-Nya QS. Al-Insyirah ayat 5-6 yang berbunyi: Fa inna ma’al ‘usri yusraa. Inna ma’al ‘usri yusraa (Artinya: Maka sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudian. Sekali lagi, bersamaan dengan kesulitan terselip kemudahan). Karena itu, mereka yang menyerah adalah orang-orang yang tidak pandai bersyukur akan karunia yang Allah berikan kepada mereka. Kita tidak sadar, masih banyak orang yang memiliki kelemahan fisik, namun mereka tetap berusaha bahkan berprestasi hingga di tingkat internasional. Allah sendiri sudah mengingatkannya dalam QS. Ibrahim ayat 8 yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain syakartum laa aziidannakum walaain kafartum inna adzabii lasyadiid. (Artinya: Jika engkau bersyukur, maka Aku akan menambahkan lagi kepadamu. Sedangkan jika engkau kufur dari nikmatku, sungguh adzabku sangat pedih). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, setinggi apapun jabatan, kita harus tetap bersyukur pada Sang Khalik dan tetap bersajaha sebagaimana yang dicontohkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX seperti dikisahkan dalam buku Tahta Untuk Rakyat. Suatu ketika (Tahun 1946) Sultan mengendarai mobil jip-nya dari Sleman menuju Jogja. Di tengah jalan, seorang wanita menyetop Sultan dan meminta untuk mengantarkannya ke Pasar Kranggan di Jogja. Sultan kemudian turun dan menolong wanita itu mengangkat barang dagangannya ke atas jip-nya dan mengantarkannya hingga sampai ke tujuan yang dimaksud. Setelah sampai, Sultan membantu menurunkan barang-barang dagangan milik wanita tersebut. Kemudian, ketika wanita itu ingin membayar ongkos, Sultan menolak, terus pergi. Setelah pedagang itu tahu kalau yang mengantarkannya adalah Ngarsa Dalem, ia langsung jatuh pingsan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini menunjukkan, sekalipun seorang raja tetapi tetap memberikan pertolongan kepada sesama manusia dan bahwa perubahan itu harus muncul dari diri kita seperti sebuah ungkapan dari Uskup Anglikan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di kala aku masih kanak-kanak yang penuh imajinasi, aku berkeinginan untuk merubah dunia. Kemudian aku berpikir bahwa itu terlalu sulit buatku. Maka aku turunkan niatku untuk merubah keluargaku saja. Ternyata itu sulit juga bagiku. Dan tatkala aku tiba di pembaringan, aku menyesal mengapa dahulu aku tidak merubah diriku saja, karena dengan aku merubah diriku maka keluargaku, masyarakatku, negaraku bahkan dunia ini pun akan meniru diriku dan mereka akan merubah semuanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd&lt;br /&gt;Hadiri Jamaah Shalat Iedl yang dirahmati Allah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita bisa memahami, bahwa Islam harus dihadirkan sebagai agama yang dapat membentuk manusia yang bermartabat. Jika manusia satu dengan manusia yang lain sudah saling memupuk dirinya menjadi insan yang bermartabat, kita yakin negeri ini akan menjadi negeri yang bermartabat di hadapan negara yang lain. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kita harus dapat menunjukkan panji-panji Islam yang mulia, bukan justru wajah anarkisme sebagaimana kritik Muhammad Abduh, cendikiawan Mesir: Al-Islamu mahjubunun min muslim (Islam itu tertutup bagi umat Muslim sendiri). Islam semakin menjauh dari umat Muslim karena umat Muslim terlalu dangkal dalam memahami nilai-nilai ajaran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, mari kita berdoa bersama-sama kepada Allah SWT agar penduduk negeri ini menjadi insan yang bertaqwa baik di hadapan-Mu maupun di hadapan umat yang lainnya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Pemilik Alam Semesta… Setiap saat kami merasa tidak dapat melaluinya. Kami merasa sendiri dan kehilangan arah. Dunia terasa gelap adanya. Kami tidak tahu jalan mana yang kami dapat melewatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Rahman Ya Rahim… Setiap detik kami telah melakukan banyak kesalahan. Kami merasa tidak bisa bertaubat. Kami bingung terhadap setiap keputusan yang telah kami perbuat. Semua seolah menghantui pikiran dan jiwa kami. Namun, Engkau selalu berpesan: “Jangan pernah menyerah dan putusa asa. Aku selalu ada di sisimu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alim Ya Hakim… Sekalipun kami menjauhi-Mu, engkau selalu dekat dengan kami bahkan lebih dekat dari urat nadi kami. Bimbinglah kami dan jangan biarkan kami menuju jalan kesesatan. Hanya engkau pemberi petunjuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Naskah ini disampaikan pada Khutbah Idhul Adha 1432 H di Halaman SMK Muhammadiyah 2 Muntilan Magelang, 6 November 2011 M.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-1116856861242350428?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/1116856861242350428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=1116856861242350428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1116856861242350428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1116856861242350428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2012/01/menjadi-insan-bermartabat-untuk-bangsa.html' title='MENJADI INSAN BERMARTABAT UNTUK  BANGSA YANG BERMARTABAT'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-4055102474475436793</id><published>2011-07-18T11:47:00.002+07:00</published><updated>2011-07-21T14:28:39.417+07:00</updated><title type='text'>Islam and Politics in the Era of Democracy: The Variants of Political Elite in Muhammadiyah on the Dynamics of Islam Politics of 1998-2010</title><content type='html'>Politically, the collapse of the New Order regime gives opportunities for Islamic interest groups to re-debate the dynamics relationship between Islam (religion) and politics (state). As the political power of moderate group, Muhammadiyah’s elites have strong influence in determining the pattern of Islam-politics relationship. Muhammadiyah’s elites who sat as both executive and legislative position mostly becomes the mediator of various fragmented political power. It can be seen from the facts in which happened recently, for instance, the emergence of the Islamic political parties, the emergence of supporter of the Jakarta Charter as the state principle, and terrorism issue nationwide-which always attached a term of “jihad” as Islamic ‘tradition’ since the birth of Islamic society.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This topic is surely interesting subject to study in particular when the discourse of relationship between Islam and politics has been marginalized along the New Order era by imposing the only legal principle of Pancasila as state ideology within society. This study describes the politics of stream and charismatic leadership of civil society organization by taking a case study of Muhammadiyah. The argument was built in relation to the fragmented political behavior of Muhammadiyah’s elite (period 1998-2010) in response to Islam and political issues. According to Putnam, the characterristic of elites is determined how they influence the decision making process. In very same way, elite here can be understood as Muhammadiyah’s cadre those who officially become leader in Central Board of Muhammadiyah both in Yogyakarta and Jakarta. They generally have strong influences to organizational polices. Moreover, in order to conduct data and information I use a qualitative approach as method-logy of research. The techniques of collecting data are by conducting interviews and analyzing documentation. The collected data then are analyzed and interpreted descriptively to get reliable and validity conclusion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The research findings indicate that politics of stream and charismatic model of leadership in Muhammadiyah doesn’t work effectively. It was proven by some evident by seeing the diversities of political attitude of Muhammadiyah’s elites at certain time. The elite’s attitude alone can be classified into four variations. First of all is the transformative-idealistic-the political attitude which emphasizes on Islam thought with humanity vision in order to resolve social problems. Second is moderate-idealistic-the political attitude which believes in political Islamic is the inevitably requirement. This attitude is not in the extreme position neither right nor left. Third is a realistic-critical-the political attitude which emphasizes on substantial values rather than symbolic values. They avoid violence and formalistic way as the means of propaganda. Last but not least is an accommodative-pragmatic-the political attitude which easily cooperates to everyone and is not in one particular extreme attitude. This attitude is looking forward to seeking political opportunities to attract sympathy from Islamic groups.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally, the variations of elite attitude were deeply influenced by many causes that could be categorized, at least, into two main causes. First is sociological background, such as education, employment, personal relation, and individual political orientation. Second is the organizational factor, such as vision of Muhammadiyah, Muhammadiyah political statements, and historical continuity. In short, each factor basically has its own degree of influence in determining elite attitude related to the political issues.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi, MA&lt;br /&gt;This executive summary submitted in partial fulfillment of the requirement for Master Degree (MA) in Department of Political Science, Islamic State University of Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Advisor is Dr. Dodi Ambardi, MA and Co-Advisor is Dra. Ratnawati, SU.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-4055102474475436793?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/4055102474475436793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=4055102474475436793' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4055102474475436793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4055102474475436793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/07/executive-summary-islam-and-politics-in.html' title='Islam and Politics in the Era of Democracy: The Variants of Political Elite in Muhammadiyah on the Dynamics of Islam Politics of 1998-2010'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-170340857941634529</id><published>2011-07-05T13:39:00.001+07:00</published><updated>2011-07-21T14:29:28.363+07:00</updated><title type='text'>Epistemology of Occidentalism: Study on Hanafi's Thoughts</title><content type='html'>By Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More than two centuries that orientalism was able to construct itself as a civilization has strong power than others. It often called “The West”. While “The East” constructed as a weak civilization and still in inferior position. The dichotomist category causes various critiques from some scholars. Therefore, we need an academic study to balance of orientalism studies. The emergence of Occidentalism as a modern theory will criticize the West (European awareness) from non-West perspective.  As a result, there is a balancing analysis on the civilization. To some extends, this study will focus on Hassan Hanafi’s thoughts particularly on al-Turats wa al-Jadid (the legacies and the modern). Hanafi is an Egypt Scholar who was graduated from Sorbone University of France. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Occidentalism still becomes a modern science that has not fundamental orientation yet. Therefore, I believe that we must analyze it deeply and philosophically. There are some questions must be answered here, such as how is standardization on the truth for Hanafi’s Occidentalism? From which the sources of the Occidentalism obtained? How are the methods for studying on the Occidentalism? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Methodologically, this study uses literature references to explain on the epistemology of Hanafi’s Occidentalism. The prime source is a book with title Muqaddimah fi ‘Ilmi al-Istighrab – Introduction to Occidentalism (Cairo: al-Dar al-Faniah, 1991). In addition, this study uses secondary sources that can to complete the whole analyses. The method for data collecting uses historical continuity, taxonomy analysis as well as interpretation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Above all, the epistemology of Hanafi’s Occidentalism consists of sources, methods, and tolo ukur the truth. The sources of this study is Europe awareness that consists of three steps i.e. construction, structure and the fate of European awareness. This study use two methods i.e. dialectic-historical and phenomenology. For the standardization on truth of this study consists of al-Ana (Self) as a subject from al-Akhar (the others), removing the myth on the cosmopolite civilization, European awareness as an object of study, the self liberation as well as the equality of civilization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The sources of European awareness consist of two things, the published sources and the unpublished sources. The published sources are Greek-Roman and Jewish-Christian. While the unpublished sources are old East and European territorial. The structure of European awareness can be seen into some ideologies such us Nationalism, Atheism, Fascism, Zionism, Nazism and Racialism. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;This executive summary submitted in partial fulfillment of the requirement for Bachelor Degree (S1) in Department of Theology and Philosophy, Islamic State University of Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Advisor is Dr. Alim Roswantoro and Co-Advisor is Dr. Zuhri.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-170340857941634529?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/170340857941634529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=170340857941634529' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/170340857941634529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/170340857941634529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/07/executive-summary-epistemology-of.html' title='Epistemology of Occidentalism: Study on Hanafi&apos;s Thoughts'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-4455759448093596937</id><published>2011-05-25T10:48:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T10:48:30.749+07:00</updated><title type='text'>Membangun dan Mengelola Komunitas</title><content type='html'>Apa Itu Komunitas?&lt;br /&gt;Kelompok sosial dari berbagai lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, mereka dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang sama. Komunitas berasal dari bahasa Latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak” (Wikipedia.org).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran “Gagasan Komunitas” di IPM?&lt;br /&gt;1. Grand narrative “kesadaran kritis” Muktamar IPM 2002&lt;br /&gt;2. Banyaknya pelajar Muhammadiyah termasuk pelajar lainnya yang tidak kenal dengan IPM. &lt;br /&gt;3. Gerakan IPM terkesan struktural, rutinitas, menjenuhkan, dan tidak sesuai dengan selera anak-anak muda sekarang&lt;br /&gt;4. Tantangan zaman yang semakin terus berubah (arus globalisasi: budaya pop)&lt;br /&gt;5. Perlu sebuah breakthrough (terobosan baru) agar IPM tetap eksis dan disukai di kalangan pelajar. &lt;br /&gt;6. Munculnya komunitas-komunitas yang beragam yang lebih disukai daripada IPM, seperti komunitas pecinta alam, komunitas sufi (suka film), komunitas menulis, komunitas online, komunitas etnis, dll&lt;br /&gt;7. IPM periode 2006-2008 mulai menggagas gerakan “IPM base on hobby”. Artinya, membuat program yang sesuai dengan selera anak muda.&lt;br /&gt;8. Bidang PIP PP IPM Periode 2008-2010 memiliki gagasan membuat buku “membentuk dan mengelola komunitas”, tapi gagal belum terlaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Gagasan Komunitas&lt;br /&gt;Gerakan “IPM base on community” ini bertujuan untuk menjawab tantangan zaman di kalangan anak muda, sehingga gerakan komunitas menjadi skoci baru di tengah gerakan IPM yang terkesan struktural, ritual, agar IPM mampu mencapai cita-citanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelola Gerakan Komunitas&lt;br /&gt;Secara struktural gerakan komunitas ini dikelola oleh PD IPM, PC IPM, atau PR IPM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari Membangun Komunitas&lt;br /&gt;1. Kenali potensi pelajar-pelajar di sekitar kita, buatlah angket atau semacam pooling untuk melihat ke arah mana kecenderungan hobi mereka. &lt;br /&gt;2. Adakan pertemuan awal, bahas tujuan komunitas tersebut, dan buatlah mereka seenjoy mungkin untuk berada di komunitas ini. &lt;br /&gt;3. Sebagai pengelola, tidak boleh ada jarak di antara kita. Akrabkan sejak awal agar mereka mereka merasa nyaman berada di komunitas tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola dan Mempertahankan Komunitas&lt;br /&gt;1. Buatlah kegiatan beradasarkan usul dan saran dari anggota komunitas, jangan usul dari pihak luar.&lt;br /&gt;2. Buatlah pertemuan itu secara rutin. Tidak harus sering, yang penting berkesinambungan. &lt;br /&gt;3. Sesekali undang pembicara dari pihak luar yang dapat memotivasi dan memberi energi baru pada anggota komunitas&lt;br /&gt;4. Ada hukum alamiah dalam segala sesuatu, karena hidup penuh dengan pilihan, sehingga sering bergantinya anggota komunitas atau datang dan perginya mereka merupakan bagian dinamika yang harus dihadapi secara bijaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Ridho Al-Hamdi, MA&lt;br /&gt;Mantan Ketua Bidang PIP PP IPM Periode 2008-2010&lt;br /&gt;(Tulisan ini pernah disampaikan dalam acara diskusi rutin yang diselenggarakan oleh PW IPM DIY, sekitar April 2011 di Lt. 2 Gedung PWM DIY)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-4455759448093596937?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/4455759448093596937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=4455759448093596937' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4455759448093596937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4455759448093596937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/05/membangun-dan-mengelola-komunitas.html' title='Membangun dan Mengelola Komunitas'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-912342034665879302</id><published>2011-05-20T11:08:00.002+07:00</published><updated>2011-05-20T11:10:30.597+07:00</updated><title type='text'>Wow, Aku Bisa Menulis</title><content type='html'>&lt;b&gt;Kebiasaaan: Cerita Jordan, Andrea, Sheila on 7&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas setahu saya ditulis pertama kali oleh Hernowo, seorang motivator, penulis ternama Indonesia, serta CEO Mizan Bandung. Judul tulisannya itu pula yang kemudian dijadikan judul buku yang pernah diterbitkan oleh PIP PP IRM Periode 2004-2006 dimana tulisan Hernowo menjadi kata pengantar buku tersebut. Karena itu, berikut ini cuplikan cerita Hernowo tentang Michael Jordan (2007: 9). &lt;br /&gt;Suatu ketika, setelah mencetak pretasi besar dalam sejarah hidupnya sebagai pemain basket, Michael Jordan ditanya oleh seorang wartawan televisi. &lt;br /&gt;“Apa yang membuat Anda mampu menyelesaikan bola hingga mendekati angka 50 poin?”&lt;br /&gt;“Keinginan,” jawab Jordan sembari mata tajamnya menata mata sang wartawan. &lt;br /&gt;“Saya memang mempunyai keinginan untuk mencetak angka yang banyak dalam setiap pertandingan,” lanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan? Apakah hanya keinginan yang mampu memotivasi Jordan untuk berprestasi dalam setiap pertandingan basketnya? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, coba kita lihat teori Stephen R. Covey. Dalam bukunya yang cukup menjadi referensi berbagai kalangan, The Seven Habits, Covey menjelaskan tentang apa yang disebut dengan “habit” atau kebiasaan. Menurutnya, kebiasaan merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), dan keinginan (desire). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga lingkaran itu dipertemukan jadi satu dan di tengah-tengah pertemuan itu diberi arsir dan terciptalah apa yang disebut sebagai KEBIASAAN. Covey mengatakan, Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Ketrampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi (keinginan untuk melakukan). Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus mempunyai ketiga unsur tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kembali ke Jordan. Dia merupakan atlet terbaik yang pernah dilahirkan oleh NBA dan dikenal memiliki ketrampilan sangat tinggi dalam bermain basket. Bahkan nama Jordan sempat disemati dengan sebuah istilah yang hanya dimiliki oleh pesawat terbang: Air Jordan. Dalam sebuah film, Space Jam, Jordan sempat digambarkan sebagai pemain basket yang tidak punya lawan tanding di bumi ini sehingga harus dicarikan lawannya dari planet lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hernowo meyakini, pengetahuan Jordan tentang bola basket juga tak kalah hebat dari ketrampilannya memainkan bola basket itu sendiri. Jordan adalah teladan kedisiplinan, tak kenal kata menyerah, dan pekerja keras dalam meraih sebuah hasil. Lalu, bagaimana dengan keinginan Jordan dalam meraih prestasi tinggi ketika bermain basket? Inilah yang menurut Hernowo menjadi salah satu aspek penting yang dimiliki Jordan. Jarang ada seorang atlet berprestasi yang mengeluarkan pernyataan seperti Jordan. Sebagaimana ditulis oleh Hernowo, yang menjadi pendorong kuat meraih prestasi adalah keinginan. Sekalipun Jordan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang hebat, tetapi tidak memiliki keinginan yang tinggi untuk berprestasi, apa jadinya? Mungkin Jordan tak akan bisa seperti sekarang jika dia tidak memiliki keinginan. Keinginan – meski sulit diprediski bagaimana kita mendapatkan, memilikinya, dan caranya supaya kita punya keinginan – merupakan unsur pembeda yang sangat penting apakah orang hebat satu dengan orang hebat yang lain dapat meraih sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tentu mengenal Andrea Hirata, peraih beasiswa pendidikan ke Eropa, yang menjadi tokoh muda inspiratif disebabkan novel dahsyatnya Laskar Pelangi beserta satu paket tetraloginya yang sempat menyihir jutaan pembaca dan penggemar setianya di tanah air, bahkan hingga mancanegara. Kita bisa memahami, bahwa masih banyak orang yang lebih pintar dan memiliki ketrampilan dahsyat dibandingkan seorang Andrea. Yang membedakan Andrea dan orang-orang hebat itu adalah bahwa Andrea memiliki keinginan yang kuat akan mimpinya yang sudah ditancapkan di dadanya sejak dia kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita yang pernah mengalami perkembangan belantika musik era jelang tahun 2000, Sheila on 7 pernah berjaya saat itu dengan tembang-tembang popnya yang mampu menjadi magnet bagi kaum muda di masanya. Ketika saya pernah mewawancarainya untuk sebuah media sekolah, ada satu hal yang masih saya ingat, yaitu pertanyaan yang pernah saya ajukan kepada band asal Jogja itu. Saat itu saya bertanya, apa rahasia di balik kesuksesan band kalian yang mampu menciptakan lagu-lagu monumental? Kelima anggota yang saat itu digawangi oleh Duta, Eros, Adam, Anton, dan Sakti menjawab tanpa ada perbedaan: Latihan dan kerja keras. Saya bisa menyimpulkan, bahwa latihan dan kerja keras tidak mungkin tercipta tanpa kebiasaan yang dilakukan oleh kelima personilnya. Kedisipilinan menjadi salah satu kunci yang harus ditanamkan dalam diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengapa Kok Kita Menulis?&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Pertanyaan ini menjadi sangat mendasar bagi siapapun yang ingin memulai atau tidak sama sekali tertarik dengan dunia tulis-menulis. Kita akan memulai dari pernyataan, bahwa manusia hidup butuh eksistensi dan pengakuan dari orang lain. Banyak orang yang ketika hidupnya dikenang, dipuja, bahkan diagung-agungkan oleh kebanyakan manusia yang lain. Namun, setelah beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, dan beberapa tahun kemudian, dia dilupakan begitu saja. Sebaliknya, ada orang yang namanya tetap dikenang meskipun sudah puluhan tahun bahkan ratusan dan ribuan tahun orang itu meninggal. Apa yang membuat nama orang itu selalu abadi?&lt;br /&gt;Jawabannya tidak lain adalah karya orang itu selama hidup bagi manusia yang ditinggalkannya. Kita tentu mengenal tiga filsuf ternama asal Yunani yang hidup Sebelum Masehi (SM): Socrates, Plato, dan Aristoteles. Juga dengan empat imam madzhab yang masyhur di kalangan umat Islam: Imam Maliki, Imam Hanbali, Imam Hanafi, dan Imam Syafii. Begitu juga dengan ilmuwan Islam lain seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi, serta kalangan intelektual Islam kontemporer seperti Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Mohammad Abduh, Fazlur Rahman, Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya. Di kalangan ilmuwan psikologi ada Sigmund Frued, di kalangan sosiologi ada Aguste Comte dan Max Weber, serta di kalangan ilmuwan ekonomi Adam Smith. Tak lupa kita juga mengenal Galileo, Newton, dan Albert Einstein. Selain itu, kita juga mengenal tokoh revolusioner seperti Karl Marx yang berkat karyanya Das Capital mampu memberikan inspirasi perubahan bagi orang-orang besar dunia seperti Soekarno, Lenin, Stalin, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Mereka yang kita sebutkan namanya tak lain karena memiliki karya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berkarya pun tak mengenal usia, bahkan sekalipun usia mereka lebih singkat dari yang lainnya, namun nama mereka berpuluh-puluh tahun tetap menjadi inspirasi bagi jutaan pembacanya. Kita ingat dengan Anne Frank yang terkenal dengan buku hariannya yang diberi judul The Diary of Anne Frank dan telah diterjemahkan lebih dari 60 bahasa di dunia, Ahmad Wahib dengan bukunya Pergolakan Pemikiran Islam, dan Soe Hok Gie dengan Catatan Seorang Demonstran. Sekalipun usia mereka tidak lebih dari 30 tahun, bahkan masih belasan tahun, namun nama mereka menjadi inspirator jutaan umat maunisa. Karenanya, banyak karya yang sama sekali tidak dilirik orang ketika penulisnya masih hidup, tetapi menjadi perburuan banyak orang setelah puluhan atau ratusan tahun penulisnya meninggal. Karenanya, tak heran jika Milan Kundera berujar, “Novel yang hidup ketika pengarangnya mati.” Persis ucapan Tan Malaka: “Suaraku akan lebih nyaring dari dalam kuburan.” Atau rintihan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Itulah yang menyebabkan hampir setiap orang ternama pasti selalu memiliki tulisan atau karya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain hal, kita tidak bisa mengenal siapa nama-nama presiden di negara-negara terkenal di dunia ini karena mereka tidak memiliki karya atau pernah menulis buku. Karena itulah Erwin Gruwell, sebagaimana dikisahkan dalam film Freedom Writers, menekankan pada murid-muridnya untuk menulis apa yang selama ini pernah mereka rasakan. Miss G (sebutan murid-muridnya pada guru tercintanya itu) dengan keras mengatakan, mengapa kita hidup harus saling caci-maki, membatasi segalanya secara fisik, serta saling bunuh-membunuh. Apa kita akan dikenang orang setelah kita mati demi membela teman segeng kita? Pertanyaan berupa pernyataan itu menyentak para muridnya sehingga para muridnya memiliki kesadaran untuk tak saling bunuh di antara mereka dan mulai menumpahkan pengalaman-pengalaman mereka ke dalam sebuah tulisan. Dengan adanya tulisan itu, mereka ingin mengatakan bahwa: Kita pernah ada. &lt;br /&gt;Dari sini kita dapat mengerti mengapa menulis itu menjadi bagian dari pilihan hidup. Kita ingat dengan ungkapan bahasa Arab: Khoirunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia yang lainnya). Menulis dan mengungkap fakta adalah salah satu cara kita bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, menulis bukanlah paksaan tapi kebiasaan yang harus kita tanamkan untuk kebaikan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cara Memulai Menulis&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Ada banyak cara bagi kita untuk memulai membiasakan menulis. Namun, cara termudah adalah memulai menulis berdasarkan pengalaman. Jika kita menulis tentang kejadian-kejadian yang pernah kita alami, seolah tangan terasa ekspresif dan memiliki kebebasan mutlak dalam menuangkan kata-kata. Hal ini pun yang pernah saya rasakan. Jujur, saya adalah tipe seorang penulis yang susah dipaksa untuk menulis topic tertentu, apalagi harus merespon fenomena baru yang datang silih berganti. Inilah yang menyebabkan saya mungkin tidak selalu muncul di media massa. But, itulah penulis. Masing-masing memiliki perbedaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis diary atau catatan harian adalah cara termudah bagi kita untuk mulai membiasakan menulis. Dengan menulis catatan harian, kita tidak merasa terbebani atau tiba-tiba kita tidak mendapatkan inspirasi. Dengan menulis catatan harian, kita sekadar menuangkan apa yang telah kita alami. Banyak hal yang unik yang tentu kita alami dalam hidup ini, mulai dari mimpi kita yang aneh-aneh, curhat kita dengan teman dekat, kegilaan dan kegokilan teman-teman di komunitas kita, serta kejadian-kejadian lucu dan unik di sekitar kita. Mungkin kita merasa senang dengan kejadian-kejadian itu, tapi alangkah lebih menariknya jika kejadian-kejadian unik itu kita tumpahkan ke dalam tulisan. Soalnya, beberapa hari kemudian kejadian itu susah untuk kita ingat kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, mungkin tiba-tiba muncul ide di kepala kita saat kita sedang melamun di kamar, nongkrong di WC, atau saat sedang duduk di bis atau di kereta karena perjalanan yang sangat panjang. Bahkan, saya terkadang mendapatkan ide di tengah-tengah sedang dalam keadaan sholat. Saya juga kurang tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Itulah ide, muncul tanpa disangka-sangka dari arah yang tidak bisa ditebak. Jika ide-ide cemerlang itu tidak kita tuangkan, amat sangat disayangkan jika pada akhirnya hilang ditelan oleh sifat pelupa kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penuangan ide, meminjam tulisan yang ada di buku Wow, Aku Bisa Menulis (2007: 32-33), saya sering mengalami hal-hal yang ajaib begitu mulai menekan tombol-tombol huruf di keyboard notebook atau laptop. Saya seolah melancarkan ketikan saya secara bebas seperti seorang yang sedang berselancar di atas laut. Bebas, mengalir, dan cepat tersaji. Pada akhirnya, saya merasakan betapa ada sesuatu muncul dan membentuk kalimat tersendiri seperti “jaringan”. Di dalam jaringan itu ada semacam kabel yang dengan cepat saling terjulur dan saling berhubungan antara satu kabel dengan kabel yang lainnya. Di kepala saya langsung terjadi hubungan dahsyat antara pengalaman yang satu dengan pengalaman yang lainnya. Mengalir cepat dan deras hingga tak terasa tulisan telah banyak. Kalau sudah begini, menulis menjadi sangat asyik dan menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir mayoritas penulis buku-buku bestseller karyanya terinspirasi oleh kisah nyata, bahkan kisah pribadi sang penulis. Nizami dengan Laila Majnun, Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Bumi Manusia, Hilman W. dengan Lupus, Moammar Emka dengan Jakarta Undercover, Iip Wijayanto dengan Sex in the Kos, Muhidin M. Dahlan dengan Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur, Habiburrahman El Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta, Abidah El Khalieqy dengan Perempuan Berkalung Sorban, Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi, Ahmad Fuadi dengan Negeri 5 Menara, Raditya Dika dengan Kambing Jantan dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua memiliki karakter tersendiri dalam menulis dan membawakan alur ceritanya. Karenanya, janganlah kita meremehkan pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami. Sumber inspirasi yang paling terdahsyat di dalam hidup ini adalah pengalaman itu sendiri. Amat disayangkan jika kita melewatkan pengalaman kita dengan begitu saja. Banyak hal yang berharga dari dalam diri kita untuk berbagi pada orang lain yang terkadang kita tidak memahaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membaca untuk Meledakkan Ide&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Ada banyak alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas membaca. Bisa jadi karena dia sudah tertarik dengan judul buku itu sebelumnya, sehingga dia beli ke toko buku dan langsung melibas habis. Ada juga untuk mengisi kekosongan waktu, seperti membawa komik atau bacaan ringan saat pergi ke luar kota karena butuh waktu panjang di perjalanan. Daripada duduk bengong, mending baca buku. Atau bisa jadi membaca buku karena sebuah tuntutan seperti membaca buku-buku teks kuliah. Mau tidak mau kita harus membacanya karena untuk tugas kuliah dan harus dipresentasikan di kelas. Namun, bagaimanapun juga, membaca adalah aktivitas pilihan. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memaksa kita untuk membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada hal yang perlu diingat, bahwa membaca akan memudahkan kita untuk berpikir terbuka. Secara tiba-tiba, bacaan bisa menginspirasi tindakan kita untuk melakukan sesuatu. Selain itu, perbendaharaan kata menjadi semakin kaya, sehingga ketika kita menulis tidak kesusahan dalam memilih diksi atau pilihan kata. Rangkaian tulisan menjadi lebih menarik dibaca orang. Di sinilah apa yang disebut “rasa bahasa” akan terasa dengan sendirinya. Karena itu, mulailah membaca apa saja yang paling kita sukai. Janganlah membatasi bacaan, sehingga membuat diri kita tertutup dengan sebuah keniscayaan dan perbedaan yang merupakan bagian dari rahmat Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca itu ibarat kita makan. Jika kita banyak membaca, keinginan atau permintaan dari dalam diri untuk memuntahkan tulisan itu akan muncul dengan sendirinya. Ide-ide yang bagaikan jejaring itu dengan sendirinya akan mengarahkan pikiran kita untuk memunculkan ide baru lagi. Karena itulah, membaca merupakan bom waktu yang cukup spektakuler bagi para penulis. So, mulailah sejak sekarang untuk mengatakan: WOW, AKU BISA MENULIS! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis dan disampaikan dalam Pelatihan "Calon Peneliti Muda" yang diadakan oleh IMM Cabang Jember, 23 April 2011 di Unmuh Jember, Jawa Timur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-912342034665879302?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/912342034665879302/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=912342034665879302' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/912342034665879302'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/912342034665879302'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/05/kebiasaaan-cerita-jordan-andrea-sheila.html' title='Wow, Aku Bisa Menulis'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-1803432076741313947</id><published>2011-05-18T12:48:00.001+07:00</published><updated>2011-05-18T12:50:10.363+07:00</updated><title type='text'>Gerakan Mahasiswa Islam di Indonesia</title><content type='html'>Gerakan mahasiswa Islam Indonesia merupakan salah satu kekuatan klas sosial di kalangan universitas yang dihimpun oleh kalangan mahasiswa pada jenjang strata satu (S1). Sebagian dari gerakan mahasiswa ini ada yang menjadi organisasi resmi (intra) kampus seperti IMM, tetapi ada juga yang hanya menjadi organisasi tidak resmi (ekstra) kampus. Itu semua tergantung dengan kebijakan universitas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini akan dipaparkan singkat tentang masing-masing gerakan mahasiswa Islam di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lahir pada tanggal 5 Februari 1947 atas prakarsa Lafran Pane dan rekan-rekannya dari STI (Sekolah Tinggi Islam)/ UII di Yogyakarta. Beberapa tokoh HMI yang cukup ternama adalah Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, Amien Rais, Akbar Tandjung, Anas Urbaningrum, dll. Gerakan HMI terpecah menjadi dua kubu ketika rejim Orde baru sedang gencar-gencarnya menanamkan ideologi pancasilanya. Karena itu, bagi mereka yang mendukung pancasila sebagai dasar gerakan mereka menyebutnya ”HMI DIPO”. DIPO merupakan nama lokasi mereka di Jakarta yang artinya Jalan Diponegoro. Sedangkan bagi mereka yang menolak asas pancasila menamakan diri sebagai ”HMI MPO”. MPO: Majelis Penyelamat Organisasi. Pada era Orde Lama, HMI merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa Islam yang cukup militan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Lahir 14 Maret 1964. Para pendirinya adalah Djazman Al-Kindi, A. Sulamo, Sudibyo Markus, Kastolani, Slamet Sukirnanto, Amien Rais, Dzulkabir (dari mahasiswa UGM), Rosyad Sholeh dan A. Muis dari IAIN Yogyakarta. Selain itu, kelahiran IMM sebenarnya merupakan respon atas fenomena akan dibubarkannya HMI oleh rezim yang berkuasa, karena pada saat itu Soekarno telah membubarkan Masyumi sebagai satu-satunya representasi kekuatan politik umat Islam. Mahasiswa-mahasiswa Muhamamdiyah yang tergabung dalam HMI merasa perlu membuat gerakan sendiri mengingat HMI akan dibubarkan. Selain itu, kampus-kampus Muhammadiyah mulai berkembang sehingga perlunya dibuat organisasi Muhammadiyah berbasi mahasiswa. Ciri gerakan IMM adalah pengembangan nalar intelektual sehingga mempunyai motto “Unggul Intelektual, Anggun dalam Moral”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Lahir pada tanggal 17 April 1960 dengan ketua pertamanya Chalid Mawardi dari mahasiswa IAIN. Kemunculan PMII merupakan respon terhadap ketidakterlibatan mereka secara aktif karena pada saat itu HMI lebih dikuasai oleh kalangan mahasiswa reformis-modernis. Selain itu, kelahiran PMII merupakan salah satu dampak dari keluarnya NU dari partai Masyumi. Bagi kalangan HMI, PMII dianggap sebagai pengkhianat atas kesepakatan umat Islam pada tahun 1949 yang mengakui bahwa hanya HMI sebagai satu-satunya gerakan mahasiswa Islam di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI(. Adalah gerakan mahasiswa Islam yang memiliki corak perjuangan Islam yang akhir-akhir ini lebih militant di banding dengan yang lainnya. Bahan bacaan mahasiswanya pun tidak terlepas dari tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Pola pendidikan dan kaderisasinya juga ketat serta lebih memilih paradigma yang cenderung tekstual. Isu-isu yang diangkat pun seputar isu Islam, palestika, lawan Israel-Amerika, dll. Bagi sebagian pengamat, KAMMI merupakan organisasi yang melahirkan kader-kader dakwah dan sebagian yang lain ke jalur politik (PKS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 18 Mei 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-1803432076741313947?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/1803432076741313947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=1803432076741313947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1803432076741313947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1803432076741313947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/05/gerakan-mahasiswa-islam-di-indonesia.html' title='Gerakan Mahasiswa Islam di Indonesia'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7372996034403623211</id><published>2011-04-15T11:00:00.004+07:00</published><updated>2011-04-15T11:16:26.769+07:00</updated><title type='text'>Be A Success Student during Global Era!</title><content type='html'>Kita tentu ingat dengan tiga kata yang terpampang secara permanen di tembok sekolah saat kita duduk di bangku SD: “Cerdas, Taqwa, Terampil”. Ketiga kata tersebut telah menemani hari-hari kita di awal kita mengenal ilmu pengetahuan. Mungkin saat SD kita belum bisa memaknai secara penuh dan melaksanakan tiga kata tersebut. Karena keseharian kita selalu dihiasi oleh permainan dan canda tawa. Namun, keberadaan tiga kata tersebut setidaknya telah menjadi ruh yang terus menjiwai kita menjadi manusia beradab di tengah tantangan zaman yang berubah dari waktu ke waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, ketika kita telah beranjak dewasa, menjadi seorang mahasiswa di sebuah universitas ternama dan telah bekerja di perusahaan terkenal tingkat internasional, kita baru menyadari, bahwa tiga kata yang telah tertanam sejak SD tersebut memiliki kekuatan dahsyat yang mendorong alam bawah sadar kita untuk menjadi insan mulia, berpengetahuan luas, dan menguasai keterampilan teknologi. Dalam konteks tulisan ini, tiga kata “Cerdas, Taqwa, Terampil” diartikan dengan kata yang berbeda namun memiliki makna yang sama, yaitu “Pengetahuan, Moral dan Keterampilan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini ingin mengajak kepada para mahasiswa, sebuah status sosial tertinggi dalam masyarakat modern, untuk kembali memahami hakikatnya sebagai manusia dan perannya dalam kehidupan modern di era globalisasi yang terus berjalan dengan cepat. Jika kita tidak dapat mensiasati dan menguasai tantangan zaman, maka kita akan dilindas dan ditelan oleh zaman itu sendiri. Karena itu, sudah saatnya mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan aktor perubahan mengambil perannya untuk mengendalikan zaman menuju masyarakat yang berkeadaban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.  Menguasai Pengetahuan dan Teknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Sukardi Rinakit (2008), seorang pengamat politik nasional, bercerita, bahwa dirinya pernah mengunjungi negara China dan India. Ketika Rinakit bertanya kepada anak-anak China, apa cita-cita kalian? Anak-anak China menjawab dengan serentak: “Mengalahkan Amerika!!!” Terbuktilah, semangat melawan Amerika diwujudkan dengan adanya perangkat hardware, sehingga muncul beragam produk-produk China dengan segala macam merk yang mampu menyaingi produk-produk buatan Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika Rinakit bertemu dengan anak-anak India dan bertanya, apa cita-cita kalian? Anak-anak India menjawab dengan serentak pula: “Mengalahkan Amerika!!!” Terbuktilah, semangat melawan Amerika diwujudkan dengan adanya perangkat software, sehingga tak jarang orang-orang India saat ini banyak yang menguasai perusahaan-perusahaan di Amerika. So, bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Rinakit melanjutkan ceritanya dengan menjawab sedikit lelucon: Anak-anak Indonesia sukanya dengan underwear. Artinya, anak-anak Indonesia tidak terlepas dengan pikiran-pikiran negatif yang merusak moral dan kepribadian mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita di atas, ada satu hal yang menarik untuk dijadikan perhatian bersama, bahwa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa Indonesia untuk dapat memajukan negeri ini dan bertarung dalam kancah internasional. Menurut Amien Rais (2008), salah satu kelemahan republik ini adalah rakyatnya tidak mampu menguasai teknologi dan tidak berani bertarung dengan negara-negara adidaya. Pada akhirnya, mental negara kita inlander (lemah) serta tidak berdaulat baik secara ekonomi maupun politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas inilah yang seharunya mampu diperankan oleh mahasiswa. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh para mahasiswa. Pertama, kuasailah bahasa internasional. Bahasa adalah alat komunikasi. Sekalipun kita cerdas, namun tanpa komunikasi yang baik, kita tidak akan dapat menyampaikan gagasan-gagasan kita secara menyeluruh kepada orang lain. Artinya, jika kita tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa internasional, maka kita akan lemah secara pengetahuan. Dalam konteks kekinian, bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang saat ini menjadi alat komunikasi antar warga negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, belajarlah pada peradaban yang lebih maju. Jika saat ini Amerika merupakan kiblat peradaban dan ilmu pengetahuan, maka kita harus mengakui dan mau belajar pada Amerika. Berusahalah mencari scholarship agar kita bisa belajar hingga ke pusat peradaban. Dalam teori perang dikatakan, untuk mengalahkan musuh, kita harus belajar pada musuh. Artinya, jika kita ingin mengalahkan Amerika, maka kita harus belajar pada Amerika, seperti yang dilakukan oleh anak-anak India dan China saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, fokuslah pada satu disiplin ilmu tertentu. Setelah kita mampu menguasai bahasa internasional sebagai alat komunikasi dan telah berusaha untuk belajar pada musuh, maka kita harus memusatkan konsentrasi pada satu bidang keilmuan tertentu. Pelajarilah secara mendalam dan detail ilmu yang kita miliki, sehingga kita menjadi pakar pada ilmu tertentu. Jika kita ingin menguasai ilmu managemen, maka kuasailah ilmu tersebut secara serius. Jika ingin menjadi psikolog, maka kuasailah teori-teorinya. Begitu juga jika kita ingin menjadi dokter. Dengan tiga tahapan tersebut, mahasiswa Indonesia dapat menjadi orang ternama di tingkat internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  Memperkuat Landasan Moral Pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membedakan antara peradaban Barat dengan peradaban Timur adalah soal moral. Barat tidak begitu mementingkan arti moral, sehingga free sex dan gonta-ganti pasangan bukanlah masalah besar, bahkan free sex menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Berbeda dengan Timur yang sangat memperhatikan moral. Untuk hidup bermasyarakat saja penuh aturan dan tata krama, apalagi menyangkut persoalan moral personal. Karena itu, dalam tradisi Timur, keperawanan perempuan sangatlah berharga terutama dalam tradisi Jawa, sehingga jarang ada perempuan yang keluar pada malam hari di atas jam sembilan. Jika ada perempuan yang keluyuran pada malam hari, secara moral dia akan mendapatkan label negatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa berkaca pada kejadian akhir-akhir ini yang menimpa musisi ternama tanah air, Nazriel Ilham alias Ariel Peterpan, yang divonis hukuman penjara karena melakukan free sex dengan artis ternama dan adegan pornonya telah tersebar di dunia maya. Orang mengakui kepiawaian Ariel dalam bermusik. Namun, karena keburukan moralnya, karir dan nama baiknya menjadi rusak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Ariel menjadi cambuk bagi para mahasiswa, bahwa moral merupakan landasan yang sangat penting untuk menunjang karir seseorang. Karena perilaku yang amoral, seseorang bisa tersungkur ke lembah nista. Kita lihat saja cerita Antasari Azhar, mantan ketua KPK, yang terdampar di balik jeruji penjara akibat tuduhan cinta segitiganya dengan perempuan bernama Rani, seorang cady di lapangan golf. Atau tersebarnya adegan porno Yahya Zaini (politisi Golkar) dengan seorang penyanyi dangdut yang menyebabkan Yahya dipecat dari anggota DPR sekaligus dari Golkar. Karir dan reputasinya jatuh secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang sukses saja mendadak bisa miskin akibat perilaku yang amoral, apalagi mahasiswa yang masa depannya belum jelas. Karena itu, kita sangat berharap pada para mahasiswa untuk benar-benar mampu menjaga moral dan akhlak pribadi mereka. Masa depan bangsa ini ada di tangan kalian. Jika para mahasiwa sudah tergerus oleh nikmatnya rayuan-rayuan syahwat, maka republik ini tidak akan berumur panjang. Jika hal ini terus terjadi, tak lama kemudian: “Kita akan menjadi orang asing di negeri sendiri”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekalilah kepribadian kita dengan landasan iman yang kuat dan kokoh, sehingga langkah kita menuju pintu kesuksesan tidak berhenti di tengah jalan. Jangan gara-gara sedikit perbuatan nista, usaha kita selama ini menjadi sia-sia. Ini sebuah perjuangan yang sangat berat. Jika para founding fathers kita berjuang melawan para penjajah, saatnya kita berjuang melawan diri kita sendiri untuk kemenangan republik ini menjadi bangsa yang mandiri secara ekonomi di hadapan negara yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.  Mengembangkan Keterampilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini banyak institusi-institusi pendidikan yang menawarkan jurusan-jurusan ketrampilan. Bahkan, keberadaan SMK dan sekolah menengah kejuruan lainnya merupakan salah satu jawaban untuk menghadapi tantangan global. Orang lain tidak bisa mengetahui kemampuan kita jika kita tidak memiliki keterampilan pada satu bidang tertentu. Seorang sarjana teknik elektro, tetapi tidak bisa mengotak-atik alat-alat elektronik, dia tidak akan diterima di sebuah perusahaan elektronik. Begitu juga dengan seorang sarjana pertanian yang tidak pernah praktek cara bercocok tanam, akan menemukan kesusahan ketika terjun dalam dunia usaha pertanian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, di era yang serba tanpa skat ini, keterampilan menjadi sebuah keharusan bagi para mahasiswa untuk mewujudkan kesuksesan masa depannya. Saat ini, banyak sarjana pengangguran. Bahkan setingkat magister pun tak kalah banyaknya yang masih menganggur dan belum mendapatkan pekerjaan. Persoalannya adalah, mental yang dibangun oleh institusi pendidikan kita adalah mental pekerja, bukan creator atau pencipta lapangan pekerjaan. Alhasil, angka statistik pengangguran setiap tahunnya selalu meningkat. Mengapa demikian? Jawabannya ada di pundak masing-masing mahasiswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan UKM-UKM di kampus seharusnya mampu memberikan solusi atas persoalan ini, sehingga hobi para mahasiswa bisa berlanjut terus hingga ke jenjang pekerjaan. Tanamkanlah pada diri para mahasiswa “jiwa-jiwa kreatif” agar selalu menjadi lulusan yang dapat menciptkan keterampilan yang beragam. Jika hal ini dapat dilakukan oleh para mahasiswa sejak di awal bangku kuliah, maka setelah mereka lulus tidak usah dikhawatirkan lagi ke arah mana mereka bekerja. Karena mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk keterampilan yang bisa diasah sejak mahasiswa adalah keterampilan berwirausaha atau berdagang, keterampilan menjadi pendidik (guru atau dosen), keterampilan menjadi pemimpin (politisi atau pemimpin daerah), keterampilan menulis (jurnalis atau wartawan media), dan segala bentuk keterampilan lainnya yang dapat disah sejak kuliah, semisal bernyanyi. Dengan bekal yang telah ditanamkan sejak muda, para mahasiswa yang telah lulus tidak akan mengalami kegagapan teknologi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita dapat mengetahui, bahwa menguasai ilmu pengetahuan, memperkuat landasan moral, dan mengembangkan keterampilan merupakan strategi tepat yang harus dimiliki oleh para mahasiswa untuk menghadai tantangan global. Jika kita tidak mampu menaklukkan tantangan itu, maka kita sendiri yang akan ditaklukkan oleh tantangan itu. Karenanya, persiapkanlah segalanya sejak sekarang. Ingatlah spirit “Cerdas, Taqwa, Terampil” yang sudah mendarahdaging sejak SD dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita menjadi manusia yang sukses mengadapi era tekonologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 15 April 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7372996034403623211?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7372996034403623211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7372996034403623211' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7372996034403623211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7372996034403623211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/04/menjadi-mahasiswa-sukses-di-era-global.html' title='Be A Success Student during Global Era!'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7764731510999264107</id><published>2011-04-11T15:24:00.001+07:00</published><updated>2011-04-13T12:52:18.791+07:00</updated><title type='text'>Reinstalling of Democracy: A Case in Indonesia</title><content type='html'>During post New Order, Indonesia has hold general election in three times. Now we have a democracy system for noble goals, people prosperity. It means, there is a good correlation between democracy and prosperity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Creating a state democracy requires three steps. Firstly, collapse of authoritarianism regime. The decline of Soeharto as second president of Indonesia who led during 32 years shows the success for this step. Secondly, transitional process of democracy. It characterized with three phenomena, i.e. the emergence of civil liberties, the institutionalized democracy, and the effective governance to implement people prosperity. Thirdly, consolidated and organized democracy. This alternative system must create the good public for Indonesian societies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The transitional process of democracy has wide impact for the dynamic of Indonesia politics. Firstly, the emergence of various Non-Government Organizations (NGOs). The momentum of May 1998 gives wide liberties that cause the birthing of several NGOs and social communities in local areas. We can found it base on religion, ethnic, and social class (farmer, businessman, scholar, etc). Secondly, the increasing of people participation in the political activities. It can be demonstrated with the enthusiastic of the people in general election 2009. Everyone can register themselves as legislative candidates. Everybody has equal vote. A president has one vote and a farmer also has one vote. Thirdly, good governance. It can be shown with the loosing of the corruption culture as well as all crimes in various patterns. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The prime agendas during transitional democracy era are decentralization issues. It must conducted by all people. The political power will separate in various local governments. According to some political scientists, if we conduct these steps, the democracy will run very well.