00.08

Partai Politik Islam: Teori dan Praktik di Indonesia


Judul: Partai Politik Islam: Teori dan Praktek di Indonesia
Penulis: Ridho Al-Hamdi
Penerbit: Graha Ilmu, Yogyakarta
Terbitan Pertama: 2013
Harga: Rp. 64.000,-

Diskursus tentang partai politik Islam di Indonesia tak lekang ditelan zaman sejak negeri ini belum merdeka hingga sekarang. Bahkan perjuangan kemerdekaan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan politik Islam, begitu juga setelah kemerdekaan. Sebagai negara dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim di dunia, komunitas Islam menjadi kekuatan tersendiri di Indonesia untuk meraih kursi kekuasaan dan menjadi pemimpin politik.

Pada setiap pemilu, perolehan suara partai Islam selalu diperhitungkan oleh berbagai kalangan. Buku ini secara utuh mengulas tentang partai politik Islam dalam sejarah panggung politik Indonesia (sejak pra kemerdekaan hingga era Reformasi) yang ditinjau dari segi teori maupun prakteknya. Penulis mampu menghadirkan data akurat serta analisis yang tajam dan mendalam.

Cocok menjadi bacaan bagi dosen, mahasiswa, peneliti dan masyarakat umum yang konsen dengan kajian Islam dan politik  serta dapat menjadi bahan evaluasi bagi para politisi maupun anggota legislatif terutama yang berasal dari partai Islam.

14.18

A Kyai Who Don’t Desire to Wed For A Second Time

A friend, who frequently reads this rubric, grumbles to me trough a phone cell.

“You don’t write only big cases around politics in this country. Although you write various topics on corruption, illicit timber industry, fuel oil smuggling, nomination toward legislative position or rice import that inflicted a loss upon the farmers, the result is nothing! We are afraid the writing only makes crime executors become an invulnerable and more vicious person.”

“So, what I should write?”

“Why you ask me? But, it’s ok. I propose to you to write on family life or whatever you want. Fundamentally, you should write on human interest topics. I bore with your views on the corruption crime. It has neither impact nor influence!”

I more or less get annoyed when I hear the complaint of my friend. After I am silent for a while, I assume that the complaint is not wrong. Many kinds of writings give critics to all corruption perpetrators, but the effect is naught.

“Ok, mate. I will write other topics.”

I think for a few minutes.

“How do you think if I write on a kyai kampung?”[1]

“I can guess the article that you will write either on a kyai who has obstacles in looking for finances to build his pesantren[2] or on his political interest.”

“No both of them. I will portray on the commitment of the kyai to his wife.”

“Okay. I wait to read it. Please, write!”

I abruptly ask to myself why I should write something only to give a pleasant to my friend. Because I promised, I eventually write it. This is an extremely true story. The kyai is a principal in the small pesantren, around 50 km western of my house. He is about 40 years old. He has married for decades, but he not obtains yet a child wholly. He seems not regret for his circumstance. Many other kyai suggest him to marry for a second time to get descents. To respond these advices, the kyai only gives a smile. Because of his firmness, one day he ever invited by another kyai to visit his girl pesantren. After they encircle the pesantren, the host chats with the kyai each other.

“How do you think?” the host said.

“Very good. Your pesantren can develop fast.”

“I don’t ask it. Have you found the proper couple?” the host adds.

The kyai suddenly stuns, but he can understand immediately. Actually, the host gives him a chance to select a wife candidate among the host’s girl santri.[3]

“So, how do you think, Kyai?”

Alhamdulillah (All praises to Allah).”

“Good. So, have you found her? I will maintain everything soon.”

“No, Sir. I don’t see anything except new buildings in the pesantren a while ago.”

“What are you doing here?”

“Forgive me. Allow me to follow the Prophet’s attitudes toward his first wife.”

“What did you mean?”

“I think that you know. All kyai also know that the Prophet much loves his first wife even she was 15 years older than the Prophet.”

“Aye, we absolutely know it.”