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In fact, the real struggle always not suitable with the dream. The collapse of Soeharto only causes the presidential rotation. Meanwhile, the authoritarianism system still exists as well all actors and Soeharto’s cronies. They seek alternative ways and even establish a new political party as well involve as leaders in government cabinets. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recently, democracy was shown its declines. The elites who led during New Order regime create a new party as a proxy for their interests. In addition, we know that some parties give wide opportunities to elite’s family to involve as one of important functionaries. Even when they were registered themselves as a legislative or executive candidate, almost they will reach a victory in every election. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can also see the NGO’s roles which are only as government under bow organizations. They just hold the government programs and don’t have a great idea. This fact shows that NGOs are a servant for the king. There is no idealism values in young generations thought. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The explanation above emphasizes that Indonesian democracy only half-heart. The local government and NGO’s still require the central government decrees. Even the Soeharto cronies still lead in several positions in this country. Therefore, now we still exist in the collapse of New Order regime. The consolidated democracy is long goals for this country. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, our real democracy like installing windows program in the computer which is not finishes yet completely. There are uncompleted components. Therefore, we must re-install our “democracy driver” and change with the new driver. The question is how to find a good democracy driver for better results. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firstly, don’t look for “illegal democracy driver”. We must formulate a pure Indonesia democracy. We only use the theory and application of western democracy as a prime guidance. Secondly, the installation process must conducted by experts. The Indonesian elites must be free from various viruses which is cause the failure of democracy installation. Thirdly, the government elites must learn on previous history. We must learn on the history of collapse of two regimes i.e. Old Order and New Order. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We hope, the general election 2009 gives a breakthrough for democracy growth. Every voter seriously must choose them based on integrity and capability. We don’t select leaders who have bad track records in the past, particularly who have criminal cases. The anti-virus for this case is its voter themselves. Finally, we must modernize our information on both legislative and executive candidates. The goals of this are establishment of people prosperity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi, MA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7764731510999264107?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7764731510999264107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7764731510999264107' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7764731510999264107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7764731510999264107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/04/re-installing-of-democracy-case-in.html' title='Reinstalling of Democracy: A Case in Indonesia'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-8051181051927744843</id><published>2011-03-14T15:02:00.003+07:00</published><updated>2011-04-11T13:05:05.089+07:00</updated><title type='text'>Waiting for the Last Minute of Birthing my Baby…</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-uQ3cigD_Pyg/TaKZmJzCJRI/AAAAAAAAANo/jj2SHGxlFts/s1600/100_0583.JPG" imageanchor="1" style="clear:right; float:right; margin-left:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-uQ3cigD_Pyg/TaKZmJzCJRI/AAAAAAAAANo/jj2SHGxlFts/s200/100_0583.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Month after month&lt;br /&gt;Week after week&lt;br /&gt;Day after day&lt;br /&gt;Hour after hour&lt;br /&gt;Minute after minute&lt;br /&gt;The time is present…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just for several days, I will become a father for my first baby. It’s birthing estimate day (HPL) on March 13th 2011. But, the hospital doctor said that any retreating of times for the birthing of my baby. Day after day, I always pray to Allah SWT for the success and healthy of my wife. I hope everything is running very well. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sometimes, I not believe with this fact that I’m a father in recent time. Happiness and sadness is coloring my daily activities everywhere. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My wife is a strong woman. She never surrenders with her weak conditions. In many occasion, I give strong supports and suggestions for her. It is very important for this situation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Welcome to my baby… I’m waiting immediately your coming. At least but not least, I hope your praying for successful of my wife birthing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At home, Pelemwulung Bantul&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-8051181051927744843?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/8051181051927744843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=8051181051927744843' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8051181051927744843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8051181051927744843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/03/waiting-for-last-minute-of-birthing-my.html' title='Waiting for the Last Minute of Birthing my Baby…'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-uQ3cigD_Pyg/TaKZmJzCJRI/AAAAAAAAANo/jj2SHGxlFts/s72-c/100_0583.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-8695464025166687089</id><published>2011-03-07T15:22:00.000+07:00</published><updated>2011-03-07T15:22:01.684+07:00</updated><title type='text'>The Story with the Ghost of 450</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gAPuqi7k5Yk/TXSVkRdzsoI/AAAAAAAAANQ/HC-D_LsR9fY/s1600/100_0056.JPG" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="150" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-gAPuqi7k5Yk/TXSVkRdzsoI/AAAAAAAAANQ/HC-D_LsR9fY/s200/100_0056.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, saya hampir lupa… Kalau saya mau menceritakan tentang kisah bersama teman-teman saat kursus TOEFL di PPB UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dipastikan, kami semua yang ikut mendaftar les TOEFL ini karena untuk memenuhi persyaratan lulus untuk meraih gelar master degree. Kami datang dari berbagai jurusan di UGM. Satu sama lain belum saling mengenal awalnya. Hanya beberapa saja yang sudah kenal disebabkan karena mereka sudah kenal sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal-awal les, perjalanan kami begitu saja. Flat… rutinitas harian dari Senen hingga Jumat dari jam 4 sore hingga jam setengah 8 malam harus kami lalui untuk melawan dan menaklukkan score 405. Tepatnya dimulai 24 Januari 2011 les pertama dimulai setelah kami bersama-sama pre-test beberapa hari sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah les, canda tawa dan terkadang saling lempar joke menjadi warna tersendiri di tengah penatnya kami harus bertempur melawan grammar, vocab, lebih-lebih listening. Karena dari pagi hingga siang kami sudah penat, sore harinya tinggallah uap asap yang seolah hinggap di kepala kami. Tinggal dihidupkan saja gasnya, mungkin jika diilustrasikan dalam film kartun, kepala dan rambut kami sudah terbakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum… structure begitu menjajah pikiran kami tiap hari. At least, inilah pengalaman yang menjenuhkan yang pernah aku alami, dan mungkin sebagian bagi teman yang lain. Setiap ketemu, pembicaraan tidak lain adalah about score, score, and score 450. Beberapa teman, selain ikut les, mereka juga mencoba ikut tes rutin mingguan tiap Kamis dan Jumat Sore atau pagi. Setelah melihat hasilnya, mereka harus mencoba minggu depannya. Artinya, 450 belum mereka peroleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbk Ana, Mbak Dewi, dan Mas Iwan. Ketiga tentor ini yang selalu menemai kami untuk belajar cara menaklukkan hantu bernama TOEFL tersebut. Setiap Jumat sore kami ada practice test. Terkadang hasilnya mengecewakan, terkadang pula menyenangkan. Dalam pikiranku, seolah PPB hanya memainkan angka saja. Kadang naik, kadang turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu begitu saja hingga tibalah menjelang detik-detik final test. Hati berdebar-debar, pikiran tak menentu, hanya ingin mendapatkan score 450. Strategi telah disiapkan oleh beberapa teman untuk menjebol pertahanan 450. Ah, seolah dia musuh yang jauh lebih menakutkan dari pada setan. Karena, tiap malam angka 450 itu selalu menghantui hari-hari kami, setidaknya pada satu bulan di akhir bulan Januari hingga akhir Februari 2011 kemaren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ujian berakhir, semuanya berjalan dengan baik. Di akhir cerita, kami menjadi lebih akrab. Ada beberapa teman yang saling suka (tapi belum tentu yang satunya suka, hahaha…). But, ini merupakan akhir yang menarik, makan-makan, karaoke, yang semuanya itu harus iuran bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goodluck buat teman-temanku di PPB UGM. Sekalipun waktu yang singkat, saya berharap silaturahmi kita tak terputus di situ saja. Karena suatu saat kita bisa bertemu dalam ruang yang lebih nyaman, tentunya untuk republik tercinta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Concat Jogja, 7 March 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-8695464025166687089?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/8695464025166687089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=8695464025166687089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8695464025166687089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8695464025166687089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/03/story-with-ghost-of-450.html' title='The Story with the Ghost of 450'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gAPuqi7k5Yk/TXSVkRdzsoI/AAAAAAAAANQ/HC-D_LsR9fY/s72-c/100_0056.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-771762132432167142</id><published>2011-02-09T13:03:00.004+07:00</published><updated>2011-02-09T13:12:22.911+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TVIurENkCZI/AAAAAAAAANI/d1NZOFhs9do/s1600/100_1790.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TVIurENkCZI/AAAAAAAAANI/d1NZOFhs9do/s200/100_1790.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5571567006410606994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;In Bridging Program Community&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan minggu pertama aku menjadi dosen di Bridging Program FE UII. A Nice experience for me. Teaching, discuss about motivation, games, etc. Bertemu dengan rekan-rekan yang energik, progresif, care, saling support, serta mahasiswa yang macem-macem. Kadang capek, kadang melelahkan, tapi harus tetap memberikan yang terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar untuk tau aja, Bridging Program (BP) merupakan salah satu program yang ada di FE UII yang menjembatani mahasiswa yang baru saja lulus SMA menunju jenjang perkuliahan dengan dibekali oleh skill serta penanaman nilai-nilai Islami. Dengan ada BP ini diharapkan mahasiswa benar-benar bisa menjadi dan memahami, bahwa dirinya adalah mahasiswa yang siap menjadi anak panah untuk republik negeri ini. Apalagi meminjam analisa Anies Baswedan (2007), rulling elite Indonesia 2020 ke depan adalah para pengusaha atau entrepreneur. Hal ini tepat sekali jika diterapkan pada teman-teman yang ngambil mata kuliah di FE UII. Jika kita percaya pada ramalan Baswedan, merekalah kelak yang mampu menjadi salah satu pioner bagi perkembangan republik kita tercinta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, ada hal yang berbeda antara BP dengan mata kuliah lain. Jika di matakuliah lain hanya sekadar transfer of knowledge, maka di BP dimasukkan juga transfer of values and skills (asal gak transfer of money aja, hihihi…). So, mejadi dosen di BP pun ada nuansa tersendiri. Tidak sekadar menjadi dosen pada umumnya dosen lain, tapi juga harus menjadi partner, teman dalam diskusi, termasuk teman saat curhat (asal jangan sampe lama-lama lho ya curhatnya)…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At least, moga ini adalah awal perjalanan yang baik. Seperti pesan saat workshop di Wisma Joglo alias Wisma Jomlo (versi Pak Iweng), kita jadikan BP untuk mewujudkan team yang sinergis bla, bla, bla… untuk kemandirian (wkwkwk… lupa aq rek)… ada yang bisa bantu? Thanks for all… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lt. 3 BP FE UII, 13.05 WIB (Waktunya Iuntuk Boboxss)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-771762132432167142?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/771762132432167142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=771762132432167142' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/771762132432167142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/771762132432167142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/02/in-bridging-program-community-ini.html' title=''/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TVIurENkCZI/AAAAAAAAANI/d1NZOFhs9do/s72-c/100_1790.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-94397497528635170</id><published>2011-01-08T14:20:00.001+07:00</published><updated>2011-01-08T14:23:34.424+07:00</updated><title type='text'>Menengok Potret Muhammadiyah Lokal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TSgQ2UhNqlI/AAAAAAAAAM8/J-zmYNbIWeQ/s1600/buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TSgQ2UhNqlI/AAAAAAAAAM8/J-zmYNbIWeQ/s200/buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5559712265395874386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah kini telah berumur satu abad. Spektrum gerakannya telah dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Sejak didirikan oleh Kyai Dahlan hingga sekarang, Muhammadiyah tidak hanya berkembang di Yogyakarta sebagai kota kelahirannya. Dengan kegigihan para aktivisnya dalam menyebarkan agama Islam, Muhammadiyah di awal perkembangannya telah mencolok di beberapa daerah seperti Pekalongan dan Minangkabau. Di samping itu, yang menjadi perhatian bersama juga, Muhammadiyah telah berkembang di tanah Bima (NTB) sejak 1930-an dengan berbagai kelebihan yang disajikan penulisnya dalam buku ini. &lt;br /&gt;Syarifuddin Jurdi secara sistematis menjelaskan Muhammadiyah Bima mulai dari awal kelahiran, perkembangan, kiprah kemasyarakatan di bidang pendidikan dan kesehatan, serta peran yang dimainkan oleh Ortom-ortom setempat dengan berabagai dinamikanya yang beragam. Selain itu, penulis buku ini yang juga mantan aktivis IMM menjelaskan pola hubungan antara Muhammadiyah Bima dengan pemerintah (negara) lokal, terutama dalam memajukan proses demokratisasi lokal untuk mendorong terciptanya good governance dan clean governance. &lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari buku ini. Pertama, Muhammadiyah Bima lahir dan berkembang bukan dari tokoh Muhammadiyah Jogja atau Jawa sebagai pusat pergerakan organisasi ini. Muhammadiyah Bima justru lahir dari mubaligh Muhammadiyah Sulawesi (M. Sanan) yang merupakan salah satu kader didikan Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah dari tanah Minang. Secara historis, Muhammadiyah Bima merupakan hasil perjuangan dari elite-elite Muhammadiyah Sulawesi dan Minang. &lt;br /&gt;Kedua, sekalipun jauh dari pusat peradaban Muhammadiyah di tanah Jawa, Muhamamdiyah Bima telah berkipah pada masyarakat setempat dengan memajukan dan memodernisasi kehidupan melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Hal ini terbukti dengan berdirinya RS PKU Muhammadiyah Bima dan sejumlah institusi pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Pondok Muhammadiyah Bima, hingga perguruan tinggi semisal Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bima dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bima. &lt;br /&gt;Ketiga, elite-elite Muhammadiyah Bima juga terlibat dalam urusan politik kenegaraan lokal. Keterlibatan itu terbukti dengan turut bergabungnya sebagian elite Muhammadiyah Bima dalam Komite Nasional Indonesia (KNI) Bima, menjadikan Muhammadiyah Bima sebagai pendukung utama Masyumi pada Pemilu 1955, dan bergabungnya beberapa tokoh Muhammadiyah Bima ke Parmusi. Di era Orde Baru, sikap-sikap politik yang dimainkan oleh Muhammadiyah selalu mendapat pertentangan dari rezim yang berkuasa. Di samping itu, Muhammadiyah Bima turut melakukan tindakan-tindakan konkrit, seperti kampanye anti-korupsi, tetap aktif melawan gerakan kristenisasi, serta mendukung penguatan civil society dan proses demokratisasi politik lokal (misal Pilkada). &lt;br /&gt;Namun, dalam buku ini tidak dijumpai pembahasan spesifik yang berbicara tentang kekurangan maupun tantangan yang dihadapi oleh Muhammadiyah Bima yang dapat dijadikan evaluasi kritis bagi gerakan Muhammadiyah di masa kini dan masa mendatang. Setidaknya, dengan adanya satu sub pembahasan tersebut, aktivis Muhammadiyah di daerah lain dapat mengambil pelajaran dari pergerakan Muhammadiyah Bima. &lt;br /&gt;Terlepas dari itu, buku ini telah memberikan sumbangsih pengetahuan dan sharing pengalaman dari Muhammadiyah Bima untuk para aktivis di berbagai daerah. Karena setiap daerah memiliki cerita yang unik dan kearifan lokal yang tidak akan dijumpai di daerah lain. Di samping itu, buku ini diharapkan dapat memotivasi PDM-PDM lain untuk dapat mendokumentasikan sejarah dan spirit perjuangan mereka menjadi sebuah buku (atau apapun bentuknya) untuk dibaca oleh generasi Muhammadiyah mendatang, sehingga para penerus gerakan ini tidak melupakan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Pengurus Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) &lt;br /&gt;PP Muhammadiyah 2010-2015&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-94397497528635170?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/94397497528635170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=94397497528635170' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/94397497528635170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/94397497528635170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2011/01/menengok-potret-muhammadiyah-lokal.html' title='Menengok Potret Muhammadiyah Lokal'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TSgQ2UhNqlI/AAAAAAAAAM8/J-zmYNbIWeQ/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-4303025622900302556</id><published>2010-12-18T14:59:00.001+07:00</published><updated>2010-12-18T14:59:54.734+07:00</updated><title type='text'>LSB-CSPP Adakan Diskusi Keislaman dan Pelatihan Kewirausahaan  Bagi Aktivis Gerakan Laskar Islam</title><content type='html'>Yogyakarta – Pada tanggal 13-18 Desember 2010 Lembaga Sangga Buana (LSB) bekerjasama dengan Center for Social and Public Policy (CSPP) mengadakan sebuah acara bertajuk Diskusi Keislaman dan Pelatihan Kewirausahaan bagi para aktivis pemuda dan laskar Islam Se-DIY dan sekitarnya. Para peserta kegiatan ini terdiri dari ormas-ormas Islam dan aktivis masjid seperti, Masjid Az-Zahri, Tariqot Qodariyah wa Naqsabandiyah, Badko TPA Kota Yogyakarta, risma Masjid Al-Mustaghfirin, Majelis Attawabbin, risma Masjid Mu’adz bin Jabal, risma Kokam Prambanan, Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta (FSRMY), Jamaah Tabligh, dan lain sebagainya. Acara ini berlangsung di Balai Diklat Perindustrian dan Perdagangan Jl. Gedong Kuning No. 140 B Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini diadakan selama enam hari. Diharapkan, dari pelatihan ini dapat menghasilkan enterpreneur-enterpreneur muda yang profesional sehingga dapat menambah lapangan pekerjaan di masyarakat. Materi yang diberikan antara lain, seperti gerakan Islam dan kemandirian ekonomi umat, umat Islam dan perkembangan teknologi multimedia, budaya dan karakter sosial masyarakat, model gerakan Islam, jihad, dakwah, dan ahlul kitab, serta praktek berwirausaha semisal budidaya cacing dan jamur (tiram dan kuping). Para pembicara yang hadir antara lain seperti Amir Panzuri (APIKRI), Triyono, Bambang Karsono, Mohammad Shofan, Francis Wahono, Sarjudi, HS Amnoto, dan Dian Nafi. (rah)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-4303025622900302556?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/4303025622900302556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=4303025622900302556' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4303025622900302556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4303025622900302556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2010/12/lsb-cspp-adakan-diskusi-keislaman-dan.html' title='LSB-CSPP Adakan Diskusi Keislaman dan Pelatihan Kewirausahaan  Bagi Aktivis Gerakan Laskar Islam'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-1085575590151239807</id><published>2010-06-16T15:24:00.004+07:00</published><updated>2010-06-16T15:49:45.001+07:00</updated><title type='text'>Sang Pelopor</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TBiPBqxDkdI/AAAAAAAAAMo/Fo1gPgzQcD0/s1600/cover+depan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 127px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TBiPBqxDkdI/AAAAAAAAAMo/Fo1gPgzQcD0/s200/cover+depan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483289805146264018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul: Sang Pelopor&lt;br /&gt;Penulis: Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Penerbit: Qalbiymedia&lt;br /&gt;Terbit: Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ruang dan waktu memberikan makna bagi kehidupan seseorang. Begitu juga yang terjadi pada cerita di buku ini. Mulai dari keluguan, genit dengan isu-isu seksi, emosional dengan ketidaksempurnaan, bersikap idealis pada segala sesuatu, mendapat kritikan dan cercaan, hingga akhirnya mulai bersikap kooperatif pada dirinya sendiri. Itu semua didapatkannya dari organisasi yang digelutinya selama sepuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan catatan refleksi pribadi dari sang penulis terhadap apa yang telah dirasakan dan dilaluinya selama berjuang di organisasinya. Sekalipun subyektif, setidaknya buku ini adalah dokumentasi cerita yang pernah ditulis oleh salah seorang kadernya yang berjuang dari bawah hingga ke puncak atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepatah lama pernah mengingatkan, bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai karya-karya pendahulunya. Setidaknya spirit gerakan iqra telah tertanam pada diri penulis buku ini sebagai PELOPOR, pelangsung, dan penyempurna amanah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-1085575590151239807?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/1085575590151239807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=1085575590151239807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1085575590151239807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1085575590151239807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2010/06/sang-pelopor.html' title='Sang Pelopor'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/TBiPBqxDkdI/AAAAAAAAAMo/Fo1gPgzQcD0/s72-c/cover+depan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-8025806333475745352</id><published>2010-04-08T07:45:00.000+07:00</published><updated>2010-04-08T07:53:44.068+07:00</updated><title type='text'>Cerita Malika dan Berbagi Cinta</title><content type='html'>(Diambil dari Catatan teman. Moga bermanfaat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo berbagi... Ayo berbagi... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di kebanyakan benak kita saat itu? Barangkali kita akan berfikir bahwa kita harus berbagi dana, berbagi makanan, susu, pakaian, serta berbagi barang atau apapun yang sifatnya materiil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... Itu karena alam pikir kita telah dipenuhi oleh ide-ide materialistik: mengukur segala sesuatunya dengan materi dan kasat mata. Barangkali sejenak kita terdiam di keheningan alam pikir kita untuk menikmati berbagi sebagai sebuah kebahagiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya akan mengajak Anda semua menikmati berbagi dengan yang lain tapi bukan bersifat materi, karena berbagi tidaklah mesti berbentuk materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, sahabat saya bercerita saat ia diajak oleh ayah angkatnya berkunjung ke panti asuhan yatim. Ayah itu memang selalu rutin berkunjung ke panti asuhan atau rumah yatim minimal setahun dua kali. Biasanya sekali di awal bulan Ramadhan (untuk mensurvei kebutuhan panti) dan sekali di akhir bulan Ramadhan (untuk membawakan hal-hal yang dibutuhkan panti). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah rumah yatim sore itu, ayah bertemu dengan seorang gadis cilik yang manis. Lalu sang ayah bertanya pada gadis penghuni rumah yatim itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak manis, siapa namamu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nama saya Malika, Om,” jawab gadis kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama yang cantik, secantik dirimu, Malika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malika kelas berapa sekarang?” tanya si ayah dengan senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kelas 1 SD, Om,” jawab Malika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membelai kepala Malika, lalu seraya sang ayah bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malika sudah punya tas baru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Om. Kan sudah dibelikan Abi dan Umi...”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ayah bertanya lagi: “Kalau baju baru untuk lebaran?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malika dengan antusias menjawab: “Sudah tentu dong, Om. Semua teman-teman di sini juga sudah dibelikan baju lebaran kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau begitu apa yang Malika inginkan? Nanti Om akan berikan buat Malika.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emmm...” suara Malika terhenti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malika menundukkan kepala seperti khawatir. Sang ayah lalu membelainya dan mencoba meyakinkannya, bahwa ayah sahabat saya itu akan berusaha memenuhi apa yang ia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo Malika, katakan saja pada, Om. Malika ingin minta apa, Nak?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Om jangan marah ya...,” suara mungil Malika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om janji tidak akan marah,” jawab sang ayah tersenyum hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak jadi deh, Om. Malika takut Om nanti marah dengan Malika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaran sang ayah semakin besar. Apa rupanya yang ingin Malika minta sehingga ia begitu takut untuk mengutarakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malika mau minta sepeda atau boneka baru? Mau minta TV? Atau apa, Nak, yang kau minta? Mintalah, Nak. Om, pasti akan belikan,” Tanya sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah semakin penasaran karena setiap tawarannya selalu dijawab dengan gelengan kepala Malika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Om jangan marah ya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ayah berfikir, semahal apa sih barang yang diinginkan Malika sehingga ia begitu khawatir dan tidak yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malika, Om berjanji tidak akan marah padamu. Mintalah apa yang Malika mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu di balik senyum innocent-nya Malika bersuara. “Om, Malika mau minta… boleh gak mulai hari ini Malika panggil ayah pada Om?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu bibir ayah nyilu, matamya berkaca-kaca. Sambil memegangi kedua pipi Malika dengan tangannya, sang ayah berkata “Tentu, Malika... Tentu boleh Malika panggil ayah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih ayah... terimakasih ayah...” seru Malika dengan teriksak sambil memeluk ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senyum, Malika berkata lagi, “Malika sudah punya sepatu, sudah dibelikan tas, sudah ada baju baru, tapi dari dulu Malika belum punya Ayah. Tapi hari ini Malika sudah dikasih ayah dari Allah SWT.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terimakasih ya, ayah..” Malika mengungkapkan rasa terima kasih dan syukurnya dengan memeluk ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermain-main dan banyak bercerita sore itu, sang ayah sadar bahwa ia belum memberikan apa-apa buat Malika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah Malika, sekarang Malika boleh minta apa saja pada ayah sebagai hadiah lebaran.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sebelum lebaran nanti, ayah akan ke sini lagi bersama ibu dan juga kakak-kakakmu. Tapi lagi-lagi, Malika menggelengkan kepalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan udah, tadi Malika sudah boleh memanggil ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah Malika, minta lah sesuatu pada ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar Malika berfikir lalu ia berkata: “Ayah besok kalau datang ke sini lagi Ayah bawa kamera ya...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah bingung ayah bertanya, “Buat apa, Nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malika ingin punya foto bersama ayah dan ibu juga kakak-kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malika memohon itu sambil memegangi kedua tangan ayah. Tiba-tiba kaki ayah lunglai. Dia berlutut di depan Malika. Dia peluk lagi Malika sambil bertanya, “Buat apa foto itu, Nak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malika mau bawa ke sekolah dan mau Malika tunjukkan pada teman-teman. Ini foto ayah Malika, foto ibu, dan kakak-kakak Malika.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tadi memeluk erat Malika, seolah tak mau berpisah dengan gadis kecil yang menjadi guru kehidupannya di hari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih, Malika. Meski usiamu masih sangat belia. Kau telah mengajarkan pada kami tentang makna berbagi cinta. Berbagilah cinta karena itu lebih bermakna dari sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan kita di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita ajak lebih banyak orang untuk berbagi cinta, agar dunia ini lebih damai seperti yang dilakukan oleh Malika.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-8025806333475745352?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/8025806333475745352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=8025806333475745352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8025806333475745352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8025806333475745352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2010/04/cerita-malika-dan-berbagi-cinta.html' title='Cerita Malika dan Berbagi Cinta'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-4634800899344931079</id><published>2010-02-04T13:38:00.000+07:00</published><updated>2010-04-08T07:45:41.868+07:00</updated><title type='text'>Novel MENEBUS IMPIAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/S2psJZ4BGiI/AAAAAAAAAME/9xmsgJKcttc/s1600-h/Cover+depan++menebus+impian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/S2psJZ4BGiI/AAAAAAAAAME/9xmsgJKcttc/s200/Cover+depan++menebus+impian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434274809196386850" /&gt;&lt;/a&gt; Judul: MENEBUS IMPIAN&lt;br /&gt;Pengarang: Abidah El Khalieqy&lt;br /&gt;Editor: Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Kategori: Sastra/Novel&lt;br /&gt;Penerbit: Qalbiymedia (QMED), Yogyakarta&lt;br /&gt;Harga: Rp. 48.000,-&lt;br /&gt;Terbit Pertama: Maret 2010&lt;br /&gt;Tersedia di TB Gramedia, TB Togamas, Stokis Se-Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah novel yang berkisah tentang perjuangan seorang perempuan dalam memilih takdirnya sendiri, hingga ia mampu meleburkan usaha bisnis dan spiritualitas dalam satu ikatan cita-cita. Melalui berbagai aral yang melintang, luka dan derita, ia terus mencoba untuk mengubah pandangan hidupnya secara merdeka, bersikap mandiri dan tidak bergantung kepada siapa pun kecuali Gusti. Namun, ia juga mesti menghadapi lesatan panah-panah asmara yang menancap di dadanya. Sampai akhirnya dapat menebus impiannya sendiri dan impian ibunya. Dan semua kisah itu diawali dengan lika-liku kerja kerasnya dalam menjalankan usaha bisnisnya. Tak ada kata “menyerah dan kalah” dalam hidupnya, hingga ia memperoleh penghargaan dari perusahaan tempat bekerja, juga dari perguruan tinggi di mana ia menyelesaikan kesarjanaannya dalam peringatan Hari Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info pemesanan: Didi (0274) 8345048&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-4634800899344931079?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/4634800899344931079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=4634800899344931079' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4634800899344931079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4634800899344931079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2010/02/novel-menebus-impian.html' title='Novel MENEBUS IMPIAN'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/S2psJZ4BGiI/AAAAAAAAAME/9xmsgJKcttc/s72-c/Cover+depan++menebus+impian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-8527902426043667112</id><published>2009-11-19T10:40:00.000+07:00</published><updated>2009-11-19T10:59:33.729+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Pejuang, 17 Kisah Inspiratif Aktivis IPM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SwS-6iVShCI/AAAAAAAAAL8/oQMNYqVrqFo/s1600/cover+menjadi+pejuang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 142px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SwS-6iVShCI/AAAAAAAAAL8/oQMNYqVrqFo/s200/cover+menjadi+pejuang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5405655365609227298" /&gt;&lt;/a&gt; Judul : MENJADI AKTIVIS, 17 Kisah Inspiratif Aktivis IPM&lt;br /&gt;Penulis       : Para Aktivis IPM&lt;br /&gt;Kata Pengantar: Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Penerbit      : Bidang PIP PP IPM&lt;br /&gt;Cetakan 1     : Desember 2009&lt;br /&gt;Harga         : 25.000,- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINOPSIS&lt;br /&gt;Buku ini merupakan karya pertama kali dalam sejarah pergerakan IPM/IRM sejak kelahirannya 1961 yang berkisah tentang pasang-surut perjalanan menjadi seorang aktivis. Kisah-kisahnya langsung dialami dan ditulis oleh para aktivisnya yang sedang menjadi sang pejuang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya bahasanya sederhana, renyah, berdasarkan pengalaman, serta memiliki semangat bahwa mereka harus memiliki karya. Inilah bukti bahwa mereka telah mewujudkan semangat Gerakan Iqra, yakni gerakan gemar membaca dan aktif menulis. Buku ini layak dimiliki dan dibaca!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA MEREKA BERKOMENTAR?&lt;br /&gt;Mentradisikan menulis imaginatif oleh pelaku kepemimpinan kemudian dibukukan dan dipublikasikan ke kalangan luas adalah karya berkeadaban tinggi, malah lebih bermartabat daripada mereka yang memoles wajah kepemimpinannya dengan hipokrisi dan menyesakkan nafas itu. Selamat kepada para aktivis IPM atas kreativitasnya yang elegan dan cerdas. &lt;br /&gt;Drs. M. Busyro Muqoddas, M.Hum&lt;br /&gt;Ketua PP IPM Periode 1975-1979, &lt;br /&gt;kini Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah yang ditulis dengan gaya pelajar. Mengingatkan kembali saat saya masih belajar berjuang di IPM dulu. Patut dibaca oleh semua aktivis maupun alumni IPM. &lt;br /&gt;Dr. Khoiruddin Bashori, Ketua Umum PP IPM Periode 1986-1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan di dalam buku ini membuktikan bahwa mereka telah berkarya melalui kreativitasnya yang unik. Sebenarnya masih banyak penulis-penulis dari kalangan aktivis IPM. Hanya saja mereka belum berani tampil atau karena kita belum tau saja. &lt;br /&gt;Raja Juli Antoni, MA&lt;br /&gt;Ketua Umum PP IRM Periode 2000-2002, &lt;br /&gt;kini Direktur Eksekutif Maarif Institute Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-8527902426043667112?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/8527902426043667112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=8527902426043667112' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8527902426043667112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8527902426043667112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/11/menjadi-pejuang-17-kisah-inspiratif.html' title='Menjadi Pejuang, 17 Kisah Inspiratif Aktivis IPM'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SwS-6iVShCI/AAAAAAAAAL8/oQMNYqVrqFo/s72-c/cover+menjadi+pejuang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7769445929422960788</id><published>2009-08-13T14:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-19T11:01:03.836+07:00</updated><title type='text'>Santri Sableng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SoO--09iJcI/AAAAAAAAAL0/amUtKX5stUE/s1600-h/santri+sableng.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SoO--09iJcI/AAAAAAAAAL0/amUtKX5stUE/s200/santri+sableng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369345167333664194" /&gt;&lt;/a&gt; Judul : SANTRI SABLENG&lt;br /&gt;Penulis : Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Kata Pengantar: Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU&lt;br /&gt;Penerbit : Leutika Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan 1 : Oktober 2009&lt;br /&gt;Harga : 35.000,- (Diskon 20 %) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SINOPSIS&lt;br /&gt;Kita pasti ingat dengan Wiro Sableng, tokoh ndagel dan pemilik kapak geni 212. Walaupun terkesan selenge’an, tapi dia sosok yang cinta damai, pembela kebenaran dan pembasmi kejahatan di muka bumi ini. Karakter tersebut tak jauh berbeda dengan Santri Sableng yang ditokohkan Ridho Al-Hamdi melalui buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren kerap dilekatkan dengan sekelompok anak muda berkopiah, bersarung, berjilbab yang membawa Al-Qur’an atau buku-buku Arab, yang fasih berbahasa Arab, dan lain sebagainya. Namun, penulis buku ini melukiskan sosok santri yang lain, yaitu santri yang melakukan kritik terhadap segala kejanggalan yang terjadi di bumi pesantren, baik dari sistem pengajarannya yang masih memasung kreativitas anak, kehidupan sehari-hari yang jorok, pelajaran akidah yang tidak “membumi” hingga santri yang suka sesama jenis alias homreng (homo bareng, hehehe). Nampaknya kita masih terlalu mensucikan pesantren sehingga “borok-borok”-nya terlupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini cocok buat kalian yang doyan baca buku, pemerhati dan pengamat pendidikan, pengajar di pesantren, wali santri, para santri, dan siapa aja yang ingin melihat pesantren dari sudut yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMENTAR-KOMENTAR&lt;br /&gt;Buku ini wajib dibaca oleh para orang tua untuk bisa lebih memahami anak-anak mereka yang sejak lulus SD sudah dikirim ke pesantren. Bagi pengelola pendidikan, khususnya pendidikan Islam, tulisan ini penting dibaca untuk menyelami dunia batin anak-anak selama mereka menjalani hidup di pesantren.&lt;br /&gt;Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan, SU., Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tokohnya yang ndagel, penulis buku ini menggambarkan dengan berani dan kreatif tentang dapur pesantren. Pengalaman yang dikemukakannya akan banyak menginspirasi banyak orang. &lt;br /&gt;Nur Khalik Ridwan, Kaum Muda NU, Penulis Buku “Islam Borjuis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan memperoleh banyak hal baru. Penulis berhasil menyibak dunia yang selama ini tersembunyi di balik kehidupan pondok pesantren. Buku ini kaya kisah-kisah unik, kocak, menggugah, dan penuh hikmah. Pembaca dapat memetik pesan tanpa bersusah payah, karena buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan renyah sehingga mudah dipahami. &lt;br /&gt;Miftachul Huda, Penulis buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang tidak biasa. Menampakkan sisi lain dari santri dan pesantren. Bayangkan saja ada sub-judul ‘Takut Sodomi’ dan ‘Ada Kyai Cabul, Ada Kyai Poligami’. Sesuai judulnya, buku ini betul-betul sableng, tapi perlu dibaca.&lt;br /&gt;Dr. Agus Nuryatno, Alumni Ponpes Gontor Ponorogo dan McGill University of Canada&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7769445929422960788?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7769445929422960788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7769445929422960788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7769445929422960788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7769445929422960788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/08/santri-sableng.html' title='Santri Sableng'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SoO--09iJcI/AAAAAAAAAL0/amUtKX5stUE/s72-c/santri+sableng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7246751027146372701</id><published>2009-06-29T17:33:00.000+07:00</published><updated>2009-06-29T17:36:05.665+07:00</updated><title type='text'>Terbit Buku: JOGJA EDAN, BRO!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SkiY6RihGjI/AAAAAAAAALs/DHGJEYooKHg/s1600-h/jogja-edan-bro.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SkiY6RihGjI/AAAAAAAAALs/DHGJEYooKHg/s200/jogja-edan-bro.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352696284037847602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul : Jogja Edan, Bro!&lt;br /&gt;Penulis : Ridho "Bukan" Rhoma&lt;br /&gt;Penerbit : Leutika Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan 1 : Juli 2009&lt;br /&gt;Harga : 30.000,- (Diskon 20 %)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya melihat Jogja sebagai kota pendidikan, karena banyak tempat pendidikan. Tapi di baliknya ada yang membuat kita terkejut. Setidaknya setelah kita membaca buku ini. Ada hal yang tak kita ketahui, tapi tak bisa ditutupi. Jogja barangkali bisa dilihat dengan kacamata kehidupan.&lt;br /&gt;Arwan Tuti Artha, Wartawan Harian Kedaulatan Rakyat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenali Jogja lebih dalam melalui buku ini. Penulis menyajikan sebuah fakta bukan basa-basi, agar kita bersama bisa menjaga Jogja untuk jauh lebih baik sebagai kota pelajar dan kota budaya. Semoga dengan buku ini menjadi PR kita untuk memasyarakatkan pendidikan mental positif.&lt;br /&gt;Diah Safitri Rs, International Trainer, Owner Tiens Centre Jogja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini Menarik untuk disimak terutama bagi penggemar 'Dunia Bawah Tanah' , karena menceritakan sisi lain dari samudera kebijakan sosial masyarakat Jogja yang mulai tergerus oleh putara zaman. Meskipun kisahnya mungkin sudah sering kita baca dan dengar dari berbagai sumber, namun Ridho bershasil mengungkapkannya melalui riset sederhana secara detail dengan bahasa khas anak musa masa kini.&lt;br /&gt;M. Afnan Hadikusumo, Anggota DPD RI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengupas tentang ”sisi lain” Jogja yang perlu direnungkan tapi tak lepas dari perdebatan. Ini interupsi kecil yang patut didengarkan tapi jangan dihakimi!&lt;br /&gt;Achmad Munif, Penulis Novel ”Perempuan Jogja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja sekarang bukan lagi kasur tua yang apak sebagaimana pernah dikatakan Rendra di tahun 70-an. Jogja sekarang kasur empuk yang wangi penuh goda dan pesona. Bagi yang ingin jadi pemuja nikmat dan syahwat dapat belajar di berbagai ‘situs’ seronok di sini.&lt;br /&gt;Musthofa W. Hasyim, Aktivis Sastra, Seni, dan Budaya di Jogja &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7246751027146372701?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7246751027146372701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7246751027146372701' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7246751027146372701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7246751027146372701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/06/terbit-buku-jogja-edan-bro.html' title='Terbit Buku: JOGJA EDAN, BRO!'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SkiY6RihGjI/AAAAAAAAALs/DHGJEYooKHg/s72-c/jogja-edan-bro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-2514203067257216085</id><published>2009-06-11T14:16:00.000+07:00</published><updated>2009-06-16T11:16:43.646+07:00</updated><title type='text'>Terbit: Buku Baru "Budaya Pop"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SjCwtvJUPiI/AAAAAAAAALk/sPw7pCFbnu0/s1600-h/pop+web+.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SjCwtvJUPiI/AAAAAAAAALk/sPw7pCFbnu0/s200/pop+web+.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345967057484922402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul     : Berhala Itu Bernama Budaya Pop&lt;br /&gt;Penulis   : Ridho "Bukan" Rhoma&lt;br /&gt;Penerbit  : Leutika Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan 1 : Juni 2009&lt;br /&gt;Harga     : 27.000,- (Diskon 20 %)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman goblogisasi dan gombalisasi ini, manusia modern semakin tidak bisa bebas bergerak. Mereka sudah mulai tergantung, lebih tepatnya kecanduan, dengan produk-produk modern yang sebenarnya buatan mereka sendiri. Sebut saja tivi, HP, game, alat-alat kosmetik (khusus para ladies), butik-butik kecantikan, internet, dan sederet produk lainnya. Peran media sangat penting dalam hal ini untuk menciptakan image pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang disebut budaya pop. Budaya yang kini telah berubah wujud menjadi berhala yang disembah-sembah. Berhala itu kini bukan ditakuti, tapi justru disenangi dan digandrungi menjadi pujaan hati. Buku ini dipenuh juga gambar-gambar kartu yang lucu dan gokil. Dipersembahkan buat meraka yang suka memlototi tivi. Buat yang suka mencet-mencet HP. Buat yang gandrung ngegame. Buat yang suka nongkrong di Mall and cafe. Buat yang suka bergaya ama fesyen. Buat yang suka bersolek ama alat-alat kosmetik. Buat netters (pecandu internet), serta mereka yang doyan googling dan yang dah jadi Jemaat Al-Facebookiyah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menarik untuk tidak sekadar dibaca, tapi menjadi renungan. Sebuah renungan yang akan membangunkan kita bahwa ‘nalar dan kesadaran’ kritis memang tak mudah ditidurkan begitu saja. Ridho memancing kita untuk mengusut keyakinan kita. Nyatanya hidup dalam budaya pop tak sekadar disiasati tapi juga butuh perlawanan tangguh. Ia menjadi salah satu sosok muda yang berusaha untuk membaca dengan ‘tafsir baru’ atas budaya pop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko Prasetyo, Penulis Buku Serial Dilarang Miskin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-2514203067257216085?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/2514203067257216085/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=2514203067257216085' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2514203067257216085'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2514203067257216085'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/06/berhala-itu-bernama-budaya-pop.html' title='Terbit: Buku Baru &quot;Budaya Pop&quot;'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SjCwtvJUPiI/AAAAAAAAALk/sPw7pCFbnu0/s72-c/pop+web+.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-5780315663021451888</id><published>2009-04-19T14:03:00.000+07:00</published><updated>2009-04-19T14:06:31.348+07:00</updated><title type='text'>Lama Gak Nulis di Blog</title><content type='html'>Eh, dah lama nih aq gak nulis di sini..&lt;br /&gt;nih psti gara2 da Facebook...&lt;br /&gt;Juga tugas kul pasca yg buanyakk bgt.. english lg..&lt;br /&gt;duh, jd bejubel deh kerjaannya..&lt;br /&gt;kadang penat jg&lt;br /&gt;tp so what gitu lho.. jalani aja.. smua pst jalan..&lt;br /&gt;oh ya, td da ikan paus yg terdampar di Radja FM.. anaknya jg ada lg, ha, ha...&lt;br /&gt;Dasar tuh ikan, terdampar kok gak ngomong2.. kan bs kontak media tuh.. minimal IPM.or.id. muhammadiyah.or.id. atau kuntum dan gudeg...&lt;br /&gt;.. &lt;br /&gt;aq ikut nulis kyk gini biz baca kambing jantan.. pinter jg tuh bahasanya.. ngacau n gokil abis emang.. &lt;br /&gt;so, tulisan ini beda bgt sm sblmnya yaw.. he, he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 19 april 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-5780315663021451888?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/5780315663021451888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=5780315663021451888' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5780315663021451888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5780315663021451888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/04/lama-gak-nulis-di-blog.html' title='Lama Gak Nulis di Blog'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-169381920125039160</id><published>2009-03-09T20:08:00.001+07:00</published><updated>2009-03-09T20:11:20.505+07:00</updated><title type='text'>Fatsun Politik Muhammadiyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SbUVUZKzoII/AAAAAAAAALc/hdynWn9K3b4/s1600-h/DSC_0003.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SbUVUZKzoII/AAAAAAAAALc/hdynWn9K3b4/s200/DSC_0003.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311174775651147906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah memiliki hajat bernama tanwir yang akan diadakan pada tanggal 5-8 Maret 2009 di Bandar Lampung, sebuah forum terbesar di Muhammadiyah setelah muktamar. Salah satu agenda besar yang akan dibahas adalah meneguhkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam menuju terciptanya masyarakat yang mandiri dan berkeadaban. Sebulan kemudian, tepat 9 April 2009, pesta demokrasi digelar di republik ini untuk memilih para anggota legislatif. Jarak yang tidak jauh antara tanwir dan pemilu, apalagi tanwir diadakan sebelum pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk mengarahkan masa depan negeri ini. Apalagi tema dalam tanwir adalah membangun visi dan karakter bangsa. Sebuah momentum yang cukup tepat bagi Muhammadiyah untuk berkontribusi dalam menuntun jalannya demokrasi di negeri ini. Selain itu, kader-kader Muhammadiyah sudah tersebar di berbagai sektor pemerintahan, sehingga kualitas dan kapabilitas mereka perlu dikembangkan ke jenjang yang lebih luas lagi. Kader Muhammadiyah juga kader bangsa, sehingga bukan menjadi sesuatu yang mengherankan jika ada kader Muhammadiyah yang berkontestasi di tingkat nasional. Toh, dia juga warga negera Indonesia yang memiliki hak sama dengan warga negara lain yang non Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada pemilu 2004, Muhammadiyah memiliki kader yang maju sebagai salah satu kandidat presiden, mengapa pada pemilu 2009 ini tidak berperan juga. Ini bukan berarti ingin mengulangi kesalahan, tetapi justru belajar dari sejarah untuk menciptakan sejarah baru. Realitas lahirnya Partai Matahari Bangsa merupakan bentuk ’kekecewaan’ terhadap Partai Amanat Nasional yang selama ini tidak bisa menampung aspirasi warga Muhammadiyah, padahal pendiri partai berwarna biru ini adalah mantan ketua umum Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar realitas di atas, muncul egoisme di kalangan elit gerakan ini, mengapa kader Muhammadiyah tidak maju sebagai salah satu kandidat presiden? Di antara para pimpinan Muhammadiyah yang popularitasnya cukup tinggi adalah Dien Syamsuddin, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Popularitasnya sebagai cendikiawan muslim tidak hanya terdengar di Indonesia saja, gaungnya bahkan hingga ke taraf internasional. Sebuah modal sosial yang cukup kuat untuk berkontestasi dengan para pesaing lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang demokrasi membuka kran bagi semua warga negara untuk terlibat sebagai pemain baik di tingkat lokal maupun nasional. Kalaupun hanya sekadar menjadi penonton, harus menjadi penonton yang kritis. Di antara salah satu pemain ataupun penonton itu pasti ada warga Muhammadiyah. Namun, Muhammadiyah sudah sejak lama menetapkan garisnya untuk tidak berpolitik praktis, tetapi tetap menghormati dan tidak buta terhadap politik. Jika berpolitik praktis, maka imbasnya akan terseret pada struktur Muhammadiyah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, jika ada ketua PWM yang maju sebagai calon legislatif dan dia menang dalam pemilihan, maka akan muncul logika di masyarakat bahwa untuk mendapatkan kursi legislatif tidak harus kemana-mana (apalagi mengeluarkan banyak biaya), tetapi cukup merebut kursi ketua PWM saja. Lalu, untuk merebut kursi ketua PWM harus melalui tahap persaingan ketat di antara para calon yang bersaing. Tidak menutup kemungkinan akan terjadi segala cara untuk mendapatkan jabatan ketua PWM, termasuk money politic dan black campaign di antara para calon. Jika hal ini terjadi, struktur Muhammadiyah akan terseok-seok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, melihat adanya perkembangan tersebut, Muhammadiyah mengeluarkan surat keputusan tentang pelarangan bagi pimpinan Muhammadiyah, ortom, dan amal usaha untuk terlibat dalam politik praktis yaitu maju sebagai calon legislatif, kepala daerah, ataupun DPD. Jika para kadernya tetap maju, maka harus meninggalkan jabatannya di struktur Muhammadiyah. Di samping itu pula, Muhammadiyah mungkin belajar pada sejarah bahwa di pemilu 2004 telah gagal menghantarkan kadernya menuju kursi RI satu, maka sejarah itu jangan berulang lagi. Sebagian opini publik mengatakan, bahwa orang sekaliber tokoh reformasi Amien Rais saja kalah, apalagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita tahu, bahwa Dien Syamsuddin sudah bergegas akan maju menjadi salah satu kandidat yang akan meramaikan bursa calon presiden ketujuh di republik ini. Hal ini terus menjadi perbicangan liar di internal Muhammadiyah. ’Bola liar’ itu seperti tak berpangkal. Ada beberapa hal catatan penting yang dikemukakan di sini. Pertama, Muktamar Muhammadiyah Malang 2005 melahirkan adanya kontrak moral di antara ketigabelas pimpinan Muhammadiyah yang terpilih (berikut tanda tangannya), bahwa mereka akan mengabdi di Muhammadiyah hingga akhir periode. Artinya, mereka semua telah berkomitmen atau mewakafkan diri untuk benar-benar berjuang di Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, realitas saat ini mengatakan bahwa Muhammadiyah belum memberikan restu kepada Dien untuk maju sebagai capres, terutama di kalangan elit. Ketiga, partai yang mengusung Dien maju sebagai calon presiden bukanlah partai besar yang sudah teruji pada pemilu-pemilu sebelumnya, apalagi basis suaranya belum bisa dibuktikan secara konkrit. Sebagian masyarakat mengatakan, partai pengusung Dien adalah partai pecahan dan setiap partai pecahan biasaya sulit untuk menjadi partai besar. Keempat, kader-kader Muhammadiyah tersebar di parelemen dan partai yang berbeda-beda, sehingga menjadi sulit bagi Dien untuk bisa merangkul mereka dan membulatkan suara pada satu fokus isu. Kelima, kecenderungan pemilih warga Muhammadiyah adalah pemilih rasional (rational voter), walaupun masih ada sebagian yang cenderung ideologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanwir yang akan berlangsung pada awal Maret nanti merupkan arena netral yang siapa saja bisa memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Karena itu, sebelum itu semua terjadi, kita jangan mempolitisir tanwir sebagai ajang untuk merapatkan isu tertentu, misal pencalonan presiden. Tanwir merupakan forum yang dihadiri oleh semua perwakilan wilayah, maka hendaklah forum ini dijadikan sebagai arena untuk membangun negeri ini menjadi negeri yang memiliki karakter yang bermartabat di hadapan semua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan di atas jauh lebih mulia daripada tujuan-tujuan pragmatis yang kepentingannya hanya sesaat. Jangan sekali-kali menodai tanwir dengan kepentingan politik praktis segelintir orang. Muhammadiyah jangan terlalu lelah dan kehabisan energi pada tahun yang serba demokrasi ini, karena Muhammadiyah memilik fatsun dalam berpolitik. Masih ada pekerjaan rumah yang akan menanti, yaitu Muktamar Muhammadiyah 2010 yang agendanya jauh lebih besar dan tentu menguras pemikiran yang sangat mendalam. Pada muktamar satu abad inilah, pikiran-pikiran Ahmad Dahlan akan diformulasikan ulang untuk menginjak pada abad kedua. Kiranya Dien dan warga Muhammadiyah bisa memahami realitas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Mahasiswa Pascasarjan Ilmu Politik UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-169381920125039160?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/169381920125039160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=169381920125039160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/169381920125039160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/169381920125039160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/03/fatsun-politik-muhammadiyah_09.html' title='Fatsun Politik Muhammadiyah'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SbUVUZKzoII/AAAAAAAAALc/hdynWn9K3b4/s72-c/DSC_0003.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-1556737196366281872</id><published>2009-03-08T13:09:00.001+07:00</published><updated>2009-03-08T13:10:11.169+07:00</updated><title type='text'>Dan Humor pun Harus Kritis</title><content type='html'>Dunia lawak Indonesia semakin marak dengan hadirnya jenis lawakan baru berupa musik humor. Hal itu ditandai dengan kesuksesan grup musik humor asal Surakarta, Team Lo, yang mengusung tema-tema humor menggelitik. Keadaan tersebut semakin menemukan jati dirinya setelah sering muncul sebagai band tamu di acara Audisi Pelawak Indonesia (API) oleh stasion televisi swasta TPI. Lagu-lagu yang dibawakan sangat beragam. Namun, tetap bernuansa plesetan. Mulai dari rock, pop, Islami, melayu, hingga lagu-lagu daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawak di televisi adalah melawak yang paling berat, karena harus melayani berbagai macam selera. Ia harus mampu menghibur anak umur tujuh tahun hingga kakek-kakek, yang lulusan S-3 maupun yang tidak pernah mencium bau sekolah. Ia juga harus menghibur orang yang senang kritik sosial sampai orang yang senang dengan lelucon timpuk-timpukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, dunia lawak dijadikan sebagai tempat pencarian nafkah. Jika tahun sebelum 70-an diadakan lomba lawak, pesertanya bisa dihitung dengan jari. Tapi, sejak tahun 80-an, peserta lomba lawak selalu berjubel pesertanya. Banyak orang berminat menjadi pelawak. Sekarang humor bisa di atas satu milyar. Orang menjadi terkesima hanya menjual lelucon sekitar 20 menit. Itu pun tidak seluruhnya lucu. Honornya betul-betul edan. Siapa yang tidak ngiler. Tiba-tiba pelawak melesat masuk ke dalam kelas ekonomi atas. Barangkali inilah yang dituntut masyarakat, honor tinggi, harus menampilkan lawakan yang berkualitas tinggi pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diiming-imingi duit, banyak orang berbondong-bondong membuat grup lawak. Hal ini muncul sekitar tahun 90-an. Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada anggapan, lawakan sekarang tidak lucu dan hanya dilucu-lucukan. Pernyataan ini amat sederhana, tetapi mengandung sebuah tuntutan lebih. Kebutuhan akan tertawa tidak saja terkekeh-kekeh, namun harus mempunyai muatan tertentu. Istilah sekarang, ikut berperan mendidik bangsa. Masyarakat kita semakin kritis, sehingga diperlukan pula humor yang kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai pihak nampaknya mulai sepakat. Ada kecenderungan bahwa lawak yang berkelas atas adalah yang memiliki unsur kritis. Lawak harus menjadi gerakan moral, menjadi semacam kontrol dalam kehidupan bernegara. Maka, lawak harus sedikit menyerempet ke arah politik. Hal yang demikian itu didukung lagi oleh media massa, baik elektronik maupun cetak, yang sering menyiarkan dan memberitakannya. Namun, melawak ke arah politik tidak gampang alias susah. Bahkan sebagian orang mengatakan, susahnya setengah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, seorang pelawak harus cerdas. Kritik bisa disampaikan lewat canda, agar yang dikritik tidak merasa dikritik. Pelawaklah yang kin tampil untuk menyuarakan keinginan itu. Bisa dikatakan, pelawak itu orang-orang lugu, sehingga kalau menyampaikan sesuatu hanya dianggap melucu, tidak serius. Dengan bahan yang sama nilainya, akan berbeda pengaruhnya jika diucapkan oleh Amin Rais dengan yang meluncur dari mulut Tessy Srimulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengertian paling dasar, lelucon terjadi karena dua sebab: tak sengaja dan disengaja. Lelucon tak sengaja terjadi begitu saja dan lucu.. Lelucon sengaja merupakan hasil kreasi. Bisa digolongkan sebagai buah karya dan cipta manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa karya lelucon hasil kreasi bisa dilacak "jurus" atau "senjata" yang menjadi pilihan para kreator sebagai alat pengungkapan ekspresinya. Jurus yang digunakan kreator bisa saja berlainan atau sama, namun tiap kreator biasanya berupaya mencapai sesuatu yang khas dan pas untuknya. Di antaranya ada guyon parikena. Isi leluconnya bersifat nakal, agak menyindir. Tapi tidak tajam-tajam amat. Bahkan cenderung sopan. Dilakukan oleh bawahan kepada atasan atau orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga satire dan slapstick. Satire sama-sama menyidir, tapi muatan ejekannya lebih banyak. Bila tak pandai-pandai memainkannya, jurus ini bisa sangat tidak mengenakkan. Beberapa karikatur di media barat punya kecenderungan yang kuat ke arah ini. Jika slapstick leluconnya kasar. Orang terjengkang. Kepala dipukul pakai tongkat. Perut diselomot setrika panas. Pendek kata, banal. Lelucon ini sangat efektif untuk memancing tawa masyarakat dari latar belakang pendidikan, sosial, dan ekonomi tertentu. Beberapa film kartun untuk konsumsi anak-anak, juga banyak menampilkan lelucon model ini. Si bebek dilempari benda oleh musuh dan masuk ke mulutnya. Benda itu ternyata granat. Lalu, meledak. Tubuhnya berantakan seperti kain yang diptong-potong. Tak lama kemudian, pulih lagi. Lalu si bebek cengar-cengir balas menyerang lawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketiga jenis lelucon di atas, masih ada jenis lelucon lainnya, seperti sinisme, pelesetan, analogi, surealisme, kelam, olah estetika, eksperimental, apologisme, dan lain sebagainya. Huh, dasar humor. Boleh tertawa asal mingkem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Redaktur Majalah Kuntum&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-1556737196366281872?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/1556737196366281872/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=1556737196366281872' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1556737196366281872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1556737196366281872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/03/dan-humor-pun-harus-kritis.html' title='Dan Humor pun Harus Kritis'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-4951002504130484610</id><published>2009-03-08T13:03:00.000+07:00</published><updated>2009-03-08T13:05:11.077+07:00</updated><title type='text'>Di Film Indie Aku Berekspresi</title><content type='html'>Indie merupakan sebuah semangat untuk do it your self. Lahirnya film indie bermula sa-at banyak pembuat film di Amerika kesulitan menembus jaringan Hollywood. Alasan film-film mereka ditolak, antara lain karena kurang populer dari segi cerita, tidak komersil, aktor dan aktrisnya kurang menarik sehingga tidak punya nilai jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah independen sendiri memang agak rancu waktu diterapkan di Indonesia. Di Ame-rika, istilah film indie adalah film yang mele-paskan diri dari industri mapan. Di Indonesia didefinisikan sebagai film yang nggak masuk bioskop atau layar lebar. Tetapi bisa juga disebut sebagai komunitas yang sejak awalnya memang menamakan diri indie sebelum me-nawarkan ke sebuah perusahaan. Karena semangat indie yang punya karakteristik idealis itulah booming bikin film pun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang ngomong kalau indie itu ha-rus benar-benar mencerminkan sebuah idea-lisme dari si pembuat. Tetapi sebenarnya se-tiap karya film apapun harus mempunyai pesan yang mencerminkan idealisme si pembuat. Terserah itu film cemen kayak sinetron, laris manis kayak AADC atau berat banget kayak garapannya Garin Nugroho.&lt;br /&gt;Jika dicermati, film-filmya Garin memang terkesan sangat imajinatif dan susah dipaha-mi, sehingga penonton merasa kesulitan da-lam menangkap pesannya. Padahal secara konsep maupun estetik top abis. Tidak ada salahnya jika seseorang dalam membuat film merasa perlu memberikan subyektifitasnya. Tetapi harus diingat, selain sebagai media eks-presi film juga merupakan media komunikasi, karena dibilang berhasil jika pesan yang disampaikan bisa dipahami penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, ada anggapan kalau membuat film itu gampang. Tinggal modal pinjem handy-cam, patungan beli kaset produksi, ngedit bareng. Jadi sudah. Tapi perlu diingat, harus ada keseimbangan antara konsep isi, cerita, segi estetik dan visual. Sebuah karya seni akan terlihat berkualitas pada saat terjadi keseim-bangan dari hal-hal di atas.&lt;br /&gt;Di samping itu, bikin film bisa dijadikan sebagai media untuk curhat, nggak perlu pa-kai riset dulu. Cuma sebatas modal dengkul sama urat doang. Tapi jangan ngamuk kalau hasilnya juga berkualitas dengkul dan urat, he... he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak salah kalau ada ungkapan, bahwa setiap orang adalah seniman, mampu bikin film sendiri. Tapi ada yang perlu digaris-bawahi, jika film itu merupakan sebuah makh-luk hidup tentunya dia akan berteriak. Film itu bakalan minta tolong untuk tidak diperkosa atas nama kebebasan seni. Dia juga memo-hon untuk hidup normal secara seimbang dari segi konsep dan estetik, karena dia merasa terhormat pada saat semua hal di atas terwu-jud. Dan si pembuat film akan merasa dihargai dengan jerih payahnya.&lt;br /&gt;Membuat jernis film ini memang tidak terlalu menghabiskan banyak uang, tetapi tuntutan berkualitas dan enak dinikmati itu harus. Tentunya kualitas bisa didapat lewat konsep cerdas dan brilian yang diturunkan ke tataran teknis pembuatan. Dan untuk mem-baca produk jadinya, dibutuhkan juga tingkat apresiasi yang boleh dibilang lebih tinggi dari penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta International Film Festival (JiFFest) sendiri menjadi salah satu even dari banyaknya even apresiasi film, baik lokal maupun internasional. Film-film yang diputer agak berbeda dengan film-film bioskop biasanya. Misinya adalah sebagai salah satu ajang sineas-sineas muda berbakat untuk menampilkan karya mereka, serta mening-katkan apresiasi masyarakat pada film yang bukan produksi perusahaan resmi. Film-film tersebut tentunya mengusung semangat indie, yang biasa diproduksi dengan biaya rela-tif rendah dan pilihan tema yang nggak umum banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Booming film semacam ini tidak lepas dari perkembangan teknologi yang makin dekat dengan pembelinya. Sebut saja mun-culnya berbagai handycam digital yang makin banyak ditemukan di pasaran. Dengan begitu, biaya produksi sebuah film bisa dipangkas. Sekarang, dengan modal ratusan ribu saja sudah cukup buat biaya produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, menjamurnya Komunitas Film Independen bisa menjadi wadah buat men-dongkrak produktivitas film indie. Banyak cara yang mereka lakukan. Membuat film, diapre-siasi dan disebarkan sendiri. Caranya berke-liling ke berbagai tempat. Duh, semangatnya perlu dikasih aplause. Indie banget gitu lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Redaktur Majalah Kuntum&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-4951002504130484610?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/4951002504130484610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=4951002504130484610' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4951002504130484610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/4951002504130484610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/03/di-film-indie-aku-berekspresi.html' title='Di Film Indie Aku Berekspresi'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-9216452668664672963</id><published>2009-03-08T13:02:00.001+07:00</published><updated>2009-03-08T13:02:46.959+07:00</updated><title type='text'>Kaligrafi, Butuh Tekun dan Teliti</title><content type='html'>Keindahan tulisan kaligrafi (Arab) yang biasa menghiasi masjid, mushala, atau al-Quran tidak terlepas dari tangan terampil para khathat (kaligrafer). Kemampuan memahami tulisan al-Quran dipadu de-ngan kreativitas seni yang prima menjadi kunci sukses seorang penulis kaligrafi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bani, seorang santri di Jogja, mengaku tertarik dengan seni keindahan menulis huruf Arab setelah belajar di salah satu pondok pesantren. Awalnya ia tidak berminat, tetapi setelah meli-hat tulisan kaligrafi temannya ia tertarik mempelajarinya. Diam-diam ia mulai mempelajari seni kaligrafi dengan mendatangi sejumlah toko buku. Ia membaca dan memahami beberapa buku yang membahas kaligrafi beserta contoh-contohnya, kemudian mulai berlatih. Usahanya mulai membuahkan hasil ketika ia mendapat order mendekorasi sebuah masjid. Sejak saat itu ia serius menekuni dunia seni kaligrafi. Pesanan  selalu saja ada, hingga se-karang tidak terhitung jumlah karyanya yang menghiasi masjid dan mushala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski telah banyak berkarya, Bani mengaku masih tidak puas akan ilmu yang di-milikinya. Setiap kali mendatangi mushala atau masjid, ia selalu kagum pada karya kaligrafi yang ada di dalamnya. Untuk memenuhi rasa tidak puasnya itu Bani selalu berdiskusi dengan sesama penulis kaligrafi sehingga memperoleh ide-ide segar yang bisa dituangkan pada karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada syarat khusus bagi seorang yang ingin belajar kaligrafi, tetapi bagi mereka yang ingin belajar hendaknya menguasai dasar menulis huruf Arab. Keinginan yang kuat dan bakat seni yang baik sangat membantu mempercepat seseorang belajar kaligrafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak jenis dan corak khat yang bisa dituangkan ke dalam bentuk seni. Khat Naskhi merupakan jenis khat yang paling dasar dan kita sering menjumpainya di setiap lembaran-lembaran al-Quran buatan Arab atau yang berukuran  kecil. Khat Riq’ah berfungsi untuk menulis arab cepat, sehingga bentuknya terlihat simpel dan tidak ada harokat. Khat Diwani dan Diwani Jali bentuknya melingkar-lingkar seperti tali yang diikat, terkadang susah kalau dibaca. Khat Koufi jenisnya kotak-kotak. Jika ingin melukis jenis khat ini harus meng-gunakan penggaris agar rapi dan sempurna. Khat Tsuluts adalah jenis kaligrafi yang indah dan sering digunakan untuk hiasan dinding atau kanvas. Bentuk hiasan khatnya bisa bulat, lon-jong, seperti buah apel, atau dalam bentuk binatang dan orang. Dan masih ada jenis khat yang lain, seperti khat Farisi dan Raihani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya seni kaligrafi bisa diperdagangkan karena diakui memiliki nilai jual yang baik. Karenanya banyak pelukis muslim yang membuat karya seni kaligrafi dari yang harganya murah hingga mahal. Kalau dijumlah mereka yang menekuni seni ini bisa ratusan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan kaligrafi di Indonesia saat ini terlihat sangat pesat. Di Indonesia kita memiliki Amri Yahya dari Yogyakarta, pelukis kaligrafi yang juga sebagai pelopor seni batik Indonesia yang beberapa waktu lalu telah meninggal. Ada juga Saiful Adnan yang karya lukisan kaligrafinya memiliki karakter dan ciri khas yang kuat. Khatnya berbeda dari delapan jenis khat  yang baku. Belum lama ini ada lukisan kaligrafi yang tulisannya berjenis HanZi yang diperkenalkan oleh Winarso, seorang pelukis, mantan kepala sekolah sebuah SMU di Yogyakarta. Karakter khatnya  lebih mengandalkan kombinasi antara tulisan Arab dan China, sehingga terlihat bahwa itu jenis kaligrafi China. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Demak ada tempat pengrajin seni kaligrafi relief yang terbuat dari bahan kuningan. Kerajinan ini, barangkali baru satu-satunya yang ada di Kota Wali. Mu’alim, si pembuat kaligrafi itu sangat mahir menggambar dalam bentuk ikan arwana, gerombolan kuda liar, kereta kencana, dan binatang lain dalam lembaran plat kuningan. Menurut pengrajin kaligrafi asal Jepara ini, untuk bisa menulis kaligrafi yang berkualitas diperlukan  ketelitian, ketenangan dan kesabaran. Sebab, salah sedikit menulis bisa berakibat fatal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya kaligrafi Indonesia saat ini sudah dikenal di dunia dan dapat disejajarkan dengan karya dari Irak, Mesir, dan Turki yang sudah terlebih dahulu mendunia. Di tingkat ASEAN saja kaligrafi Indonesia sering kali merajai ber-bagai kompetisi. Salah satunya saat lomba kaligrafi di Brunei Darussalam tahun 2002 Lembaga Kaligrafi Al-Quran (Lemka) menjadi juara pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, grup band Dewa telah menggunakan lafadz “Allah” (jenis khat Koufi) untuk cover album terbarunya, Laskar Cinta. Dalam pementasan yang disiarkan langsung salah satu TV swasta itu, terlihat gambar kaligrafi itu dijadikan alas panggung pentas. Dani dan teman-temannya berjingkrak-jingkrak memainkan musik di atasnya.&lt;br /&gt;Tentu saja, perbuatan ini memicu pertentangan di kalangan umat Islam. Apalagi bagi mereka yang benar-benar paham tentang kaligrafi. Gugatan muncul dari kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang menyatakan siap memerangi perbuatan yang dipelopori oleh Ahmad Dani tersebut. Di pihak lain dukungan kepada Dewa mucul dari Ulil Abshar Abdalla dan Gus Dur. Prisipnya, Dani mengatakan ini kebebasannya sebagai umat muslim untuk berekspresi, tetapi dalam sebuah jumpa pers dia telah menyatakan minta maaf jika perbuatan ini menyinggung umat Islam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Redaktur Majalah Kuntum&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-9216452668664672963?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/9216452668664672963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=9216452668664672963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/9216452668664672963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/9216452668664672963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/03/kaligrafi-butuh-tekun-dan-teliti.html' title='Kaligrafi, Butuh Tekun dan Teliti'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7852880525563912008</id><published>2009-03-08T12:59:00.000+07:00</published><updated>2009-03-08T13:00:47.153+07:00</updated><title type='text'>Mural, Siapa Yang Suka?</title><content type='html'>Sederet gambar dengan warna bervariasi pada dinding-dinding jalanan daerah Kuningan terkesan cukup unik. Terpampang sebuah gambar wajah setengah abstrak seakan menyapa publik yang melintasi simpang empat itu. Ada pula karikatur sosok jagoan mirip James Bond dengan gaya sedang melakukan pembunuhan sadis. Memanfaatkan tembok pinggir jalan, penyangga tol, jalan layang, serta pagar dinding sebagai media untuk berekspresi dan berkarya, karya seni ini menyebar hampir ke seluruh sisi kota Yogyakarta. Mural, demikian banyak orang mulai mengenalnya, telah semarak di berbagai kota besar, seperti Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mural yang  pada awalnya dibuat sebagai ungkapan protes lewat gambar-gambar di tembok-tembok bangunan dan gedung-gedung di wilayah perkotaan, ekspresi dan maknanya mulai bergeser. Tidak melulu sebagai ungkapan protes tetapi juga menambah artistik tata ruang kota dan menjadi pemandangan yang menyejukkan di tengah ingar bingar rutinitas kehidupan kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala ini menular ke beberapa tempat setelah ada  seniman yang tergabung sebuah komunitas salah satunya adalah  Apotik Komik. Kemudian beberapa siswa sekolah mulai melukis dinding sekolahnya. Para pemuda melukisi dinding kampungnya. Hal ini dapat menjadikan kota lebih cantik. Jogja telah melakukannya, karena sesuai dengan citranya sebagai kota budaya. Namun, banyak pertanyaan, apakah mural itu mempercantik atau malah mengotori keindahan kota?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta pernah terjadi penghapusan semua lukisan dinding dengan cat putih pada tahun 2001. Namun, pelarangan itu hanya berhenti sebentar. Beberapa waktu kemudian bermunculan lagi gambar-gambar yang lebih unik. Inilah bentuk perjuangan para seniman yang ingin mendapatkan ruang publiknya sendiri. Orang tidak melulu dihadapkan pada pemandangan kota yang dipenuhi papan iklan, tetapi akan lebih hidup dengan aneka gambar seni di pinggir jalan raya. Di Jakarta ada sekelompok seniman yang dimotori Kassah Hakim, misalnya, membuat karikatur tokoh-tokoh politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai penghias kota, mural mampu untuk menggugah kesadaran masyarakat. Sebagai contoh, sebuah mural yang terdapat di sekeliling tembok lapangan Kridosono dan di dinding SD Negeri Tukangan I Jalan Suryopranoto Jogjakarta. Setiap kali kita lewat jalan itu pasti tampak pemandngan lukisan. Mural yang berada di pojok perempatan itu bukan hanya melakukan kampanye baca, melainkan juga pendekatan yang tepat kepada masyarakat akan perlunya membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja beberapa tulisan yang terbaca pada mural tersebut: Open book open mind, book reader, maca buku agawe pinter lan migunani (membaca buku membuat pintar dan bermanfaat). Semua kata itu sangat jauh dari kesan bombastis. Para pembuat mural ini membiarkannya mengambang begitu saja sehingga kata-kata yang bertebaran dalam mural tersebut terasa lebih padat. Ini lebih bisa diterima dibanding kampanye lain yang lebih bombastis dan penuh dengan slogan kosong. Bagi seniman mural, pilihan warna yang terbaik untuk mural adalah gelap, karena tidak akan memantulkan cahaya lampu bagi kendaraan yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh gambar mural di atas bukanlah seseorang berkacamata sedang membaca buku di perpustakaan, tetap seseorang yang sedang naik skate board sambil baca buku. Ini cara unik untuk mendekati publik. Ikon seperti ini akan lebih akrab, terutama bagi anak muda perkotaan. Sekaligus memberi arti, bahwa ketertinggalan bisa dihindari dengan selalu memperluas wawasan dengan membaca. Juga membaca merupakan kendaraan untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mural lebih cocok dengan sifatnya yang langsung berhadapan dengan khalayak. Sehingga tidak heran jika ia memiliki tema yang beragam, termasuk sosial dan politik, yang dikemas secara cukup provokatif. Banyak juga mural yang bercorak simbolik, karikatural, dan abstrak, yang akhirnya publik kesulitan mencerna pesannya. Maka, sebaiknya seni mural dibuat sedemikian enak dengan pemahaman masyarakat. Apalagi para pengendara sepeda motor atau kendaraan lain yang hanya melihatnya selintas. Biasanya sebagian besar seniman mural adalah mereka yang pernah menekuni dunia komik, misalnya komunitas Masyarakat Komik Indonesia dan Sekte Komik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mural dapat membantu bagi seniman yang kurang memiliki modal untuk memasyarakatkan dan mengaktualisasikan ide mereka. Tentu, karya itu hanya bisa dinikmati dan tak bisa dibeli. Seperti halnya seniman teater yang menggunakan pasar, atau swalayan, untuk memperagakan happening art  dan pembacaan puisi. Dengan mengambil ikon anak muda, mural telah melakukan pendekatan yang tepat kepada publik akan pentingnya sebuah pesan moral. Ada semacam citra yang dicoba untuk dibangun, semisal kebersihan itu pangkal kesehatan atau menulis adalah aktivitas yang menyenangkan, gaul dan funky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Redaktur Majalah Kuntum&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7852880525563912008?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7852880525563912008/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7852880525563912008' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7852880525563912008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7852880525563912008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/03/mural-siapa-yang-suka.html' title='Mural, Siapa Yang Suka?'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-5034365019282992197</id><published>2009-02-26T19:47:00.000+07:00</published><updated>2009-02-26T20:09:30.212+07:00</updated><title type='text'>Kupang, Potret Pluralitas Kota Kasih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SaaUe5WVesI/AAAAAAAAALI/pCtjIMm7qiI/s1600-h/S7300681.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SaaUe5WVesI/AAAAAAAAALI/pCtjIMm7qiI/s200/S7300681.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307092469414197954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adalah pengalaman baru, saya bisa berkunjung ke ibu kota Nusa Tenggara Timur (provinsi yang memiliki 16 kabupaten dan kota) yang terkenal sebagai ”Kota Kasih” ini. Di pinggi-pinggir jalan selalu ada tulisan ”Kupang Kota Kasih”. Pengambilan istilah ”Kasih” merupakan singkatan dari Kupang Aman, Sehat, Indah, dan Harmonis. Mungkin inilah suasana kerukunan yang didambakan masyarakatnya. Perbedaan waktu antara Kupang dengan Indonesia bagian barat, satu jam lebih cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, hampir di seluruh lapisan bawah tanah Kupang adalah karang. Sebagian masyarakatnya memberikan julukan lain kepada Kupang sebagai kota karang. Karena lapisan karang itulah, air menjadi sulit untuk didapatkan, sekalipun hampir setiap hari hujan. Walaupun hujan sangat deras, tapi jarang terjadi banjir. Seorang aktivis kampus di Kupang mengatakan, tanah di utara Kupang ini turun satu sentimeter setiap tahun, tapi tanah di selatan Kupang naik satu sentimeter juga. ”Jadi, Kupang seimbang dan nggak akan tenggelam walaupun hujan lebat, he, he...” guraunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang pihak penginapan yang kami tempati beli air dari tangki. Jadi, kita harus hemat air. Untuk mencuci saja harus menunggu bak mandi penuh. Karena itulah, pakaian kotor kami serahkan ke laundry yang ada di penginapan. Harganya dihitung per potong, tidak kiloan. Harga per potong 2.500 rupiah untuk semua jenis pakaian. Untuk jas paling mahal, 30 ribu rupiah. Tidak ada jasa laundry lain di sekitar penginapan. Sebenarnya kami ingin mencuci sendiri, tapi repot. Sedangkan laporan penelitian harus banyak yang dikerjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan ke Kupang ini berawal dari adanya penelitian tentang kehidupan beragama di kampus Nusa Cendana (Undana). Sebuah kampus yang didirikan tahun 1962 dan kini telah memiliki tujuh fakultas, baik sosial-humaniora maupun eksak. Tata letaknya hampir mirip kampus UI Depok. Luas, banyak pepohonan yang memisahkan antara satu fakultas dengan fakultas lain, dan di pinggiran kota. Model kampus seperti ini bisa menjadi contoh bagi kampus-kampus yang lain. Tetapi (maaf), bangunannya tergolong kurang terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibandingkan dengan kunjungan sebelum-sebelumnya, kunjungan kami ke kawasan yang mayoritas penduduknya beragama Katolik dan Protestan ini cukup lama, hampir tiga minggu. Seolah sudah menjadi warga sana. Saya bersama Drs. H. Dahwan, M.Si. (Dosen Syariah UIN Sunan Kalijaga) tiba di Bandara El-Tari Kupang pada hari Jumat tengah malam, 9 Januari 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami transit sementara di penginapan Astiti. Keesokan harinya hingga akhir penelitian, kami tinggal di penginapan Flores Indah di Kelurahan Solor, salah satu perkampungan muslim di Kupang. Penginapan ini milik orang Arab. Letaknya dekat pantai Kupang, sekitar 300 meter ke arah selatan. Jadi, kalau kita lari pagi, pasti bertemu dengan mulut pantai. Ada dua perkampungan muslim lainnya, Kampung Airmata dan Gondopoi. Sebenarnya masih ada penginapan yang lebih baik dari yang kami tempati, tetapi banyak hotel yang menyediakan kupu-kupu malam. Kami tak sanggup untuk tinggal di penginapan seperti itu, takut gak konsen buat laporan, he, he... Menurut data Depag NTT tahun 2007, jumlah muslim di NTT hanya 8,5 persen berada pada urutan ketiga setelah Katolik dan Protestan. Kemudian disusul Hindu dan Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap hari, kami selalu mengunjungi Undana (kampus Penfui) dengan bis Damri. Disebut kampus Penfui karena letaknya di kampung Penfui. Ongkosnya 2.500 rupiah. Bis melewati pinggiran pantai, pasar ikan, terkadang naik-turun bukit, dan melintasi perkampungan. Waktu yang ditempuh sekitar 20 hingga 30-an menit. Tergantung laju kecepatan bis. Setelah turun dari bis, kami masih harus berjalan kaki lagi di bawah terik panasnya matahari untuk sampai ke kampus. Begitu juga ketika pulang. Tak jarang air keringat keluar dari pori-pori tubuh. Walaupun cuacanya hujan, tapi hawanya tetap panas. Maklum, harus adaptasi. Kalau ke kampus Undana lama, kami naik mikrolet jalur 2. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat di kampus, kami mencari dan mengcopy beberapa data, wawancara, mengamati perilaku mahasiswa, dan kembali lagi ke penginapan untuk menulis laporan. Berbagai kendala yang muncul dari pihak kampus sempat mewarnai perjalanan selama di Kupang. Namun itu justru menjadi tantangan. Di luar kampus, kami juga bertemu dengan beberapa aktivis organisasi ektra kemahasiswaan, seperti GMKI, PMKRI, HMI, GMNI, PMII, dan KAMMI sebagai pelengkap data. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca di Kupang memang lebih panas dibandingkan dengan kota-kota semisal Malang, Yogyakarta, Bandung, dan Bogor. Walaupun kami datang di saat musim hujan, namun udaranya tetap saja panas. Hal ini dibenarkan oleh ibu penjual Rumah Makan ”Teluk Bayur” asal Bukit Tinggi. ”Panas ya, Mas? Ini aja sudah panas, apalagi kalau musim kemarau. Panasnya bisa sampai 37 derajat celcius,” ungkapnya. Tak heran jika ada perubahan di wajah saya, agak mateng, he, he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal makan, harganya lebih mahal dibanding dengan makanan yang ada di Jawa. Jika saya makan dengan ikan laut, harga satu porsi bisa 25 ribu rupiah. Itu belum dengan air minumnya. Namun ada juga warung yang menyediakan makanan seharga 10 ribuan rupiah. Sebenarnya kami cukup sulit menjumpai rumah makan yang tergolong halal. Tetapi karena kami tinggal di kawasan muslim, banyak rumah makan yang menjadi pilihan sehari-hari. Misal, masakan Padang, masakan Solo, masakan Pasundan, nasi kuning, nasgor, Jawa timuran, soto, dan lain sebagainya. Sebagian besar penjualnya banyak pendatang, terutama dari Jawa. Kami pun ngobrol dengan bahasa Jawa. Tak jarang terdengar musik-musik dangdut juga. Plat kendaraan tidak hanya asli Kupang (DH), tetapi dari luar daerah juga ada. Serasa masih seperti ada di Jawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NTT juga merupakan salah satu provinsi multietnis. Budaya lokalnya beragam. Ada budaya Sumba, Rote, Alor, Lamaholot, Lio, Ende, Keo, dan lain sebagainya. Tidak ada satu budaya paten di NTT seperti budaya betawi mewakili Jakarta atau minang di Padang. Namun yang sering menjadi perwakilan NTT biasanya budaya Rote. Di samping itu, banyak imigran yang menetap di Kupang. Tentu jumlah mereka masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk lokal. “Saya tinggal di Kupang sudah 17 tahun, Mas. Jualan jamu gendong. Untungnya lumayan. Bisa untuk nambah biaya anak-anak yang sekolah di Ngawi,” kisah ibu setengah baya itu kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana selalu ada gereja, bahkan tepat di depan penginapan kami ada satu gereja Protestan. So, sangat sulit sekali mendapatkan masjid. Suara adzan pun jarang terdengar. Untung saja 200 meter sebelah barat penginapan ada Masjid Al-Fatah yang biasa kami kunjungi untuk shalat terutama Dhuhur, Maghrib, dan Subuh. Maklum, kami terbiasa menjamak. Tetapi jamaah yang hadir tidak lebih dari tiga shaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu hal yang berbeda di Kupang, yang tidak kita jumpai di kota-kota besar di Jawa. Di Kupang hampir tidak ada pengemis dan pengamen. Menurut penjelasan Ketua PWM NTT, Drs. H. Zaenuddin Achied, masyarakat Kupang memiliki nilai gengsi yang sangat tinggi. Hal ini dibenarkan oleh teman-teman IPM Kupang. ”Masyarakat Kupang itu tidak mau harga dirinya direndahkan. Lebih baik kelaparan daripada harus meminta-minta,” jelas teman-teman IPM. Tetapi kami masih menjumpai beberapa pemulung dan orang gila di pinggiran jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang patut untuk diceritakan juga adalah orang-orang Kupang termasuk memiliki sikap yang ramah. Kalau kami menyapa, mereka pun melempar senyuman khasnya. Ketika naik Damri, mereka rela membagi kursi yang seharusnya cukup untuk dua orang menjadi tiga orang. Panggilan khas orang Kupang adalah ”Nona” untuk perempuan (kalau di Jawa ”Mbak”) dan ”Nyong” untuk laki-laki (kalau di Jawa ”Mas”). Sapaan kami sehari-hari kepada mereka adalah ”Met Pagi...”, ”Met Siang...”, ”Met Malam...” atau cukup dengan ucapan ”Halooo....” atau ”Saloommm”. Wajar, mereka kan non muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu semua, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa amal usaha Muhammadiyah, seperti TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK). Tapi sayang, suasana konflik di Muhammadiyah Kupang cukup tinggi. Salah satu konflik yang sempat mewarnai selama kami di sana adalah, perebutan jabatan rektor UMK yang menyebabkan kegiatan kampus mati total hingga kepulangan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, di tengah-tengah kesibukan, kami tetap mengikuti perkembangan berita tentang perang Israel-Palestina, pelantikan Barack Obama sebagai Presiden AS ke-44, tragedi tenggelamnya Kapal Teratai Prima di laut Sulawesi, banjir di Ibu Kota Jakarta dan beberapa daerah lain, turunnya harga BBM menjadi 4.500 rupiah, terbunuhnya Kolonel Kasminah, serta tak kalah juga komedi lucu Tawa Sutra sebagai penghibur kami. Semuanya telah mewarnai selama perjalanan kami di Kupang hingga Ahad, 25 Januari 2009. Capek juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Redaktur Majalah Kuntum&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-5034365019282992197?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/5034365019282992197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=5034365019282992197' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5034365019282992197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5034365019282992197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/02/adalah-pengalaman-baru-saya-bisa.html' title='Kupang, Potret Pluralitas Kota Kasih'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SaaUe5WVesI/AAAAAAAAALI/pCtjIMm7qiI/s72-c/S7300681.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7104369612415244308</id><published>2009-02-22T20:59:00.000+07:00</published><updated>2009-02-22T21:00:32.155+07:00</updated><title type='text'>Terorisme dan Ketidakadilan Global</title><content type='html'>Pengantar Tentang Kejahatan Lintas Batas&lt;br /&gt;Berbicara tentang kejahatan lintas batas, maka kita akan membicarakan tentang segala bentuk tindakan kriminal yang melampaui batas-batas teritorial tertentu. Akan ada banyak pengertian yang digunakan untuk memberikan definisi terhadap istilah ”kejahatan lintas batas” atau yang disingkat dengan KLB. Di sini akan diuraikan juga macam-macam bentuk kejahatan lintas batas, serta terorisme sebagai isu sentral dalam kajian ini. Pada akhir pembahasan, diuraikan perspektif kritis dalam melihat terorisme sebagai kejatahan lintas batas serta solusi penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahatan lintas batas dapat didefinisikan sebagai kejahatan yang kompleks dan melibatkan para pihak (stakeholders) yang sungguh mengancam keamanan global. Lima faktor penyebabnya meliputi isu militer, ekonomi, politik, lingkungan, dan sosial. Kelima elemen ini pada tataran konsepsional dapat dibedakan, tetapi pada level praksis, ketika timbul ancaman keamanan, substansi keterhubungan antar faktor-faktor itu menjadi sulit dibedakan. Artinya, sangat sukar mendeterminasi bahwa, sebuah ancaman keamanan nasional, regional, dan internasional hanya disebabkan oleh satu faktor saja (a single factor), misalnya faktor ketidakadilan ekonomi atau diskriminasi politik (www.suarapembaruan.com, 28/5/07).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ancaman keamanan lintas batas terutama di daerah perbatasan setiap negara adalah penyelundupan orang dan barang. Modus operandi ini menjadi potensi ancaman besar bagi keamanan lintas negara yang sulit diberantas. Senator Amerika Serikat, John Kerry, menganggap kejahatan lintas batas sudah menggurita, yang erat hubungannya dengan aspek bisnis yang sangat menggiurkan. Kejahatan model ini juga melibatkan organisasi mafia, beraliansi dengan mitra lokal, pihak militer, birokrat, pebisnis, dan masyarakat. Perdagangan ilegal antar-negara antara lain meliputi obat-obatan terlarang, senjata, barang elektronik, manusia untuk tenaga kerja murah, perjualan organ tubuh, serta industri seks dan modal (www.suarapembaruan.com, 28/5/07).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, terdapat pemikiran bahwa ”kejahatan lintas batas” (transnational border crime) belum dapat diklasifikasikan sebagai jaringan sebuah organisasi kejahatan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, dampak sangat besar dari kejahatan lintas batas itu mendorong pihak keamanan dan pemerintah untuk mengkontekskan perbuatan tersebut sebagai Transnational Organized Crime (TOC). Kejahatan terorganisir antar-negara tersebut semakin diawasi setelah penyerangan terhadap ”Menara Kembar” di New York, 11 September 2001. Modus operandi itu, kini diperhitungkan sebagai sebuah fenomena dan tindakan kriminal (terorisme) baru. Kendati pun belum ada definisi yang jelas tentang kejahatan lintas batas, tetapi salah satu faktor pemicunya adalah kemudahan akses internasional di sektor telekomunikasi, teknologi, dan informasi. Selain itu, kejahatan lintas batas terjadi juga karena lemahnya penegakan hukum di negara-negara berkembang antara lain seperti di Indonesia (www.suarapembaruan.com, 28/5/07). &lt;br /&gt;Pada perspektif yang lain, suatu perbuatan diklasifikasikan sebagai kejahatan lintas batas apabila memenuhi dua aspek utama. Pertama, dilakukan baik oleh individu atau kelompok secara ilegal; ditinjau dari sisi hukum dan keamanan dua atau lebih negara terkait. Dari sudut pandang dua negara bersangkutan, perbuatan serupa dikelompokkan sebagai “perbuatan melawan hukum”. Kedua, dari perspektif internasional, perbuatan kriminal serupa itu jelas melanggar berbagai perjanjian bilateral, trilateral, multilateral, konvensi, atau deklarasi tentang isu dan kasus yang sudah disepakati. Artinya, telah ada kekuatan hukum sebagai dasar dan rujukan untuk menilai sebuah perbuatan melawan hukum negara, dan patut dihukum (www.suarapembaruan.com, 28/5/07). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai bentuk kejahatan dapat dikategorikan sebagai kejahatan lintas batas (transnational crime) dengan melihat lokasi kejadian atau pelakunya. Ada yang terjadi di wilayah perbatasan antara dua negara dan melibatkan penduduk yang tinggal disekitarnya (transborder crime). Namun ada juga yang tersebar di berbagai kota/daerah yang bukan wilayah perbatasan, dilakukan secara berkelompok/jaringan internasional yang terorganisir (transnational organized crime). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan referensi yang telah ditemukan, ada 11 contoh jenis kejahatan lintas batas yang dapat dikemukakan di sini. Berikut ini adalah jenis-jenisnya. &lt;br /&gt;1. Terorisme, merupakan serangan terkoordinir yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tata cara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang tiba-tiba dan target korban yang seringkali warga sipil (Kamus Wikipedia).&lt;br /&gt;2. Bajak laut (pirate), adalah para perampok di laut yang bertindak di luar segala hukum. Tujuan mereka mencari keuntungan sendiri dan tidak melayani siapa pun kecuali di bawah bendera Jolly Roger (bendera bajak laut). Target utama penyerangan para bajak laut adalah sebagian besar kapal-kapal (dan juga daerah-daerah kolonial) yang berada di bawah kekuasaan Spanyol atau Portugis (Kamus Wikipedia).&lt;br /&gt;3. Illegal loging atau penebangan liar, merupakan kegiatan penebangan hutan yang tidak mendapatkan izin pemerintah dan dilakukan secara diam-diam. &lt;br /&gt;4. Illegal fishing atau penangkapan ikan secara liar. Kegiatan seperti ini sama saja urgensi dengan pembalakan dan penambangan liar. &lt;br /&gt;5. Perdagangan manusia adalah perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk lain dari pemaksaan, penculikan, penipuan, kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau memberi atau menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan agar dapat memperoleh persetujuan dari seseorang yang berkuasa atas orang lain, demi tujuan eksploitasi (Situs Resmi Kedutaan Amerika di Jakarta).&lt;br /&gt;6. Penyelundupan (smuggling), bisa berupa apa saja dari satu negara ke negara lain tanpa legal-formal.&lt;br /&gt;7. Perdanganggan obat-obat terlarang (drug trafficking).&lt;br /&gt;8. Penyelundupan senjata. Jenis kejahatan ini bisa berupa senjata api dan gas, serta peralatan senjata perang lainnya. Proses penjualan bisa dilakukan melalui darat dan udara (www.tempo.co.id, 2/12/04). &lt;br /&gt;9. Kejahatan dunia maya (cyber crime). Dunia internet memang seperti dua sisi mata uang. Sisi satu memiliki nilai positif, tapi sisi lain mengandung nilai negatif. Nilai negatif ini yang dikategorikan sebagai kejahatan lintas batas. Kejahatan macam ini bisa berupa pembobolan data milik negara, seperti yang pernah terjadi pada KPU.&lt;br /&gt;10. Pencuciang uang (money laundering). The Financial Action Task Force (satuan tugas internasional) memerangi pencucian uang di seluruh negara. Indonesia masuk dalam daftar hitam negara tidak kooperatif sejak 2001 bersama dengan negara-negara yang selama ini dikenal sebagai surga pencucian uang, seperti Myanmar, Nauru, Nigeria, dan Filipina.&lt;br /&gt;11. Korupsi. Secara sederhana korupsi bisa dipahami sebagai gejala atau praktek di mana para pejabat badan-badan negara menyalahgunakan jabatan mereka, sehingga memungkinkan terjadinya suap, pemalsuan serta berbagai ketidakberesan lainnya, demi keuntungan pribadi (BN. Marbun, 2005). Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, penjelasan tentang korupsi sudah dipaparkan secara gamblang dalam 13 buah pasal dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001. Korupsi disepakati sebagai kejahatan lintas batas/negara yang serius pada pertemuan ke-6 tingkat Pejabat Senior ASEAN tahun 2006 tentang Kejahatan Lintas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kejahatan lintas batas meningkat cukup signifikan beberapa tahun terakhir dan menimbulkan kerugian negara yang sangat besar. Kejahatan yang terjadi di wilayah perbatasan, antara lain seperti illegal loging, illegal fishing, perdagangan manusia, penyelundupan, dan perdanganggan obat-obat terlarang telah menimbulkan kerugian negara puluhan triliun setiap tahunnya, jumlah yang semestinya cukup besar untuk membantu peningkatan kesejahteraan rakyat. Dari kejahatan trafficking, Indonesia dijadikan sebagai negara transit dalam penyelundupan migran gelap dari Timur Tengah ke Australia, dan melahirkan permasalahan tersendiri dalam hubungan diplomatik Indonesia-Australia. Masalah yang serupa juga terjadi dengan negara Malaysia. Selain itu Indonesia juga dianggap sebagai negara pemasok Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk industri prostitusi di Singapura atau Hongkong, yang disisipkan lewat kegiatan pengiriman TKI. Serupa hal itu, Indonesia menjadi pasar PSK asal Cina, Taiwan, Rusia, dan negara asing lainnya. Dua jenis kejahatan ini menimbulkan social cost yang besar bagi Indonesia (www.solidaritycenter.org).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kejahatan money laundering atas hasil dari bisnis haram seperti prostitusi, perjudian, narkoba, dan bahkan dari hasil korupsi yang masih sulit diatasi. Pada bulan Maret 2003, Bureau for International Narcotics and Law Enforcement Affairs, United State dalam International Narcotics Control Strategy Report melaporkan bahwa Indonesia termasuk dalam deretan negara major laundering countries di wilayah Asia Pasifik. Predikat ini diperuntukkan bagi negara yang lembaga dan sistem keuangannya terkontaminasi oleh bisnis narkotika internasional dalam jumlah yang sangat besar. Laporan tersebut didukung oleh laporan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2003, bahwa jumlah peredaran uang dalam bisnis narkoba di Indonesia mencapai 300 triliun rupiah per tahun, hampir sama dengan APBN yang hanya 315 triliun pada tahun itu (www.bnn.go.id). Selain itu, miliaran bahkan triliunan rupiah uang hasil korupsi disimpan di bank atau diinvestasikan di luar negeri dan penegak hukum tidak berdaya untuk menarik dana tersebut kembali ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat dipahami, bahwa kejahatan lintas batas merupakan tindakan kriminal yang tidak kenal keamanan dan perdamaian internasional. Dalam hal ini, kejahatan lintas batas akan difokuskan pada isu terorisme sebagai salah satu bentuk tindak kejahatan lintas batas yang merugikan manusia di mana pun mereka berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme: Perlawanan atas Ketidakadilan Global&lt;br /&gt;Dari jenis-jenis kejahatan lintas batas di atas, kajian ini difokuskan pada isu terorisme. Sebuah isu yang semenjak tragedi meledaknya World Trade Center lebih dilekatkan dengan isu jihad. Padahal makan terorisme sangat jauh dari esensi jihad  itu sendiri. Nama agama di sini menjadi kambing hitam terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli kontraterorisme, istilah ”teroris” dilekatkan pada para pelaku yang tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna, serang-serangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki pembenaran. Karena itu, para pelakunya (teroris) layak mendapatkan pembalasan yang kejam. Selain oleh pelaku individual, terorisme bisa dilakukan oleh negara atau dikenal dengan terorisme negara (state terorism). Misalnya, seperti dikemukakan oleh Noam Chomsky yang menyebut Amerika Serikat ke dalam kategori itu. Persoalan standar ganda selalu mewarnai berbagai penyebutan yang awalnya bermula dari Barat. Seperti ketika Amerika Serikat banyak menyebut teroris terhadap berbagai kelompok di dunia, di sisi lain liputan media menunjukkan fakta bahwa Amerika Serikat melakukan tindakan terorisme yang mengerikan hingga melanggar konvensi yang telah disepakati (Kamus Wikipedia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Francisco Budi Hardiman, istilah ”terorisme” pada tahun 1970-an dilekatkan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kelaparan dan kemiskinan. Istilah ini jelas berkonotasi peyoratif, seperti juga istilah ”genosida” atau ”tirani”. Karena itu, istilah ini juga rentan dipolitisasi. Lebih jauh, dia menjelaskan juga bahwa terorisme termasuk dalam kategori kekerasan politis (political violence) seperti kerusuhan, huru-hara, pemberontakan, revolusi, perang saudara, gerilya, pembantaian, dll. Karakteristiknya antara lain, pertama, merupakan intimidasi yang memaksa. Kedua, memakai pembunuhan dan penghancuran secara sistematis sebagai sarana untuk satu tujuan tertentu. Ketiga, korban bukan tujuan melainkan sarana untuk menciptakan perang urat syaraf, yakni ”bunuh satu orang untuk menakuti seribu orang”. Keempat, target aksi teror dipilih, bekerja secara rahasia, namun tujuannya adalah publisitas. Kelima, Pesan aksi ini cukup jelas, meski pelaku tidak selalu menyatakan diri secara personal. Keenam, para pelaku kebanyakan dimotivasi oleh idealisme yang cukup keras, misalnya berjuang demi agama dan kemanusiaan (F. Budi Hardiman, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan para teroris melakukan aksi-aksinya diungkapkan secara terperinci oleh F. Budi Hardiman. Menurutnya ada enam tujuan. Pertama, mempublikasikan suatu alasana lewat aksi kekejaman karena hanya lewat aksi semacam itu publikasi yang cepat dan masif dimungkinkan. Kedua, aksi balas dendam terhadap rekan atau anggota kelompok. Ketiga, katalisator bagi militerisasi atau mobilisasi massa. Keempat, menebar kebencian dan konflik interkomunal. Kelima, mengumumkan musuh atau kambing hitam. Keenam, menciptakan iklim panik massa, menghancurkan kepercayaan publik terhadap pemerintah dan polisi, serta lain sebagainya. Sedangkan untuk membenarkan aksi terorismenya, para pelaku teror membenarkan tindakannya berdasarkan lima alasan. Pertama, segala cara dibenarkan demi pencapaian tujuan transendental (surga). Kedua, kekerasan ekstrem dianggap bersifat katarsis, memberi rahmat, dan regeneratif. Ketiga, pelaku meletakkan aksinya dalam konteks sejarah dimana aksi itu merupakan elemen dari hukum sejarah itu sendiri. Keempat, dijelaksan dari perspektif moral kesetimpalan ’mata diganti mata, gigi diganti gigi’. Kelima, aksi teror dipandang sebagai ’kejahatan kecil’ dibanding dengan ancaman musuh yang merupakan ’kejahatan agung’ (F. Budi Hardiman, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terorisme bukan merupakan isu baru. Namun menjadi lebih aktual ketika terjadi peledakan pada World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat, pada tanggal 11 September 2001. Tragedi yang terjadi selama dua jam ini dikenal sebagai “September Kelabu”, yang memakan kurang lebih 3.000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua diantaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World Trade Centre dan gedung Pentagon. Akibat serangan teroris itu, menurut Dana Yatim-Piatu Twin Towers, diperkirakan 1.500 anak kehilangan orang tua. Di Pentagon, 189 orang tewas (termasuk para penumpang pesawat), 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. Para teroris mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke WTC merupakan penyerangan terhadap ”Simbol Amerika”. Namun, gedung yang mereka serang tak lain merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28 negara. Jadi, mereka sebenarnya tidak saja menyerang Amerika Serikat, tapi juga dunia. Amerika Serikat menduga Osama bin Laden sebagai tersangka utama pelaku penyerangan tersebut (Kamus Wikipedia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini merupakan isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negara-negara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi terorisme sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia melawan terorisme internasional. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya tragedi Bali (12 Oktober 2002) yang merupakan tindakan teror dan menimbulkan korban sipil terbesar di dunia, yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang (Kamus Wikipedia). Begitu juga kejadian bom di Hotel JW. Marriot, bom di Kuningan, bom di Kedubes Australia, dan Bom Bali II. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang belum ada pengertian yang tuntas tentang terorisme. Yang jelas, alasan para pelaku melakukan teror bom di mana-mana adalah anggapan bahwa dunia yang dihegemoni oleh neoliberalisme tidak berlaku adil. Islam yang dianggap sebagai agama paling sempurna telah dihina dan disubstitusikan. Islam dinggap oleh kaum neoliberalis, sebagai penghambat bagi gerak lajunya perekonomian dunia. Padahal bagi para teroris, agamalah yang seharusnya memimpin dunia. Karena anggapan bahwa Islam paling benar, maka nilai-nilai jihad mereka munculkan dalam bentuk peperangan. Pengeboman yang terjadi dimana-mana dan selalu dilekatkan dengan Islam sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan dunia global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar tolok ukur kejahatan lintas batas yang telah dijelaskan di atas, maka dalam konteks ini terorisme dikategorikan sebagai kejahatan yang dilakukan tidak hanya dalam satu wilayah tertentu saja, tetapi lebih dari dua negara. Di samping itu, terorisme telah mengancam keamanan internasional dan yang lebih penting lagi, terorisme telah menghilangkan banyak nyawa warga sipil yang tidak berdosa. Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang berada pada urutan teratas dan harus segera diberhentikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan Teori Kritis Terhadap Terorisme&lt;br /&gt;Menurut pembacaan teori kritis, kemunculan aksi terorisme merupakan bentuk perlawanan terhadap dunia global dan khususnya terhadap pemerintah atas perlakuan ketidakadilan terhadap kaum tertentu. Kaum tertentu ini yang kerap kali melakukan tindakan teror. Bagi para teroris, dunia sekarang telah didominasi oleh kaum neoliberalisme, istilah yang kerap dianggap ingin menghidupkan kembali ’liberalisme klasik’ dan juga sebagai pendukung pasar bebas, ekspansi modal, dan globalisasi. Paham neoliberalisme ini dianggap sebagai musuh yang akan menjadi kekuatan global dan akan menyingkirkan semua pihak, termasuk agama. Dengan alasan inilah para teroris itu melakukan perlawanan terhadap dunia global dengan taktik yang bombastis dan dapat menarik perhatian dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Adjie S., aksi terorisme sebenarnya ingin memaksa pemerintah untuk menyerah sekaligus mengikuti tuntutan mereka. Tujuan teror tidaklah menjadi penting, tetapi efek dan reaksi yang mereka lakukan dengan kejam itu yang menjadi target mereka dan berharap masyarakat dan pemerintah menjadi panik. Karena itu, dengan tindakan kejam ini para teroris berharap pemerintah mau mengikuti keinginan para teroris yang tidak pernah digubris (Adjie S., 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, demi terwujudnya masyarakat yang berkeadilan dan penuh perdamaian, ada beberapa langkah berikut ini yang harus menjadi perhatian utama dalam rangka menghadapi aksi terorisme. Pertama, membuat kesepakatan global bahwa terorisme sebagai common enemy dalam rangka pemenuhan dasar state security dan human security serta tidak membahayakan warga sipil di belahan negara manapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pihak pemerintah harus memperketat keamanan negara dengan cara mempertegas hukum terhadap pelaku terorisme tanpa tebang pilih serta kembali memperkuat peran-peran lembaga kepolisian dan penjagaan keamanan, terutama pada batas-batas teritoriral antar-negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, melakukan kerjasama baik bilateral maupun multilateral untuk memerangi segala bentuk tindakan terorisme dalam rangka perdamaian internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, masyarakat sipil juga berhak untuk melakukan kontrol terhadap masyarakat lain yang terindikasi menyimpan barang-barang pendukung terorisme. Jadi, kontrol tidak hanya datang dari atas (pemerintah), tetapi dari bawah juga. Pihak masyarakat harus mulai memiliki kesadaran untuk mengontrol sesama warganya sendiri. Selain itu, pemerintah juga harus mengawasi semua pihak dalam penggunaan dan pemasaran bahan peledak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, melakukan proses penyadaran kepada seluruh warga tentang apa itu terorisme, bahaya terorisme, dampak terorisme, jaringan terorisme, serta bagaimana mengetahui seseorang itu melakukan tindakan-tindakan yang mengindikasikan pada terorisme. Proses penyadaran bisa berupa pelatihan, short course, pembuatan opini publik di media (cetak atau elektronik), serta adanya gerakan kampanye anti-terorisme dari masyarakat sendiri. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan aksi-aksi terorisme dapat terkontrol dan tidak terjadi lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7104369612415244308?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7104369612415244308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7104369612415244308' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7104369612415244308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7104369612415244308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/02/terorisme-dan-ketidakadilan-global.html' title='Terorisme dan Ketidakadilan Global'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7791216400821896734</id><published>2009-02-22T20:47:00.000+07:00</published><updated>2009-02-22T20:55:18.879+07:00</updated><title type='text'>Pseudo Civilization,  Sebuah Label untuk Indonesia</title><content type='html'>PENDAHULUAN &lt;br /&gt;Gagasan tentang peradaban telah banyak dieskplorasi oleh para sejarawan, sosiolog, dan antropolog seperti Max Weber, Durkheim, Tynbee, Spengler, Sorokin, Christopher Dawson, dan lain sebagainya. Ide yang dikembangkan oleh pemikir Perancis abad ke-19 ini selalu diperlawankan dengan konsep “barbarisme”. Masyarakat yang telah berperadaban dibedakan dari masyarakat primitif karena mereka adalah masyarakat urban, hidup menetap, dan terpelajar. Konsep peradaban memberikan sebuah ‘tolok ukur’ yang dijadikan rujukan dalam memberikan penilaian terhadap berbagai dinamika kehidupan masyarakat, yang selama abad ke-19, orang-orang Eropa banyak melakukannya melalui usaha-usaha intelektual, diplomatis, dan politis dalam mengelaborasi kriteria yang diterapkan pada masyarakat-masyarakat non-Eropa yang dapat mereka anggap sebagai “masyarakat yang telah berperadaban” dan mereka terima sebagai bagian dari sistem yang mendunia dalam tataran masyarakat Eropa (Samuel P. Huntington, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban merupakan entitas bentuk yang lebih luas dari kebudayaan. Namun keduanya mencakup nilai-nilai, norma-norma, institusi-institusi, dan pola pikir yang menjadi bagian terpenting dari suatu masyarakat dan terwariskan dari generasi ke generasi. Kultur dari kampung di Sumatera tentu berbeda dari kultur kampung di Sulawesi. Namun secara umum keduanya sama-sama memiliki kultur Indonesia yang membedakan mereka dari kultur perkampungan di Australia. Di sinilah Indonesia bisa menjadi sebuah peradaban. Menurut Durkheim dan Mauss, sebagaimana yang dikutip Huntington, peradaban dimaknai sebagai suatu corak wilayah moral yang melingkupi sejumlah bangsa, dengan kebudayaan masing-masing yang hanya menjadi suatu bentuk tertentu dari keseluruhan. Dapat dipahami, bahwa peradaban merupakan bentuk budaya paling tinggi dari suatu kelompok masyarakat dan tataran yang paling luas dari identitas budaya manusia yang dibedakan dari makhluk-makhluk lainya (Samuel P. Huntington, 2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perspektif yang luas, peradaban-peradaban besar pada umumnya identik dengan agama-agama besar dunia. Mengapa demikian? Pengalaman selama ini membuktikan, bahwa orang-orang yang memiliki kesamaan etnis dan bahasa tetapi berbeda agama bisa saja saling membunuh satu sama lain, seperti yang terjadi di Lebanon, Yugoslavia, dan Anak Benua (Subcontinent). Karena itu, orang-orang yang memiliki kesamaan ras tetapi beda agamanya, bisa dipisahkan melalui peradaban. Begitu juga sebaliknya, orang-orang yang memiliki perbedaan ras tetapi memiliki kesamaan agama, bisa disatukan melalui peradaban. Arus utama agama itu ada dua: Islam dan Kristen. Pembedaan krusial antara berbagai golongan manusia berkaitan dengan nilai, keyakinan, institusi, dan struktur sosial mereka, bukan karena ciri fisikal seperti bentuk kepala dan warna kulit (Samuel P. Huntington, 2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap gerak langkah peradaban pasti menjumpai masa perkembangan maupun kemunduran. Ia besifat dinamis sekaligus jatuh, menyatu tetapi juga saling terpisah, serta di suatu saat tenggelam dan terkubur di dalam pasir-pasir masa. Fase-fase dari evolusi peradaban dapat dipahami melalui berbagai cara. Quigley melihat, bahwa peradaban-peradaban berkembang melalui tujuh tahapan: percampuran, pergerakan, perluasan, masa konflik, kekuasaan universal, keruntuhan, dan invasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Huntington, pada sudut pandang yang ekstrem, sebuah peradaban dan entitas politik bisa saja saling dipertemukan. Tionghoa menurut Lucian Pye adalah sebuah peradaban yang cenderung menjadi negara. Jepang adalah sebuah peradaban yang telah menjadi sebuah negara. Sebagian besar peradaban, bagaimanapun juga, memiliki lebih dari satu negara atau entitas politik. Dalam dunia modern, sebagian peradaban meliputi dua negara atau lebih. Banyak ilmuwan yang mengkalisifikasikan berbagai macam peradaban di dunia. Namun ada “suatu kesepakatan yang masuk akal”, Melko menyimpulkan setelah meninjau kembali berbagai referensi yang berkaitan dengan kurang lebih 12 peradaban besar yang masih eksis. Tujuh peradaban tidak lagi eksis yaitu Mesopotamia, Mesir, Kreta, Klasik, Byzantin, Amerika Tengah, Andea. Lima peradaban masih eksis yaitu Tionghoa, Jepang, India, Islam, dan Peradaban Barat (Samuel P. Huntington, 2005). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERADABAN BARAT DAN PERADABAN TIMUR &lt;br /&gt;Menjadi persolan tersendiri ketika ada dikotomi antara term “Barat” yang hingga kini selalu diidentikkan dengan superior (kuat) dan term “Timur” yang hampir lekat dengan kategori inferior (lemah). Istilah “Barat” secara umum digunakan untuk menunjukkan apa yang disebut dengan agama Kristen dan “Timur” untuk menggambarkan agama Islam. &lt;br /&gt;Barat dengan demikian adalah sebuah peradaban yang dipandang sebagai ‘penunjuk arah’ dan tidak diidentikkan dengan nama orang-orang tertentu, agama, atau wilayah geografis. Sedangkan Timur bisa dikatakan sebagai pihak yang mengikuti atau mengekor ke mana saja ‘penunjuk arah’ itu bergerak. Pengidentifika-sian ini mengangkat peradaban dari historisitas, wilayah geografis, dan konteks kulutralnya (Samuel P. Huntington, 2005). Secara historis, peradaban Barat adalah peradaban Eropa yang diwakili oleh Yunani-Romawi dan peradaban Timur adalah peradaban jazirah Arab yang diwakili Mesir, Cina, dan India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era modern, peradaban Barat adalah peradaban Eroamerika (Euroamerican) atau Atlantik Utara. Eropa, Amerika, dan Atlantik Utara dapat dijumpai di dalam peta, sedangkan Barat tidak. Sebutan “Barat” juga digunakan untuk menunjukkan pada konsep “westernisasi” dan hal ini telah memberikan penafsiran yang menyesatkan dalam kaitan dengan westernisasi dan modernisasi (Samuel P. Huntington, 2005). Pada akhirnya, akan dipaparkan secara detail tentang peradaban Barat dan Timur dalam perspektif kaum orientalis dan oksidentalis. Masing-masing memiliki pandangannya yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif Kaum Orientalis &lt;br /&gt;Menurut kaum orientalis, peradaban Barat merupakan pusat perada-ban yang harus diikuti oleh peradaban-peradaban yang lain. Orang di luar peradaban Barat harus bercermin untuk bisa menjadi seperti peradaban Barat. Karena itu, ada anggapan bahwa hampir sebagian besar penerima hadiah Nobel adalah orang-orang Timur (Asia, Afrika) dengan asumsi, seseorang dikatakan bisa sama kedudukannya dengan Barat ketika telah menerima hadiah Nobel. Karena itu, cara untuk menggambarkan dunia Timur adalah melalui penelitian terhadap ilmu, tradisi, peradaban, dan kebudayaan Islam. Tujuannya adalah untuk menyelami rahasia, watak, sifat, pemikiran, sebab kemajuan, dan kekuatan masyarakat Islam (Abdul Fattah, 1997). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum orientalis, Timur adalah sesuatu yang eksotis, erotis, asing, sebagai fenomena yang bisa dimengerti, bisa dipahami dalam jaringan kategori, tabel, dan konsep, yang melaluinya Timur terus-menerus dibatasi dan dikontrol. Para orientalis telah menciptakan tipologi watak, menyusun perbedaan antara Barat yang rasional dan Timur yang malas (Bryan S. Turner, 2002). Para orientalis klasik memposisikan dirinya sebagai “ego” yang menjadi subyek dan menganggap non Barat sebagai “the other” yang menjadi obyek. Karena pembedaan kategori ini, muncul kategori superioritas dalam “ego” Eropa, sedangkan akibat posisinya sebagai obyek yang dikaji juga mengakibatkan munculnya kategori inferioritas dalam diri “the Other” non Eropa (Hassan Hanafi, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, minat Barat untuk mengkaji tentang dunia Timur dan ketimuran dan bidang keislaman sangatlah tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya institusi dan berbagai media Barat yang melakukan kajian keislaman. Hasil-hasil kajian mereka banyak beredar dan tersebar luas di masyarakat (baik di negara-negara Barat maupun di Timur), serta tertuang dalam ensiklopedia, kamus, buku, artikel, jurnal, dan sejumlah majalah lainnya. Untuk konteks Indonesia, diakui atau tidak, karya dan pemikiran mereka telah banyak dikonsumsi masyarakat umum, terutama oleh warga akademisi (Dadi Nurhaedi, 2003).Apalagi dengan adanya teknologi semacam internet yang semakin mempermudah arus informasi tentang kajian-kajian orientalis. Belum lagi adanya buku-buku terjemahan yang semakin mempercepat pemahaman para pembaca dan masyarakat luas yang mengalami kendala bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat digambarkan, bahwa kaum orientalis memposisikan peradaban Barat selalu pada posisi kuat dan memposisikan peradaban Timur hampir pasti lemah. Timur harus dikonsepsikan kembali jati dirinya sebagai Timur dalam perspektif Barat. Karena itu, menurut mereka, Timur harus banyak bercermin pada peradaban Barat dalam berbagai aspeknya. Kalau tidak, maka Timur akan tetap menjadi terbelakang dan tidak bisa menyeimbangi Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif Kaum Oksidentalis &lt;br /&gt;Menurut kaum oksidentalis, eksistensi peradaban Barat sekarang tidak bisa terlepas dari historisitas masa lalunya yang hingga kini sumber-sumbernya masih disembunyikan. Mereka tidak ingin mengungkapkan (kalau tidak mau disebut menyembunyikan dengan malu-malu) siapa sebenarnya dan bagaimana pembentukan Barat (baca: Eropa) hingga menjadi seperti sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang intelektual terkemuka dan kontroversial asal Mesir, Hassan Hanafi menjelaskan, bahwa Eropa yang kini berdiri kokoh telah memiliki dua sumber kesadaran yang disembunyikannya dan tak terekspos. Kedua sumber itu adalah sumber Timur Lama dan lingkungan Eropa. Timur Lama di sini meliputi Cina, India, Persia, dan Peradaban Mesopotamia (Babilonia, Asyiria, Accad), Syam (negara Kan’an), dan sumber-sumber dari seluruh benua Afrika dan peradaban Islam yang muncul dalam filsafat skolastik pada masa akhir abad pertengahan. Lingkungan Eropa meliputi agama-agama paganis di Eropa yang dimulai pada abad kedua sebelum tersebarnya agama Kristen, mitos, tradisi, budaya, letak historis, lingkungan geografis Eropa yang merupakan perpanjangan Asia ke arah Barat dan perpanjangan Afrika ke arah utara (Hassan Hanafi, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, historis, dan peradaban, Eropa merupakan perpanjangan Asia ke arah Barat. Bahasa Hindia-Eropa pun berasal dari Asia Tengah. Di samping sebagai alat komunikasi, bahasa mencerminkan ciri pemikiran, konsepsi tentang alam, dan nilai-nilai moral. Ketika Timur menjadi pusat peradaban dunia di bidang politik, sosial, ekonomi, agama, hukum, ilmu pengetahuan, sastra, kesenian, industri, sejarah dan filsafat, agama-agama di Timur telah mempengaruhi agama di Romawi. Muncullah agama-agama yang berasal dari Timur seperti Cybele dari Asia Kecil, agama Serapis dari Mesir yang berpindah ke Yunani dalam format baru, Phrygion yang ritus-ritusnya selalu muncul dalam perayaan musim semi, tuhan-tuhan Mabellona, dan lain sebagainya. Romawi mengadopsi ritus-ritus Mesir dan hari-hari besarnya. Hal inilah yang memberi warna baru dalam kesadaran Romawi (Hassan Hanafi, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat Yunani sendiri tidak bisa terlepas dari pengaruh Asia Kecil yang secara geografis dan historis bersinggungan dengan peradaban Mesopotamia dan agama Timur, utamanya dari Persia. Legenda Siris, Osiris, dan Horus sangat popular dalam mitologi Yunani. Phitagoras pun mengenal matematika Timur dan tasawufnya. Plato pernah belajar di Memphis selama kurang lebih lima belas tahun. Bahkan bisa jadi teorinya yang terkenal tentang idea diambil dari teori kesenian Mesir Kuno. Hanya saja teori kesenian Mesir Kuno diterapkan dalam lukisan yang kasat mata, sedangkan teori Plato berupa pemikiran yang abstrak (Hassan Hanafi, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh aspek iluminis tasawuf dalam filsafat Yunani, termasuk esoterisme Socrates, kontemplasi Thales, dan pakar fisika awal tentang kejadian alam dan kehidupan, merupakan kelanjutan peradaban Timur. Astronomi, ilmu sihir, dan dunia para normal di Yunani juga berasal dari Babilonia. Di India juga ditemukan ilmu hitung, meskipun seolah-olah ada kesan Phitagoras dan Thales tidak pernah berinteraksi dengan sekte-sekte di Timur. Selain berada di belakang sumber Yunani-Romawi, Timur Lama juga berada di belakang sumber Yahudi-Kristen. Taurat merupakan kumpulan literatur yang mempunyai padanan dalam literatur Babilonia, Asyiria, Accad, dan Kan’an. Mitologi Ibrani lama berasal dari mitologi Mesopotamia (Hassan Hanafi, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Islam dalam kesadaran Eropa hampir tidak pernah disebutkan. Karena Islam dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar kesadaran Eropa. Islam lebih dekat ke Timur daripada Barat walaupun sebenarnya tingkat penyebaran Islam ke Timur sama dengan penyebaran ke Barat. Islam ada di seperempat bumi Eropa, di Andalusia, bagian utara Perancis, bagian utara Italia, Sicilia, Crete, Yunani, Cyprus, dan Eropa Timur. Ilmu pengetahuan Islam terutama filsafat, kalam, ilmu alam, matematika, menjadi salah satu penyangga kebangkitan Eropa modern (Hassan Hanafi, 2000). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyebab disembunyikannya sumber-sumber tak terekspos adalah rasialisme yang terpendam dalam kesadaran Eropa. Rasialisme inilah yang menjadikan Eropa enggan mengakui eksistensi orang lain. Eropa diklaim sebagai pusat dan menempati puncak kekuatan serta menjadi pioner di dunia. Rasialisme bangsa Eropa terlihat jelas dalam ideologinya di abad lalu seperti nasionalisme, nazisme, fasisme, dan zionisme. Namun demikian, terungkaplah bahwa sumber-sumber kesadaran Eropa berasal dari Cina (Nedham), India (Nakamura), Islam (Garaudy), dan Timur Lama (Toynbee) (Hassan Hanafi, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barat sebagai peradaban yang kosmopolit merupakan mitos yang harus dihancurkan kaum oksidentalis. Dengan metode fenomenologi dan dialektika-historisnya Hanafi, posisi Barat ingin dikembalikan pada posisi sejajar dalam peradaban manusia. Alhasil, tidak akan ada pusat peradaban dan cabang peradaban. Semua peradaban berada pada posisi yang sederajat. Satu sama lain saling berlomba untuk mencari yang terbaik. Kaum oksidentalis ingin mendudukan Barat sebagai obyek kajian, lalu melakukan pembebasan diri dari hegemoni Barat yang sarat kepentingan, dan pada akhirnya menghancurkan mitos bahwa Barat sebagai “kebudayaan kosmopolit”. Alhasil, terjadilah kesetaraan antar-peradaban. Cita-cita kaum oksidentalis tidak licik seperti kaum orientalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBACA INDONESIA: SEJARAH SELALU BERULANG  &lt;br /&gt;Berdasarkan klasifikasi peradaban yang telah dijelaskan di atas, bahwa suatu peradaban itu terdiri dari berbagai macam kebudayaan, agama, serta norma-norma yang berlaku, maka Indonesia dalam konteks ini ditempatkan sebagai sebuah peradaban. Indonesia yang lebih kuat namanya dengan sebutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memiliki ragam adat-istiadat, bahasa, dan ras dari Sabang hingga Merauke. Mungkin tidak semua warga negara Indonesia mengenal apa saja macam-macam bahasa yang digunakan oleh orang-orang Indonesia, baik yang di Sumatera maupun yang di Papua. Bahkan dalam satu provinsi, sebagai misal, seorang warga ada yang tidak paham bahasanya, karena beda dialek. Bagaimana mau tahu jumlah perbedaannya, lha wong untuk mengetahui antar-desa saja sudah susah, apalagi antar pulau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada persoalan bahasa saja, untuk bahasa Jawa sangat beragam jenisnya. Ada Jawa kromo inggil, Jawa kasar, Jawa ngapak, Jawa ala Jogja, dan Jawa ala Surabaya (arek-arek). Istilah “kamu” dalam bahasa Jawa cukup banyak, seperti: Sampeyan, panjenengan, kowe (kasar), dan lain sebagainya. Pada bidang agama, Indonesia sekarang telah mengakui enam agama resmi, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Budha, Hindu, dan Konghu Chu. Ini yang diakui, yang tidak diakui bahkan kelahiran agamanya sempat menjadi kontroversial juga mewarnai peradaban bangsa Indonesia. Itu yang nampak dalam permukaan, yang tidak nampak tidak boleh dianggap remeh begitu saja. Justru keragaman inilah yang mewarnai Indonesia untuk menjadi sebuah peradaban tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan Indonesia yang sudah berumur lebih dari enam dekade tentu memiliki sistem pemerintahan yang selalu berganti-ganti. Mulai dari demokrasi pemerintahan pada masa revolusi kemerdekaan, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin ala Soekarno, rezim otoriter Orde Baru (state qua state, neo-patrimonialism, bureucratic polity, sampai dengan limited pluralism), hingga akhirnya memilih demokrasi sebagai asas pemerintahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia merupakan negara terbesar nomor empat di muka bumi ini. Ketika makalah ini ditulis, Indonesia telah merdeka menjadi negara lebih dari 63 tahun, walaupun pada kenyataannya Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tetapi mengakuinya pada tahun 1949 dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Belanda.&lt;br /&gt;Apa yang kita alami dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, menurut Amin Rais, sesungguhnya hanya pengulangan dari apa yang yang kita alami pada zaman penjajahan kompeni dan pemerintahan Belanda di masa lalu. Perbedaan antara tempo doeloe dengan masa sekarang hanyalah dalam bentuk atau format belaka. Dahulu pendududkan fisik dan militer Belanda menyebabkan bangsa Indonesia kehilangan kemerdekaan, kemandirian, dan kedaulatan politik, ekonomi, sosial, hukum, dan pertahanan. Sedangkan sekarang ketika penjajahan itu tidak dalam bentuk fisik lagi tetap saja kemandirian dan kedaulatan Indonesia sebagai negara tergantung dan menggantungkan diri pada kekuatan asing (Amin Rais, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan-kekuatan korporasi telah mendikte bukan saja perekonomian nasional seperti kebijakan perdagangan, keuangan, perbankan, penanaman modal, kepelayaran dan kepelabuhan, kehutanan, perkebunan, pertambangan migas dan non-migas, dan lain sebagainya, tetapi juga kebijakan politik dan pertahanan. Bahkan bisa dikatakan, bahwa bangsa Indonesia telah tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Negara kita begitu cepat lupa pada sejarah. George Santayana, filsuf Spanyol berpendidikan Amerika pernah mengingatkan, bahwa mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi pengalaman sejarah itu. Ada juga pepatah asing yang sangat terkenal, sejarah berulang kembali. Kalau kita mau jujur melihat hilangnya kemandirian dan kedaulatan ekonomi kita, sesungguhnya sejarah imperealisme tempo dulu kini sudah hadir kembali dalam bentuk dan pengejawanta-han yang berbeda. Agaknya banyak di antara kita yang belum atau tidak menyadari-nya. Seorang dramawan dan sosialis Irlandia, George Bernard Shaw (1856-1950) mengatakan, bahwa manusia merupakan makhluk yang unik dan agak aneh, sekalipun sejarah selalu berulang, manusia sangat sulit bahkan tidak mampu untuk tidak mengulangi sejarah yang buruk. Karena itu, menurut guru besar ilmu politik ini, sejarah merupakan kontinuitas antara masa lalu, masak kini, dan masa depan (Mohammad Amin Rais, 2008). Ketiganya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti ingat, pada awal abad ke-17, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mulai menjajah kita dan diteruskan oleh pemerintah Belanda sampai menjelang akhir perang dunia II. Bahkan Belanda berusaha kembali menduduki Indonesia pada tahun 1947 dan 1949. Mereka pada akhirnya berhasil menduduki kepulauan Indonesia dan mengusai hasi bumi, terutama rempah-rempah dan perkebunan Indonesia, sampai sekitar tiga abad. Ketika VOC bangkrut pada 1799. pemerintah Benda mengambil alih kegiatan VOC di Indonesia. VOC adalah korporasi multinasional pertama dalam sejarah dan merupakan perusahaan pertama yang menerbitkan saham (Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara bertahap VOC menjadi sebuah kekuasaan teritorial. Pada abad ke-19 kekuatan-kekuatan ekonomi Eropa, sebagai produk kapitalisme industrial, akhirnya menjadi unsur pokok dalam gelombang baru imperealisme Eropa. Untuk memperta-hankan imperealisme dan kolonialisme mereka, negara-negara Barat memerlukan komponen-komponen penopang berupa perbankan, media massa, dan dukungan elit nasional bangsa yang terjajah. Hakikatnya, korporatokrasi pada awal abad ke-21 merupakan turunan dari korporatokrasi empat abad silam. Hanya saja yang sekarang ini tentu lebih canggih dan seringkali bersifat terelubung, tetapi daya hancurnya mungkin justru lebih besar (Mohammad Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah berbeda dengan mitos. Mitos bersifat reaksioner, berhenti, dan tidak pernah berubah. Sedangkan sejarah berwatak dinamis dan seringkali memunculkan perubahan-perubahan, baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Karena itu, sekalipun sejarah cenderung selalu berulang, pengulangan itu sesuai dengan perkembangan zaman, dapat bersifat lebih fundamental, radikal, dan destruktif. Imperealisme ekonomi ternyata dapat muncul kembali sambil menunggangi proses globalisasi dengan daya eksploitasi dan destruksi yang lebih luas (Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dicermati, mengapa VOC dan pemerintah Belanda dapat menjajah Indonesia. Tentu karena elit dan penguasa Indonesia saat itu (katakanlah para raja) tidak semuanya melakukan perlawanan bersama rakyat untuk memukul balik kaum imperealis-kolonialis. Tetapi justru sebagian dari mereka berkolaborasi dengan pihak penjajah. Tentu para pahlawan semisal Sisingamangaraha, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, dan lain sebagainya telah berjuang keras untuk bangsa ini. Akan tetapi ada juga lapisan aristrokasi yang cenderung berdamai dan bahkan menjadi subordinat atas kompeni dan penjajah Belanda. Mereka bahkan mengumpulkan pajak atas nama pemerintah Hindia Belanda (Amin Rais, 2008). Sungguh amat kejam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas akan menjadi lain ketika para aristokrasi Indonesia saat itu secara serempak bersama rakyat melakukan perlawanan terhadap para kompeni Belanda. Jelas, ini menjadi kesulitan besar bagi mereka untuk masuk ke Indonesia. Jika kekuatan perlawanan itu diterapkan untuk konteks sekarang, maka mustahil kekuatan-kekuatan korporatokrasi itu mengacang-acak dengan gampang kedaulatan ekonomi kita. Namun sayang, para elit penguasa kita malah tunduk (kalau tidak ingin disebut ketakutan) dari para korporatokrasi asing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membongkar mentalitas inlander ternyata tidak mudah. Semangat kemandirian dan rasa percaya diri yang diajarkan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, Syahrir, dan lainnya kin entah terbang ke mana. Sekeping contoh dapat disebutkan di ini, ketika Presiden Bush ingin melakukan kunjungan ke Indonesia, sebagian pemimpin besar bangsa ini malah “ketakutan” dan merasa panas dingin. Pengamanan yang diberikan kepada Presiden AS yang di negerinya sendiri sudah tidak populer itu sungguh berlebihan dan sekaligus agak memalukan. Tidak ada negara mana pun di dunia yang menyambut Presiden Bush seperti maharaja diraja, kecuali di Indonesia sekarang ini. Seolah Indonesia telah menjadi vazal atau negara protektorat AS (Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSEUDO CIVILIZATION, LABEL BARU UNTUK INDONESIA &lt;br /&gt;Sejak pra kemerdekan hingga menjadi negara yang berdaulat dan terbebas dari jajahan Belanda, Indonesia tidak bisa melepaskan sisa-sisa jajahannya, begitu juga warisan-warisan bangunannya. Sudah enam dekade Indonesia merdeka, tetapi warisan penjajahan tetap berlaku di Indonesia, bahkan model penjajahan itu dilakukan oleh sesama warga negaranya, baik itu oleh pemerintah terhadap rakyat atau militer terhadap warga sipil. Sejarah telah membuktikan bahwa kekejaman itu pernah dilakukan rezim pemerintah terhadap rakyat seperti yang terjadi pada peristiwa G 30S PKI (1965), kasus Malari, Tregedi pembantaian Tanjung Priok dan Talangsari, serta pembunuhan aktivis pro-demokrasi 1998 dan seorang aktivis HAM, Munir. Hal ini menunjukkan, bahwa warisan penjajan Belanda masih diberlakukan oleh sesama anak bangsanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu akan bangga ketika tim sepak bola merah putih berlaga melawan kesebelasan asing di Kejuaraan Piala Asia tahun 2007, Stadion ISTORA seolah-olah mau runtuh. Teriakan dan tepuk tangan membahana, di dalam dan di luar stadion, yang mendukung kesebelasan merah putih sulit disaingin oleh bangsa Asia lainnya. Luar biasa. Setiap kali tim merah putih ini memperoleh medali emas, kita bangga bukan main, tetapi kalah kita kecewa besar. Ketika akhirnya Indonesia memperoleh urutan keempat di bawah Thailan, Vietnam, dan Malaysia, kita sedih berhari-hari (Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita salah jika kita memuja-muja tim merah putih ketika bertarung di gelanggang olah raga regional atau internasional? Tidak salah sama sekali. Memang sudah seharusnya demikian. Akan tetapi mengapa nasionalisme olah raga seperti tidak ada kaitannya dengan nasionalisme ekonomi, nasionalisme politik, nasionalisme pertahanan-keamanan, nasionalisme pendidikan, dan nasionalisme di bindang yang lainnya. Bila diibaratkan sebuah rumah di pinggi jalan, maka olah raga itu bagian pagar depan yang selalu dilihat terus oleh semua pengguna jalan raya. Pemerintah kita seperti pemilik rumah di pinggir jalan raya itu. Dia hanya memiliki obsesi, bagaimaan pagar rumah terlihat bersih, mengkilat, dan tidak indah dipandang. Selain itu masa bodoh. Ketika perabotan rumah dicuci orang lian, ia tidak peduli. Bahkan ketika anak dan istrinya dibawa keluar oleh orang lain, si pemilik rumah tidak mengambil tindakan apa pun. Ia hanya bisa menonton, seolah tak ada sesuatu yang perlu dirisaukan. Yang penting, pagar rumah terlihat bagus. Kira-kira demikian gambaran yang sedang menimpa negara kita (Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan nasionalisme kita hanya sekadar kedaulatan simbolik. Sangat dangkal. Semua hanya nampak pada permukaan saja. Ketika kekayaan alam kita dikuras dan dijarah oleh korporasi asing, ketika sektor-sektor vital ekonomi seperti perbankan dan industri asing, bahkan ketika kekuatan asing sudah dapat mendikte perundang-undangnan serta keputusan-keputusan politik, kita diam membisu. Seolah sudah kehilangan harga dan martabat diri (Amin Rais, 2008). Ketika kebudayaan kita secara perlahan-lahan tergantikan dengan kebudayaan luar negeri, kita enggan menanggapinya dan diam-diam mengikuti budaya dari luar negeri tersebut. Bahkan bangga jika kita menggunakan produk-produk mereka. Jika hal yang demikian telah terjadi, bagaiaman kedaulatan dan kemandirian nasional kita di bidang ekonomi, politik, dan kebudayaan. Ketiga indikator inilah yang akan label pada Indonesia sebagai negara yang pseudo civilization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan Ekonomi-Politik&lt;br /&gt;Dr. Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, mengingatkan kepada kita semua tentang bahaya neo-kolonialisme. Dalam pidatonya di depan the Asia HRD Congress di Jakarta, 3 Mei 2006, Mahathir mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neokolonialisme bukanlah istilah khayalan yang diciptakan oleh Presiden Soekarno. Ia (neokolonialisme) itu nyata. Kita merasakannya tatkala kita hidup berada di bawah kontrol agen-agen yang dikendali-kan oleh mantan penjajah kita (Amin Rais, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahathir mengingatkan, bila negara-negara Asia ingin maju, mereka harus merubah mindset atau tata-pikir mereka agar benar-benar merdeka dan berdaulat. Tata-pikir bangsa-bangsa Asia yang dijajah sampai berabad-abad telah menjadi kuat terpola dan berurat-berakar. Betapa tepatnya pandangan Mahathir itu. Kita seringkali melihat cara berpikir dan bertindak sebagian anak bangsa yang bagaikan beo dan (maaf) monyet yang selalu meniru-niru apa saja yang datang dari Barat (Amin Rais, 2008). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena para majikan dan pemikir ekonomi asing mengatakan, bahwa sistem ekonomi yang paling produktif adalah sistem yang ramah pada pasar, maka sebagian dari kita mengkhotbahkan seruang agar ekonomi Indonesia berwata market-friendly. Mereka seolah lupa kalau pasar tak pernah punya nurani. Ideologi pasar adalah seratus persen mencari profit tanpa ada pertimbangan apa pun juga. Joseph Stiglitz mengingatkan teori invisible hand atau tangan tidak kelihatan dalam ekonomi pasar sesungguhnya tidak nyata. Karena “tangan” itu memang tidak ada. Amin Rais pernah terkenjut ada sekorang ekonom Indonesia yang mungkin ilmuny masih nanggung, menganggap Stiglitz dan pendahulunya bodoh. Bodoh karena keduanya berpendirian, bahwa ekonomi pasar dapat lebih berfungsi bila pemerintah melakukan intervensi agar dapat lebih efisien di samping dapat mengurangi pengangguran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham neoliberalisme telah merajalela di negara Indonesia tanpa ada perlawanan dari internal. Bahkan pemerintah secara malu-malu (kalau tidak mau disebut setuju) mendukung regulasi yang berpihak pada pasar. Walaupun tidak ada undang-undang yang mendukung adanya privatisasi aset-aset negara, tetapi secara personal para elit pemerintah memberikan dukungan tersebut. Bahkan akhir-akhir ini menteri BUMN ingin memprivatisasi lembaga-lembaga negara sehingga pemerintah tidak harus membuat regulasi tersebut. Banyak pula perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia tetapi pemiliknya dari luar. Free Port, Excon Mobil, Indosat, Blok Cepu, dan Aqua (Danone) menjadi sederet bukti bahwa sebagian aset Indonesia telah menjadi milik orang lain. Entah apa lagi yang akan dijual oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan dari negeri ini. Sebuah sikap yang kontras dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sudah lebih setengah abad Indonesia merdeka, tetapi kedaulatan ekonomi tidak pernah berada di tangah rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih ingat bagaimana Indonesia tunduk pada WTO untuk menerima impor paha ayam dari AS sehingga ribuan peternak ayam kita serentak gulung tikar. Demikian juga Indonesia begitu taatnya membuka diri tanpa ada proteksi terhadap impor gula, tekstil, dan berbagai komoditas lain yang merugikan rakyat Indonesia sendiri. Sikap konyol Indonesia ini jarang ditandingi oleh negara lain. Inilah doktri globalisasi yang hingga kini masih diyakini oleh sebagian aristokrasi banga kita. Doktrin itu meliputi: liberalisasi perdagangan dan arus keuangan, deregulasi produksi, modal, dan pasar tenaga kerja, dan merampingkan (downsizing) peran negara, terutama yang berkaitan dengan program pembangunan sosial dan ekonomi (Amin Rais, 2008).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa sistem perekonomian Indonesia ingin dibawa-bawa pada liberalisasi ekonomi. Pemerintah disetir untuk membuat kebijakan yang pro terhadap pasar. Dalam konteks negara yang sedang berkembang, Indonesia ingin menerapkan sistem kapitalisme dan benar-benar mempersempit peran negara atau bahkan bila perlu tidak ada sama sekali. Namun sayang, sistem kapitalisme yang berkembang di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya (kecuali Singapura) tidak menjadi kapitalisme yang tulen, tetapi sekadar apa yang disebut Yosihara Kunio sebagai kapitalisme semu (ersatz kapitalism). Meminjam istilah Arief Budiman, kapitalisme semu bararti kapitalisme yang tersubstitusi dan lebih inferior. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya benar-benar diberlakukan konsep developmental state sebagaimana yang telah berlaku di Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara di Asia Timur. Konsep ini merupakan suatu paradigma yang mempengaruhi arah dan kecepatan pembangunan ekonomi dengan secara langsung mengintervensi proses pembangunan (yang berbanding terbalik dengan cara berpikir yang mengandalkan kekuatan pasar) dalam mengalokasikan sumber daya ekonomi. Paradigma ini membangun tujuan substantif sosial dan ekonomi yang memandu proses pembangunan dan mobilisasi sosial. Karakteristik dari paradigma ini adalah negara yang kuat, peran dominan pemerintah, rasionalitas teknokratik dalam pembuatan kebijakan ekonomi, birokrasi yang otonom dan kompeten serta terlepas dari pengaruh kepentingan politik (Yogi Suwarno, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakberdayaan sitem perekonomian Indonesia tidak lain karena masih banyaknya pihak-pihak yang melakukan perburuan rente (rent-seeking) yang dalam penjelasan Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, perburuan rente itu merupakan usaha yang dilalui tidak secara alami namun melanggar regulasi pemerintah, semisal korupsi. Keuntungan yang sebesar-besarnya menjadi tujuan utama para kaum rent-seekers. Hal ini pun senada dengan apa yang dinyatakan oleh KS. Jomo, bahwa di samping pemberlakuan konsep developmental state yang telambat di negara-negara Asia Tenggara, adanya para pencari untung (rent-seeking) juga merajalela di belahan negara-negara Asia Tenggara, tak terkecuali Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kita harus berani mengembalikan kedaulatan ekonomi yang sejak beberap waktu lalu selalu mengekor kepada sistem perekonomian Amerika. Kita harus secara serempak berani berteriak melawan tiga pilar institusi globalisasi: IMF, WTO, dan World Bank. Kita jangan mengulang kembali sejarah pascakrisis moneter yang melanda Indonesia akhir 1990-an, di mana Indonesia pernah didikte dan didominasi oleh IMF. Hampir semua koran baik dalam maupun luar negeri memuat berita ketidaberdayaan ini (saat di bawah kepemimpinan Soeharto). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan Budaya&lt;br /&gt;Secara sederhana budaya adalah buah pikiran atau hasil akal budi (KBBI, 1990). Kebudayaan (culture) adalah konsep yang telah tua. Kata latinnya, cultura, menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan dan pengembangan tanaman atau ternak. Istilah itu selanjutnya telah berubah menjadi gagasan tentang keunikan adat kebiasaan suatu masyarakat. Berkembang lebih lanjut, ia menjadi multidimensi bersama dengan munculnya berbagai pendapat tentang apa makna perbedaan dan keunikan-keunikan itu dalam memahami manusia umumnya sejak abad ke-17 hingga abad ke-19 (www.kompas.com, 2003).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut John Storey, ada tiga pengertian tentang budaya sebagaimana yang pernah ditawarkan oleh Raymond William. Pertama, budaya merupakan suatu proses umum perkembangan intelektual, spritual, dan estetis. Misal kita berbicara tentang budaya orang Indonesia dengan merujuk pada faktor-faktor intelektual kaum cendekiawannya, spiritualitas para agamawannya, senimannya, serta para penyair-penyair besarnya. Kedua, budaya bisa berarti pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu. Pengertian ini tidak hanya terpaku pada perkembangan intelektual, spritual, dan estetis saja. Tetapi juga mencakup perkembangan sastra, hiburan, olah raga, dan upacara ritual agama tertentu. Ketiga, budaya pun bisa merujuk pada karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik. Teks-teks dan praktik-praktik itu memiliki fungsi untuk menciptakan makna tertentu, misal puisi, novel, balet, opera, dan luiksan (John Storey, 2003). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia telah memiliki penduduk lebih dari 220 juta jiwa yang berdiam di 6.000 pulau di antara 17.667 pulau besar dan kecil. Memiliki sekitar 200 bahasa dan dialek lokal, 350 kelompok etnis dan adat istiadat yang tentu berbeda-beda. Agama pun ada enam: Islam, Kristen Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu. Budaya di masing-masing daerah tentu berbeda satu sama lain berdasarkan latar belakangnya. Keanekaragaman itu menjadi kekayaan tersendiri yang dimiliki oleh Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia di atas tidak bisa berdiri tegak di negerinya. Kebudayaannya seolah menjadi asing di negerinya sendiri. Justru budaya yang berkembang dan akrab dalam kehidupan sehari-hari adalah kebudayaan yang datang dari luar atau yang akrab kita sebut sebagai budaya barat (west culture). Budaya inilah yang pada akhirnya menghantui masyarakat Indonesia. Inilah salah satu bentuk keberhasilan dari apa yang telah dikonstruksikan oleh kaum orientalis dalam mengkaji dunia ketimuran. Mereka mengkonstruksikan, bahwa Barat adalah pusat kebudayaan yang harus menjadi cermin kebudayaan yang non Barat. Indonesia yang menjadi salah satu kebudayan non Barat harus berkaca kepada Barat. Konstruksi inilah yang telah menjadi main set masyarakat kekinian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, generasi muda merasa bangga ketika menjadi komprador-komprador dari aset-aset asing. Barang-barang dari luar negeri dengan begitu mudah masuk ke Indonesia tanpa ada regulasi yang jelas. Pasar bebas pun telah berkelana di negara yang kaya akan sumber alamnya. Kalau boleh dikata, bendera neoliberalisme telah berkibar di negeri ini. Perusahaan-perusahaan besar seperti McDonal, KFC, Fred Chiken, Pizza Hut, dan lain sebagainya telah bertengger bebas di setiap jalan-jalan di kota-kota besar Indonesia. Hal ini berdampak pada tersingkirnya sektor ekonomi informal dari masyarakatnya sendiri (kalau tidak mau disebut ditinggalkan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Barat yang kian hari makin dimintai generasi muda dengan produk-produknya yang menghipnotis, menjadikan budaya lokal kita mati kutu dan dijauhi (kalau tidak boleh dibilang dibenci) oleh warganya sendiri. Kita seolah tidak lagi bangga dengan keanekaragaman budaya yang sangat multietnis, bahkan malu jika melestarikan kebudayaan kita di hadapan teman yang lain. Kita bisa melihat dalam industri musik, tidak jelasnya aliran yang mereka anut bahkan hampir mendekati dan menyerupai gaya-gaya musik Barat. Dalam dunia pentas seni, tontonan wayang kulit, ketoprak, atau pun jenis pentas seni lainnya telah dikalahkan dengan sejumlah layar lebar yang datang dari barat. Dalam dunia perfilman, tontonan lokal telah digeser oleh sejumlah film-film barat yang dari segi kualitas jauh lebih baik dari dunia perfilman Indonesia. Tak jarang, sistem pendidikan di negeri ini pun hanya sekadar foto copi dari sistem-sistem pendidikan yang datang dari Amerika, Jepang, atau Australia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, budaya pop (pop culture) telah menggurita di negeri ini. Budaya pop dapat dipahami sebagai budaya yang diproduksi oleh massa untuk konsumsi massa. Budaya massa adalah budaya yang dianggap sebagai dunia impian secara kolektif. Misalnya, hiking ke pegunungan, liburan ke pantai, dan merayakan valentine’s day bersama pacar. Bagi Idi Subandi Ibrahim, budaya pop merupakan kebudayaan massa yang populer dan ditopang oleh industri kebudayaan (cultural industry), serta mengkonstruksi masyarakat tak sekadar berbasis konsumsi, tapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri. Budaya massa yang terjadi disebabkan massifikasi, yaitu industrialisasi dan komersialisasi yang menuntut standardisasi produk budaya dan homogenisasi cita rasa. Dengan komersialisasi, produk budaya (massa) berubah, sejalan percepatan tuntutan pasar (Pikiran Rakyat, 15/7/05).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat industrial, menurut Kuntowijoyo, ditandai oleh tiga hal, rasionalisasi, komersialisasi, dan monetisasi. Rasionalisasi artinya, bahwa masyarakat modern lebih mendahulukan sesuatu hal yang bersifat masuk akal daripada yang tidak masuk akal. Walaupun sebagian orang masih percaya pada dunia mistik, tetapi celah untuk berkomentar dan menyalahkan terhadap sesuatu yang tidak masuk akal terus saja terjadi. Karena itu, dentuman Rene Descartes yang berbunyi cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) benar-benar diamini oleh dunia sebagai awal dari lahirnya rasionalisme dan awal abad pencerahan, kemudian dilanjutkan dengan lahirnya teknologisasi pada segala bidang hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komersialisasi menunjukkan, segala segmen kehidupan harus memiliki daya jual tersendiri. Tidak ada sesuatu yang tidak komersiil. Hal ini ditandai dengan maraknya program-program di televisi, bioskop, penjualan kaset CD, buku, dan iklan-iklan di pinggir jalan maupun di televisi. Bahkan, sekarang komersialisasi terjadi pada dunia perbukuan. Ada penulis buku yang disebabkan bukunya best seller dan difilmkan, tarif untuk menjadi pembicara dalam sebuah seminar atau talkshow (sekali manggung) seharga 30 juta rupiah. Itu pun di luar transport. Selain itu juga, komersialisasi terjadi pada segmen masyarakat bawah, yaitu parkir kendaraan (motor misalnya) dan buang air kecil. Untuk kedua jasa ini kita harus mengeluarkan uang seribu rupiah. Mungkin beberapa dekade ke depan, untuk buang angin (kentut) atau bernafas saja kita harus membayar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monetisasi mengindikasikan bahwa semua hal harus diukur dengan uang. Ini terkait erat dengan penjelasan komersialisasi di atas. Dampak dari adanya proses komersiasliasi adalah menuntut adanya proses monetisasi (uangisasi). Uang menjadi satu bentuk konkrit atas proses yang terjadi. Makanya, banyak pemilik modal yang hanya menimbun uang dari hasil larisnya penjualan produk mereka. Rakyat bawah hanya menjadi sasaran empuk dari propaganda mereka. Rakyat tidak sadar bahwa mereka telah dihipnotis dengan rayuan iklan yang hiperbolis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dipahami, bahwa budaya pop telah hadir di tengah-tengah kita dan dalam keadaan apapun, kita harus bisa menghadapinya. Pada perkembangan mutakhir, budaya pop sudah mewabah pada urusan gaya-bergaya yang melanda masyarakat kita. Persoalan yang satu ini pun sudah menjadi pusat perhatian yang serius. Pertumbuhan gaya-bergaya mau tidak mau disebabkan adanya globalisasi ekonomi dan adanya kapitalisme konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan semacam shopping mall, industri fashion, industri kecantikan, industri kuliner, industri gosip, apartemen, kawasan huni mewah, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermewah, liburan wisata ke luar negeri, dan lain sebagainya (Idi Subandi Ibrahim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi seperti yang telah dijelaskan di atas, anak bangsa kita masih saja &lt;br /&gt;ada yang menjadi komprador-komprador dari negara asing (bahkan bangga). Mereka malah membuka cabang perusahaan asing seperti dari Prancis atau Amerika di Indonesia. Apa mereka bersalah? Karena mereka bekerja dan mencari uang untuk sanak famili mereka. Di sinilah letak tidak berdaulatnya Indonesia dalam bidang kebudayaan. Budayanya telah tergerus dan tertimbun oleh budaya asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Entah sampai kapan, dikotomi oposisi biner antara peradaban barat dan peradaban timur akan selalu ada. Entah sampai kapan pula, peradaban barat selalu identik dengan kemajuan dan berkuasa. Sebaliknya, peradaban timur hampir dipastikan tertinggal, miskin, dan tidak berkuasa atas peradaban barat. Dalam konteks pembicaraan ini, Indonesia telah direpresentasikan sebagai bentuk peradaban yang ada di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kemerdekaannya hingga sekarang, peradaban Indonesia masih belum bisa berdaulat. Hal ini telah dibuktikan dengan dua indikator utama, yaitu tidak berdaulatnya dalam bidang ekonomi-politik dan tidak beraulatnya dalam bidang kebudayan. Atas dasar inilah, sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia dikategorikan sebagai pseudo civilization.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7791216400821896734?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7791216400821896734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7791216400821896734' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7791216400821896734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7791216400821896734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2009/02/pseudo-civilization-sebuah-label-untuk.html' title='Pseudo Civilization,  Sebuah Label untuk Indonesia'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-2846462281153024744</id><published>2008-12-01T15:11:00.000+07:00</published><updated>2008-12-01T15:12:15.551+07:00</updated><title type='text'>Indonesia after Amrozi CS Execution</title><content type='html'>After through long time, our government decides for executing Bali bombs perpetrator (Amrozi, Imam Samudera, and Muchlas) on Sunday early morning, November 9th 2008. As you know, there are many comments from our society about it. According to some people, particularly Australian people and victim families, that execution is compatible with their behavioral. Even several people feel happiness. Besides that, several people regret with that decision. “They enough acquire long life punishment, so they could regret it forever,” said an Australian in television. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After that execution, there are many threats for President and Vice President (SBY and Jusuf Kalla). One of the threats is from abroad cyber media. The main point of the threat is murder to President and Vice President. Additionally, our government catches one of terrorism network member in Jakarta. He stores bomb assemblies as well. There is other discovery about terrorism network which government looks for it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Recently, the state confuses with this case. Tempo daily ever publishes in their newspaper headline with the title “Jakarta Siaga Satu”. This headline makes image that Jakarta and this country in critical situation. As you know, it just little problem about Bali bombs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is Indonesia as Failed State? &lt;br /&gt;How about our state power from that threats? Or our country fear it, so this a sign for Indonesia as failed state. Is there Indonesia future? There are three indicators for a state is still strong or failed. This is Bursan’s analysis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firstly, idea of the state. There is or there isn’t a state, if there is the idea of Indonesia in Indonesia brain. I mean, this is an ideology must be growth in Indonesian heart. It relate with nationalism. So we must keep our imagines about unity of Indonesia. Secondly, the organizational expression of the state. The all government structure must be function, such as president, governor, regent, until head of village. Besides that, government buildings like hospitals, banks, and other BUMN (department of effort for public ownership). Thirdly, physical foundation of the state. It mean, government must have limit of territorial of state. The Ambalat case show to us that Indonesia not have power to defense their country. So, it’s terrible experience for us. We must be change more best. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As you know, the three points above could become standardization for Indonesia as strong state or failed state after Amrozi CS dead execution. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As well as that, there are some strategies for government after this execution and terrorism as well. First, strengthening security and defenses sector. The all government must make a consolidation intensively with all structure from central government until village level. This is as control to all parties which would to against government. The department of police are must be intensively looking for whatever related with terrorism. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Second, controlling to the lessons curriculum in the education institutions, from elementary school until university. It’s must be done. The purpose for there isn’t indication for extreme religious understanding. This is not Orde Baru regime, but as control for security in our country. &lt;br /&gt;Third, strengthening leadership in all public sectors. The leadership model must be strong in all position, such as president or vice president, governor, and regent. They must be diligent and be coherent, advocating to all weak party, and they must be brave to deciding whatever quickly. Even they must be ready if their soul and family are lost caused on their decision. Therefore, as you know that public position is heavy responsibility. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, we must make our country be a strong state, not failed state. The Indonesian people always ready to struggle for this country. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;A Postgraduate Student of Political Science UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-2846462281153024744?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/2846462281153024744/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=2846462281153024744' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2846462281153024744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2846462281153024744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/12/indonesia-after-amrozi-cs-execution.html' title='Indonesia after Amrozi CS Execution'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7838821926780812107</id><published>2008-12-01T15:05:00.000+07:00</published><updated>2008-12-01T15:08:40.806+07:00</updated><title type='text'>Sumpah Pemuda Jilid Dua</title><content type='html'>“Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian bunyi teks sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada awal terbentuknya, sumpah pemuda bernama “Ikrar Pemuda”. Namun karena dianggap kurang memiliki kekuatan makna secara bahasa, akhirnya kata “ikrar” berganti menjadi “sumpah”. Ikrar hanya dimaknai sebagai janji tanpa ada konsekuensi, sedangkan sumpah mengandung konsekuensi tertentu jika tidak dilaksanakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sumpah harus diyakini sebagai sebuah janji bagi pemuda Indonesia kepada dirinya dan dunia atas trilogi kebersatuan Indonesia. Janji yang berkonsekuensi pada kesadaran atas satu tanah air, bangsa, dan bahasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran ini penting dipahami mengingat Indonesia merupakan negeri yang amat kaya serta memiliki aneka bahasa, ras, adat, dan agama. BJ Habibi mengatakan, negeri ini negeri maritim atau bahari, karena 60 persen wilayahnya dikelilingi lautan dan diapit oleh dua benua dan dua samudera. Pada situasi seperti ini, kita patut bangga. Negeri kita sudah memiliki perekat bahasa: bahasa Indonesia. Bayangkan jika bahasa pemersatu negeri kita adalah bahasa Jawa atau bahasa Lampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kondisi di atas, ada hal lain yang patut dicermati pemuda. Dulu, common enemy bangsa kita adalah kolonial Belanda, Portugis, atau Jepang. Hanya dengan bambu runcing, penjajah bisa kita usir dari negeri ini. Apa kuncinya? Semangat nasionalisme. Lalu, apa common enemy Indonesia saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengatakan musuh kita sekarang adalah kemiskinan, maka siapa yang harus dilawan? Tidak jelas. Musuh tidak terdeteksi seperti pra-kemerdekaan. Karena memang musuh itu adalah diri kita sendiri. Akibatnya, nasionalisme mulai luntur dalam benak pemuda Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara de jure, bangsa kita telah merdeka sejak 63 tahun yang lalu. Tetapi secara de facto kemerdekaan belum bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat bangsa ini. Masih banyak terjadi kekerasan dan penindasan baik secara fisik maupun mental. Belum lagi masih ada sebagian wilayah dan daerah di negeri ini yang belum merasakan adanya listrik layaknya di kota-kota besar. Kemakmuran dan kesejahteraan masih belum merata. Kalau demikian, apa negara kita layak dikatakan sebagai negara yang merdeka? &lt;br /&gt;Ironis memang. Apalagi jika mengingat sejarah kemerdekaan Indonesia yang sudah tua tetapi rakyatnya masih belum terlepas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan. Pemandangan dan cerita tetang busung lapar, keracunan, dan penindasan masih terdengar dari sudut-sudut di setiap daerah di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ahmad Syafii Maarif, kerusakan negeri ini hampir sempurna. Kira rapuh dari dalam. Dan salah satu kerapuhan itu adalah menyusustnya semangat nasionalisme kepemudaan. Dewasa ini, pemuda mengalami perubahan tingkah laku, sikap sosial, dan pandangan hidup yang beralih pada cara berpikir dan bertindak instan serta serba politis.&lt;br /&gt;Sikap kaum muda tersebut tertera dalah tiga F, yaitu food, fashion, dan fun. Food tercermin pada makanan seperti pizza hut, McDonald, KFC, Hamberger, dan lain sebagainya. Fashion terlihat dari merk-merk pakaian semisal celana jeans, sepatu, topi, hingga handphone, dan aksesoris lain yang made in Amarika. Kemudian, fun bisa kita jumpai di tempat-tempat hiburan, cafe, hingga lokasi prostitusi. Pemuda kita telah digiring ke arah yang demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika generasi muda kita lemah, apa yang akan terjadi pada satu dasawarsa ke depan? Karena itu, sudah saatnya bangsa ini harus mempersiapkan pemuda-pemuda dengan semangat patriotisme. Kita harus mulai menengok ulang pada budaya-budaya lokal yang kini mulai ditinggalkan untuk kemudian dibangkitkan serta ditunjukkan kepada dunia bahwa inilah bangsa Indonesia. Kita harus bangga dengan produk-produk lokal. Di sinilah pemuda benar-benar diharapkan untuk membangun kembali komitmen dan integritas Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kira harus mempersiapkan pemuda yang memiliki visi masa depan yang jelas, memiliki ketrampilan, pengetahuan, pandangan yang berorientasi produktif, kekuatan spiritual, serta mampu menguasai bahasa internasional. Lain dulu lain sekarang. Sumpah pemuda yang selama ini kita dengarkan perlu dikaji ulang untuk kemudian dikonstruksi kembali redaksi dan maknanya. Realitas dulu dan sekarang sudah pasti berbeda. Tentunya, sumpah pemuda harus berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya, sekarang kita harus kembali bersama-sama merumuskan sumpah pemuda jilid dua untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme pada pemuda-pemudi dan seluruh tumpah darah Indonesia sebelum semuanya terlambat. ”Kami putra dan putri Indonesia cinta pada budaya dalam negeri. Kami putra dan putri Indonesia cinta pada produk dalam negeri. Kami putra dan putri Indonesia siap memberantas korupsi di dalam negeri”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7838821926780812107?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7838821926780812107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7838821926780812107' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7838821926780812107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7838821926780812107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/12/sumpah-pemuda-jilid-dua.html' title='Sumpah Pemuda Jilid Dua'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-5807031733769851949</id><published>2008-12-01T14:48:00.001+07:00</published><updated>2008-12-01T14:51:04.283+07:00</updated><title type='text'>Is Muhammadiyah Collapse?</title><content type='html'>Geliat dan gesekan politik di Muhammadiyah pascareformasi semakin jelas dengan kehadiran Partai Amanat Nasional (PAN), walaupun secara de jure tidak ada hubungan antara PAN dengan Muhammadiyah. Namun secara sosio-historis tidak bisa dinafikan bahwa Amin Rais sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu (yang kemudian mengundurkan diri menjelang berdirinya PAN, 23 Agustus 1998) memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap kader-kader Muhammadiyah. Bahkan Tanwir Muhammadiyah merekomendasikan Amin Rais sebagai kader terbaik untuk maju pada pemilihan capres tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gesekan itu semakin bertambah ketika muncul kekecewaan dari sebagian kader muda Muhammadiyah terhadap perjuangan PAN yang dianggap tidak bisa membawa aspirasi dan kepentingan Muhammadiyah. Karena itu, digagaslah adanya Kongres Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) tahun 2004 yang menghasilkan berdirinya Perhimpunan Amanah Muhammadiyah (PAM). Dari situlah, kemudian berujung pada lahirnya Partai Matahari Bangsa (PMB) dengan kader yang mayoritas didominasi anak-anak muda Muhammadiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, Muhammadiyah diributkan dengan munculnya iklan politik dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) perihal dimunculkannya KHA Dahlan (pendiri Muhammadiyah), juga KH. Hasyim ’Asyari, Soeharto, dan beberapa nama lainnya sebagai tokoh bangsa. Berbagai kritikan menghujani PKS hingga dalih apa pun dijadikan sebagai pembenar atas tindakan mereka, bila perlu ayat suci Al-Qur’an dikeluarkan. Pepatah lama mengatakan, seribu alasan akan diungkapkan hanya untuk membenarkan sebuah premis awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah dan AMM Sebagai Civil Society&lt;br /&gt;Membaca dan menilai gerakan Muhammadiyah beserta AMM-nya (PM, NA, IMM, dan IPM), maka penulis memposisikannya sebagai civil society. Kehadiran mereka dalam konteks ini diletakkan sebagai ruang publik (public sphere) yang terletak antara negara di satu pihak dan masyarakat di pihak lain, seperti yang diungkapkan oleh Affan Gaffar (1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, PM dan NA harus mampu mewakili aspirasi pemuda-pemudi yang ada di kampung/desa untuk melakukan upaya-upaya advokasi terhadap pemerintah. Begitu pula dengan IMM dan IPM yang harus mampu menjadi artikulator mahasiswa di kampus dan pelajar di tingkat sekolah. Terlepas dari kritik sejarawan Kuntowijoyo, bahwa klasifikasi ortom Muhammadiyah berdasarkan jenis kelamin, kita harus tetap yakin, bahwa AMM merupakan jembatan kuat untuk mewakili basis massanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keyakinan yang selama ini dipegang kemudian dibenturkan dengan realitas, muncul sebuah pesimisme jika Muhammadiyah dan AMM-nya dianggap sebagai civil society, yang berujung pada terwujudnya masyarakat madani (beradab). Kita tidak bisa memungkiri, bahwa fragmentasi kepentingan personal di internal Muhammadiyah dan AMM sangat tinggi. Sumber fragmentasi itu bisa muncul dari tingkat ekonomi aktivisnya yang berbeda-beda, latar belakang sosial-budaya-pendidikannya, etnisitas yang beragam, serta sikap politik yang tersebar di berbagai partai politik. Entah itu di Golkar, PDI-P, Demokrat, PKS, PPP, Gerindra, maupun di PAN dan PMB itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Muhammadiyah dianggap menjadi bagian dari civil society, masih jauh dari cita-cita masyarakat. Belum lagi konflik politis lainnya yang semakin menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak lagi ideal sesuai dengan tujuannya. Padahal, kelahiran Muhammadiyah dan ortom-ortomnya bukan hanya untuk internal Muhammadiyah an sich, tetapi untuk masyarakat luas pada umumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik Nasional vis a vis Politik Muhammadiyah&lt;br /&gt;Tidak bisa dipungkiri bahwa perpolitikan nasional membawa pengaruh yang cukup signifikan di segala level masyarakat, tak terkecuali di tingkat Muhammadiyah. Nilai-nilai demokrasi yang dipahami salah kaprah pun bisa berdampak pada chaos-nya antar-rakyat sendiri. Lagi-lagi yang bakal jadi korban tak lain dan tak bukan rakyat lagi. Hal yang dimikian pun terjadi di internal warga Muhammadiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena perbedaan pemahaman warga Muhammadiyah terhadap demokrasi, maka perilaku-perilaku yang ada di partai politik, baik pada saat kampanye pilkada ataupun pada saat pencalonan legislatif tercermin di tingkat Muhammadiyah beserta ortomnya. Bahkan tercermin pula ke lorong-lorong yang bernama Muktamar, Musywil, Musyda, Musycab, dan Musyran. Berbagai jenis perilaku yang dulunya tabu di Muhammadiyah, kini telah hadir tanpa ada skat yang membatasinya. Mulai dari black-campign antar-calon, like and dislike, pembunuhan karakter kader potensial, penyingkiran calon lain karena lawan politik, rebutan posisi ketua umum, hingga deal-deal politik lainnya dengan berbagai pihak. Hal yang demikian telah mewarnai setiap bentuk permusyawaratan dan persidangan di Muhammadiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, sebagian kader-kader Muhammadiyah yang masih ada di struktur maju sebagai calon DPR, DPRD (Provinsi dan Kabupaten/Kota), DPD, bahkan ketua umum PP Muhammadiyah menyatakan diri siap maju sebagai calon Presiden di pemilu 2009 nanti. Jika hal ini dibiarkan tanpa ada mekanisme yang berlaku, maka ruang-ruang yang awalnya tidak politis, kini akan terbaca secara sangat politis. Tentunya, mekanisme itu tidak hanya berhenti pada pembuatan SK saja, proses pengawalan pun harus dilakukan oleh semua pihak dari tingkat Ranting hingga Pusat. Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat aneh: Anak-anak muda Muhammadiyah justru melawan mekanisme itu tanpa ada solusi terbaik bagi persyarikatan. Lagi-lagi, persyarikatan yang dikorbankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is Muhammadiyah Collapse?&lt;br /&gt;Istilah collapse bisa diartikan sebagai to fall down suddenly, generally as a result of damage, structural weakness (Encarta) atau kekosongan wewenang (vacuum of authority). Makna sederhananya, collapse adalah gagal karena disebabkan oleh sesuatu. Berdasarkan pada pembacaan fenomena di atas, kita melangkah pada pertanyaan, apakah Muhammadiyah yang hampir berumur satu abad ini akan tetap menjadi organisasi yang strong atau justru sebaliknya, collapse?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga tolok ukur, meminjam pendapat Bursan, yang digunakan sebagai standarisasi apakah Muhammadiyah akan tetap strong atau collapse di tengah dinamika yang ada. Pertama, the idea of Muhammadiyah. Keberadaan Muhammadiyah masih dianggap eksis atau tidaknya bisa diukur dari masih ada atau tidaknya ide tentang Muhammadiyah di pikiran para warga dan kader Muhammadiyah. Walaupun belum ada data kuantitatif tentang berapa jumlah warga Muhammadiyah yang masih berideologi Muhammadiyah, tetapi bukti-bukti di lapangan telah berbicara bahwa, warga Muhammadiyah sudah kehilangan ghirah untuk bermuhammadiyah. Entah itu karena faktor teologis, ekonomis, atau hanya sekadar pindah ke partai politik tertentu tetapi menghina Muhammadiyah dari luar. Sungguh tindakan seperti ini tidak memiliki fatsun. Jauh sebelum ini, Abdul Munir Mulkan sudah mengklasifikasikan orang-orang Muhammadiyah berdasarkan disertasinya di salah satu kampung di Jember. Karena itu, melihat realitas yang ada, proses -proses ideologisasi dan kaderisasi harus ditingkatkan lagi sebelum ide tentang Muhammadiyah hilang dari pikiran warga Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, organizational expression of Muhammadiyah. Eksistensi Muhammadiyah masih dianggap ada atau tidak, dapat dilihat dari berfungsi atau tidaknya struktur dari tingkat Pusat hingga Ranting. Begitu juga dengan fungsi-fungsi amal usaha, seperti PKU, sekolah, universitas/sekolah tinggi/akademi, balai kesehatan, dan lain sebagainya. Jika ternyata fungsi-fungsi ini tidak berjalan dengan baik, maka bisa dipastikan gerakan Muhammadiyah akan mendekati collapse. Karena itu, harus ada mekanisme beserta pengawalannya, sehingga hukum pun berlaku di Muhammadiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, physical foundation of Muhammadiyah. Walaupun Muhammadiyah tidak memiliki batas-batas teritorial seperti negara, tetapi ciri ini bisa disamakan dengan seberapa besar kader-kader yang tetap loyal di Muhammadiyah, baik di struktur maupun di amal usaha. Jika ternyata orang yang duduk di jabatan amal usaha bukan kader ideologis, sudah hampir dipastikan ini juga merupakan tanda-tanda dari the end of Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga poin di atas setidaknya bisa digunakan sebagai tolok ukur apakah masa depan Muhammadiyah semakin mendekati kejayaan atau justru sebaliknya, collapse. Hipotesa sementara menyatakan, bahwa Muhammadiyah sedang berada di persimpangan jalan yang mengambang. Tergantung siapa kader yang akan membawanya. Jika kader itu oportunis dan hanya menjadikan Muhammadiyah sebagai jembatan, maka jembatan itu tidak akan bertahan lama dan akan digantikan oleh bentuk jembatan yang baru. Karena tentu banyak orang yang lalu lalang di jembatan itu tanpa ada satu orang pun yang menjaganya jika terjadi keretakan atau rusak di salah satu sudut jembatan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika kader itu menjadikan Muhammadiyah sebagai sarana untuk berdakwah demi terciptanya masyarakat yang beradab, maka sudah pasti akan ada landasan filosofis mengapa Muhammadiyah dijadikan sebagai sarana untuk berjuang. Tentu, fondasi yang dibangun akan kokoh dan akan selalu ada generasi baru yang memperbaiki fondasi itu sehingga “rumah Muhammadiyah” tetap berdiri walaupun badai mengguncangnya. Kiranya, angkatan muda harus ikut andil dalam hal ini. Jika muncul pertanyaan, is Muhammadiyah collapse? Anda sudah pasti tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-5807031733769851949?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/5807031733769851949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=5807031733769851949' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5807031733769851949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5807031733769851949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/11/is-muhammadiyah-collapse.html' title='Is Muhammadiyah Collapse?'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-966702961512246498</id><published>2008-12-01T14:46:00.000+07:00</published><updated>2008-12-01T14:48:35.915+07:00</updated><title type='text'>Selamat Tinggal IRM, Selamat Berjuang IPM</title><content type='html'>Saat Pembukaan, Wapres Jusuf Kalla Hadir &lt;br /&gt;Pagi itu, 25 Oktober 2008, rombongan bis besar dari Asrama Haji Donohudan Boyolali berbondong-bondong menuju arena pembukaan Muktamar XVI IRM di Stadion Sriwedari Solo. Belum lagi bis-bis dari berbagai arah baik itu dari Solo maupun dari luar Solo membanjiri arena pembukaan Muktamar. Penjagaan ketat dilakukan oleh pihak kepolisian dan Kokam terhadap lokasi itu. Wajar saja hal ini terjadi, karena pembukaan Muktamar dihadiri oleh Wakil Presiden RI Drs. Muhammad Jusuf Kalla. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan Muktamar IRM terkahir dalam sejarah pergerakan IPM-IRM. Karena pada muktamar kali ini nama IPM akan diputuskan dan disahkan sebagai pengganti nama IRM. Tentu kita sudah tahu mengapa IRM diganti dengan IPM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan Muktamar dihadiri oleh ribuan orang, baik itu siswa-siswi SD maupun siswa-siswi SMP dan SMA dari berbagai penjuru di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Hadir juga tamu undangan dari para alumni IPM-IRM yang datang dari berbagai daerah. Tentunya, dalam acara ini selain Pak Wapres beserta rombongan, hadir pula Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Walikota Solo Joko Widodo, Ketua PWM Jawa Tengah Marpuji Ali, ortom-ortom dari pusat hingga ranting, dan peserta-peninjau Muktamar yang terdiri sekitar 600-an orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan ini selain dimeriahkan penampilan tari-tari dan band-band lokal, sempat diributkan dengan atraksi ”Penolakan IRM” dari rombongan IRM Jawa Timur dengan cara keliling lapangan. Rombongan ini sempat bentrok dengan aparat keamanan tapi bisa segera diselesaikan dengan damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Persidangan Selalu Kisruh&lt;br /&gt;Setelah pembukaan, acara persidangan berjalan selama empat hari (25-28 Oktober 2008). Agenda persidangan terdiri dari Laporan Pertanggungjawaban PP IRM periode 2006-2008, pemilihan tim formatur, penetapan nama IPM, dan perumusan konstitusi IPM baru. Persidangan yang dipimpin oleh Ivan (Jatim), Hadisra (Sulsel), dan Ucok (Medan) ini selalu terjadi baku hantam sesama peserta dan sering terjadi PK alias peninjauan kembali terhadap apa yang telah diputuskan pada sidang-sidang selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Konpiwil pra-Muktamar, ketika presidium sidang ingin memutuskan tentang nama-nama calon formatur, tiba-tiba ada peserta maju ke depan forum dan ingin memukul presidium sidang. Dari arah lain juga ribut dengan naik ke atas meja, kemudian mengeluarkan suara keras. Begitu juga dengan para peserta lain yang saling caci-maki dan perang mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat antarpeserta pun terjadi ketika PP IRM sedang membacakan LPj di depan forum. ”Apakah LPj dibaca semua atau hanya poin-poinnya saja?” tanya presidium sidang. Setelah melalui dialektika yang cukup panjang, diputuskan hanya dibacakan poin-poinnya saja. Setelah selesai pembacaan LPj, giliran PW IRM Se-Indonesia yang memberikan progress report dan tanggapan balik atas LPj PP IRM. Proses persidangan berjalan hingga dini hari (jam tiga pagi) dan tinggal beberapa wilayah saja yang mengikuti persidangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada proses pemilihan calon formatur tahap pertama (dari 38 calon menjadi 27 calon) pun terjadi perdebatan cukup sengit, apakah semua peserta (PW dan PD) yang memilih calon formatur atau cukup PW saja? Forum pun kembali ramai dan terjadi adu pendapat hingga forum dead lock dan ada lobi-lobi antar-wilayah. Kesepakatannya adalah cukup PW saja yang memilih calon formatur. Keputusan ini sebenarnya tidak banyak diterima oleh Daerah-daerah. Karena mereka beranggapan, punya hak suara juga atas pemilihan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi Muktamar Banyak Digugat&lt;br /&gt;Sidang komisi terbagi menjadi tiga bagian. Komisi A membahas tentang Muqaddimah IPM, Kepribadian IPM, Janji Pelajar, dan Rekomendasi. Komisi B membahas tentang strategi perjuangan IPM, agenda aksi IPM, dan struktur IPM ke depan. Komisi C hanya membahas tentang AD/ART IPM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masing-masing sidang komisi, terjadi banyak gugatan atas materi Muktamar yang ditawarkan kepada para peserta. Pada komisi A terjadi perdebatan tentang isi dari Muqaddimah yang terlalu panjang. Belum lagi Kepribadian IPM yang belum merepresentasikan karakter gerakan IPM. Hal ini pun terjadi di Komisi B dan C yang menggugat tentang struktur dan pasal-pasal AD/ART. Walaupun perdebatan terjadi, akhirnya pihak yang menggugat atas materi Muktamar tidak bisa menawarkan solusi baik dan kembali didebat ulang oleh pihak yang mendukung materi Muktamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun secara keseluruhan tidak terjadi perubahan besar-besaran atas materi Muktamar yang ditawarkan oleh Tim Materi yang terdiri dari Ridho, Arar, dan Nana (PP IRM), serta Faliq Jabar, Arham Sulsel, Fuad Jateng, dan Antoni Sumbar. ”Atas koordinasi yang selalu dijalankan oleh tim materi, pengawalan sidang komisi berjalan dengan lancar hingga keputusan pleno berakhir,” ungkap Faliq Mubarak, anggota Tim Materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bazar Banjiri Arena Muktamar&lt;br /&gt;Selain melihat ribut dan ramainya suasana persidangan, di luar arena terjadi sesuatu hal yang cukup meriah dan banyak dikunjungi oleh peserta Muktamar, yaitu Bazar. Hanya tempat inilah lokasi yang bisa dijadikan ajang ngobrol santai dan saling tukar pengalaman antarpeserta. Tentunya, ngobrol-ngobrol itu dibarengi dengan makan cemilan ringan yang dihidangkan oleh beberapa stand bazar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta stand bazar adalah Dian Krudung, Indosat, PW IRM Jateng, Suara Muhammadiyah, Majalah Kuntum, toko buku Jusuf Agency, Resist Book, Joko’s Silver, PW IRM Jatim, PW IRM DIY, Toko 6, PD IRM Jember, PD IRM Kota Yogyakarta, Toko Batik Pekalongan, Bintangin, LaPSI, PW IRM Kalsel, serta beberapa pihak yang memeriahkan tapi tidak mendapatkan stand seperti yang disediakan panitia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dari segi keuntungan tidak besar bahkan ada yang tidak untung sama sekali, tetapi mereka tetap merasa senang berada di arena bazar. ”Yang jelas kita hanya ingin memeriahkan Muktamar dan sebagai ajang promosi jualan. Kalau untung ya alhamdulillah, kalau nggak juga nggak masalah,” ungkap penjaga toko batik Pekalongan kepada Kuntum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Muktamar Hiasi Media&lt;br /&gt;Di tengah hiruk-pikuknya acara, media massa baik cetak maupun elektronik juga ikut mempublikasikan acara Muktamar. Hal ini terbukti dengan press conference PP IRM di salah satu rumah makan di Solo sehari menjelang pembukaan Muktamar. “Press conference ini dihadiri oleh 20-an wartawan media cetak maupun elektronik,” ungkap Moh. Mudzakkir, Ketua Umum PP IRM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pembukaan, beberapa stasiun televisi pun mempublikasikan suasana pembukaan Muktamar. Begitu juga media lain yang terdiri dari Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solo Pos, dan beberapa radio lokal Solo maupun Boyolali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami memang telah bekerja sama dengan beberapa media untuk mempublikasikan acara Muktamar yang bersejarah ini,” ungkap Ketua Media Center Muktamar, Machendra Setya Atmaja kepada Kuntum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking meriahnya acara pembukaan, Harian Republika mengangkat isu Muktamar sebagai headline pada halaman depan dengan foto yang cukup bagus. Bahkan Suara Merdeka yang tidak sempat mempublikasikan acara pembukaan, menggantinya dengan memuat salah satu artikel tentang IPM di rubrik wacana lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peserta yang hadir pun mendapatkan informasi baik seputar Muktamar maupun tentang wacana nasional yang sedang berkembang di negara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Formatur Terbentuk, Deni Weka Ketua Umum Terpilih&lt;br /&gt;Di babak akhir dari cerita Muktamar adalah pemilihan sembilan tim formatur dan penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Jendral PP IPM terbaru. Setelah melalui proses pemungutan suara dan penghitungan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Pusat (Panlihpus), terpilihlah 9 orang anggota tim formatur. Mereka itu adalah Andi R. Wijaya (ketua tim formatur), Deni Wahyudi Kurniawan, Diyah Puspitarini, Machendra Setya Atmaja, Nurjannah Seliani Sandiah, Virgo Sulianto Gohardi, Eka Damayanti, Aris Iskandar, dan Zulfikar Ahmad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mereka kami minta untuk segera menetapkan Ketua Umum dan Sekjend terbaru,” ungkap Ketua Panlihpus Masmulyadi kepada Kuntum didampingi anggota Panlihpus lainnya, Subhan Purno Aji, Pepsi NTB, Ali Murtadho Sumsel, Qusnul Jatim, dan Sedek Maluku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil rapat tim formatur, ditetapkanlah Deni Wahyudi Kurniawan dan Andi Rahmat Wijaya sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jendral PP IPM 2008-2010. Selain itu, kepengurusan lainnya akan dibicarakan dan ditetapkan setelah Muktamar berakhir.&lt;br /&gt;Muktamar ini ditutup oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir dan juga sambutan terakhir Ketua Umum PP IRM Moh. Mudzakkir serta sambutan Ketua Umum terpilih, Deni Wahyudi Kurniawan. Selamat berjuang IPM dan kita tunggu karya-karyanya untuk Indonesia yang berkemajuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Peserta Muktamar Utusan PP IRM Periode 2006-2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-966702961512246498?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/966702961512246498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=966702961512246498' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/966702961512246498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/966702961512246498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/11/selamat-tinggal-irm-selamat-berjuang.html' title='Selamat Tinggal IRM, Selamat Berjuang IPM'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-6540702790261732888</id><published>2008-12-01T14:38:00.001+07:00</published><updated>2008-12-01T14:43:19.662+07:00</updated><title type='text'>Krisis dan Developmental State di Asia Timur</title><content type='html'>Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, kita sudah mengkaji tentang konsep Developmetal State (DS), Market-Friendly, dan Democratic Developmental State (DDS) sebagai sebuah paradigma yang mempengaruhi arah dan kecepatan pembangunan ekonomi dalam suatu negara. Namun, dalam review ini akan difokuskan pada kajian Developmetal State dan pengalaman yang terjadi di negara-negara Asia Timur. Karena itu, sebelum masuk pada pengalaman yang terjadi di negara-negara Asia Timur, akan dipaparkan ulang apa itu Developmetal State dan karakteristiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Johnson’s Formulation (Pei-Shan Lee, 2002), yang dimaksud dengan Developmetal State itu adalah mencakup beberapa karakteristik di bawah ini. Pertama, memprioritaskan pertumbuhan ekonomi dan produksi (sebaliknya dari konsumsi dan distribusi) sebagai tujuan fundamental dari kegiatan negara. Kedua, merekrut aparat birokrasi ekonomi yang bertalenta tinggi, kohesif, dan disiplin dengan basis merit. Ketiga, mengkonsentrasikan talenta birokrasi ke dalam lembaga sentral (seperti MITI di Jepang) yang bertanggung jawab atas tugas transformasi industrial. Keempat, melembagakan hubungan antar-birokrasi dengan elit bisnis dalam rangka pertukaran informasi dan mendorong kerjasama dalam keputusan-keputusan penting berdasarkan pembuatan kebijakan yang efektif. Kelima, melindungi jaringan pengambil kebijakan dari tekanan kepentingan dan tuntutan lainnya. Keenam, mengimplementasikan kebijakan pembangunan dengan kombinasi jaringan kerja pemerintah dengan dunia industrial dan kontrol publik atas sumber daya-sumber daya, seperti keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari paradigma DS adalah peranan dominan lembaga eksekutif. Yang dimaksud dengan lembaga eksekutif disini adalah otoritas administratif dan kekuatan politik. Jadi, paradigma ini dimaksudkan untuk menegaskan peran pemerintah dalam ekonomi pasar. Kinerja ekonomi dibangun melalui penataan kelembagaan yang kuat yang dilakukan oleh pemerintah. Ini biasa dikenal dengan proses pembangunan ekonomi terrencana. Pemerintah menyelenggarakan ekonomi terrencana ini melalui lembaga yang ditunjuk khusus yang bertanggung jawab atas tugas mengarahkan pembangunan itu sendiri, dan menjalankan beragam alat kebijakan untuk memastikan kegiatan bisnis tetap terpelihara dan terkelola dalam kerangka kepentingan nasional. Hal ini dianggap sebagai pra-syarat penting dalam mengelola proses pembangunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGALAMAN-PENGALAMAN DI ASIA TIMUR&lt;br /&gt;Melihat penjelasan tentang konsep Developmetal State di atas, pada pembahasan ini akan melihat keberhasilan konsep Developmetal State yang berlaku di Asia Timur berdasarkan pengalaman-pengalaman yang telah dilakukan oleh negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut KS. Jomo, persoalan huru-hara keuangan di Asia Timur sudah mulai sejak pertengahan 1997 yang difokuskan pada persoalan sistem kapitalisme. Soal adanya krisis yang dimulai pada Juli 1997 disebabkan karena manajemen yang salah pada sektor ekonomi makro. Bagi Yogi Suwarno, untuk menggambarkan tentang Developmetal State maka pengalaman Jepang adalah contoh yang dapat menjelaskan cara kerja paradigma tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beeson (2002) menjelaskan bahwa inti dari Developmental State Jepang adalah birokrasi yang berkompeten dan berkomitmen untuk mengimplementasikan proses pembangunan ekonomi yang terrencana. Di negara-negara tersebut, kapasitas negara (state capacity) mapan untuk melaksanakan kebijakan industri yang beragam. Mereka juga mempunyai birokrasi yang relatif efisien, serta diisi oleh staf yang termasuk bertalenta nasional dan terbaik. Lembaga birokrasi ini tidak hanya merekrut orang-orang yang bertalenta terbaik saja, tetapi juga mereka mampu memanfaatkan alat-alat kebijakan yang memberikan kepada mereka otoritas lebih terhadap dunia bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, Yogi Suwarno menjelaskan lebih lanjut, MITI dan Minister of Finance mempunyai kapasitas untuk mengendalikan tabungan domestik (domestic savings) untuk menyediakan kredit murah bagi industri-industri tertentu. Melalui cara ini, perencana Jepang mampu memandu proses industrialisasi sejak dini dan juga mendorong lebih banyak industri yang bernilai tinggi. Sedangkan industri yang sudah tua dipindahkan ke negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola intervensi negara ini telah ditiru oleh banyak negara dengan tingkat kesuksesan yang berbeda. Negara tetangga seperti Taiwan dan Korea meniru pengalaman Jepang lebih dini dan dapat dikatakan sukses. Sementara negara-negara Asia Tenggara meniru belakangan dengan hasil yang berbede-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Beeson (2002) adalah penting untuk diingat bahwa negara-negara Asia Tenggara, dibandingkan dengan negara-negara Asia Timur, tidak hanya lemah dari segi sumber daya dan kapasitas, akan tetapi mereka juga dihadapkan pada pelaksanaan pembangunan yang sangat terlambat. Oleh karena itu, efektivitas implementasi Developmental State pada sistem internasional yang sekarang menjadi perlu dikaji lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi KS. Jomo, ada beberapa hal mengapa Asia Timur secara natural berhasil dalam menerapkan sistem Developmetal State ini. Baginya ada beberapa poin utama. Pertama, kekuatan suatu rezim (state) merupakan unsur yang sangat penting untuk tawaran pembangunan di negara-negara Asia Timur (Anderson, 1998). Kedua, distribusi kekuasaan dan otonomi kepada para eksekutif yang ada di daerah, termasuk juga distribusi dalam pembuatan kebijakan seperti yang dilakukan oleh Jepang dan bahkan Thailand. Hal ini pun sangat berdampak baik bagi para investor asing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, bertentangan dengan prinsip neo-liberal bahwa mereka berkuasa atas pasar. Dalam hal ini, negara-negara di Asia Timur berprinsip bahwa pemerintah memiliki intervensi atas perkembangan ekonomi yang berjalan di negara mereka dan mereka sangat membatasi apa yang harus dilakukan oleh para investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga catatan di atas harus menjadi perhatian utama bagi negara-negara di Asia Tenggara bahwa, dalam penerapan Developmetal State yang menjadi kunci utama adalah kekuatan negara atas pasar (market). Jika posisi negara sudah kuat, terutama peran lembaga eksekutif, maka pasar akan bisa dikendalikan dan hukum bisa diterapkan kepada para investor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA CATATAN&lt;br /&gt;Dari hasil diskusi yang diselenggarakan pada Jum’at (14/11/2008), ada beberapa catatan yang dianggap cukup penting terkait dengan perkembangan Developmetal State di negara-negara Asia Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, paradigma Developmetal State akan sukses di negara-negara yang telah memiliki state capacity dalam pengelolaan political goods, seperti keamanan, hukum, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, posisi negara, terutama lembaga eksekutif (presiden, menteri) sangat kuat. Kelemahan di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia karena posisi lembaga eksekutif tidak kuat. Sebaliknya, yang memiliki kekuatan penuh ada di lembaga legislatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Developmetal State hanya akan berkembang di negara otoriter. Jika paradigma ini berkembang di negara demokratis, maka akan menemukan banyak kendala. Karena negara demokratis cenderung dekat dengan kapitalisme dan kapitalisme itu adalah tanda dari pasar bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, birokrasi harus dijalankan secara efisien dengan menggunakan konsep governability. Konsep governability tidak mengedepankan high cost tetapi lebih pada bagaimana struktur dapat bekerja dengan sangat efisien dan biaya yang rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Di samping itu pula, negara-negara di Asia Timur memang telah maju sebelumnya dan menerapkan paradigma Developmetal State terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-6540702790261732888?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/6540702790261732888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=6540702790261732888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/6540702790261732888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/6540702790261732888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/11/krisis-dan-developmental-state-di-asia.html' title='Krisis dan Developmental State di Asia Timur'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-7246888484501939067</id><published>2008-11-24T15:36:00.000+07:00</published><updated>2008-11-24T15:40:29.597+07:00</updated><title type='text'>Indonesia Pascaeksekusi Amrozi CS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya eksekusi mati terhadap terpidana Bom Bali I yang terdiri dari Amrozi, Imam Samudera, dan Muchlas dilakukan oleh tim tembak dini hari pada Minggu, 9 November 2008. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Tentunya beragam komentar muncul dari banyak kalangan terhadap eksekusi mati tersebut. Sebagian besar merasa lega atas eksekusi terutama dari pihak asing (terkhusus warga Australia) dan korban baik luar negeri maupun domestik, karena setimpal dengan perbuatan mereka. Tetapi sebagian yang lain menyesali bahkan tidak rela atas eksekusi itu. “Lebih baik dihukum seumur hidup, biar mereka menyesal atas perbuatannya,” ungkap salah seorang warga Australia di salah satu stasiun swasta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Teror dari berbagai pihak baik menjelang eksekusi maupun setelah eksekusi terus bermunculan. &lt;/span&gt;Salah satu teror pun muncul dari situs internet luar negeri yang mengancam akan membunuh Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla jika eksekusi dilakukan. &lt;span lang="SV" style=""&gt;Tertangkap pula salah satu anggota jaringan teroris di Jakarta yang menyimpan rakitan bom. Belum lagi temuan-temuan lain yang sedang dalam proses pencarian tim pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Negara pun seolah dibuat kalang kabut oleh segelintir orang yang menginginkan teror tetap terus berjalan. Apalagi salah satu harian nasional pernah mengambil &lt;i&gt;headline &lt;/i&gt;yang berjudul ”Jakarta Siaga Satu”. Berita ini seolah membuat kesan, bahwa Jakarta dan negara sedang dalam keadaan kritis atau bencana. Padahal persoalannya hanya terkait dengan eksekusi terpidana bom bali Amrozi CS. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Indonesia Sebagai &lt;i&gt;Failed State&lt;/i&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Lalu bagaimana kekuatan negara atas ancaman-ancaman yang muncul? Atau jangan-jangan negara sudah tidak berdaya atas ancaman-ancaman tersebut, sehingga ini merupakan tanda-tanda Indonesia sebagai &lt;i&gt;failed state&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Masih adakah masa depan Indonesia sebagai negara? &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; tiga indikasi bagaimana negara (&lt;i&gt;state&lt;/i&gt;) tetap ada atau &lt;i&gt;the end of state&lt;/i&gt; sebagaimana analisisnya Busan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertama, &lt;i&gt;idea of the state&lt;/i&gt;. Dikatakan ada atau tidaknya sebuah negara, ketika masih ada warganya yang berpikir tentang konsep &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; (&lt;i&gt;the idea of &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;). Hal ini memang terkesan ideologis dan memang cara yang harus ditanamkan kepada warga negara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; harus ideologis. Walaupun &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; sudah hancur dari segi fisik kepulauan ataupun tata administrasinya, tetapi ide tentang &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; masih ada di otak masing-masing warganya, maka &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tetap dikatakan ada. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks ini, posisi negara tetap kuat atas ancaman teroris pascaeksekusi Amrozi CS. Karena itu, pelajaran-pelajaran tentang sejarah Indonesia ataupun ide-ide tentang kebangsaan harus ditanamkan kepada anak didik kita sejak dini, sehingga mereka merasa bangga memiliki Indonesia. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kedua, &lt;i&gt;organizational expression of the state&lt;/i&gt;. Keberadaan sebuah negara tetap eksis atau tidaknya bisa diukur dari apakah struktur negara masih berjalan atau tidak, seperti presiden, wakil presiden, gubernur, bupati/walikota, rumah sakit, balai kesehatan, dan lain sebagainya. Jika fungsi-fungsi ini masih berjalan sebagaimana mestinya, maka &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tetap &lt;i&gt;strong state&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, fungsi-fungsi yang telah disebutkan di atas harus diperkuat kembali barisannya serta melakukan koordinasi secara terus menerus untuk menanggapi isu-isu yang tidak jelas. Tentunya, peran struktur negara harus dimainkan dengan &lt;i&gt;full strong &lt;/i&gt;terhadap pihak-pihak yang selama ini dianggap berpotensi untuk menghancurkan negara.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, &lt;i&gt;physical foundation of the state&lt;/i&gt;. Sebuah negara dikatakan ada jika memiliki batas teritorial yang jelas. &lt;span lang="ES" style=""&gt;Indonesia pun tentu memiliki batas teritorial yang jelas dengan negara-negara tetangga. Walaupun beberapa waktu yang lalu pernah konflik dengan Malaysia terkait kasus ambalat yang sempat mengancam kedaulatan Indonesia. Karena itu, pemerintah harus tegas melawan semua pihak yang ingin merampas batas teritorial Indonesia. Jangan dibiarkan begitu saja sehingga batas Indonesia secara perlahan-lahan habis dan akan terjadi konflik yang berkepanjangan di internal negara Indonesia sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Jika ketiga poin di atas tetap ada, maka Indonesia bukanlah sebagai &lt;i&gt;failed state &lt;/i&gt;pascaeksekusi Amrozi CS. Hal serupa pun pernah diungkapkan oleh Jusuf Wanandi (2002), bahwa Indonesia bukan termasuk &lt;i&gt;failed state&lt;/i&gt;. Ada beberapa alasan atas pernyataan Wanandi, diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik adanya penyelesaian konflik di beberapa daerah secara demokratis, serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih adanya ide tentang nasionalisme dan patriotisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Di samping itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah pascaeksekusi Amrozi CS. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, memperkuat sektor keamanan dan pertahanan. SBY dan JK sebagai kepala negara berserta kabinet Indonesia bersatu harus melakukan koordinasi secara intensif dengan struktur-struktur yang ada baik dari tingkat pusat hingga kepala desa dan RT-RW. Ini sebagai kontrol atas segala bentuk perlawanan yang berpotensi menghancurkan negara. Pihak kepolisian pun harus secara cermat melakukan operasi di berbagai sudut negara, baik itu di terminal, stasiun, pelabuhan, dan sudut-sudut Indonesia yang dianggap berpotensi terjadinya teror. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;, pemantauan terhadap kurikulum mata pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pemerintah harus mengontrol sistem yang berjalan di setiap sekolah dengan tujuan tidak adanya indikasi pada pemahaman yang ekstrimis. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Ini bukan berarti kita menerapkan kembali sistem diktator seperti yang terjadi di era Orde Baru. Tetapi hanya sebatas kontrol yang dilakukan tidak hanya oleh negara, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat, dan terkhusus pihak keluarga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;, memperkuat &lt;i&gt;leadership &lt;/i&gt;di berbagai sektor publik. Gaya kepemimpinan harus diperkuat lagi pada berbagai jabatan publik, terutama presiden, wakil presiden, gubernur, dan bupati/walikota. Jabatan-jabatan seperti ini harus memainkan peran yang cerdas, tegas/tidak plin-plan, berpihak kepada yang tertindas, serta berani mengambil risiko atas keputusan yang telah dibuatnya. Bahkan nyawa dan keluarga pun harus siap dipertaruhkan atas jabatan publik yang diembannya. Karena itu, jabatan bukanlah santapan empuk yang diperebutkan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat yang dipimpinnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Jangan ada indikasi &lt;i&gt;failed state &lt;/i&gt;terhadap Indonesia hanya gara-gara segelintir orang. Gunakan kedaulatan yang dimiliki oleh Indonesia, karena rakyat selalu berada di depan untuk segenap tumpah darah negeri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya eksekusi mati terhadap terpidana Bom Bali I yang terdiri dari Amrozi, Imam Samudera, dan Muchlas dilakukan oleh tim tembak dini hari pada Minggu, 9 November 2008. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Tentunya beragam komentar muncul dari banyak kalangan terhadap eksekusi mati tersebut. Sebagian besar merasa lega atas eksekusi terutama dari pihak asing (terkhusus warga Australia) dan korban baik luar negeri maupun domestik, karena setimpal dengan perbuatan mereka. Tetapi sebagian yang lain menyesali bahkan tidak rela atas eksekusi itu. “Lebih baik dihukum seumur hidup, biar mereka menyesal atas perbuatannya,” ungkap salah seorang warga Australia di salah satu stasiun swasta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Teror dari berbagai pihak baik menjelang eksekusi maupun setelah eksekusi terus bermunculan. &lt;/span&gt;Salah satu teror pun muncul dari situs internet luar negeri yang mengancam akan membunuh Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla jika eksekusi dilakukan. &lt;span lang="SV" style=""&gt;Tertangkap pula salah satu anggota jaringan teroris di Jakarta yang menyimpan rakitan bom. Belum lagi temuan-temuan lain yang sedang dalam proses pencarian tim pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Negara pun seolah dibuat kalang kabut oleh segelintir orang yang menginginkan teror tetap terus berjalan. Apalagi salah satu harian nasional pernah mengambil &lt;i&gt;headline &lt;/i&gt;yang berjudul ”Jakarta Siaga Satu”. Berita ini seolah membuat kesan, bahwa Jakarta dan negara sedang dalam keadaan kritis atau bencana. Padahal persoalannya hanya terkait dengan eksekusi terpidana bom bali Amrozi CS. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Indonesia Sebagai &lt;i&gt;Failed State&lt;/i&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Lalu bagaimana kekuatan negara atas ancaman-ancaman yang muncul? Atau jangan-jangan negara sudah tidak berdaya atas ancaman-ancaman tersebut, sehingga ini merupakan tanda-tanda Indonesia sebagai &lt;i&gt;failed state&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Masih adakah masa depan Indonesia sebagai negara? &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tiga indikasi bagaimana negara (&lt;i&gt;state&lt;/i&gt;) tetap ada atau &lt;i&gt;the end of state&lt;/i&gt; sebagaimana analisisnya Busan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pertama, &lt;i&gt;idea of the state&lt;/i&gt;. Dikatakan ada atau tidaknya sebuah negara, ketika masih ada warganya yang berpikir tentang konsep &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; (&lt;i&gt;the idea of &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/i&gt;). Hal ini memang terkesan ideologis dan memang cara yang harus ditanamkan kepada warga negara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; harus ideologis. Walaupun &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; sudah hancur dari segi fisik kepulauan ataupun tata administrasinya, tetapi ide tentang &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; masih ada di otak masing-masing warganya, maka &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tetap dikatakan ada. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks ini, posisi negara tetap kuat atas ancaman teroris pascaeksekusi Amrozi CS. Karena itu, pelajaran-pelajaran tentang sejarah Indonesia ataupun ide-ide tentang kebangsaan harus ditanamkan kepada anak didik kita sejak dini, sehingga mereka merasa bangga memiliki Indonesia. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kedua, &lt;i&gt;organizational expression of the state&lt;/i&gt;. Keberadaan sebuah negara tetap eksis atau tidaknya bisa diukur dari apakah struktur negara masih berjalan atau tidak, seperti presiden, wakil presiden, gubernur, bupati/walikota, rumah sakit, balai kesehatan, dan lain sebagainya. Jika fungsi-fungsi ini masih berjalan sebagaimana mestinya, maka &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; tetap &lt;i&gt;strong state&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, fungsi-fungsi yang telah disebutkan di atas harus diperkuat kembali barisannya serta melakukan koordinasi secara terus menerus untuk menanggapi isu-isu yang tidak jelas. Tentunya, peran struktur negara harus dimainkan dengan &lt;i&gt;full strong &lt;/i&gt;terhadap pihak-pihak yang selama ini dianggap berpotensi untuk menghancurkan negara.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, &lt;i&gt;physical foundation of the state&lt;/i&gt;. Sebuah negara dikatakan ada jika memiliki batas teritorial yang jelas. &lt;span lang="ES" style=""&gt;Indonesia pun tentu memiliki batas teritorial yang jelas dengan negara-negara tetangga. Walaupun beberapa waktu yang lalu pernah konflik dengan Malaysia terkait kasus ambalat yang sempat mengancam kedaulatan Indonesia. Karena itu, pemerintah harus tegas melawan semua pihak yang ingin merampas batas teritorial Indonesia. Jangan dibiarkan begitu saja sehingga batas Indonesia secara perlahan-lahan habis dan akan terjadi konflik yang berkepanjangan di internal negara Indonesia sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Jika ketiga poin di atas tetap ada, maka Indonesia bukanlah sebagai &lt;i&gt;failed state &lt;/i&gt;pascaeksekusi Amrozi CS. Hal serupa pun pernah diungkapkan oleh Jusuf Wanandi (2002), bahwa Indonesia bukan termasuk &lt;i&gt;failed state&lt;/i&gt;. Ada beberapa alasan atas pernyataan Wanandi, diantaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik adanya penyelesaian konflik di beberapa daerah secara demokratis, serta&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih adanya ide tentang nasionalisme dan patriotisme. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Di samping itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah pascaeksekusi Amrozi CS. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, memperkuat sektor keamanan dan pertahanan. SBY dan JK sebagai kepala negara berserta kabinet Indonesia bersatu harus melakukan koordinasi secara intensif dengan struktur-struktur yang ada baik dari tingkat pusat hingga kepala desa dan RT-RW. Ini sebagai kontrol atas segala bentuk perlawanan yang berpotensi menghancurkan negara. Pihak kepolisian pun harus secara cermat melakukan operasi di berbagai sudut negara, baik itu di terminal, stasiun, pelabuhan, dan sudut-sudut Indonesia yang dianggap berpotensi terjadinya teror. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;, pemantauan terhadap kurikulum mata pelajaran di lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pemerintah harus mengontrol sistem yang berjalan di setiap sekolah dengan tujuan tidak adanya indikasi pada pemahaman yang ekstrimis. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Ini bukan berarti kita menerapkan kembali sistem diktator seperti yang terjadi di era Orde Baru. Tetapi hanya sebatas kontrol yang dilakukan tidak hanya oleh negara, tetapi juga oleh seluruh elemen masyarakat, dan terkhusus pihak keluarga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;, memperkuat &lt;i&gt;leadership &lt;/i&gt;di berbagai sektor publik. Gaya kepemimpinan harus diperkuat lagi pada berbagai jabatan publik, terutama presiden, wakil presiden, gubernur, dan bupati/walikota. Jabatan-jabatan seperti ini harus memainkan peran yang cerdas, tegas/tidak plin-plan, berpihak kepada yang tertindas, serta berani mengambil risiko atas keputusan yang telah dibuatnya. Bahkan nyawa dan keluarga pun harus siap dipertaruhkan atas jabatan publik yang diembannya. Karena itu, jabatan bukanlah santapan empuk yang diperebutkan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat yang dipimpinnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;Jangan ada indikasi &lt;i&gt;failed state &lt;/i&gt;terhadap Indonesia hanya gara-gara segelintir orang. Gunakan kedaulatan yang dimiliki oleh Indonesia, karena rakyat selalu berada di depan untuk segenap tumpah darah negeri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="right" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" align="right" style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="ES" style=""&gt;Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-7246888484501939067?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/7246888484501939067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=7246888484501939067' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7246888484501939067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/7246888484501939067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/11/indonesia-pascaeksekusi-amrozi-cs.html' title='Indonesia Pascaeksekusi Amrozi CS'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-8250023971141898355</id><published>2008-09-11T13:37:00.000+07:00</published><updated>2008-09-11T13:46:35.871+07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang Gerakan Pelajar Baru "IPM"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SMi9rGBA47I/AAAAAAAAAK0/hnLWILXWiME/s1600-h/100_3041.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SMi9rGBA47I/AAAAAAAAAK0/hnLWILXWiME/s200/100_3041.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244650314119832498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Awal kelahirannya bernama ”Ikatan Pelajar Muhammadiyah”, pada tanggal 18 Juli 1961 di Surakarta. Di tengah perjalanan rezim Orde Baru yang begitu diktator, nama IPM harus berganti menjadi ”Ikatan Remaja Muhammadiyah” tahun 1992 untuk menyelamatkan eksistensi gerakan ini. Karena kalau tidak berubah, IPM akan dibekukan. Bagi pemerintah saat itu, satu-satunya organisasi pelajar yang diakui hanyalah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kemudian, ketika rezim Orde Baru telah tumbang, 1998, muncul keinginan dari berbagai kalangan untuk mengembalikan nama IRM menjadi IPM. Namun dari setiap Muktamar ke Muktamar, baik itu Muktamar di Jakarta (2000), Muktamar di Yogyakarta (2002), hingga Muktamar di Lampung (2004), masih belum menemukan titik terang. Permusyawaratan seperti ”bola liar” yang tidak ada pawangnya. Barulah titik terang itu sedikit ada pada Muktamar Medan (2006) dengan dibentuknya ”Tim Eksistensi IRM” guna mengkaji basis massa IRM dan kemungkinan perubahan nama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di tengah perjalanan IRM di bawah kepemimpinan Moch. Mudzakkir (Ketua Umum PP IRM) inilah, nama IPM secara resmi disahkan pada Muktamar Solo Jawa Tengah, 23-28 Oktober 2008. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tentunya perubahan nama itu tidak sekadar perubahan fisik seperti lambang, &lt;i&gt;badge&lt;/i&gt;, maupun stempel. Tetapi perubahan harus kita tunjukkan secara paradigmatik. Maka dari itu, tim materi Muktamar kali ini telah merumuskan konstitusi baru IPM yang nantinya akan dijadikan panduan oleh seluruh pimpinan, kader, anggota, dan simpatisan IPM di mana pun mereka berada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konstitusi baru IPM tersebut secara sederhana bisa terbagi menjadi dua kategori. Pertama bisa disebut sebagai landasan idiil dan kedua bisa disebut sebagai landasan operasional. Kategori pertama terdiri dari Muqaddimah IPM, Kepribadian IPM, Strategi Perjuangan IPM, dan Agenda Aksi IPM. Kategori kedua terdiri dari AD/ART IPM, Struktur Pimpinan IPM, serta Kebijakan dan Program-program Bidang IPM. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Muqaddimah Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Muqaddimah merupakan pembuka ideologi IPM yang dijadikan landasan utama IPM dalam berjuang dan dalam menyusun konstitusi yang ada. Dalam Muqaddimah ini muatan awal dimulai dengan ayat-ayat Al-Qur’an, terdiri dari QS. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Al-Fatihah, QS. Ali Imran ayat 104 dan 110, QS. Al-Hasyr ayat 18, QS. Al-Isra’ ayat 36, dan QS. Ar-Ra’d ayat 11. Keenam jenis ayat tersebut merupakan sikap yang diambil oleh IPM untuk melandasi setiap gerak langkah perjuangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Setelah itu, barulah dijelaskan mengenai sejarah dan perkembangan IPM dari awal kelahiran hingga perkembangannya saat ini. Kemudian, di akhir Muqaddimah dirumuskan nilai-nilai dasar Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang terdiri dari lima butir: Nilai Keislaman, Nilai Keilmuan, Nilai Kekaderan, Nilai Kemandirian, dan Nilai Kemasyarakatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;2.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kepribadian Ikatan Pelajar Muhammadiyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kepribadian ini menjelaskan tentang sosok IPM sebagai organisasi yang berbasiskan pelajar. Karena itu, IPM didefinisikn sebagai gerakan Islam amar makruf nahi munkar di kalangan pelajar yang tertuju pada dua bidang, perorangan dan masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kemudian dijelaskan pula tentang Dasar dan Amal Perjuangan IPM yang memuat lima poin. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, IPM sebagai gerakan dakwah di kalangan pelajar. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, IPM sebagai gerakan kader di kalangan pelajar. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, IPM sebagai gerakan keilmuan di kalangan pelajar. &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, IPM sebagai ortom Muhammadiyah di kalangan pelajar. &lt;i&gt;Kelima&lt;/i&gt;, IPM sebagai organisasi independen di kalangan pelajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pada bagian akhir, dirumuskan ulang tentang Janji Pelajar Muhammadiyah yang memuat enam pernyataan. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, b&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;erjuang menegakkan ajaran Islam. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, hormat terhadap orang tua dan guru. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, bekerja keras, mandiri, dan berprestasi. &lt;i&gt;Kelima&lt;/i&gt;, rela berkorban dan menolong sesama. &lt;i&gt;Keenam&lt;/i&gt;, siap menjadi kader Muhammadiyah dan bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Strategi Perjuangan dan Agenda Aksi IPM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Strategi perjuangan ini merupakan senjata bagi IPM untuk melancarkan aksi-aksinya terhadap para pelajar. Harapannya, dengan adanya strategi ini IPM bisa diterima oleh para pelajar di mana pun mereka berada. Strategi perjuangan IPM itu terdiri dari enam macam: Strategi Gerakan Keislaman, Strategi Gerakan Kader, Strategi Gerakan Intelektual, Strategi Gerakan Budaya, Strategi Gerakan Kewirausahaan, dan Strategi Gerakan Kemasyarakatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah dirumuskan strategi perjuangan, maka perlu ada agenda aksi sebagai bentuk konkrit kegiatan IPM. Adapun bentuk aksi yang bisa dilakukan ada enam bentuk: Pengajian Islam Rutin (PIR), Sekolah Kader, Gerakan Iqra, Gerakan Budaya Tanding, Gerakan Kewirausahaan, dan Gerakan Advokasi Pelajar (GAP). Tentunya keenam agenda aksi tersebut memiliki bentuk kegiatannya masing-masing dengan ciri khasnya yang berbeda-beda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;4.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;AD/ART IPM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada beberapa perubahan yang terjadi dalam AD/ART selain perubahan istilah dari IRM menjadi IPM. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, maksud dan tujuan IPM sekarang dirumuskan menjadi “&lt;i&gt;Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, tentang syarat berdirinya Ranting, Cabang, Daerah, dan Wilayah perlu diperketat lagi dengan klausul yang telah dijelaskan di AD/ART. Hematnya, jika ada Cabang atau Daerah yang tidak memenuhi syarat untuk berdiri, maka tidak ada surat keputusan tentang berdirinya Cabang atau Daerah tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, tentang batas umur pimpinan. Di ART pasal 25 dijelaskan bahwa batas maksimal pengurus Ranting adalah 20 tahun atau hingga masa kelulusan SMA pada saat Musyran. Sedangkan batas maksimal pengurus Cabang dan Daerah adalah 22 tahun pada saat Musycab dan Musyda. Untuk Wilayah dan Pusat, batas maksimal pengurusnya adalah 24 tahun pada saat Musywil dan Muktamar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;, tentang distribusi Iuran Anggota dan Uang Pangkal (IA/UP). Jika di aturan lama distribusi IA/UP diberlakukan dari Ranting hingga Pusat, maka pada periode pascamuktamar Solo, distribusi IA/UP cukup dari Ranting hingga Daerah. Alasannya, Wilayah dan Pusat tidak secara langsung membina IPM Ranting, sehingga IPM cukup mengoptimalkan Daerah untuk langsung terjun melakukan pembinaan ke Ranting. Selain itu, agar pendanaan Daerah bisa lebih optimal dalam memberdayakan Ranting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain itu, tetap ada perubahan-perubahan yang terjadi pada permusyawaratan baik dari Musyran hingga Muktamar. Semua perubahan tentu demi kebaikan gerakan IPM ke depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;5.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Struktur Pimpinan dan Kebijakan Program-Program Bidang IPM &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Normal1" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Secara umum, struktur IPM tidak jauh berbeda dengan struktur sebelumnya. Sifat kepemimpinan di IPM adalah desentralisasi. Artinya, dalam melaksanakan dan memutuskan segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama dengan penuh pertimbangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Normal1" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Normal1" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Namun ada beberapa perubahan nama bidang. Nama Bidang KPSDM berganti menjadi Bidang Perkaderan. Bidang Studi dan Dakwah Islam (SDI) berganti menjadi Kajian dan Dakwah Islam (KDI). Bidang Apresiasi Seni, Kebudayaan, dan Olahraga (ASKO) berganti menjadi Apresiasi Seni, Budaya, dan Olahraga (ASBO). Bidang Hikmah dan Advokasi (HA) berganti menjadi Bidang Advokasi. Untuk Bidang Kewirausahaan hanya ada di Ranting. Sedangkan untuk struktur di atasnya cukup dibentuk lembaga kewirausahaan di bawah koordinasi bendahara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Normal1" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Normal1" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adapun kebijakan-kebijakan program per bidangnya bisa dilihat di materi Muktamar (www.irm.or.id). Secara garis besar, program per bidang tetap mengacu pada strategi dan agenda aksi yang telah dirumuskan sebelumnya. Harapannya, dari satu periode ke periode selanjutnya, program-program yang diselenggarakan IPM bisa berkesinambungan (&lt;i&gt;sustainablity program&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selain materi di atas, ada beberapa rekomendasi yang harus dilakukan oleh beberapa pihak setelah IPM resmi disahkan pada Muktamar Solo. Kepada seluruh jajaran IPM dari Pusat hingga Ranting dan juga kepada sekolah-sekolah Muhammadiyah, untuk mensosialisasikan perubahan nama ini secara serentak. Perubahan itu tentu diikuti dengan perubahan seluruh administrasi dalam IPM, begitu juga program dan kegiatannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepada Majelis Dikdasmen dari Pusat hingga Daerah, untuk mengawal perubahan nama ini dengan memberlakukan aturan bahwa satu-satunya organisasi pelajar intra sekolah yang diakui di sekolah Muhammadiyah hanyalah IPM. Karena itu, tidak ada lagi OSIS di sekolah Muhammadiyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kepada PP IPM yang terpilih, untuk segera merumuskan ulang Panduan Pengelolaan Ranting dan Fortasi bagi siswa baru, serta Sistem Perkaderan IPM (SPI). Hal yang paling penting yang juga menjadi rekomendasi pada Muktamar ini adalah berdirinya Forum Guru Muhammadiyah (FGM). Harapan dengan berdirinya FGM ini, para guru di sekolah Muhammadiyah memiliki wadah untuk mengorganisir kepentingan dan hak-haknya dalam berjuang di amal usaha Muhammadiyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dengan perubahan-perubahan di atas, diharapkan IPM ke depan menjadi lebih dinamis dan dekat dengan pelajar. Sukses selalu untuk IPM baruku dan selamat bermuktamar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 37.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 37.4pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 37.4pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ketua PP IRM dan Ketua Tim Materi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 37.4pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Muktamar XVI IRM di Solo &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-8250023971141898355?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/8250023971141898355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=8250023971141898355' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8250023971141898355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8250023971141898355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/09/selamat-datang-gerakan-pelajar-baru.html' title='Selamat Datang Gerakan Pelajar Baru &quot;IPM&quot;'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SMi9rGBA47I/AAAAAAAAAK0/hnLWILXWiME/s72-c/100_3041.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-6963389180724273840</id><published>2008-09-11T13:16:00.000+07:00</published><updated>2008-09-11T14:01:28.966+07:00</updated><title type='text'>Papua: Malam Kayak Hong Kong, Pagi Jadi Singkong</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SMi5ErXx6fI/AAAAAAAAAKs/cHWiS0mEUiY/s1600-h/100_1757.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SMi5ErXx6fI/AAAAAAAAAKs/cHWiS0mEUiY/s200/100_1757.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244645256086022642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat menulis catatan ini, penulis berpikir kalau rentang waktu yang ditulis antara data (saat berkunjung ke Jayapura) dengan tulisan ini sangat jauh. Sudah setahun lebih (sejak Maret 2007) penulis berkunjung ke belahan Indonesia bagian timur itu, ketika ada tugas organisasi untuk mengawal proses musyawarah IRM Papua. Dalam sidang redaksi, diputuskan bahwa persoalan waktu bukanlah menjadi alasan utama sebuah tulisan tidak layak baca. Yang penting adalah pesan mendalam yang hendak disampaikan pada tulisan tersebut. Dari kesepakatan itulah tulisan ini lahir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Masih tersimpan dalam ingatan, kunjungan ke Papua itu terjadi seminggu setelah terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto Yogyakarta (7/3/2007). Tentunya rasa khawatir terhadap jenis transportasi udara ini sempat menyelimuti pikiran penulis saat di udara bersama pesawat Merpati. Perjalanan di udara yang menghabiskan sekitar enam jam itu sempat transit di Makassar dan Timika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika detik-detik pendaratan (&lt;i&gt;landing&lt;/i&gt;) di Bandara Sentani Jayapura, penulis melihat negeri Papua dari atas. ”Begitu luas, banyak pegunungan, awan, ada pula danau-danau kecil, dan rumah-rumah di pinggir sungai,” ingatku. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Perjalanan dari bandara menuju lokasi masih menempuh waktu sekitar satu jam lebih. Untuk beberapa hari, penulis tinggal di kompleks perumahan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kebetulan saat itu MUI Papua sedang menyelenggarakan pelatihan Dai Se-Papua selama enam bulan alias setengah tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;”Waw, ini sangat fantastis,” ungkapku kepada salah satu panitia ketika kutanya tentang kegiatan selama di MUI tersebut. Peserta yang hadir adalah utusan masing-masing daerah Se-Provinsi Papua. Sebagian besar dari mereka orang Muhammadiyah. Karena itu, mereka juga membawa anal-anak dan istrinya ke lokasi acara. ”Kayak mau pindah rumah aja,” gumamku saat itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Inilah pertama kalinya penulis menginjakkan kaki di tanah Papua. Dulu ketika SD, penulis hanya bisa menggambar peta Papua di atas kertas dan hanya bisa membayangkan apakah mungkin akan bisa ke sana. Tapi mimpi-mimpi itu berbalik menjadi kenyataan. Penulis pun jadi teringat dengan pepatah, &lt;i&gt;bermimpilah kamu, niscaya Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu&lt;/i&gt;.ternyata, untuk keliling Indonesia tidak harus menjadi presiden. &lt;/span&gt;Tapi di IRM saja sudah cukup untuk mengenal &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan keragamannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat yang tinggal di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; itu cukup multietnik, seperti layaknya di kota-kota besar lainnya. Penduduknya sudah majemuk. Banyak juga orang Jawa, Sulawesi, dan Sumatera. &lt;span style="" lang="FI"&gt;Bahkan ketua PWM Papua saja asli dari Palembang, Sumatera Selatan. Hanya saja, sebagian dari mereka masih ada yang keturunan Papua. Selain itu, gaya hidup mereka sudah modern. Pakaian mereka layaknya pakaian yang dipakai masyarakat pada umumnya. Toko-toko dan pasar pun sudah ramai. Namun harga-harga di sana relatif lebih mahal bila dibandingkan dengan harga-harga di Yogyakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Penulis masih ingat, ketika makan ikan bawal bakar di pinggiran pelabuhan Jayapura. Satu porsi harganya 40 ribu. Itu sudah dengan minuman dan sayuran lainnya. Menunya lumayan lengkap. Jika harga tersebut dibandingkan dengan harga di Yogyakarta, sangat jauh berbeda. Di Yogyakarta uang 10 ribu sudah cukup untuk itu semua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di tengah-tengah acara musyawarah tersebut, penulis juga bertemu dengan wakil bupati Kota Jayapura yang juga orang Muhammadiyah dan masih memiliki rumah di Maguwoharjo, Sleman. Kebetulan anaknya kuliah di UGM. Selain itu, penulis juga berkunjung ke sekolah Muhammadiyah Kota Jayapura. Ini satu-satunya SMA Muhammadiyah di Kota Jayapura. Letaknya satu kompleks dengan kampus STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi) Jayapura. Di samping itu, Muhammadiyah Kota Jayapura memiliki juga TK, SMP, dan panti asuhan Muhammadiyah. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lokasi antara satu dengan yang lainnya saling berdekatan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kepala sekolah SMA-nya bernama Ahmad Dahlan. Penulis diminta untuk memberikan pengajian umum di lapangan setelah mereka berolah raga. Mereka sangat antusias dengan apa yang penulis sampaikan. Ketika diajak untuk menyanyikan lagu &lt;i&gt;Sang Surya&lt;/i&gt;, sebagian besar mereka bisa menyanyikannya. Lebih herannya lagi, ada beberapa siswa yang beragama non-Islam bisa menyanyikannya dengan suara lantang di bagian paling depan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika penulis bertanya tentang agama siswa di sekolah tersebut, maka Pak Dahlan menjelaskan, sekitar 10 persen lebih siswanya beragama non-Islam. ”Mereka tidak berpikir ini sekolah Islam atau tidak, Mas. Tapi kualitas dan alumninya,” terangnya. ”Atau bisa saja, karena mereka kejauhan saat memilih sekolah lain, akhirnya memilih SMA Muhammadiyah dengan alasan dekat dengan rumah mereka,” tambahnya sembari tertawa bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hal ini pun terjadi juga di kampus STIKOM yang 80 persen mahasiswanya beragama non-Islam (pernah ditulis di majalah ini juga). ”Kita tidak bisa menolak mereka, Mas. Justru keuangan yang lancar dari mereka yang non-Islam itulah,” cerita Pak Nur, Rektor III STIKOM Jayapura. Hal ini pun sebenarnya terjadi juga di Kupang, NTT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari pengalaman ini, penulis berpikir bahwa Muhammadiyah memang sangat besar dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkannya. Inilah wajah Muhammadiyah yang &lt;i&gt;rahmatan lil ’alaimin &lt;/i&gt;(bermanfaat bagi siapa saja tanpa memandang suku, agama, dan ras). Cita-cita ini sesuai dengan tujuan Muhammadiyah, terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (&lt;i&gt;the real Islamic sociecity&lt;/i&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Muhammadiyah tidaklah berwajah sangar/penuh kekerasan. Ia juga tidak suka memaksa orang untuk sesuai dengan keinginannya. Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang mengajak siapa saja untuk saling menghormati perbedaan, toleransi terhadap beda keyakinan, serta tidak menyelesaikan persoalan melalui jalur kekerasan. Muhammadiyah, seperti yang pernah dinyatakan oleh Prof. Dr. HM. Dien Syamsuddin, MA, Ketua Umum PP Muhammadiyah, sangat mengecam terhadap segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun dan atas nama organisasi apa pun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Muhammadiyah Papua memberi pengalaman berharga kepada kita semua, bahwa perbedaan bukanlah menjadi penghalang untuk berdakwah. Justru di situlah, Muhammadiyah membuktikan dirinya untuk bisa bermanfaat (&lt;i&gt;useful&lt;/i&gt;) bagi siapa saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selama tinggal di Jayapura, penulis selalu melihat pegunungan tinggi yang penuh dengan rumah dan pepohonan lebat. Banyak bangunan rumah yang terletak di lereng-lereng gunung. Saat malam hari, penulis pernah diajak jalan-jalan keliling Kota Jayapura. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di suatu tempat, penulis berhenti dan mengamati Kota Jayapura dari ketinggian. Tiba-tiba suara Pak Nur muncul. ”Mas, Papua ini kalau malam kayak Hong Kong, tapi kalau siang kayak singkong,” ungkapnya sembari tertawa kecil. Penulis pun langsung paham dengan pernyataan tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Saat malam hari, Jayapura (yang mencerminkan ibu kota Papua) diterangi lampu-lampu kecil baik di lereng-lereng gunung maupun di pusat peradabannya (pasar dan bangunan kota). Jadi, Jayapura seperti dikelilingi kunang-kunang di setiap sudut gunung. Sedangkan di siang hari, segala jenis pepohonan terlihat besar dan menjadi pemandangan yang masih alami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Selain itu, penulis juga sempat heran ketika salah seorang panitia mencarikan taksi untuk menghantarkan kepulangan penulis. Soalnya, selama di Papua penulis belum pernah melihat taksi. Pikir penulis, mungkin taksi di sini sangat spesial dan hanya untuk orang-orang tertentu. Tetapi jenis taksi yang dimaksud di Papua adalah mobil angkot kecil alias mikrolet. ”Ya Allah. Kirain apaan,” gumamku sambil tersenyum ketika panitia mempersilahkan penulis untuk menaiki taksi yang dimaksud bersama beberapa panitia lain yang ikut menghantarkanku ke bandara. Sepanjang perjalanan itu pula, banyak rumah di pinggir laut (kebetulan jalur darat satu-satunya terletak di pinggir laut).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Banyak hal yang membuat pengalaman penulis bertambah. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keanekaragaman, perbedaan konsep tentang sesuatu, semangat, dan penghormatan terhadap tamu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Semua itu tentunya didapatkan di Muhammadiyah saat pergi ke Papua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 37.4pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 37.4pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-6963389180724273840?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/6963389180724273840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=6963389180724273840' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/6963389180724273840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/6963389180724273840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/09/papua-malam-kayak-hong-kong-pagi-jadi.html' title='Papua: Malam Kayak Hong Kong, Pagi Jadi Singkong'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SMi5ErXx6fI/AAAAAAAAAKs/cHWiS0mEUiY/s72-c/100_1757.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-5775868480136383237</id><published>2008-08-14T20:19:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T20:20:17.460+07:00</updated><title type='text'>Say No to Fuel Price Increase</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Ridho Al-Hamdi, &lt;i style=""&gt;Chairman at Central Board of Muhammadiyah Student Association&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;On Friday evening (May, 23&lt;sup&gt;rd &lt;/sup&gt;2008) our government decided again, that fuel (BBM) price is increasing by 28,7 percent. Previously, in SBY-JK era, fuel price increases happened twice, first on March, 1&lt;sup&gt;st&lt;/sup&gt; 2005 and second on October, 1&lt;sup&gt;st&lt;/sup&gt; 2005. At the limited conference led by Minister of Finance, Sri Mulyani, in the office of Minister of Coordinator for Economics at Banteng Court Area, &lt;st1:place st="on"&gt;Central Jakarta&lt;/st1:place&gt;, a decision on fuel price increases was submitted by Minister of Energy and Human Resources, Purnomo Yusgiantoro.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;For now, the premium price is Rp 6,000 previously Rp 4,500 in October 2005 and Rp 2,400 in March 2005. Gasoline becomes Rp 5,500 previously Rp 4,300 in October 2005 and Rp 2,100 in March 2005. Kerosene becomes Rp 2,500 previously Rp 2,000 in October 2005 and Rp 700 in March 2005. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;After this decision, our national politics becomes heated. Many people from various groups criticize and demonstrate in the street. One demonstration extended along HI circle to the President’s palace. They were organized by Young Men’s Activator Network, Student Action Front, Front of Farmer Evocation and Fisherman, Commission of Indonesia Paupers for Justice, and Indonesia Impecunious People’s Association. The demonstration finished in chaos. The police arrested many people among the demonstrators. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;The other demonstration happened in front of &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;’s parliament (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;DPR&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt;) by several students. The action finished in chaos and there were three students injured. On Friday afternoon, before the decision on fuel price increases, hundreds of UNAS students met in their campus in Pasar Minggu area, &lt;st1:place st="on"&gt;South Jakarta&lt;/st1:place&gt;. The students blockaded Pajaten Raya road for their action. After this occurrence, there was a clash between students and police. This caused FISIPOL UNAS building to be damaged. In this occurrence too, there were 141 students brought to the police office. The same demonstration happened in other areas like Yogyakarta and &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Many rejection came from whoever, such us political observers, economic scientists, activists, political parties, NGOs (non-government organization), etc. There are some people that according to palace perspective reject fuel price increases, such us Rizal Ramli (former Minister for Economic Coordination in Gus Dur era), Wiranto (General Chairman of Hanura Party), and Fuad Bawazir (former Minister of Finance). But our government still persists with their decision, there are even some parties supporting this decision. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;As you know, fuel price increases cause our transportation price to increase. Almost all transportation becomes more expensive, like train, bus, plane, even ojek (motorcycle) and pedicab. So, this policy can not make our life becomes comfortable. The next question is what is the impact of fuel price increases on students in Junior and High School? It must be answered.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;There are several impacts of fuel price increases on our students. &lt;i&gt;First&lt;/i&gt;, the transportation price becomes expensive. If we take a bus (like Kopaja, Kopata, or Mickrolet), we must pay almost twice as much. On the other hand, if we take a motorcycle, we must pay more to buy gasoline. So, we must scrimp when we spend our money. &lt;i&gt;Second&lt;/i&gt;, book prices increase. When we buy books, sometimes we must think again, again, and again. Will our money be enough for several days after we buy those books? &lt;i&gt;Huh, &lt;/i&gt;we are confused by this policy. A policy which does not advocate to people. Therefore, we must say no to fuel price increases. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-5775868480136383237?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/5775868480136383237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=5775868480136383237' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5775868480136383237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5775868480136383237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/08/say-no-to-fuel-price-increase_4529.html' title='Say No to Fuel Price Increase'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-9076607340402051425</id><published>2008-07-24T11:02:00.000+07:00</published><updated>2008-07-24T11:07:51.461+07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Kader TMU Tingkat Nasional di Lampung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SIf_v8k3EYI/AAAAAAAAAIA/zHgCoDyx2vg/s1600-h/Dg+Bang+Zul.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 159px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SIf_v8k3EYI/AAAAAAAAAIA/zHgCoDyx2vg/s200/Dg+Bang+Zul.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226427091766415746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pimpinan Pusat IRM sukses menyelenggarakan Pelatihan Kader Paripurna Tingkat Nasional Taruna Melati Utama pada tanggal 1-12 Juli 2008. Bertindak sebagai tuan rumah dalam pelatihan ini adalah PW IRM Lampung dengan mengambil lokasi acara di Villa 21 Gisting, Tanggamus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Acara yang dibuka oleh Drs. Dahlan Rais (Sekretaris PP Muhammadiyah) ini mengambil tema ”&lt;i&gt;Menafsir Gerakan Pelajar Baru di Era Globalisasi&lt;/i&gt;”. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik NU, Muhammadiyah, maupun masyarakat dan pejabat daerah setempat. Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai tokoh tingkat nasional. Diantaranya Dr. Haedar Nashir, M.Si. (Ketua PP Muhammadiyah), M. Busyro Muqoddas, M.Hum. (Ketua Komisi Yudisial RI), Zulkifli Hassan (Sekjen DPP PAN dan Ketua Fraksi PAN DPR RI), Triaswati (Sekretaris PP Aisyiah), Imam Cahyono (&lt;i&gt;Project Officer &lt;/i&gt;Globalisasi The Prakarsa Jakarta), dan Joko Sustanto dkk (Maarif Institute).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tema sentral dalam pelatihan ini adalah globalisasi. Artinya, globalisasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus segera direspon oleh IRM atau IPM ke depan. Karena kalau tidak, kita akan tertinggal oleh kereta api zaman yang melaju dengan cepat. Ada empat kelompok materi yang dibahas secara berkesinambungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;membahas tentang apa itu globalisasi yang mengakibatkan dua arus utama, fundamentalisme agama (Islam Transnasional) dan fundamentalisme pasar (neoliberalisme). &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melihat fenomena ini, apa yang harus disikapi oleh Muhammadiyah dan IRM? Tentunya, IRM tidak terjebak pada salah satu arus dari kedua arus yang ada. Tetapi bisa berpikir kritis dan bertindak tepat terhadap globalisasi yang merupakan sebuah ancaman sekaligus sebuah tantangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;membahas tentang apa yang harus dilakukan oleh IRM sebagai gerakan Islam yang berbasis pelajar terhadap neoliberalisme dan Islam Transnasional. Karena itu, IRM harus menjadi gerakan pelajar kritis dan tentunya berpihak pada pelajar. Karena itu, sejak sekarang IRM harus mempersiapkan strategi perjuangannya beserta agenda aksinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;membahas tentang kefasilitatoran. Materi ini menjadi salah satu materi penting sebagai dasar bagi aktor-aktor IRM dalam mendesain dan mengelola sebuah pelatihan di wilayahnya, terutama di setiap perkaderan-perkaderan yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keempat, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;membahas tentang agenda aksi. Untuk merespon globalisasi, IRM telah menyiapkan agenda aksi yang terdiri dari 6 jenis: Pengajian Islam Rutin (PIR), Sekolah Kader, Gerakan Iqra, Gerakan Budaya Tanding, Gerakan Kewirausahaan, dan Gerakan Advokasi Pelajar (GAP). Harapannya, keenam agenda aksi ini mampu membentengi nilai-nilai yang terkandung dalam maksud dan tujuan IRM tanfidz Medan (terbentuknya remaja muslim yang berakhak mulia, berilmu, dan terampil). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu juga, para peserta diajak untuk mengunjungi tiga lokasi yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap globalisasi. &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;pesantren salafi sebagai bentuk pertahanan ideologi Islam di tengah ideologi pasar-kapitalis. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;pabrik pembuat tahu sebagai respon atas banyaknya menu-menu barat yang berorientasi hedonis (glamour). &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;paguyuban seni reog sebagai lawan atas budaya pop yang semakin lama semakin mengikis budaya lokal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan materi-materi di atas, TMU kali ini menjadi &lt;i&gt;starting point&lt;/i&gt; menuju perubahan nama menjadi Ikatan Pelajar Muhamamdiyah (IPM) yang akan dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 2008 saat Muktamar di Solo. Lampung telah menjadi saksi sekaligus tempat bersejarah atas perubahan nama itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ridho Al-Hamdi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ketua Pimpinan Pusat IRM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-9076607340402051425?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/9076607340402051425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=9076607340402051425' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/9076607340402051425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/9076607340402051425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/07/pelatihan-kader-tmu-tingkat-nasional-di.html' title='Pelatihan Kader TMU Tingkat Nasional di Lampung'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SIf_v8k3EYI/AAAAAAAAAIA/zHgCoDyx2vg/s72-c/Dg+Bang+Zul.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-5623085377865030795</id><published>2008-06-11T17:00:00.000+07:00</published><updated>2008-06-11T17:02:38.341+07:00</updated><title type='text'>Our Real Education Face</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;“The teacher is admired and imitated”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;It’s old aphorism which always enters people’s discussions. The duty of teacher is very weighty. He must teach, guide, instruct, and also understand child growth during in the school. The teacher’s duty is double burden.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;The teacher figure must be a good figure for all students in school. According to students, if the teacher can gives a good example, hence the student will say, that this teacher is very good. Meanwhile, if the teacher is not consistent and a bad example, hence the student will confront him. And then, the teacher will get a new sill.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;Therefore, the duty of teacher is not only change a stupid child to clever child, but can change a demure child to a active child, and also give an understanding to all student how know reality intelligently. We must make a school as garden and also as medium to learn to understand how to advocate the truth. The teacher’s duty is a holy duty which still underestimated.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;The basic problem is we think about things only for a short time. We work, hence we are paid. According to some us, a teacher only teaches in the classroom and gives some exercises. Afterwards, we leave and go back to home. If the student criticizes to teacher or doesn’t finish some exercises, hence they are get some punishments such as running around a field, washing bathroom, push up, or being expelled from class.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;The teacher is teaching and the student is learning. The teacher is knowing every things and the student not know anything. The teacher is thinking and the student is thought. The teacher is speaking and the student is listening. The teacher is arranging and the student is arranged. The teacher is doing and the student is imitate what which the teacher’s doing. The teacher is choosing some lessons which will taught and the student is adapting. The teacher is subject and the student is object.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;We often hear ideas like above from Paulo Freire, a &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Brazil&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; education thinker. He say, that education institute (read: school) gives two different matters, the teacher is king and the student is servant. So, the students is teacher’s slave.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;We often also hear many cases about education realities in newspaper and also television. We can see sine cases, such as &lt;st1:country-region st="on"&gt;Oman&lt;/st1:country-region&gt;, a student at &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;elementary school&lt;/st1:PlaceType&gt;  of &lt;st1:placename st="on"&gt;Karang Asih&lt;/st1:PlaceName&gt;&lt;/st1:place&gt; 04, Cikarang, Bekasi. On Friday (6/4&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;/2004), he took rat poison, because he didn’t have money to pay the cost of UAN’s expense. The &lt;st1:country-region st="on"&gt;Oman&lt;/st1:country-region&gt;’s case reminds us of Haryanto’s suicide case, a student at &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placetype st="on"&gt;elementary   school&lt;/st1:PlaceType&gt; of &lt;st1:placename st="on"&gt;Negeri Sandiang IV Garut&lt;/st1:PlaceName&gt;&lt;/st1:place&gt;, at 2003. Hariyanto tried to commit suicide because he could not pay the cost of extra-curricular classes, Rp. 2.500.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;The our teachers not sensitive with child cases above. They always think, I teach, hence I get money. Therefore, we hope to our teachers can make education as medium to children characters building. Finally, the student will be able to differentiate between right and wrong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;There are three of primacy characteristics of education. &lt;i&gt;First&lt;/i&gt;, learning from reality or experience. We learn not only theory, but also reality and experience in our society. Therefore, there are not more authority than other. Someone’s greatness can seen from his experiences in society, not from his good speaking. &lt;i&gt;Second&lt;/i&gt;, there are not teacher and students. All party in education process is teacher and also students at the same time. &lt;i&gt;Third&lt;/i&gt;, dialogue. We must communicate well using many activity (such as group discussion, role playing, etc) and also media (graphical and audio visual) which can allow effective discussion between participants. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="EN-AU"&gt;Chairman for Cadre and Human Resource Development at PP IRM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-5623085377865030795?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/5623085377865030795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=5623085377865030795' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5623085377865030795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/5623085377865030795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/06/our-real-education-face.html' title='Our Real Education Face'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-2419619130499358848</id><published>2008-05-29T17:47:00.000+07:00</published><updated>2008-05-29T18:16:04.094+07:00</updated><title type='text'>Sinergisitas Kaum Muda NU-Muhammadiyah untuk Indonesia Sejahtera</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SD6QRdFeQmI/AAAAAAAAAGA/KUxCNvy5KBY/s1600-h/IMG_0004.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SD6QRdFeQmI/AAAAAAAAAGA/KUxCNvy5KBY/s200/IMG_0004.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205756848826630754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam rangka memperingati satu abad kebangkitan nasional, kaum muda Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah sukses menyelenggarakan Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloknas) pada tanggal 17-19 Mei 2008 dengan tema &lt;i&gt;Sinergi Bangsa untuk Indonesia Sejarhtera&lt;/i&gt;. Kaum muda NU-Muhammadiyah yang tergabung di sini adalah Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kegiatan ini diadakan di dua tempat. Pada hari pertama, yaitu pembukaan dan seminar-seminar, diadakan di gedung Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PB NU) Jalan Kramat Raya Jakarta. Acara yang dibuka oleh Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.BA. (Ketua PP Muhammadiyah dan Mendiknas RI) ini dihadiri oleh banyak kalangan. Di antaranya kaum muda NU-Muhammadiyah (IRM, IPNU, IMM, IPPNU) Se-Jawa, aktivis LSM di Jakarta, gerakan kepemudaan yang ada di Jakarta, media cetak maupun elektronik, dan tamu undangan lainnya. Sekjen PB NU, Dr. Endang Turmudzi, juga memberikan tausiyahnya kepada para hadirin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seminar pertama membahas tentang masalah pendidikan. Pembicara yang hadir adalah Utomo Dananjaya (dosen Paramadia) M. Thoyyib (ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU), dan Imam Addaruqutni (Ketua Umum Parta Matahari Bangsa). Pembicaraan diarahkan pada kritik terhadap sistem pendidikan di Indonesia dan kemudian diakhiri pada peran yang harus dilakukan oleh kaum muda NU-Muhammadiyah. Seminar kedua membahas tentang kemandirian kaum muda Indonesia. Hadir sebagai pembicara adalah Fadel Muhammad (Gubernur Provinsi Gorontalo). Fadel mengajak kepada para peserta yang hadir untuk menjadi generasi penerus yang peka akan kemandirian. Pada seminar ketiga membahas persoalan ketahanan negara. Hadir sebagai pembicara adalah Letjen TNI Prbowo Subiantoro (Mantan Pangkostrad termuda dan kini Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keesokan harinya, para peserta yang terdiri dari kaum muda NU dan Muhammadiyah mengadakan lokakarya di Ciloto Permai Indah, Bogor. Selama dua hari ini, anak-anak muda masa depan Indonesia merumuskan strategi yang baik untuk Indonesia sejahtera. Hadir juga pembicara lain, Raja Juli Antoni (Mantan Ketua Umum PP IRM), Rossa (Mantan Ketua Umum IPPNU), dan staf ahli kepresidenan bidang komunikasi politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada sidang komisi, terbagi menjadi tiga: komisi ekonomi-politik, pendidikan, dan komisi sosial-budaya. Dari sidang komisi inilah dirumuskan poin per poin. Mulai dari identifikasi masalah, kelemahan, kekuatan, peluang, solusi, hingga tahapan-tahapan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah kebangsaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada komisi ekonomi-politik, dirumuskan bahwa bangsa Indonesia hingga saat ini masih belum memiliki kemandirian sebagai NKRI. Kita tidak berani melawan pihak asing, terutama tiga pilar organisasi global: WTO, IMF, dan World Bank. Karena hal inilah, banyak pihak-pihak asing mudah masuk ke Indonesia. Kita seolah menjadi gelandangan di negeri sendiri. Karena itu, kita menuntut pemerintah harus berani mengambil keputusan yang berpihak pada rakyat dan melawan setiap kebijakan asing yang tidak pro-rakyat, termasuk kebijakan naiknya harga BBM. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada komisi pendidikan, dirumuskan bagaimana pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang pro terhadap rakyat miskin. Pendidikan tidak hanya milik orang kaya saja. Di samping itu, komisi ini mengkritik juga terhadap penyelenggaraan UN (ujian nasional) sebagai satu-satunya standarisasi pendidikan Indonesia. Prinsipnya, komisi ini sepakat perlu adanya standarisasi dalam penyelarasan pendidikan. Tetapi apakah UN sudah benar sebagai satu solusinya. Bagaiman penyelenggaraan di lapangannya? Ternyata banyak kecurangan dan itu semakin memperlihatkan bobroknya pendidikan Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sedangkan di komisi sosial-budaya lebih membahas pada persoalan banyaknya pengaruh barat atau &lt;i&gt;westernisasi&lt;/i&gt; yang masuk ke Indonesia. Hal ini yang makin lama semakin mengikis nilai-nilai patriotisme dan moralitas generasi muda Indonesia. Karena itu, untuk mencegah adanya pengikisan nilai-nilai tersebut, harus ditumbuhkan adanya cinta produk dan budaya lokal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;”Hasil dari Semiloknas ini harapannya dapat dijadikan buku dan bisa kita sampaikan kepada pemerintahan SBY,” ujar M. Husain BA, selaku ketua penyelenggara kegiatan ini dan aktivis Dewan Pimpinan Pusat IMM. ”Harapannya, kegiatan ini menjadi titik awal bagi eratnya persaudaraan di antara kaum muda NU dan Muhammadiyah untuk membangun Indonesia yang sejahtera,” ungkap Moh. Mudzakkir, Ketua Umum Pimpinan Pusat IRM. Selain itu, Idy Muzayyad selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU juga mengungkapkan dalam sambutan penutupan acara bahwa dengan berakhirnya acara ini, kaum muda NU dan Muhammadiyah bisa menindaklanjuti pertemuan di tingkat wilayahnya masing-masing. ”Tentunya hal ini bisa dilakukan juga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan bila perlu di Indonesia bagian timur lainnya,” imbuhnya.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 37.4pt;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 37.4pt;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketua Pimpinan Pusat IRM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-2419619130499358848?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/2419619130499358848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=2419619130499358848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2419619130499358848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2419619130499358848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/05/sinergisitas-kaum-muda-nu-muhammadiyah.html' title='Sinergisitas Kaum Muda NU-Muhammadiyah untuk Indonesia Sejahtera'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/SD6QRdFeQmI/AAAAAAAAAGA/KUxCNvy5KBY/s72-c/IMG_0004.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-122566234423216062</id><published>2008-04-02T22:41:00.000+07:00</published><updated>2008-05-03T17:13:10.945+07:00</updated><title type='text'>Cinta Itu?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;tapi kamu tetap mencintainya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Pernahkah kamu merasakan,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;bahwa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi.&lt;u1:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u1:p&gt;Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;tersenyum kala terluka,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;menangis kala bahagia,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;bersedih kala bersama,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;tertawa kala berpisah,&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Aku pernah...&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Aku pernah tersenyum meski kuterluka!&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Aku pernah menangis kala bahagia,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Aku pernah bersedih kala bersamanya,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan...&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku&lt;u1:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u1:p&gt;Aku tetap bisa mencintainya,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena memang cinta ada dalam jiwa, dan bukan ada dalam raga.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Semua orang pasti pernah merasakan cinta..&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;baik dari orang tua... sahabat... kekasih dan&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;akhirnya pasangan hidupnya.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Buat temenku yg sedang jatuh cinta... Selamat yah..&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena cinta itu sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Semoga kalian selalu berbahagia.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Buat temanku yg sedang terluka karena cinta...&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Hidup itu bagaikan roda yang terus berputar,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;satu saat akan berada di bawah dan hidup terasa begitu sulit,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;tetapi keadaan itu tidak untuk selamanya,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;bersabarlah dan berdoalah karena cinta&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;akan datang dan menghampirimu.&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u1:p&gt;Buat temanku yang tidak percaya akan cinta... buka hatimu...&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;jangan menutup mata akan keindahan yang ada di dunia&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;maka cinta membuat hidupmu menjadi bahagia.&lt;u1:p&gt; &lt;/u1:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Buat temanku yang mendambakan cinta.. bersabarlah..&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;karena cinta yang indah tidak terjadi dalam sekejab..&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Tuhan sedang mempersiapkan segala yang terbaik bagimu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Di tepi hati,&lt;br /&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Dia indah, tapi hanya sebuah fatamorgana&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-122566234423216062?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/122566234423216062/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=122566234423216062' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/122566234423216062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/122566234423216062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/04/cinta-itu.html' title='Cinta Itu?'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-2485077688292357731</id><published>2008-04-02T22:29:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T22:31:10.546+07:00</updated><title type='text'>Asyiknya Mudik Ke Lampung</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pulang kampung menjelang ramadhan, &lt;i&gt;waw&lt;/i&gt; asyik sekali. Di saat itu pula suasana arus mudik mulai lalu-lalang. Jalan raya penuh dengan bis-bis antar-kota maupun atar-propinsi. Begitu juga dengan saya yang akan mudik ke kampung Gaya Baru, salah satu desa terpencil yang ada di sudut Kabupaten Lampung Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tepatnya hari Jum’at, tanggal 5 Nopember 2004 lalu (H-9) saya sudah berencana mudik. Tiket bis Putra Remaja telah dipesan bersama dua teman. Saya kedapetan bangku no 15, lumayan agak belakang. Alhamdulillah untuk tahun ini saya bisa pulang bareng dengan teman-teman sedaerah, karena biasanya selalu pulang sendirian. Sebelum pulang, tak lupa saya beli oleh-oleh khas Jogja, bakpia dan salak pondoh. Selain itu juga, Jogja terkenal dengan dengan makanan gudegnya, tempat-tempat pariwisata, kraton, termasuk band musik terkenal Sheila on 7 dan Jikustik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selamat tinggal Jogjaku. Saya tiba di terminal Giwangan pada jam setengah tiga siang. Ini terminal baru DIY, berdekatan dengan ring road selatan, pindahan dari terminal Umbulharjo. Semua fasilitas seperti bandara, walaupun cuma mirip sedikit. Kenyamanan cukup terjamin. Di lantai bawah hanya ada bis-bis dan sopir beserta kondekturnya. Pedagang-pedagang asongan tidak boleh masuk. Sementara penumpang dan pengantar berada di ruang tunggu, lantai dua, dengan tiket masuk cuma &lt;i&gt;cepek&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah sampai di terminal, saya langsung ke loket Putra Remaja untuk cek pemberangkatan. Dengan suasana yang ramai dan panas, kami menunggu pemberangkatan bis untuk beberapa menit di ruang tunggu. Nggak sengaja saya bertemu dengan teman yang juga mudik ke kampungnya, Banjarnegara. Untuk beberapa menit kami berbincang-bincang seputar Muktamar IRM. Maklumlah, kita sama-sama kader IRM. Sesaat &lt;i&gt;siemens&lt;/i&gt; A-55ku berdering, &lt;i&gt;”Dho, ati-ati yo nang ndalan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Moga apik-apik wae. Ojo lali oleh-olehe, he…he… &lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Taqobbalallahu Minna Waminkum. Qt jumpa lagi di episode lain, ok.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Kira-kira begitu isi smsnya. Sedikit membuatku tertawa kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Adzan Ashar telah berkumandang. Karena bis belum juga berangkat, terpaksa saya sholat dulu di mushola terminal. Setelah itu menuju bis. Duduklah para penumpang di bangku sesuai dengan nomor tiket. Sambil menunggu penumpang lainnya, seorang pengamen kecil masuk ke dalam bis dan menyanyikan lagu &lt;i&gt;Gengsi Gede-gedean.&lt;/i&gt; Kurogoh recehan dari kocek dan kuberikan ke pengamen itu. Baru saja selesai satu pengamen, datang lagi pengamen yang lain hingga 5 kali berturut-turut. Tepatnya pukul setengah empat, bis berangkat untuk meninggalkan Jogjakarta, sebuah kota yang mendapat julukan kota pelajar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bis berjalan lewat arah ring road, kemudian lewat jalur jalan Magelang dengan santainya. Sementara itu saya berkenalan dengan teman sebangku yang kuliah di UII. Sejenak kemudian kami ngobrol tentang organisasi kampus. Bis tetap melaju melewati pemandangan hijau di jalanan. Berhentilah bis di terminal Muntilan. Kebetulan saat itu hujan turun lebat. Bis mengganti mesin di &lt;i&gt;dealer&lt;/i&gt;. Maklumlah, bisnya sudah agak lama, padahal ada keluaran baru. Mungkin belum jatahnya. Setelah selesai, bis kembali berjalan dengan roda empatnya. Hari semakin gelap dan tanda buka puasa segera tiba, sementara perjalanan masih panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Allahu Akbar… Allahu Akbar,”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; suara adzan dari salah satu masjid yang kami lewati. Alhamdulillah buka puasa yang dinanti-nantikan datang juga. Semua penumpang segera berbuka dengan roti dan &lt;i&gt;softdrink&lt;/i&gt; yang telah disediakan oleh bis. Waktu sholat Maghrib telah lewat. Saya berfikir, untuk sholat Maghrib dijamak aja dengan Isya'. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bis memasuki daerah Purworejo. Tiba-tiba, &lt;i&gt;sittt,&lt;/i&gt; suara bisku mendadak ngerem kencang. Semua penumpang kaget. Yang sedang tidur mendadak bangun, untung tidak apa-apa. Hanya tas dan barang bawaan saja yang kocar-kacir. Semua penumpang bertanya-tanya. Dua orang pengendara sepeda motor tertabrak truk. Salah satu di antara keduanya pecah kepala, karena terlintas ban truk. Memang setiap tahun suasana arus mudik hampir dihiasi dengan kecelakaan. Salah satu stasiun TV menyiarkan adanya kecelakaan mobil pribadi akibat ngantuknya si sopir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekitar jam 8 lewat sedikit, di Kebumen, bis saya berhenti di RM Lestari. Salah satu rumah makan prasmanan yang rutin dikunjungi oleh bis-bis atau mobil pribadi. Harga makanannya agak murah. Untuk kali ini kami makan gratis, karena sudah dibayar ketika beli tiket.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah makan, kami menuju toilet untuk buang air dan gosok gigi. Di pintu keluar kami harus membayar Rp. 500. Setelah itu, menuju mushola untuk sholat Isya’ jamak Magrib. Bis telah menunggu. Pak sopir menghidupkan mesin, tanda bis akan berangkat lagi. Semua penumpang pun masuk bis.&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Malam semakin larut, lampu jalanan kerlap-kerlip dengan indah, bis lalu-lalang, tetapi sayang, keindahan itu hilang lantaran mataku sudah tidak bisa diajak bersahabat lagi. Terpaksa saya ambil selimut dan tidur. Suasana menjadi hening. Bis tetap berjalan, sedangkan pak sopir semangat memegang setirnya, tidak takut lelah, karena harus melaksanakan amanahnya, yaitu mengantarkan orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Tengah malam, tiba-tiba saya terbangun. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jalanan macet. Semua bis berhenti menunggu giliran untuk berjalan. Maklumlah, bis yang kami tumpangi lewat jalur Pantai Utara (Pantura). Menjelang sahur, sekitar jam tiga, bis berhenti di salah satu warung makan di Indramayu. Karena lelah, sebagian penumpang ada yang tidak sahur, tetapi tetap ada yang sahur. Setelah sahur, kami kembali melanjutkan perjalanan. Bis telah memasuki wilayah Jawa Barat sejak tengah malam tadi. Mecet total di daerah Cikampek. Menjelang fajar, bis baru bisa berjalan dengan lancar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jam 9 pagi, bis memasuki Jakarta, dan sampai di Pelabuhan Merak pada jam 11 siang. Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan. Menurut pengalaman, seharusnya bis tiba di Pelabuhan Merak tadi pagi sekitar jam 7-an. Sebagian penumpang banyak yang berceloteh dan ngomel. Sebelum masuk ke kapal, petugas pelabuhan mengecek jumlah penumpang untuk dikenakan biaya. Suasana antri beli tiket agak ramai. Antrian bis, truk, dan motor untuk menunggu giliran naik ke kapal sangat padat. Sementara di luar kapal, penjual-penjual ber&lt;i&gt;sliweran &lt;/i&gt;mencari pembeli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa menit kemudian, pedagang asongan naik ke bis kami untuk menawarkan dagangannya. Suasana menjadi agak ribut. Ada penjual aqua, penjual dodol garut, tukang koran, dan pedagang-pedagang lainnya yang silih berganti naik-turun ke bis kami. &lt;i&gt;“Ayo Mas, dipilih-dipilih, murah dan enak… Ini dodol asli Garut dan bisa untuk oleh-oleh buat keluarga,”&lt;/i&gt; itulah kalimat yang keluar dari mulut seorang pedagang dodol. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Ya, itulah hidup. Kita harus mencari uang demi sesuap nasi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Alhamdulillah suasana mulai agak sepi ketika bis akan masuk ke gerbong kapal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tepatnya jam 12.20, kapal akan segera berlayar menuju Pelabuhan Bakauheni. Bunyi serpong telah dihidupkan, tanda kapal berangkat. Saya dan bebraoa teman naik ke atas kapal. Suasana di gerbong bawah sangat panas, karena penuh dengan suara mesin. Biasanya sebelum kapal meninggalkan pelabuhan, ada anak-anak laut yang berada di bawah kapal menunggu orang melempar uang receh. Mereka dengan gesit akan menangkap recehan yang dibuang ke laut. Memang sedikit menakutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setelah kapal berlayar, nampaklah pemandangan laut Selat Sunda sangat indah. Pulau-pulau yang terlihat kecil di peta, sekarang nampak besar. Gunung Krakatau yang dulu pernah mengguncangkan sebagian pulau-pulau Indonesia juga terlihat jelas. Dan sekarang ada lagi gunung kecil, mungkin itu anak gunung Krakatau. Hebatnya lagi, di sebagian pulau-pulau kecil itu ada kehidupan yang rata-rata penghuninya pelaut. Inilah panorama keindahan alam semesta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perjalanan di laut kira-kira memakan waktu dua jam lebih. Suasana laut sangat sejuk, udaranya segar. Setelah sekian lama kami berbincang-bincang, tampaklah Pelabuhan Bakauheni menyambut kehadiran kami. Para penumpang bersiap-siap untuk turun, termasuk kami. Sekitar jam 14.30-an bis kami keluar dari kapal dan disambut dengan spanduk bertuliskan “Selamat datang di Propinsi Lampung yang terkenal dengan binatang Gajah, di Way Kambas. Ada juga Pantai Pasir Putih di Kalianda, dan jenis makanan, seperti: sambel tempoyak, kopi Lampung, dan kemplang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bis tetap berjalan melewati arus yang cukup tajam. Daerah Bakauheni masih penuh dengan pegunungan. Tak heran, jika jalannya naik-turun dan penuh tikungan. Bis berjalan melewati daerah Panjang, wilayah yang kerap dijadikan jalur lintas Sumatera. Turunlah dua orang penumpang. Setelah itu, tibalah bis kami di terminal Raja Basa, salah satu terminal yang sebagian orang menganggapnya sadis. Memang betul, karena setiap ada bis jauh datang, tukang-tukang ojek atau orang-orang terminal langsung menyerbu. Kemudian menawarkan jasa, ditanya-tanya dengan rayuan agak memaksa. Bahkan ada yang dengan kekerasan. Ih, &lt;i&gt;ngeri&lt;/i&gt; banget ya… Belum lagi kondisi lingkungan terminal yang tidak terurus. Bayangkan saja, jalanan di pinggir-pinggir terminal becek, sampah berterbangan dan terkadang bau pesing. Belum lagi asap-asap bis dan mobil yang membuat polusi udara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekitar lima orang turun di terminal itu. Kemudian giliran pedagang-pedagang asongan masuk ke bis kami untuk menjual barangnya. Ada pedagang kemplang, tukang rokok dan koran. Dua menit kemudian ada anak kecil ngamen. Terpaksa saya merogoh lagi recehan dari saku celana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bis kembali ke jalan untuk menghabiskan tujuan yang tinggal beberapa jam lagi. Waktu sudah menunjukkan jam setengah empat sore. Biasanya bis sampai di Metro sekitar jam 2 siang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sekitar jam 5-an bis telah memasuki daerah Metro. Terlihat tulisan di gapura “Selamat datang di Kota Metro”. Semua penumpang bergegas untuk menyiapkan barang-barang bawaannya. Sebagian merapikan selimut dan membuang sampah-sampah makanan kecil. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan, &lt;i&gt;siiittt,&lt;/i&gt; suara bis berhenti tepat di depan loket Putra Remaja. Semua penumpang turun tepat dengan adzan. &lt;i&gt;“Dug, dug, dug, dug,”&lt;/i&gt; bunyi suara bedug, salah satu tradisi yang masih ada. Para penumpang yang ada di loket itu segera mencari makanan kecil untuk membatalkan puasanya. Nampak sebagian orang membeli gorengan dan es cendol di pinggir jalan. Kemudian perjalanan menuju rumah, saya lanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Dan jam delapan malam saya tiba di rumah.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Inilah sebuah perjalanan mudik yang cukup melelahkan, sehari semalam. Badan pegal-pegal, makan nggak terkontrol. Namun, di balik itu semua terdapat makna dan hikmah yang sangat besar, yakni kita dapat bersilaturahmi dan kumpul bareng keluarga di rumah. Sebuah kegembiraan tersendiri. Mungkin, hal seperti ini hanya bisa dilakukan setiap setahun sekali, begitu juga dengan teman-teman pembaca. Bagi yang sudah mudik, pasti enak kan. Oh iya, mana oleh-olehnya. Jangan lupa ya, dibagi-bagi lho.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-2485077688292357731?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/2485077688292357731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=2485077688292357731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2485077688292357731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2485077688292357731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/04/asyiknya-mudik-ke-lampung.html' title='Asyiknya Mudik Ke Lampung'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-8728340813846171156</id><published>2008-04-02T22:27:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T22:28:37.169+07:00</updated><title type='text'>Ketika Maaf Tak Sekadar Kata Maaf</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Beberapa hari menjelang bulan suci ramadhan, handphone selulerku dibanjiri oleh pesan-pesan singkat berucap maaf. Masing-masing pesan memiliki kreasi dan pilihan kata yang berbeda. Ada yang unik, serius, maupun biasa. Pesan unik: &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Marhaban ya ramdhan. Semoga menjadi BBM (bulan barokah dan maghfirah). Setelah ber-PREMIUM (prei makan dan minum). Agar tetap SOLAR (sholat yang rajin). Untuk mendapatkan MINYAK TANAH (meningkatkan iman yang banyak, tahan nafsu, dan amarah). Demi mencapai PERTAMAX (perangi tabiat dan maksiat). Amien... Mohon maaf lahir batin.”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Atau “&lt;i&gt;Wellcome to Ramadhan Great Sale!!! Jangan lewatkan: Obral pahala besar-besaran. Diskon dosa s/d 99 persen. Doorprize Lailatur Qodar. Semua hanya dalam 30 hari. Mohon maaf lahir batin ya...&lt;/i&gt;”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pesan serius: &lt;i&gt;“Lidah dan perilaku yang terkendali menjamin kelapangan hati. Mohon maaf atas segala kesalahan yang terlahir dari ucapan maupun tindakan. Selamat menunaikan ibadah puasa”.&lt;/i&gt; Pesan biasa: “&lt;i&gt;Mohon maaf lahir dan batin ya... Semoga bulan ini bisa kita jalankan dengan sebaik-baiknya.&lt;/i&gt;” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Maaf adalah kata sederhana yang sering diucapkan oleh setiap orang. Umumnya maaf diucapkan ketika kita telah melakukan sebuah kesalahan baik disengaja maupun tidak disengaja. Kata “maaf” akan terucap dari seorang yang berbuat salah kepada teman yang didhalimi. Dari seorang hamba kepada Tuhannya ketika memohon maaf atas segala dosa-dosa yang pernah dilakukannya. Ketika kita berbuat salah, maka maaf adalah langkah pertama yang harus ditempuh. Tetapi terkadang kita sulit untuk mengeluarkan kata tersebut, walaupun dibayar dengan uang senilai jutaan rupiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hanya karena tidak meminta maaf, sebuah perkara bisa menjadi besar. Tetapi karena maaf juga, perkara besar bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kita masih ingat kasus yang menimpa Zaenal Maarif, Wakil Ketua DPR RI, dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Zaenal menuduh SBY, sapaan akrab presiden, pernah menikah sebelum masuk Akmil (akademi militer). Fitnah tersebut dibantah oleh SBY. Bahkan SBY pribadi melaporkannya ke pihak polisi. Luar biasa, seorang presiden langsung turun tangan untuk persoalan pribadinya. Suami dari Ibu Ani ini tidak terima dengan fitnah tersebut. Zaenal pun tetap ngotot dengan segala bukti yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seluruh media cetak maupun elektronik mengabarkannya, hingga akhirnya kubu Zaenal meminta maaf secara pribadi kepada SBY dan Ibu Ani. Setalah kata “maaf” terucap dari bibir Zaenal, maka islah di antara keduanya pun terjadi. Kubu SBY menerima maaf Zaenal. Selesai sudah perkara tersebut. Zaenal dipecat dari DPR RI dan kembali ke kampung untuk mengajar di kampus UM Surakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kaat “maaf” bisa menjadi karakter seseorang. Kita masih ingat dengan pemeran Mpok Indun dalam film komedi &lt;i&gt;Bajaj Bajuri.&lt;/i&gt; Dalam setiap ucapannya pasti selalu diawali dengan kata “maaf…” kemudian diikuti oleh kalimat selanjutnya. Walaupun tidak berbuat salah, Mpok Indun selalu memulai pembicaraan dengan kata tersebut, hingga “maap” melekat pada dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kita juga senantiasa mengucapkan kata maaf, &lt;i&gt;astaghfirullah&lt;/i&gt; (Ya Allah ampunilah aku) setiap selesai shalat, baik fardlu maupun sunnah. Ucapan ini tentunya diikuti oleh serangkaian kalimat berbahasa Arab lainnya. Ada yang paham artinya, tetapi ada juga yang tidak paham. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kita juga senantiasa berdoa untuk kedua orang tua kita:&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“&lt;i&gt;Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta kasihinilah mereka berdua sebagaimana mereka pernah mendidiku ketika aku kecil.&lt;/i&gt;” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Atau doa sapu jagat yang juga sering kita ucap-ucapkan:&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;“Wahai Tuhanku, berikanlah kepada kami kebaikan baik di dunia maupun di akhirat, serta jauhkanlah kami dari adzab api neraka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semua doa yang kita ucapkan hampir mayoritas menandakan bahwa kita memang manusia lemah yang penuh dosa di hadapan Allah SWT. Karena memang manusia adalah tempat dosa. Kata “&lt;i&gt;al-Insan&lt;/i&gt;” yang berarti manusia memiliki akar kata yang bermakna lupa. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang memiki sifat lupa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Muhammad yang diangkat sebagai Rasul dan Nabi pun pernah lupa. Suatu saat dia pernah bermuka masam kepada seorang buta yang datang di hadapannya. Orang buta yang beranama Abdullah bin Ummi Maktum tersebut ingin meminta ajaran-ajaran tentang Islam kepada beliau. Karena Rasul sedang berhadapan dengan pembesar Quraisy dengan harapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam, maka Rasul memalingkan muka dari wajah orang buta tadi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena tindakan itulah, turunlah surat ‘Abasa (80) sebagai bentuk teguran kepada Rasul yang telah lalai bahwa dirinya teladan bagi seluruh umat. Surat tersebut menjadi bahan rujukan bahwa Muhammad juga manusia biasa yang pernah berbuat salah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika kita ingin meminta maaf kepada seseorang, tentu ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, berniat dan berpikirlah secara matang. Setelah kita berbuat salah dan benar-benar menyadari bahwa perbuatan kita memang salah, maka hendaklah kita berinisiatif atau berniat untuk meminta maaf terlebih dahulu. Orang yang meminta maaf terlebih dahulu jauh lebih mulia daripada orang yang dimintai maaf. Tentunya kita juga sudah mempersiapkan kata-kata yang nantinya akan diucapkan agar tidak terjadi kesalahan lagi. Semua itu harus dilandasi oleh niat yang ikhlas tanpa ada harapan apa pun. Jika segala sesuatu dilandasi niat tulus, maka apa yang kita lakukan pasti bermakna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, diucapkan dengan tulus. Berikanlah wajah senyum kepada teman kita ketika kita hendak meminta maaf. Gunakan kata yang membuat dia merasa nyaman sehingga dia ingin memberikan maaf kepada kita. Tentunya nada dan intonasi kita tidak seperti orang marah. Bertindaklah seolah-olah kita benar-benar ingin berdamai dan mencari solusi terbaiknya untuk kedua belah pihak. Meminta maaf memang sulit, apalagi kalau kita merasa paling benar. Walaupun sulit, tetapi kemulian akan berada di sisi kita ketika kita benar-benar tulus mengucapkannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, ikutilah dengan tindakan. Sebuah kesia-siaan ketika ucapan maaf tidak kita tindaklanjuti dengan perbuatan yang baik kepada saudara kita. Setelah terjadi saling memaafkan di antara dua teman yang bermusuhan, maka pertemanan yang terjadi di antara keduanya haruslah berjalan seperti biasanya. Keduanya harus saling menyapa ketika bertemu, tidak bermuka masam, serta berperilakulah layaknya dengan teman lainnya. Hal ini sulit dilakukan, tetapi menjadi sebuah kebiasaan ketika kita memang memiliki niat yang ikhlas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Meminta maaf mungkin lebih mudah daripada memberi maaf. Hal ini sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. &lt;/span&gt;Kita biasanya sulit memberi maaf kepada orang yang telah menyakiti kita. Sepasang kekasih, ketika pihak wanita yang memutuskan hubungan mereka dan kemudian wanita tersebut meminta maaf, biasanya pihak laki-laki sulit memaafkannya walaupun telah memaafkan. Mulut bisa menerima tetapi hati belum tentu sesuai dengan ucapan. Antara tutur dan hati tidak selalu selaras. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di hari yang fitri ini, kata maaf tentu menghujani hari-hari kita. Koran, majalah, spanduk, pamflet, baliho, dan televisi pasti dipenuhi dengan serangkaian iklan “&lt;i&gt;Selamat Hari Raya Idhul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin&lt;/i&gt;”. Bahkan kampanye calon bupati/bupati dan calon wakil gubernur/bupati di beberapa daerah ketika menjelang ramadhan pun menggunakan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dan hari raya idhul fitri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di hari yang fitri ini hendaklah kata maaf yang kita ucapkan tidak sekadar berhenti di bibir saja. Melainkan ditindaklanjuti hingga ke perbuatan yang lebih mulia. Tindakan maaf dan memaafkan terkadang mudah diucapkan tetapi terkadang juga sulit. Tetapi kesulitan itu akan membawa kepada kemuliaan yang jauh lebih tinggi. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-8728340813846171156?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/8728340813846171156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=8728340813846171156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8728340813846171156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/8728340813846171156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/04/ketika-maaf-tak-sekadar-kata-maaf.html' title='Ketika Maaf Tak Sekadar Kata Maaf'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-1420504408301519961</id><published>2008-04-02T22:24:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T22:25:51.399+07:00</updated><title type='text'>Is Google God?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mendengar judul kolsus kali ini, pembaca mungkin kaget atau setidaknya sedikit mengerutkan dahi atau malah bertanya-tanya: Apa iya google is god? Hal yang sama pun dirasakan penulis ketika mendapatkan email dari seorang teman yang pernah studi di Inggris, negeri kincir angin. Saat membaca isinya, penulis bergumam: Masa iya sih? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penulis kurang tahu pasti, apakah gagasan gila semacam ini sudah pernah ada atau belum di masyarakat kita? Yang jelas, judul di atas pernah ditulis oleh Alan Cohen dalam surat kabar &lt;i&gt;The New York Times&lt;/i&gt;, 29 Juni 2003. Terlepas baru atau lama, menarik atau tidak, penulis berharap pembaca perlu mengetahui tentang ini semua, terutama bagi mereka yang sangat akrab dengan internet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagi pengembara dunia cyber, pecandu internet, atau penikmat gaya hidup modern, nama google bukanlah istilah asing. Dia begitu akrab di telinga para pengelana internet. Siapa saja boleh mengunjunginya. Tinggal ketik ‘www.google.com’, maka akan keluar tampilan awal dari alamat ini. Google berasa dari kata “googol” yang dipopulerkan oleh Milto Sirotta. Kata “googol” menyimpan makna 1-100 nol. Jika tiga nol di belakang angka satu kita sebut seribu, enam nol di belakang angka satu kita sebut sejuta, maka 100 nol di belakang angka satu kita sebut googol, entah apa bahasa Indonesianya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di saat komputer sudah semakin merakyat, di saat orang menginginkan sosok yang jenius harus lahir, di saat informasi menjadi sangat penting, maka di saat itulah google dilahirkan. Tepatnya pada tanggal 7 September 1998 dari rahim Lary Page dan Sergey Brin. Ada keinginan kuat dari Lary Page dan Sergey Brin, agar google bisa benar-benar menjadi googol. Kemampuan dan kecepatan google dalam menjawab pertanyaan membuat dia menjadi cepat tenar. Hanya dalam hitungan beberapa tahun saja, dia mampu mengalahkan teman-teman yang lebih dulu dilahirkan, seperti yahoo dan iycos. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penampilan google tidak secantik dan setampan iycos dan alta vista. Wajahnya cukup sederhana tanpa banyak variasi, apalagi &lt;i&gt;make up &lt;/i&gt;dan luluran. Google adalah sosok yang sangat jujur dan tidak egois. Dia akan memberi tahu apa yang dia ketahui. Bahkan dia tidak hanya sekedar menjawab permintaan pelanggan saja. Tapi dia mampu mengonfirmasi permintaan yang salah. Misal, ketika anda mengetik “handpone”, maka google akan mengeluarkan kalimat: &lt;i&gt;Mungkin yang anda maksud ‘&lt;b&gt;handphone&lt;/b&gt;’&lt;/i&gt;. Hebat bukan? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berdiskusi dengan google sangat asyik, lucu, dan terkadang menegangkan. Lucunya, jawaban yang dimunculkan sering di luar dugaan kita, bahkan sering bertolak belakang. Dari jawaban-jawaban itulah kita bisa mendapatkan inspirasi baru. Menegangkan, karena dia melampirkan sebuah fakta tanpa sensor. Berita-berita tentang kekerasan saja berani dia tampilkan tanpa memandang umur yang akan melihatnya. Karena memang google lintas umur. Kita bisa memakluminya, karena google bukanlah manusia. Dia hanya mesin pencari (&lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt;) yang ada di dunia internet. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sosok yang belum akil balik ini tak sekedar menyajikan tulisan saja. Tapi dia mampu memberikan jenis informasi berupa foto, gambar, video, dan bisa berbicara dengan seluruh bahasa yang ada di jagad raya ini. Dia juga cerdas dan menguasai semua bidang ilmu pengetahuan, dari agama, filsafat, sosial, sastra, kedokteran, biologi, hingga dunia mistik sekalipun. Hanya dalam hitungan menit atau malah bukan detik, dia mampu menyajikan jawaban dengan ratusan atau ribuan alternatif. Gila &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt;? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Makhluk yang entah jenis kelaminnya apa dan hampir berusia 10 tahun ini bagai perpusatakaan maharaksasa. Dia mampu menjelma sebagai seorang dokter spesialis, bereinkarnasi menjadi kyai atau pendeta yang hafal seluruh isi kita suci, dan mampu menjadi arsitek yang membikin sktesa kapal/pesawat. Peran apa pun bisa dia lakukan. Seolah google sedang bermain sirkus dengan kita. Karena itu, ketika seorang rasul/nabi memutuskan sesuatu harus menunggu bisikan langit, maka penulis atau pembaca cukup menunggu informasi dari google. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kembali lagi pada pertanyaan dari judul tulisan ini: Is google god? Jawabannya jelas bukan. Dia manusia atau malaikat yang bisa bergerak sesuai hatinya. Dia hanya dunia maya yang dibuat oleh kreativitas manusia. Hanya sajatnya saja menyerupai tuhan dalam dunianya, yaitu dunia maya. Jadi, boleh dibilang kalau google menjadi tuhan dalam dunia maya bagi umatnya yang mengetahui siapa itu google. So, is google god? The answer’s not!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-1420504408301519961?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/1420504408301519961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=1420504408301519961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1420504408301519961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1420504408301519961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/04/is-google-god.html' title='Is Google God?'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-2329725874513793157</id><published>2008-04-02T22:08:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T22:22:54.972+07:00</updated><title type='text'>Membangkitakan Kembali Gerakan Pelajar Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R_OkXTPS5hI/AAAAAAAAAFQ/HtbT2cqflKk/s1600-h/Musywil+IRM+Papua+%286%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R_OkXTPS5hI/AAAAAAAAAFQ/HtbT2cqflKk/s200/Musywil+IRM+Papua+%286%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184668316241946130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ikatan Pelajar Muhammadiyah disingkat IPM lahir pada tanggal 5 Safar 1381 Hijriyah bertepatan dengan 18 Juli 1961 Miladiyah. Kini usianya sudah berumur 47 tahun (dalam hitungan hijriyah) dan 46 tahun (dalam hitungan miladiyah). Kemunculan organisasi pelajar ini salah satunya dikarenakan perlu pembinaan pelajar-pelajar di sekolah Muhammadiyah serta untuk membentengi akidah dari ideolog-ideologi komunis dan ateis yang berkembang pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak kemunculannya hingga tahun 1980-an keberadaan IPM selalu dalam tekanan pemerintah yang otoriter. Adanya tekanan pembubaran dari pemerintah selalu muncul dalam setiap periodenya hingga tekanan itu mampu meluluhkan IPM. Pada tahun 1992 bergantilah nama pelajar menjadi remaja dengan alasan agar organisasi ini tetap eksis ke depannya. Sedangkan gerakan-gerakan pelajar lainnya seperti Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama digabung dan berganti nama menjadi Ikatan Putra-Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU), dan Pelajar Islam Indonesia (PII) tetap tidak berubah nama tetapi gerakanya tercerabut dari akar rumput di sekolah-sekolah SMP dan SMA.   &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Nama IRM resmi berganti pada tanggal 18 November 1992, tetapi disahkan pada Muktamar IRM 1993 yang saat itu masih dalam periode kepemimpinan Jamaluddin Ahmad. Dalam perjalannya, IRM tetap mewarnai gerakan Muhammadiyah di tingkat pelajar dan remaja dengan berbagai macam kegiatannya. &lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pada tahun 1998 terjadilah peristiwa besar, tumbangnya rezim Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Pengunduran Soeharto sebagai Presiden RI bertepatan dengan Muktamar IRM di Unjung Pandang pada bulan Mei 1998 yang menghasilkan ketua umum terpilih Taufiqur Rahman. Pada saat itu, gerakan IRM tetap dinamis dan tidak ada persoalan pada nama ikatan. Barulah pada Mukatamar IRM di Jakarta tahun 2000, persoalan nama kembali mencuat. Karena rezim yang merubah IPM menjadi IRM telah selesai, maka saatnya IRM harus dikembalikan lagi menjadi IPM. Namun usaha ini gagal. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pada muktamar-muktamar selanjutnya, usaha untuk mengembalikan sama selalu saja muncul dari berbagai pihak, baik itu Muhammadiyah, basis IRM, alumni, maupun di tingkat elit PP IRM sendiri. Tetapi usaha itu selalu saja gagal dengan berbagai alasan di antaranya perubahan nama hanya melelahkan kerja IRM yang harus kembali lagi ke belakang dan akan banyak dana yang dihabiskan untuk perubahan ini. Di setiap muktamar pasti mucul isu tersebut, walaupun mencuatnya naik turun. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;Kemunculan Tim Eksistensi IRM dan Keputusan Tanwir Muhammadiyah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejak kepemimpinan Taufiqurrahman hasil Muktamar Unjung Pandang, Raja Juli Antoni hasil Muktamar Jakarta, Munawwar Khalil hasil Muktamar Yogyakarta, Ahmad Imam Mujadid Rais hasil Muktamar Lampung, dan Moh. Mudzakkir hasil Muktamar Medan, persoalan nama selalu saja menghiasi acara. Barulah pada Muktamar di Medan, 15-19 November 2006, diputuskan adanya Tim Eksistensi IRM yang mengkaji basis massa Ikatan Remaja Muhammadiyah dan kemungkinan perubahan nama. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Anggota Tim ini terdiri dari Ketua Umum terpilih, Ketua Umum Periode 2004-2006, perwakilan PP IRM periode terbaru, serta dua orang perwakilan per regional dari Pimpinan Wilayah baik yang pro IRM maupun yang pro IPM. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Secara konkrit, kinerja Tim Eksistensi memang belum terlihat. Tetapi ada beberapa tahapan yang telah dikerjakan oleh tim ini. Pada saat Tanwir Muhammadiyah bulan Maret 2007 di Yogyakarta, PP IRM meminta kepada Majelis MPK PP Muhammadiyah untuk memfasilitasi pertemuan ortom tingkat pusat. Hasil dari pertemuan itu, seluruh ortom sepakat bahwa basis massa IRM adalah pelajar dan perlu pengembalian IRM menjadi IPM. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kinerja Tim Eksistensi selanjutnya adalah permohonan pernyaatan yang ditujukan kepada PP Muhammadiyah, Majelis MPK PP Muhammadiyah, dan ortom tingkat pusat. Hanya ada dua ortom yang memberi pernyataan resmi, yaitu PP ‘Aisyiah dan Kwartir Pusat Kepanduan Hizbul Wathan. Ortom lainnya belum dan tidak memberikan pernyataan tersebut. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Pada saat Tanwir Muhammadiyah, komisi C memutuskan pada point A nomor 3 tentang kaderisasi perihal perubahan nama dari Ikatan Remaja Muhammadiyah menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam rangka penataan organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM), sehingga ada dan tidak adanya surat PP IRM perihal permohonan pernyataan, PP Muhammadiyah tetap akan mengeluarkan Surat Keputusan (lihat Tanfidz Tanwir No. 53/KEP/1.0/B/2007 halaman 09).&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Kelahiran SK PP Muhammadiyah dan Sikap IRM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir bulan Mei 2007 lalu, tiba-tiba Pimpinan Pusat Muhammadiyah melayangkan suratnya kepada PP IRM perihal perubahan nomenklatur Ikatan Remaja Muhammadiyah menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Surat itu langsung berupa Surat Keputusan bukan pernyataan resmi sebagaimana yang diminta oleh PP IRM. Lebih hebohnya lagi, tembusan disampaikan kepada Ortom, Majelis, dan Lembaga tingkat pusat, serta pimpinan Muhammadiyah di seluruh tingkatan baik dari Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kehadiran Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 60/KEP/I.O/B/2007 tentang nomenklatur Ikatan Remaja Muhammadiyah menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah bukanlah atas dasar surat PP IRM, tetapi berdasarkan keputusan pleno PP Muhammadiyah tanggal 11 Mei 2007 di Jakarta atas dasar keputusan Tanwir Muhammadiyah. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Ada tiga alasan mengapa SK tersebut lahir. &lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, bahwa sesuai dengan maksud semula pembentukannya, Ikatan Pelajar Muhammadiyah dibentuk untuk membina para pelajar baik di sekolah-sekolah Muhammadiyah maupun di luar sekolah Muhammadiyah. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, bahwa perubahan nomenklatur dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah adalah karena dipaksa oleh Pemerintah yang berkuasa, yang tidak membolehkan adanya organisasi yang membina para pelajar di luar OSIS. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, bahwa setelah Pemerintah berganti, termasuk kebijakan dalam pembinaan para pelajar, maka perlu mengembalikan lagi Ikatan Remaja Muhammadiyah kepada tugas pokok/asalnya, ialah membina para pelajar baik di sekolah-sekolah Muhammadiyah maupun di sekolah-sekolah lain dengan mengganti nomenklaturnya menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah disingkat IPM (lihat SK poin menimbang). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Setelah kemunculan SK tersebut, PP IRM langsung mengadakan pleno internal yang membahas tentang SK tersebut. Kemudian PP IRM mengadakan audiensi kepada PP Muhammadiyah untuk klarifikasi adanya SK tersebut. Hasil pertemuan itu adalah PP Muhammadiyah tetap bersikukuh dengan keputusannya. Setelah pertemuan itu, PP IRM segera bergegas untuk melakukan konsolidasi internal dengan menghadirkan PW IRM Se-Indonesia dalam forum Rapat Pleno Diperluas tanggal 20 Juli 2007. Dalam forum itu menghadirkan juga PP Muhammadiyah yang diwakili oleh Prof. Dr. Zamroni (Bendahara Umum PP Muhammadiyah). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Dari Rapat Pleno Diperluas, ada beberapa kesepakatan. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, organisasi IRM tetap menggunakan nama IRM sampai Muktamar XVI yang akan datang. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, meminta kepada PP Muhammadiyah untuk membuat surat yang serupa perihal penangguhan nama IPM sampai ada keputusan di internal IRM pada saat Muktamar ke-16. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, kepada seluruh jajaran IRM di berbagai tingkatan baik Wilayah, Daerah, Cabang, dan Ranting untuk tetap menjalankan organisasi sebagaimana mestinya. &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, mendesak kepada PP IRM untuk membentuk tim perumus persiapan perubahan nama. &lt;i&gt;Kelima&lt;/i&gt;, pada saat Muktamar yang akan datang nama organisasi ini adalah IPM sehingga nama Muktamarnya adalah Muktamar XVI Ikatan Pelajar Muhammadiyah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Membangun Kekuatan Gerakan Pelajar Muhammadiyah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya IRM mulai bergegas-gegas untuk mempersiapkan agenda gerakannya ke depan. Ada satu hal penting yang juga harus diperhatikan oleh IRM dan terkhusus kepada PP Muhammadiyah jika konsisten mengawal SK nomenklatur tersebut. Setelah IRM berganti menjadi IPM, maka tidak ada lagi organisasi pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah kecuali Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ini harga mutlak. Tentunya harus didukung oleh SK PP Muhammadiyah ke sekolah-sekolah Muhammadiyah seluruh Indonesia yang isi suratnya menyatakan bahwa IPM sebagai satu-satunya organisasi intra sekolah Muhammadiyah. Jika tidak melaksanakan SK ini maka akan ada sanksi tersendiri. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;IPM nantinya harus mulai intens membina sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sekarang di berbagai tempat banyak sekolah Muhammadiyah mulai gulung tikar karena tidak ada siswa dan pengelolanya. Menjadi tugas kader-kader IPM untuk pembinaan ini. Pelajar Muhammadiyah merupakan benteng ideologi bagi masa depan Muhammadiyah. Sejak kecil kader-kader IPM harus ditanamkan semangat untuk berjuang. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kini bukan saatnya lagi untuk memperdebatkan keberadaan SK tersebut. Tetapi bagaimana kita kembali membangun kekuatan gerakan di tingkatan pelajar Muhammadiyah. Nanti IPM diharapkan mampu membela hak-hak dan kepentingan kaum pelajar. Hingga saat ini belum ada gerakan-gerakan pelajar yang berani meneriakkan suara pelajar, memperjuangkan hak-hak pelajar misal pemerataan akses pendidikan ke seluruh pelosok tanah air, transportasi gratis untuk pelajar, jika pelajar berobat ke rumah sakit mendapat potongan, dan lain sebagainya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Menjadi misi suci bagi IPM ke depan untuk mengagendakan ini bersama-sama elemen lain yaitu PII, IPNU, dan IPPNU. Pelajar adalah aset masa depan negara yang harus dijaga keutuhanya. Jangan ada pihak lain yang berani mencederai pelajar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Perubahan IRM menjadi IPM bukan berarti IRM tidak berarti apa-apa. Justru perubahan IPM ke IRM saat 1992 telah menjadi bukti bahwa IRM merupakan penyelamat organisasi sehingga ruh gerakan yang ada di dalam IPM saat dulu masih tersimpan, dan kini kekuatan itu hadir kembali pada dimensi ruang dan waktu yang berbeda untuk menatap masa depan pencerahan pelajar. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;b&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat IRM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-2329725874513793157?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/2329725874513793157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=2329725874513793157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2329725874513793157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2329725874513793157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/04/membangkitakan-kembali-gerakan-pelajar.html' title='Membangkitakan Kembali Gerakan Pelajar Indonesia'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R_OkXTPS5hI/AAAAAAAAAFQ/HtbT2cqflKk/s72-c/Musywil+IRM+Papua+%286%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-3711043707368129296</id><published>2008-03-31T16:24:00.000+07:00</published><updated>2008-04-02T22:40:24.933+07:00</updated><title type='text'>Menggagas Kekuatan Gerakan Pelajar Muhammadiyah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R_OovDPS5iI/AAAAAAAAAFY/z67jH4eRLEo/s1600-h/misi+kebudayaan+RRT.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R_OovDPS5iI/AAAAAAAAAFY/z67jH4eRLEo/s200/misi+kebudayaan+RRT.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184673122310350370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hingga kini gerakan-gerakan pelajar yang mewakili kaum terdidik dengan seragam “abu-abu” dan “biru” masih belum mendapatkan tempat di masyarakat. Istilah abu-abu dan biru di sini adalah, mereka yang berstatus pelajar setingkat SMP dan SMA.     &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tidak sekedar itu saja. Pada persoalan kebijakan publik (&lt;i&gt;public policy&lt;/i&gt;) pun keberadaan mereka masih belum menjadi salah satu &lt;i&gt;design maker&lt;/i&gt;. Sebut saja mereka yang termasuk kategori gerakan pelajar adalah Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU), dan gerakan-gerakan pelajar lainnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? &lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Realitas: Pelajar Tetap ‘Terpinggirkan’ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Selama ini anggapan umum mengatakan, bahwa pelajar merupakan klas sosial yang terpinggirkan dan belum dianggap sebagai pihak yang mampu memberikan kontribusi pemikiran, terlebih sebagai pengambil kebijakan. Pelajar selalu diposisikan sebagai anak kecil yang belum tahu apa-apa, lemah, inferior, kurang berpengalaman, egoistik, serta selalu melakukan perlawanan secara pribadi dan brutal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Klas sosial yang dimaksud di sini adalah kelompok masyarakat tertentu di mana anggota masyarakat tersebut menduduki posisi tertentu dalam proses tersebut, yakni mereka bekerja (budak) dan menghasilkan nilai lebih dan mereka yang tidak bekerja (majikan) mengambil nilai lebih dan mendistribusikannya kepada klas menengah distributor, pemilik modal, dan lain sebagainya. Hematnya, klas sosial selalu mengindikasikan adanya ketimpangan posisi, majikan hampir selalu menjadi atasan dan budak hampir selalu menjadi bawahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam konteks klas sosial tersebut, pelajar diposisikan sebagai budak dari ilmu pengetahuan. Pemerintah, sekolah, dan guru adalah pihak yang mengeruk keuntungan dari pelajar. Dalam sistem pendidikan kita, terdapat dua arus ketimpangan antara guru sebagai pengajar dan murid sebagai obyek yang diajarkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Guru mengajar, murid belajar. Guru berbicara, murid mendengarkan. Guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa. Guru berpikir, murid dipikirkan. Guru berbicara, murid mendengarkan. Guru mengatur, murid diatur. Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti. Guru bertindak, murid membayangkan bagaimana bertindak sesuai dengan tindakan gurunya. Guru memilih apa yang akan diajarkan, murid menyesuaikan diri. Guru sebagai subyek dari proses belajar, murid menjadi obyeknya. Inilah model pendidikan “gaya bank” yang haru segera dihapuskan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Anggapan-anggapan di atas itulah yang pada akhirnya tidak memberikan ruang kepada para pelajar untuk beraktualisasi terlebih dahulu. Pelajar seperti berada di dalam kastil. Orang luar mengatakan, “Wah, enaknya di dalam kastil”. Tetapi mereka yang berada di dalam kastil mengatakan “Betapa kami sangat tersiksa”. Ini sama halnya dengan pembunuhan secara perlahan-lahan terhadap kreativitas pelajar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Banyaknya kasus-kasus kekerasan terhadap pelajar telah membuktikan betapa pelajar masih saja menjadi golongan tertindas yang tidak bisa berbuat apa-apa. Belum lagi kejadian bunuh diri akibat persoalan yang sepele. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kita masih ingat seorang pelajar SMP di Cipunegara, Subang, Jawa Barat, tewas gantung diri karena tidak naik kelas. Remaja bernama Cahyono ini hidup bersama adik dan ayahnya yang bekerja sebagai tukang ojek. Kondisi ekonomi mereka relatif pas-pasan, sehingga ketika menerima rapor dan dinyatakan tidak naik kelas, remaja yang berusia 14 tahun ini mengalami tekanan batin yang sangat berat. Diam-diam, ia memilih jalan pintas bunuh diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kasus Cahyono pun ditemani oleh kejadian yang menimpa pelajar SMP di Tegal, Jawa Tengah. Pelajar tersebut mengalami cacat mental permanen setelah diselamatkan dari usaha bunuh dirinya dengan cara menggantung. &lt;/span&gt;Ia tak tahan menanggung malu lantaran tunggakkan SPP yang belum terbayarkan, sementara pihak sekolah terus menagih. Di Cianjur, Jawa Barat, seorang bocah SD bunuh diri setelah diledek teman-temannya karena orangtua tak mampu membiayai acara &lt;i&gt;study tour&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kasus lain terjadi juga (17/7/2005) di Cikiwul, Bantar Gebang, Kota Bekasi. Warga sekitar dikagetkan dengan peristiwa bunuh diri seorang siswi SMP 10 Bantar Gebang. Vivi Kusrini nekat mengakhiri hidup dengan menggantung diri memakai seikat tali di kamar mandi rumahnya. Menurut penuturan ayahnya, alasan Vivi gantung diri karena malu sering diejek teman sekolahnya sebagai anak tukang bubur. &lt;span style="" lang="FR"&gt;Apalagi menjelang tahun ajaran baru ini Vivi belum punya seragam sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Kejadian serupa juga menimpa Oman, seorang pelajar kelas enam SD Karang Asih 04, Cikarang, Bekasi, Jum’at (4/6/2004), yang nekat meminum racun tikus karena tidak mempunyai uang untuk membayar Biaya Ujian Akhir Nasional (UAN), kini UN, sebesar seratus ribu rupiah. Kasus Oman ini mengingatkan kembali kasus bunuh diri yang dilakukan Haryanto, murid SD Negeri Sanding IV Garut, pada tahun 2003. Hariyanto juga mencoba bunuh diri karena tidak mampu membayar uang ekstrakurikuler sebesar Rp 2.500.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;Bergegas: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pelajar Berpihak, Maka Pelajar Ada! &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kasus-kasus di atas cukup membuktikan bahwa pelajar masih tetap menjadi yang tertindas. Karena itu, saatnya gerakan pelajar bangkit dari keterpurukan yang selalu membayang-bayanginya. Deklarasikan, bahwa gerakan pelajar mampu bertindak dan berlaku secara mandiri, mampu berpikir dan mengambil keputusan secara tegas tanpa ada paksaan, serta menyatakan diri sebagai salah satu subyek perubahan dari realitas sosial yang timpang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tunjukkanlah bahwa ini adalah prinsip dari Gerakan Pelajar Transformatif! Mari kita berikrar sebagai kaum intelektual yang mampu melakukan perubahan. &lt;i&gt;“Pelajar Berpihak, Maka Pelajar Ada!”&lt;/i&gt;. Artinya, keberadaan Gerakan Pelajar Transformatif dianggap ada jika telah melakukan keberpihakan yang jelas terhadap kepentingan dan hak-hak pelajar. Keberpihakn tersebut tentunya harus dilandasi pada proses kesadaran, kepekaan, kepedulian, dan aksi nyata. Sebaliknya, pelajar akan tetap dikatakan sebagai obyek jika tidak bisa melakukan apa-apa. Keberadaan kita dibuktikan dengan keberpihakan kita!&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Inilah sebuah Manifesto Gerakan Pelajar Transformatif: &lt;i&gt;Pelajar transformatif berdaulat demi cita-cita perubahan sosial. Menundukkan kedzaliman adalah tugas mulia kami. Menegakkan keadilan adalah misi suci kami. Berpihak pada kepentingan pelajar adalah kewajiban kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Membangun Kekuatan Gerakan Pelajar Muhammadiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah manifesto di atas dideklarasikan, saatnya IRM mulai bergegas untuk merapatkan kembali barisan organisasinya dan mempersiapkan agenda strategis untuk gerakannya ke depan. Dalam tulisan ini, penulis akan menggunakan nama IPM dengan alasan, bahwa secara &lt;i&gt;de jure&lt;/i&gt; IRM telah berganti menjadi IPM pasca SK PP Muhammadiyah. Tetapi secara &lt;i&gt;de facto,&lt;/i&gt; pasca keputusan pleno diperluas PP IRM Juli 2007, masih menggunakan nama IRM sampai Muktamar November 2008.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa kekuatan yang bisa dan harus dilakukan oleh IPM, terutama pasca SK Pimpinan Pusat Muhammadiyah perihal nomenklatur perubahan nama dari Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). &lt;/p&gt;                      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, setelah IRM berganti menjadi IPM, maka tidak ada lagi organisasi pelajar di sekolah Muhammadiyah kecuali Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ini sudah menjadi harga mutlak. Hal ini tentunya harus didukung pula oleh SK PP Muhammadiyah perihal IPM sebagai satu-satunya organisasi intra sekolah Muhammadiyah. Dengan demikian, tidak akan ada lagi dualisme antara IPM dan OSIS. Jika ada pihak sekolah yang tidak mengindahkan keputusan tersebut, maka perlu diberlakukan sanksi tersendiri dengan aturan-aturan yang berlaku. Kami pun berharap pula kepada Majelis Dikdasmen dari tingakt pusat hingga daerah untuk komitmen mengawal keputusan tersebut.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Kedua&lt;/i&gt;, IPM harus kembali melakukan pembinaan secara intens terhadap sekolah-sekolah Muhammadiyah, terutama sekolah yang hampir gulung tikar dan kekurangan murid. Ini bukan berarti bahwa IPM mengambil alih peran sekolah. Tetapi IPM menjadi &lt;i&gt;partner&lt;/i&gt; sekolah dalam melakukan poses pengembangan kegiatan belajar mengajar, di samping juga melakukan proses kaderisasi secara intens. Pelajar merupakan benteng ideologi bagi masa depan Muhammadiyah. Sejak kecil mereka harus ditanamkan semangat untuk berjuang di Muhammadiyah.&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, pembina IPM harus orang yang paham Muhammadiyah dan Ortomnya, diutamakan mereka yang sekarang sedang aktif di struktur IPM. Hal ini dilakukan agar kekuatan kaderisasi di tingkat sekolah pun menjadi lebih meningkat serta para aktivis IPM memiliki lahan dalam berjuang dan mampu menumpahkan ide-ide kreatifnya ke tingkat ranting. Salah satu hilangnya peran sekolah Muhammadiyah sebagai lembaga kaderisasi adalah karena pembina IPM bukanlah orang Muhammadiyah, apalagi yang paham tentang Muhammadiyah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Saatnyalah kita membangun kembali kekuatan gerakan pelajar Muhammadiyah dalam rangka membela kepentingan dan hak-hak kaum pelajar. Hingga saat ini belum ada gerakan-gerakan pelajar yang berani meneriakkan suara pelajar, memperjuangkan pemerataan akses pendidikan ke seluruh pelosok tanah air, transportasi gratis, serta ada diskon bagi pelajar yang ingin berobat ke rumah sakit. Ini menjadi ‘misi suci’ bagi IPM bersama gerakan lain semisal PII, IPNU, dan IPPNU.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pelajar adalah aset masa depan negara yang harus dijaga keutuhannya. Jangan ada pihak yang berani mencederainya.&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Remaja Muhammadiyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-3711043707368129296?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/3711043707368129296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=3711043707368129296' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/3711043707368129296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/3711043707368129296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/03/menggagas-kekuatan-gerakan-pelajar.html' title='Menggagas Kekuatan Gerakan Pelajar Muhammadiyah'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R_OovDPS5iI/AAAAAAAAAFY/z67jH4eRLEo/s72-c/misi+kebudayaan+RRT.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-2506568837648369643</id><published>2008-03-16T09:32:00.001+07:00</published><updated>2008-03-16T09:40:56.423+07:00</updated><title type='text'>Game Itu Candu, Bener Gak Sih?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di sini pernah ada pengunjung yang menginap sampai satu bulan. Dia nggak pulang-pulang. Kalau dia makan, ya di depan komputer. Tinggal pesan di kantin, pasti diantar. Kalau mau minum tinggal ambil di kulkas. Kalau dia tidur, di kursi. Urusan mandi menjadi nomor sekian. Lagian kita juga menyediakan kamar mandi. Selain itu, dulu pernah ada 15-20 user kami yang menginap&lt;i&gt; &lt;/i&gt;berhari-hari, hinga kami harus mengeluarkan dua buah kasur dan guling untuk tidur mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebuah pengalaman yang dikisahkan Riyanto, asisten supervisor di Genesis Game Center Jalan AM Sangaji Yogyakarta, kepada Siti Muslihah KN dari Kuntum. Cerita lain juga didapatkan &lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Triana Candraningrum dari Kuntum ketika menjumpai Brilian Akbar Suriadjati, siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta. Siswa ini mengaku saat &lt;i&gt;ngegame &lt;/i&gt;frekuensi waktunya tidak pasti. ”Bisa-bisa sampai sehari semalam full,” ujar Billy, panggilan akrabnya. Pengalaman yang sama juga terjadi pada M. Iqbal Jayadi. ”Dulu saat UAN SMP pun aku tetap &lt;i&gt;ngegame&lt;/i&gt;. Kalau diitung-itung seminggu bisa empat kali sehabis pulang sekolah. Bahkan bisa sampai semalaman,” kenang siswa SMA Negeri III Yogyakarta ini kepada Ardianto dari Kuntum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Berbeda dengan Wiri Tunggul Sagara saat ditemui Nurun Isnaeni dari Kuntum. Siswa SMA Muhammadiyah I Yogyakarta ini memiliki jadwal tersendiri untuk &lt;i&gt;ngegame&lt;/i&gt;. ”Jadwalku saat &lt;i&gt;weekend &lt;/i&gt;aja. Aku mulai &lt;i&gt;ngegame &lt;/i&gt;Sabtu malam jam sembilan hingga Minggu pagi jam delapan. Itu nggak pake istirahat. Trus dilanjutin lagi jam empat sorenya sampai jam sembilan malam,” ungkap siswa kelas II ICT (Information Communication Technology) ini. Namun &lt;i&gt;saking&lt;/i&gt; asyik &lt;i&gt;ngegame&lt;/i&gt;, terkadang game bisa membuat seseorang lupa akan kesehatannya, terutama persoalan makan. ”Kalau urusan makan sih terkahir. Namanya juga sudah seneng, susah ninggalinnya. Jadi, paling-paling aku cuma minum &lt;i&gt;aja &lt;/i&gt;biar nggak dehidrasi,” aku Rifki Zulkarnaen, siswa SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, kepada Nurun Isnaeni dari Kuntum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Masing-masing anak memiliki pengalaman yang berbeda-beda tentang game. Tentunya, persoalan sejak kapan mereka bermain pun berbeda-beda. ”Kalau aku sih senang game sejak kecil, saat masih zaman Nintendo dan PS I. Tapi mulai sering mainnya ketika SMP,” kata Rezani, siswa kelas III Akademi Perhotelan SMK Negeri 2 Jakarta, saat ditemui Muhammad Raihan Febriansyah dari Kuntum. Alasan mereka suka dengan game pun beragam. Ada yang sekadar refreshing, menghilangkan stres, atau malah hobi. ”&lt;i&gt;Ngegame &lt;/i&gt;tuh bisa menjadi penghibur saat sedih dan suntuk. Apalagi kalau pelajaran sekolah yang melelahkan selama enam hari. Jadi, aku butuh hiburan dengan memilih &lt;i&gt;ngegame&lt;/i&gt;,” terang Rifki yang bertubuh tinggi dan berkulit putih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Untuk bermain game bisa di mana saja. Di rumah sendiri, di tempat teman, atau di game center. Tapi sebagian dari mereka lebih memilih di &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt;. Selain asyik dan ramai, dengan &lt;i&gt;game online &lt;/i&gt;kita bisa bermain dengan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Baik antarkota maupun antarnegara. Jadi, kita bisa bermain dengan gamers yang ada di Amerika atau di Jepang. Asyik kan. Dunia seperti dalam genggaman tangan. Sebagian besar dari juga mereka mengatakan kalau bermain paling asyik adalalah dengan teman. Mereka bisa saling adu ketangkasan dan uji kecerdasan. Kadang bisa sampai marah-marahan. Di situ letak keasyikan sekaligus kejengkelan mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Dengan &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt; juga, pilihan permainannya sangat beragam. Para user pun dipersilahkan memilih game sesuka hati mereka tanpa ada batasan. ”Aku paling senang kalau main &lt;i&gt;Diagoten Saiban III&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;NDS&lt;/i&gt;. Ini permainan tentang pengacara yang berusaha menyelesaikan kasus yang dia hadapi. Aku seolah belajar jadi detektif beneran,” jelas Billy yang kini kelas XII IPS. Lain ladang lain ilalang. Lain Billy lain pula Rezani. Kalau Rezani senang bermain FIFA, Winning Eleven, dan Championship Manager. ”Seolah-olah aku seperti main bola beneran,” tambah siswa berambut lurus ini. Sedangkan Iqbal bersama temannya biasa bermain &lt;i&gt;Warecraft&lt;/i&gt;. Ini permainan kompetisi. Ada 10 orang, lalu dibagi menjadi dua tim. ”Kalau lagi sendirian, aku biasa main &lt;i&gt;Need for Speed&lt;/i&gt;,” ujar siswa berkulit putih ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Selain bermain di game center, biasanya ada sebagian dari gamers yang memiliki peralatan game di rumahnya. Entah itu beli sendiri atau malah dibelikan orang tuanya. Di rumah, mereka (gamers) bisa mengasah ketrampilannya. Barulah kalau di luar mereka bertanding dengan lawan-lawannya. Jadi, &lt;i&gt;ngegame&lt;/i&gt; di rumah hanya sekadar buat latihan saja. Namun dari hasil reportase yang dilakukan Kuntum, kebanyakan dari mereka lebih senang main di game center. ”Di luar banyak teman dan kalau menang bisa pamer dengan yang lainnya,” aku Wiri yang suka tersenyum saat ditemui Kuntum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Diakui atau tidak, game center sudah mewabah di masyarakat kita terutama di kota-kota besar, salah satunya Yogyakarta. Hal ini pun diakui oleh Drs. Achmad Choiruman, MC., M.Si., dosen Universitas Gajah Mada. Menurutnya, kelahiran game membuat siapa saja menjadi kecanduan. Game dapat menjadikan anak individual dan jarang bergaul dengan masyarakat sekitar. Hal ini dikarenakan waktunya habis untuk &lt;i&gt;ngegame&lt;/i&gt;. ”Si anak juga jadi boros untuk mengeluarkan uang dan bisa membuat mata tidak sehat,” ungkapnya kepada Nurun Isnaeni dari Kuntum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Dosen yang tinggal dikompleks Bulaksumur ini heran dengan anaknya yang gandrung dengan game. Hampir setiap pulang sekolah anaknya selalu main game. ”Sampai-sampai cara menghentikannya dengan mematikan komputernya dan meminta dia untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kalau nggak gitu, dia nggak mau berhenti,” tambahnya dengan perasaan cemas. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ibu Suryani saat dijumpai Muhammad Raihan Febriansyah dari Kuntum. ”Setahu saya game center itu nggak punya aturan waktu. Seharusnya anak belajar di sekolah, malah nongkrong main game,” kata ibu dari Rezani yang agak gemuk ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Namun kita memang tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada perusahaan-perusahaan atau pemilik game center. Ini sudah zaman modern dan persaingan hidup semakin tajam. ”Jadi, kemunculan game center di tengah-tengah kehidupan yang susah ini merupakan hal yang wajar,” terang Dr. Tulus Warsito, M.Si., Dekan FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang juga orang tua dari Billy, kepada Triana Candraningrum dari Kuntum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Memang, fenomena game center kini telah menjadi hiburan yang sangat digemari siapa pun. Waktunya pun kebanyakan non-stop 24 jam. Alasan ini pulalah yang membuat Yizreel, pemilik Bintang Gamenet Yogyakarta, mendirikan bisnis warnet dan gamenet. Padahal sebenarnya toko ini awalnya mau dibuat toko buku. ”Tapi melihat prospek gamenet sangat bagus, akhirnya kami memilih bisnis itu,” ujarnya kepada Arief Hidayat dari Kuntum. Gamenet yang sudah berdiri sejak tahun 2001 ini setiap hari rata-rata dikunjungi sekitar 200-an orang. Tapi bisa jadi lebih banyak dari itu atau malah kurang. Semua tergantung kondisi. ”Untuk presentasi pengunjung, 30 persen remaja, 50 persen dewasa, dan 20 persen lainnya,” tambahnya sambil memegang kepala. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Jika kita ingin &lt;i&gt;ngegame,&lt;/i&gt; harga sewanya bermacam-macam. Ada yang 1.500 rupiah per jam, 2.000 rupiah per jam, dan 2.500 per jam. Semua tergantung waktunya. Malah ada yang memberikan tarif 1.200 rupiah per jam di Bintang Gamenet Yogyakarta. ”Tapi itu untuk jam 10 malam hingga jam 10 pagi harinya,” terang Yizreel sambil menyulut rokok. Variasi harga dilakukan juga di Planet Game Center Yogyakarta. ”Di tempat kami per jam 2.500 rupiah. Kalau lima jam kena 10.000 rupiah. Untuk tujuh jam kena 13.000 rupiah. Dan kalau 10 jam harus membayar 18.000 rupiah. Sedangkan kalau menyewa satu hari kena 25.000 rupiah,” jelas Hadi, pemilik Planet Game Center, panjang lebar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Setelah bermain game, ada banyak hal yang dirasakan gamers. Dampaknya bisa positif, bisa juga negatif. Hal ini dirasakan oleh salah seorang pelajar asal Kendal yang tidak ingin menyebutkan namanya. ”Setelah &lt;i&gt;ngegame &lt;/i&gt;uang jajanku berkurang, pelajaran di sekolah sering ketinggalan, dan selalu kurang tidur. Kalau di kelas pasti &lt;i&gt;ngantuk&lt;/i&gt;,” ungkap siswa yang hanya memberikan nama samarannya ”M. Abdul Wahid” kepada Arief Hidayat dari Kuntum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Dari kisah-kisah yang telah dipaparkan di atas, jelaslah bahwa game terlepas dari jenis dan metode permainannya sangat memberikan pengaruh kuat kepada penggunanya. Kecanduan untuk terus bermain menjadi dampak tersendiri ketika mereka senang mengoperasikannya secara kreatif. Gimana nggak kecanduan. Para user diizinkan untuk mengatur diri mereka sendiri tanpa batasan waktu. Di sinilah mereka menjadi aktif setelah jenuh dengan pelajaran yang selalu membuat mereka pasif. Bahkan untuk mencuri uang orang tuanya mungkin akan dilakukan hanya untuk duduk berjam-jam di depan permaian sebesar teve itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Selain itu, game juga bisa mengakibatkan kekerasan pada anak. Pada tahun 1993, dua senator AS, Joseph Lieberman dan Hillary Clinton, pernah berkampanye menentang serial &lt;i&gt;Mortal Kombat&lt;/i&gt;, sebuah game pertarungan yang penuh adegan kekerasan dan banjir darah. Di samping itu, mereka juga melarang game-game jenis lainnya yang diketahui ada muatan pornografi. Dua senator ini juga menarik penayangan serial TV anak, &lt;i&gt;Captain Kangaroo&lt;/i&gt;. Bahkan pemerintah Cina melarang peredaran sekitar 50 judul game komputer di negaranya. Lalu, bagaimana di Indonesia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Ridho Al-Hamdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Laporan: &lt;b&gt;Triana Candraningrum, Ardianto, Liesna Eka N., Nurun Isnaeni, Arief Hidayat, M. Raihan Febriansyah, &lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;Siti Muslihah KN.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-2506568837648369643?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/2506568837648369643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=2506568837648369643' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2506568837648369643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/2506568837648369643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/03/game-itu-candu-bener-gak-sih.html' title='Game Itu Candu, Bener Gak Sih?'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-3398575553046939317</id><published>2008-03-08T21:30:00.000+07:00</published><updated>2008-03-08T21:33:43.547+07:00</updated><title type='text'>Asyiknya Jadi The King of Game</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Boleh dikata, pada akhir tahun 2000 game hanya menjadi mainan anak kecil. Namun sekarang bukanlah sesuatu hal yang aneh lagi jika seorang ayah ikut duduk berjam-jam bersama anaknya untuk adu ketangkasan dalam memainkan game dengan berbagai macam pilihannya. Kini, game sudah menjadi mainan untuk segala usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Kalau dulu kita hanya mengenal &lt;i&gt;GameWatch&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;GameBoy&lt;/i&gt;. Kini kita dapat bermain game melalui komputer desktop (PC), laptop, atau pun melalui perlengkapan game pabrikan seperti &lt;i&gt;PlayStation&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Xbox&lt;/i&gt; dengan berbagai macam pilihan permainannya. Bahkan saat ini &lt;i&gt;PlayStation&lt;/i&gt; telah mengeluarkan perlengkapan gamenya dalam versi personal, yang disebut PSP. Sepintas, PSP sendiri mungkin mengingatkan kita pada era &lt;i&gt;GameBoy&lt;/i&gt;, dimana sebuah game dapat dimainkan di mana pun melalui sebuah alat yang ukurannya agak lebih besar dari HP. Perlengkapan pendukung permainan yang ditawarkan pun sangat beragam, mulai dari &lt;i&gt;mouse&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;keyboard standart&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; QuickCam, headset,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;joystick, gamepad, racing wheel, PlayGear, &lt;/i&gt;dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Perkembangan sekarang, game tidak hanya dimainkan secara personal atau dengan beberapa jaringan komputer dalam satu ruangan saja. Game telah berubah menjadi &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt;. Sekarang kita dapat bermain game dengan banyak orang yang mengaksesnya (melalui internet) di lokasi lain, bahkan dengan orang di negara yang tidak kita kenal sekalipun. Hal ini juga yang menyebabkan perusahaan game tidak segan-segan memberikan fitur ‘transaksi’ untuk &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt;. Peluang bisnis pun sudah merambah untuk jenis permainan ini. Sebuah bukti bahwa manusia dan imajinasinya merupakan hal yang tak terpisahkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Karena diperuntukkan ke semua orang, maka game dibuat dengan berbagai tingkat kesulitan dan kemahiran si pemain. Mulai dari level &lt;i&gt;beginner&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt;advance&lt;/i&gt;. Jenis-jenis game pun sangat beragam. Ada balapan (&lt;i&gt;MotoGP, F1, Need for Speed, Colin McRae Rally&lt;/i&gt;), perang (&lt;i&gt;Counter Strike, Sniper Elite, Black Hawk Down, Mercenaries&lt;/i&gt;), sepak bola (&lt;i&gt;FIFA, Championship Manager, Football Manager, Winning Eleven, NBA, SreetBall&lt;/i&gt;), dan lain sebagainya. Semua dibuat untuk memanjakan selera konsumen. Setiap pemain pun bisa memperbaiki mobil, mengatur siasat perang, dan menyusun tim atau kesebelasan sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Hal yang sangat luar biasa. Pemain diizinkan untuk mengatur diri mereka dalam setiap game yang dimainkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Selain itu, &lt;i&gt;game online &lt;/i&gt;juga telah menyediakan fitur komunitas online, sehingga menjadikan &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt; sebagai aktivitas sosial. &lt;/span&gt;Game jenis ini disebut Massively Multiplayer Online Games (MMOG). MMOG memungkinkan ratusan bahkan ribuan pemain untuk bermain di waktu yang bersamaan dengan media internet. Beberapa jenis MMOG antara lain: MMORPG (Massively Multiplayer Online Role Playing Game) seperti &lt;i&gt;Ragnarok&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Seal&lt;/i&gt;; MMORTS (Massively Multiplayer Online Real Time Strategy) seperti &lt;i&gt;WarCraft&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;DotA&lt;/i&gt;, dan MMOFPS (Massively Multiplayer Online First Person Shooter) seperti &lt;i&gt;CounterStrike&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut penelitian &lt;i&gt;Parks Association &lt;/i&gt;dengan berjudul “The Casual Gaming Market Update” dikemukakan, bahwa &lt;i&gt;game online&lt;/i&gt; telah menjadi fenomena yang mampu mengalahkan situs-situs bertema jaringan sosial seperti &lt;i&gt;Friendster, Multiply, MySpace,&lt;/i&gt; serta keberadaan video online seperti yang diusung oleh &lt;i&gt;YouTube!&lt;/i&gt; Selain itu, &lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;dua pertiga pengguna internet dewasa di Amerika Serikat selalu bermain &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Jenis hiburan yang satu ini telah berevolusi dengan sangat pesat, dari sekadar aktivitas iseng-iseng hingga menjadi salah satu pilar dalam dunia hiburan. Bahkan saat ini di Indonesia banyak sekali pihak-pihak yang menawarkan pekerjaan sebagai &lt;i&gt;Game Master&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;Artinya, game sudah dipandang sebagai suatu pekerjaan profesional. Cukup fantastik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;Secara cerdik perusahaan-perusahaan &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; ini telah berhasil membuat orang yang bermain melakukan hal-hal realistik untuk mendukung imajinasi virtualnya.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Tidak hanya bertransaksi dalam &lt;i&gt;game online, &lt;/i&gt;atau berperang secara &lt;i&gt;online, &lt;/i&gt;bahkan berbohong pada orang tua demi beberapa jam di Game Center pun mungkin akan dilakukan. Memang secara moral perusahaan-perusahaan ini tidak bisa disalahkan. Semua kembali kepada bagaimana kita menerima perkembangan &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;teknologi &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;ini. Karena setiap kemajuan teknologi akan membawa konsekuensi tersendiri, termasuk bahwa tidak setiap kemajuan selalu membahwa kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Yogyakarta, 7 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-3398575553046939317?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/3398575553046939317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=3398575553046939317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/3398575553046939317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/3398575553046939317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/03/asyiknya-jadi-king-of-game.html' title='Asyiknya Jadi The King of Game'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-3035087026162892612</id><published>2008-01-04T17:34:00.000+07:00</published><updated>2008-01-07T13:36:45.955+07:00</updated><title type='text'>Kritik Pedas dari Musik Cadas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R4HITEnBsTI/AAAAAAAAAEw/BGUcLB0-Pjk/s1600-h/3D13.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R4HITEnBsTI/AAAAAAAAAEw/BGUcLB0-Pjk/s200/3D13.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152619678669058354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ore&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt; itu terdengar gebukan drum dengan hentakan cepat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian menyusul melodi dari gitar yang meraung tinggi, diselingi cabikan bass yang berubah-ubah nadanya. Di tengah alunan melodi itulah menyelinap sebuah lagu. Suara vokal menjerit panjang, melengking dan memekakkan telinga. Perpindahan nada berlangsung secara cepat tanpa mengubah tempo musik. Penampilan grup musik di atas pentas itu, seakan-akan menumpahkan kemarahan yang dikeluarkan habis-habisan.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Di bawah panggung, sejumlah penonton tak hanya menggerak-gerakkan kepala, tetapi juga melakukan &lt;i&gt;pow go&lt;/i&gt;, menikmati musik sambil membenturkan tubuh antar penonton. Inilah sebuah gaya komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; dalam merespon musik. Mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bergerak liar, saling bertubrukan dan saling menerjang. Ada beberapa di antaranya terjatuh dan hampir terinjak-injak. Tapi mereka hanya tertawa. Di pentas, suara vokalis terus bergemuruh makin tinggi. Bertelanjang dada dengan tubuh bertato. Penampilan bassisnya ugal-ugalan. Sedangkan tabuhan drum sesekali menunjukkan kegarangannya. Itulah penampilan &lt;i&gt;Victim of Rage&lt;/i&gt; yang beraliran &lt;i&gt;Brutal Death,&lt;/i&gt; group musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asal Bandung dalam sebuah acara yang bertajuk &lt;i&gt;Stay In Underground&lt;/i&gt; di Bukit Kafe, Cimahi, pada akhir Januari 2005 kemarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt;Brutal Death&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah salah satu bagian dari &lt;i&gt;Death Metal&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Jenis musik ini liriknya asing. Suara gitar dan drumnya meniru kecepatan detak jantung seseorang yang seolah melihat pisau &lt;i&gt;guilotine&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jatuh ke arah lehernya. Lagu-lagunya kental dengan warna kematian. Aksi panggungnya me-ngibas-ibaskan rambut panjang yang hampir dimiliki musisi maupun penggemarnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt;Bunyi salah satu liriknya: &lt;i&gt;“Blasphemy god, my body was possessed. The essence of their spirits are evil. Burning my flash, inhaling no regrets.” &lt;/i&gt;(artinya: Hujat Tuhan, kupersembahkan tubuhku untuk setan. Sumber jiwa adalah setan. Bakar dagingku dengan tanpa ampun). “Selain itu ada juga &lt;i&gt;Pure Death, Domm Death,&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Hyperblast,” &lt;/i&gt;demikian kata Slamet, Vokalis &lt;i&gt;Damnation &lt;/i&gt;asal Jogja, kepada &lt;i&gt;kuntum&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="BodyKuntum" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="SV" &gt;Demikian juga kelompok &lt;i&gt;Discount &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;asal Bandung, yang hadir dengan warna musik &lt;i&gt;Punk.&lt;/i&gt; Begitu naik ke pentas dengan brutal, mereka langsung direspon penonton. Ketika seorang personel &lt;i&gt;Discount&lt;/i&gt; melemparkan ratusan stiker, penonton langsung saling berebut. Mereka saling terjang dan menabrakkan diri. Bahasa dan kata-kata yang diucapkan vokalis seakan tidak menjadi penting lagi untuk dikomunikasikan. Karena jeritan dan raungan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah satu-satunya cara untuk mengomunikasikan pemberontakan mereka. Aliran &lt;i&gt;Punk&lt;/i&gt; memang lebih mengutamakan pelampiasan emosi dari pada &lt;i&gt;skill &lt;/i&gt;bermain. Rasanya belum lengkap jika dalam setiap konsernya tidak terjadi keributan, malah keributanlah&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:#000000;"   lang="SV" &gt;yang diinginkan. Simbol &lt;i&gt;Punker&lt;/i&gt; memakai jeans bebel, jaket kulit, rambut bergaya &lt;i&gt;Mohawk&lt;/i&gt; (gaya rambut yang dibentuk ruincing ke atas), dan cenderung menggunakan apa saja yang dianggap menarik perhatian. &lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Dari awal muncul hingga sekarang musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; masih terkesan misterius. Banyak orang yang asal ngomong dan salah kaprah dengannya. Memahami musik &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;sebagai musik perusak dan tidak punya tujuan. “Ungkapan demikian itu wajar-wajar saja. Mereka itu kan orang-orang yang belum me-ngerti musik. Standar mereka yang penting e-nak didengar. Coba kalau orang yang benar-benar mengerti musik, mereka akan salut dengan aliran kami,” cerita Camel, Bassis &lt;i&gt;Damnation&lt;/i&gt;, grup musik &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;dari Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Memang jika ditelusuri lebih jauh lagi, tujuan adanya komunitas musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; itu sudah jelas. Mereka menyampaikan pesan dan kritiknya lewat lirik lagu dan simbol-simbol yang ada di kaos atau di stiker. Sebagian dari aliran mereka lebih ke arah penghujatan, semisal pada aliran &lt;i&gt;blasphemy&lt;/i&gt; yang dimiliki Damnation. Di sinilah letak keberanian dari musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Pada kenyataannya, memang jarang ada perusahaan kaset yang mau menerima jenis musik ini, sehingga mereka harus bekerja keras. Tetapi mereka tetap yakin, musik &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;adalah yang terbaik. “Bagi saya, musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; itu levelnya sudah tinggi. Orang lain belum tentu bisa semua. Kalau seperti Sheila atau Dewa, orang lain pasti bisa memainkannya. Nah, kita ingin mencari yang lebih dari itu. Musiknya lebih keras dan lebih kencang lagi,” ungkap Bonny, Drummer &lt;i&gt;Damnation, &lt;/i&gt;saat ditemui &lt;i&gt;kuntum&lt;/i&gt; di markasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Memang tak mudah mengubah &lt;i&gt;image&lt;/i&gt; dan anggapan masyarakat pada musik &lt;i&gt;underground.&lt;/i&gt; Upay, ketua sebuah acara &lt;i&gt;Stay In Underground,&lt;/i&gt; merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari gedung untuk acara tersebut. Belum lagi sponsor yang enggan bekerjasama. Anggapan pada musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; yang negatif dan brutal, itulah pangkalnya. Sehingga komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; akan tetap hadir dalam dunianya sendiri. Dunia yang mereka anggap lebih jujur meneriakkan perlawanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Hal senada dinyatakan Furqon Ilhaq, anak komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; Gondomanan, Jogja. “Saya sih kurang setuju kalau ada orang yang ngomong musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; itu negatif. Soalnya itu kan kreatif dan hasil karya.” Dimas pun mengakui juga. “Sebenarnya di komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; ini kita berkarya. Mungkin caranya saja yang berbeda,” kata Drummer &lt;i&gt;Green Sand&lt;/i&gt; yang kini masih menjadi siswa SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta, saat ditemui di asrama sekolahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Selain &lt;i&gt;Punk&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Death Metal&lt;/i&gt;, musik &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;masih memiliki &lt;i&gt;Hardcore &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Back Metal.&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Hardcore&lt;/i&gt; tidak jauh berbeda dengan &lt;i&gt;Punk.&lt;/i&gt; Namun, dia memiliki pola hidup sehat. Mereka tetap menyuarakan kritikan tajam. Lirik lagunya berkisah tentang himbauan untuk pengendalian diri, peduli sesama, cara hidup yang bebas alkohol dan bebas seks. Aksi panggungnya lebih terkendali walaupun masih tergolong brutal. Mereka lebih menonjolkan &lt;i&gt;skill&lt;/i&gt; dan memperhatikan kenyamanan penonton. Contoh bandnya: &lt;i&gt;Bad Religion, Black Flag,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Warzone.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Kalau &lt;i&gt;Black Metal &lt;/i&gt;mengutamakan protes dan perang terhadap&lt;i&gt; Christ &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Christianity.&lt;/i&gt; Jenis musik ini tingkat kebisingannya melebihi &lt;i&gt;Death Metal. &lt;/i&gt;Ciri fisiknya, muka dicoreng-coreng seperti setan, mengenakan paku-paku panjang dan senjata kuno. Dalam &lt;i&gt;show&lt;/i&gt;nya mereka juga memasang dua salib terbalik dengan kepala babi. Kelengkapan lainnya adalah tombak-tombak dan rantai besi bermata runcing seperti layaknya pasukan perang dari neraka. &lt;i&gt;Black Metal&lt;/i&gt; mempunyai simbol visual berupa: salib terbalik, pentagram terbalik, ang-ka 666 dan kepala kambing bertanduk. Sehingga arti logo di dalam musik &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;sangat penting sekali, karena ia sebagai identitas diri dan menjadi pembeda antar aliran yang satu dengan yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Di komunitas &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;terdapat tema-tema dalam nyiptain lagu. “Ada g&lt;i&gt;ore, &lt;/i&gt;yang mengarah pada pembunuhan. &lt;i&gt;Porn, &lt;/i&gt;mendukung kepada yang berbau ponografi. &lt;i&gt;Blasphemy,&lt;/i&gt; pengujatan kepada segala hal. &lt;i&gt;Politics and Social,&lt;/i&gt; bernuansa kritik. &lt;i&gt;Satanic,&lt;/i&gt; penyembahan terhadap setan dan dewa-dewa,” demikian kata Bonny, Gitaris Damnation.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Di satu sisi musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; tidak bisa terlepas dari munculnya kaum &lt;i&gt;Punk&lt;/i&gt; di Inggris. Dan ini tentu saja jenis musik yang dimainkan oleh komunitas &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;akan semakin bertambah panjang saja. Ada &lt;i&gt;Metal,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Grindcore, Gothic&lt;/i&gt;, dan entah apalagi kelak yang akan menyusul. Namun, sejauh ini, sebagian besar dari mereka tak jauh-jauh juga dari &lt;i&gt;Metal.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="BodyKuntum" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="SV" &gt;Sepanjang hampir 40 tahun terakhir, &lt;i&gt;Metal&lt;/i&gt; adalah mesin pendorong perkembangan &lt;i&gt;Rock.&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Metal&lt;/i&gt; adalah &lt;i&gt;Rock &lt;/i&gt;yang berenergi tinggi, sehingga dia terus-menerus berubah semakin keras. Musik yang semula disebut keras, ada&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;color:#000000;"   lang="SV" &gt;yang datang kemudian. &lt;i&gt;Trash Metal &lt;/i&gt;(yang sekarang termasuk dalam &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;) merupakan sikap bermusik yang lebih ekstrem daripada &lt;i&gt;Speed Metal,&lt;/i&gt; baik pada tata nada maupun lirik. Ritmenya terkesan &lt;i&gt;ugal-ugalan&lt;/i&gt;. Sebagai contoh yang tepat adalah &lt;i&gt;Sepultura &lt;/i&gt;di album &lt;i&gt;Morbid Visionis.&lt;/i&gt; Hampir tidak terjadi permainan vokal seperti umumnya orang bernyanyi, yang ada hanyalah suara orang muntah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Pada dasarnya, musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; itu hanyalah variasi dari musik &lt;i&gt;Rock&lt;/i&gt; di zaman sebelumnya termasuk penampilan penyanyinya. Pada tahun 70-an muncul berbagai kelompok yang mengusung warna &lt;i&gt;Rock,&lt;/i&gt; seperti &lt;i&gt;Led Zeppelin, Deep Purple &lt;/i&gt;dan sejumlah nama lainnya. Selain makan kakak tua dalam pen-tasnya, Ozzy Osbourne pernah juga menggigit dan menghisap darah kelelawar serta me-nyembelih binatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Sekarang, musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; telah populer di tiga negara. Indonesia berada pada urutan ketiga setelah Kanada dan Amerika. “Dan di Indonesia berpusat di Jogja. Jika ada orang yang ingin mencari musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;, pasti larinya ke Jogja dulu,” Kata Ahmad Abror, salah seorang yang pernah aktif di &lt;i&gt;underground. &lt;/i&gt;Masih kata Oik, demikian akrab di-panggil, “Orang Jakarta pasti nggak terima kalau Jogja dijadikan pusat musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;. Mereka pasti beranggapan, pusatnya &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;ya di Jakarta, karena Jakarta kan ibu kota negara. Tapi, terlepas dari itu semua, saya memaklumi saja.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Di Indonesia, musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; sudah hampir merata di setiap daerah-daerah. “Perkembangannya mulai merata sejak tahun 1999-an,” kata Camel. Hal ini terbukti dengan ikut sertanya sebagian besar musik&lt;i&gt; underground&lt;/i&gt; pada even “Jogja Brebeg”. Di sinilah tempat mereka berekspresi dan adu kebolehan. Jogja Brebeg adalah salah satu even besar &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;yang sering diadakan di Yogyakarta. Berpuluh-puluh grup musik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menampilkan aksi panggungnya. Ada &lt;i&gt;Murka &lt;/i&gt;(Lampung), &lt;i&gt;Total Rusak&lt;/i&gt; (Padang), &lt;i&gt;Death Cronic&lt;/i&gt; (Cirebon), &lt;i&gt;Eruption &lt;/i&gt;(Solo), &lt;i&gt;Kill Harmonic&lt;/i&gt; (Kediri), &lt;i&gt;Second of Death&lt;/i&gt; (Tegal), &lt;i&gt;Damnation, Mystis &lt;/i&gt;(Jogja), &lt;i&gt;D’lonix&lt;/i&gt; (Bekasi), &lt;i&gt;Disphercy&lt;/i&gt; (Temang-gung), &lt;i&gt;Putrefection&lt;/i&gt; (Semarang) dan lain-lain. Kini &lt;i&gt;Jogja Brebeg&lt;/i&gt; sudah mencapai hitungan kesebelas yang dirintis sejak tahun 1996. Terakhir pada bulan Oktober 2004 kemarin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Bagi sebagaian orang, proses terbentuknya komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; hanya sepele. “Waktu kelas 3 SMP saya nganggur, &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; ada kerjaan. Terus saya kenalan sama teman yang pinter musik dan diajak main band. Waktu itu saya &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; bisa. Tapi karena keseringan, akhirnya bisa juga,” ungkap Dimas. Berbeda dengan Oik. “Saat remaja dulu, saya gak puas dengan musik &lt;i&gt;Rock, Grunge, Punk, &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt; Hardcore.&lt;/i&gt; Sehingga saya ingin membentuk komunitas musik yang melebihi dari mereka. Akhirnya saya mencari kaset-kaset&lt;i&gt; underground&lt;/i&gt; di jalanan Malioboro supaya menambah inspirasi saya,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Kepuasan seseorang dalam bermusik memang tidak bisa diukur. Mungkin hanya perasaan pribadi saja yang mampu mengetahuinya. Begitu juga pernah dialami Oik. &lt;i&gt;Saking &lt;/i&gt;seriusnya dalam pementasan, Oik mengalami patah kaki. Baginya itu wajar-wajar saja. “Namanya juga senang-senang, ya harus berani menanggung resiko,” ungkapnya yang kini menjadi guru musik itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hal lain dialami Furqon. Baginya, ketika di panggung ia bisa puas berekspresi dan dapat meluapkan semuanya lewat gerakan fisik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Ternyata, &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bisa juga dijadikan sebagai sumber penghasilan. Tempat mencari makan dan teman. Contohnya, &lt;i&gt;Damnation&lt;/i&gt; yang kini sudah memiliki perusahaan kaos oblong. Markasnya yang bertempat di daerah Krapyak sering dikunjungi orang, apalagi menjelang saat-saat even Jogaja Brebeg. Di sinilah tempat personel &lt;i&gt;Damnation &lt;/i&gt;mencari nafkah, jual kaos, baju, dan stiker buatan sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Bagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dimas dan teman-temannya, komu-nitas ini bisa dijadikan sebagai tempat untuk berkarya, berdagang pigura, poster dan stiker di jalanan Malioboro. Pengalaman serupa juga dialami Furqon. “Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya mencari uang dari ngamen”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Bagi komunitas &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;, rutinitas keseharian mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jalani dengan santai dan apa adanya. Keseharian Dimas, selain ngeband seminggu dua kali, dia cuma nongkrong-nong-krong, nonton TV dan mendengarkan musik. Sedangkan kebiasaan personel &lt;i&gt;Damnation &lt;/i&gt;selalu ngumpul bareng, ngeband seminggu sekali dan membuat lagu. Kadang manggung dari kafe ke kafe, club ke club dan buat acara yang bisa menghasilkan uang. Jadi tak jauh beda dengan komunitas musik lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Trevor Perez, gitaris Obituary, sebuah kelompok musik cadas beraliran Death Metal mengatakan: “Setiap orang memendam kemarahan dalam dirinya. Dan musik (underground)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini merupakan katup pelepasnya!” Bisa jadi dalam komunitas &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;lah mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang merasa tersumbat kebebasannya, terjepit, frustasi dan tersingkir menemukan jalan kedamaiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-3035087026162892612?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/3035087026162892612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=3035087026162892612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/3035087026162892612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/3035087026162892612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/01/kritik-pedas-dari-musik-cadas.html' title='Kritik Pedas dari Musik Cadas'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R4HITEnBsTI/AAAAAAAAAEw/BGUcLB0-Pjk/s72-c/3D13.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-1264298457299471608</id><published>2008-01-04T17:28:00.001+07:00</published><updated>2008-01-07T13:29:07.270+07:00</updated><title type='text'>Underground: Musik Cadas Berkelas Bebas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R4HGkUnBsSI/AAAAAAAAAEo/OcXbla4mm10/s1600-h/Dune+n+guitar5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R4HGkUnBsSI/AAAAAAAAAEo/OcXbla4mm10/s200/Dune+n+guitar5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152617775998546210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lirik&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt; lagunya terdengar asing. Tidak banyak orang yang senang dan memahaminya. Sebagian orang menganggap ini musik yang tidak bernada. Pada setiap aksi panggungnya hampir pasti terjadi keributan, &lt;i&gt;jingkrak-jingkrak&lt;/i&gt;, menggoyangkan kepala, dan &lt;i&gt;moshing, &lt;/i&gt;atau dikenal dengan gerakan sang vokalis meloncat ke penonton. Ada juga gerakan &lt;i&gt;surfing,&lt;/i&gt; berselancar di atas kepala penonton. Terkadang ada yang menggunakan ritual khusus sebagai pembuka dalam setiap pementasannya. Ozzy Osbourne, mantan vokalis &lt;i&gt;Black Sabbath, &lt;/i&gt;sebuah grup musik dekade 1970-an yang terkenal karena lirik dan nada-nada keras dalam lagunya, me-makan kepala burung kakak tua pada pentas pembukaannya. Di sini, dulu jaman om dan bapak kita masih muda, sekelompok grup musik rock mengawali pentasnya dengan mengusung peti jenazah ke atas panggung, menggantungnya dan kemudian membakarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Itulah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk mem-buktikan jati diri mereka di hadapan orang lain banyak cara yang dilakukannya. Dari cara yang biasa-biasa saja sampai yang paling ekstrem. Juga jenis musiknya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;"&gt; &lt;i&gt;Trash Metal, Hardcore, Death Metal,&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Grind Core, Black Metal&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;Brutal Death&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Masing-masing berusaha menunjukkan karakter dan ciri khas yang berbeda. Hampir semuanya menggambarkan tipikal memberontak, dandanan lebih bebas, dan lirik yang sarat dengan nada tak puas pada keadaan dan cenderung bernada keras. Di atas panggung mereka menunjukkan kegilaannya dengan menyuarakan pemberontakan lewat musik dan syairnya. Karena permainan musik yang keras dan cepat, lagu cen-derung terasa lebih cepat selesai dalam waktu singkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Biasanya, ketika akan memulai memainkan lagunya sang vokalis memberi aba-aba, mikropon ditenempelkan di bibir, gitaris dan bassis siap membetot senar, setelah itu musik mulai dimainkan. Hening sesaat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hingga satu persatu alat musik mulai terdengar. Raungan gitar yang memekakkan telinga, disusul dentuman drum yang dipukul dengan tenaga ekstra&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang terasa hampir memecahkan gendang telinga. Ruangan menjadi bising. Kita tidak bisa mendengar pembicaraan teman sebelah. Setelah mendengarkannya, terasa ada suara yang membekas di gendang telinga, seperti suara dengungan. Itu yang biasanya mereka lakukan dalam latihan rutin seminggu sekali atau dua kali. Bahkan ada yang hampir setiap hari menjelang pentas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Banyak yang menyebut aliran musik ini sebagai musik pemberontakan alias&lt;i&gt; &lt;/i&gt;anti kemapanan. &lt;i&gt;Underground&lt;/i&gt; bisa juga diterjemahkan sebagai pencarian jati diri baru yang lebih bebas di dalam seni musik. Ada kecen-derungan sikap &lt;i&gt;ugal-ugalan &lt;/i&gt;yang diungkapkan lewat lirik lagu serta tingkah laku seronok dengan cara menghujat dan berbicara tentang kekerasan. Musik sangar ini lahir, sekitar tahun 1960-an, didasari oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perwujudan dari “Ide Karya Seni Total” yang banyak dipengaruhi oleh aliran dadaisme di Amerika, yang mencakup teater dan juga musik. Pada saat itu, para seniman melihat dan merasa tidak ada ketenteraman dalam berkarya hingga kemu-dian membuat sebuah gerakan kesenian yang berkonsep seni anti seni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Ciri musik underground juga tidak terlepas dari munculnya kaum punk di Inggris sekitar tahun 1975-an. Kaum proletar yang merasa tersisih melakukan reaksi yang tidak baik terhadap kemapanan masyarakat kota London yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sibuk bekerja. Inilah yang membuat mereka merasa tidak puas, kecewa, merasa terjepit, frustasi, dan tersingkir. Hingga muncul patriotisme kelas menengah dalam lingkungan para pekerja kasar. Mereka menciptakan pembaharuan dan kelasnya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Afrizal Malna, seorang penyair kenamaan Indonesia, mengungkapkan kemunculan musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; berada di luar timbangan estetika. Kemunculannya memberikan kejutan bagi dinamika estetika musik yang dirasakan stagnan. Dengan kata lain, jika estetika terlalu mengganggu kreatifitas, bagaimana jika estetika tersebut dihancurkan saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Kelahiran musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; sendiri sebenarnya ditandai oleh dua situasi. &lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; se-bagai bentuk perlawanan terhadap aturan musik dengan cara melahirkan teori-teori nada yang cenderung brutal. &lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; sebagai kema-rahan terhadap keputusan-keputusan politik dengan cara menghujat lewat lirik dan simbol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Menurut Camel, pembetot bas grup musik &lt;i&gt;Damnation&lt;/i&gt; asal Jogjakarta, aliran-aliran ekstrem itu menjadi lebih semarak lagi pada tahun 1980-an. Di tahun-tahun inilah perkembangan musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; bisa dikatakan telah menemukan ‘bentuknya’. Mulai dikenal banyak orang dan penggemarnya semakin bertambah. Terbukti dengan makin banyaknya pentas musik &lt;i&gt;underground&lt;/i&gt; dan massanya yang tampil dengan ciri khasnya yaitu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;simbol-simbol penghujatan lewat pakaian, tatto yang menghiasi badan dan wajah atau gambar-gambar simbolis pada kaos yang mereka pakai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Juga dinamakan &lt;i&gt;underground &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;karena dia &lt;i&gt;indie lable. &lt;/i&gt;Artinya,&lt;i&gt; &lt;/i&gt;tidak terikat dengan salah satu perusahaan musik apa pun alias berdiri sendiri&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; “Jadi, kalau kita mau &lt;i&gt;demo&lt;/i&gt; (rekaman album), ya harus punya alat rekam sendiri,” ungkap Camel&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sambil memegang gitarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.75pt;" lang="SV"&gt;Menjadi grup band alternatif (underground) memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebuah pilihan. Mungkin, pada awalnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadikan komunitas&lt;i&gt; underground&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tempat untuk nongkrong saja. Ketika di dalamnya mereka temukan ba-nyak kebebasan, yang tidak mereka temukan di luar, maka jiwa pemberontakan yang selama ini tersumbat bisa mereka ungkapkan. Dari sini kemudian lahir ekspresi kebebasan yang mereka teriakkan lewat syair-syair keras dalam lagunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/222442931174427640-1264298457299471608?l=ridhoalhamdi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/feeds/1264298457299471608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=222442931174427640&amp;postID=1264298457299471608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1264298457299471608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/222442931174427640/posts/default/1264298457299471608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ridhoalhamdi.blogspot.com/2008/01/underground-musik-cadas-berkelas-bebas_04.html' title='Underground: Musik Cadas Berkelas Bebas'/><author><name>Ridho Al-Hamdi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02726183125130201333</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R4HGkUnBsSI/AAAAAAAAAEo/OcXbla4mm10/s72-c/Dune+n+guitar5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-222442931174427640.post-6773330637749141787</id><published>2007-12-28T14:57:00.000+07:00</published><updated>2007-12-28T15:16:55.777+07:00</updated><title type='text'>Cerpen The Power of Love</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R3SwzEnBsRI/AAAAAAAAAEg/-6KJlZxmHcI/s1600-h/rima3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_lNyOHjpiAUw/R3SwzEnBsRI/AAAAAAAAAEg/-6KJlZxmHcI/s200/rima3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148934665448567058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;        Aku memiliki dua orang sahabat, Indra dan Lois. Kami bertiga menjadi siswa di sekolah favorit. Nama sekolahnya Abadi. Di sana kami tinggal berasrama. Hari pertama sekolah, kami dikumpulkan di aula. Pak Joni, kepala sekolah kami, berpidato tentang peraturan-peraturan sekolah. Maklum, sekolah ini salah satu lembaga yang diamanatkan negara untuk mendidik calon pemimpin bangsa. Jadi banyak aturan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Anak-anakku yang berbahagia. Perlu kalian ketahui. Sekolah ini adalah lembaga untuk mendidik calon pemimpin bangsa. Banyak peraturan yang tidak boleh dilanggar, seperti pacaran, minum-minuman keras, keluar masuk asrama tanpa izin, bolos sekolah, dan beberapa peraturan lainnya. Jika melanggar, hari itu juga kalian akan dikeluarkan dari sekolah ini tanpa alasan apa pun."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Suasana menjadi hening. Kami membayangkan betapa sadisnya sekolah ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Malam tiba. Indra sedang membaca koran Kompas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ngiiiek&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; suara pintu tanda kedatangan Lois. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;"Halo," sapanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Sesaat kemudian Lois melihat foto di atas meja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Waw, ini foto siapa, Zis?" tanya Lois&lt;i&gt; &lt;/i&gt;meleledek. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Eh, jangan ambil foto itu!" marah Indra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemudian aku datang, ikut rembuk. Dengan agak kaget, Lois memperlihatkan kepadaku foto seorang gadis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Lihat nih, teman kita sudah punya pacar," ledeknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Settt," rebut Indra. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Dia bukan siapa-siapaku. Hanya sahabat di saat kecil. Reni namanya. Kami sangat akrab, saling berbagi suka dan duka. Pulang pergi sekolah selalu bersama. Tetapi karena orang tuanya pindah kerja, rumahnya juga ikut pindah. Sekarang dia entah di mana."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan tidak sadar Indra mengusap air matanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;"Maaf, ya, Ndra," ucap kami serempak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Kring, kring, kring," bunyi bel berdering, waktunya tidur. Kami mengambil selimut masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hari kedua adalah hari pertama kami masuk ke kelas. Jaraknya tidak jauh dari asrama. Sekitar 200 meter. Sebelum masuk kelas, aku melihat seseorang sedang mengambil buah mangga yang jatuh. Aku mengejarnya. Dia lari menjauhiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Kena kau," batinku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kutarik jubahnya dan terlepas. Ternyata dia seorang gadis yang cantik. Kupegang tangannya dan kutatap wajahnya. Namun, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Lis, Lisna… ayo cepat!" teriak salah satu temannya dari kejauhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Auw, auwww," jeritku ketika tangan kananku digigit gadis itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Lisna…," ucapku dalam batin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Gadis itu lari dan menghilang dari tatapanku. Kulanjutkan langkahku menuju kelas dengan masih meninggalkan beberapa pertanyaan. Setiba di kelas aku bercerita kepada Indra dan Lois. Semua tertawa terpingkal-pingkal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Kring, kring," bel berbunyi tanda pulang ke asrama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Malamnya, Lois pergi mencari makan di dekat stasiun. Dia duduk termenung sambil menegukan teh panas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Tut, tut, tut," suara kereta api dari kejauhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tampak di seberang jalan rel seorang gadis sedang berdiri sendiri. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Benar. Setelah kereta api lewat, gadis itu pergi. Lois nampak kebingungan dan bertanya kepada Baba, penjaga stasiun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Siapa gadis itu, Baba?" tanya Lois. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;"Dia Susi. Anak Pak Camat. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Rumahnya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;nggak jauh dari sini," jelas Baba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lois membayangkan betapa anggunnya wajah gadis itu hingga tak sadar sudah larut malam. Selesai membayar makanan, Lois kembali ke asrama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hari-hari selanjutnya kami belajar di sekolah seperti biasa. Suatu ketika, tiba-tiba seorang bertubuh tegak, tampan, dan berkacamata datang dengan membawa bunga mawar. Entah apa maksudnya. Namanya Pak Rizal. Dia datang ke sekolah ini untuk menjadi pengajar ekskul musik, biola. Setelah melalui perbincangan dan perdebatan yang cukup lama dengan kepala sekolah, Pak Rizal diterima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Tetapi dengan satu syarat," tegas Pak Joni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Anda tidak boleh merubah peraturan yang sudah berlaku sejak 25 tahun lalu. Ingat, saya hanya memberi satu kesempatan untuk menarik minat siswa. Ketika istirahat, di situlah anda beraksi. Jika tidak ada yang datang, dengan rasa hormat kami mempersilahkan anda meninggalkan sekolah ini."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sudah hampir 30 tahun sekolah ini dikelola oleh Pak Joni dengan peraturan-peraturan ketatnya. Para alumninya menjadi orang sukses. Ada yang menjadi menteri, pengusaha, ilmuwan, agamawan, penulis, wartawan, pedagang sukses, dan guru teladan di berbagai sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Esok hari, Pak Rizal siap untuk memainkan biola kunonya di aula terbuka dekat taman sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Oke, semua kursi dan meja sudah siap," batinnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Kring, " tanda bel istirahat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan penuh harap Pak Rizal menggesek biola. Menggesekknya dengan mata tertutup. Aneh bin ajaib, 25 orang telah duduk sesuai dengan kursi yang disediakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Terima kasih," ucapnya setelah membuka mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Apakah kalian semua ingin bermusik denganku?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Iya, Pak," jawab semua anak serempak, termasuk aku, Indra, dan Lois.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sela-sela latihan kunci dasar, Pak Rizal bercerita tentang musik dan cinta. Kami tertegun dan takjub.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Coba kalian lihat gerbang itu," tunjuknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Bayangkan kalau di sana ada gadis impian kalian masing-masing."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Semua siswa tercengang. Aku, Indra, dan Lois tetap menatap gerbang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"&lt;i&gt;Ssttt&lt;/i&gt;, diam. Di balik gerbang itu ada gadis pujaan kalian masing-masing. Dobraklah untuk mendapatkan mereka."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami berlari menuju gerbang dengan tidak sadar. &lt;i&gt;Hiaaa&lt;/i&gt;, rantai gerbang putus. Kami puas, karena sesuatu yang ingin kami dapatkan tercapai, walaupun hanya khayalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sorenya, Indra pergi ke Shopping. Tiba-tiba ia melihat gadis yang dikenalnya sedang belanja sayuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Reni?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Kamu Indra ya?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Ya Allah, sudah lama kita nggak ketemu. Main ke rumahku, yuk. Aku kangen banget sama kamu," ajak Reni dengan senang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Oke deh."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di rumah, mereka saling bertukar cerita yang tak menentu arahnya. Wajarlah, namanya juga orang kangen, pasti ngomongnya banyak banget.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di hari berikutnya, Lois pergi ke stasiun untuk menjumpai gadis impiannya dan berkenalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Hai, namaku Lois. Kamu siapa?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Aku Susi."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perbincangan selanjutnya mengalir bak air dari hulu ke hilir. Tak terasa sudah dua jam lewat. Gelak-tawa mereka lalui. Hari semakin sore. Akhirnya, Lois pamit pulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sorenya aku pergi ke sebuah cafe. Di sana aku bertemu Lisna, gadis yang menggigit tanganku beberapa waktu lalu. Percakapan kami lalui cukup lama. Mulai dari minta maaf, ngomongin sekolah, keluarga, sampai cita-cita masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Malam semakin dekat. Aku pamit kepada Lisna untuk pulang ke asrama. Setelah sampai di asrama kami bercerita tentang pujaan hati masing-masing. Tawa dan sedih kami lalui dengan gembira hingga akhirnya tertidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa hari kemudian, Indra pergi ke toko untuk membeli bunga buat Reni. Tiba-tiba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"&lt;i&gt;Sittt&lt;/i&gt;," suara mobil berplat 1085 RA menghampiri Reni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Hai sayang, kita jalan-jalan yuk," ajaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dengan agak kecewa Indra menjatuhkan bunga dari genggamannya. Ia menyadari kalau Reni sudah punya kekasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;"Ayo, Zis, ikut kami," ajak Reni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Ah, &lt;i&gt;eng…enggak&lt;/i&gt;. Pergilah kalian berdua," jawab Indra gugup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena hatinya terbalut rasa luka, Indra segera pulang ke asrama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sorenya, jam empat, Lois maen ke rumah Susi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES-MX"&gt;Dia memulai pembicaraan dengan cukup romantis. Dikeluarkan syair-syair Gibran serta puisi buatannya sendiri, hingga Lois mengungkapkan isi hatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&g