“So, you also know that because of his deep love, the Prophet not marry for a second time during his first wife still life.”

“That’s right. We definitely know it too.”

Alhamdulillah… Although my knowledge is not excellent, I quite want to follow the Prophet’s attitudes. He not gets married once more during his first wife still life.”

“Is the Holy Qur’an allow us to wed with two, three, four and more of the wife, isn’t it?”

“Aye, all of we understand and believe to the verse rightness. But, I only want to follow the Prophet, because he is the only reviewer of Al-Qur’an. In fact, he wed again after his first wife dead.”

This is a story on the kyai kampung that he has a commitment to his wife. A model story. Lastly, hopefully my friend not grumbles again to me.

Source: 
Ahmad Tohari, Rubric of Resonansi, Republika Daily  


[1] Kyai kampung is a label for the traditional religious elite in Islam and he usually resides in the village.
[2] Pesantren is a traditional Muslim school.
[3] Santri is a student at traditional Muslim school.

18.14

Menuju Indonesia Makmur


Judul: Menuju Indonesia Makmur
Penulis: Drs. M. Afnan Hadikusumo
Penerbit: Cerahmedia, Yogyakarta
Cetakan 1: Januari 2013
Harga: Rp. 39.000,-
Tersedia di TB. Gramedia, TB. Togamas, dll di Seluruh Indonesia

MENUJU INDONESIA MAKMUR! Inilah cita-cita M. Afnan Hadisukumo, anggota DPD RI dari Provinsi DIY, terhadap negeri ini sebagaimana tercurahkan dalam tulisan-tulisannya. Sebagai seorang senator di republik yang berlimpah akan kekayaan alam, cucu dari Ki Bagus Hadikusumo (salah satu pendiri Indonesia) ini bertekad untuk berjuang demi kepentingan rakyat meskipun badai ada di hadapannya. Dengan gagasan-gagasannya, Indonesia harus terus diperjungkan untuk rakyat yang makmur dan sejahtera. Buku ini selain mudah dicerna, dilengkapi data akurat serta bait-bait puisi yang tak bisa dilepaskan oleh sosok penulisnya yang juga seorang pecinta sastra.

23.17

Demokrasi di Aras Lokal

Judul: Demokrasi di Aras Lokal (Praktek Politik Elite Lokal di Maluku Utara)
Penulis: Rusdi J. Abbas
Kata Pengantar: Ridho Al-Hamdi
Penerbit: Cerahmedia, Yogyakarta
Cetakan I: April 2012

Pasca lengsernya rezim Orde Baru, dinamika politik lokal kembali mencuat ke permukaan. Isu tentang desentralisasi dan otonomi daerah menjadi kajian menarik dalam dunia politik tanah air. Ilmuwan politik maupun para sarjana di bidang pemerintahan maupun politik berbondong-bondong mengkaji tema ini. Hal ini pula yang terjadi pada buku ini. Secara spesifik, kita akan mengetahui bahwa berbicara tentang dinamika politik lokal erat kaitannya dengan persoalan konflik elite yang tidak berujung pada kesejahteraan sosial. Dampaknya, biaya atau cost demokrasi menjadi mahal tapi kesejahteraan rakyat tidak terwujud. Kasus konflik elite lokal yang terjadi di Maluku Utara menjadi satu bukti, bahwa demokrasi tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Buku ini menggambarkan itu semua.

-oOo-

Buku ini menggambarkan secara detail dan kronologis tentang dinamika politik lokal yang ada di Maluku Utara. Cocok menjadi bacaan bagi mahasiswa ilmu politik dan ilmu pemerintahan, terutama mereka yang memiliki minat pada kajian politik lokal, politik etnis, dan politik aliran.
Ridho Al-Hamdi, Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan Fisipol UMY

12.29

MENJADI INSAN BERMARTABAT UNTUK BANGSA YANG BERMARTABAT

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd
Sidang Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Momentum agung kembali menghampiri kita, yakni Idul Adha 1432 Hijriyah. Hari Raya Qurban. Secara historis, hari ini merupakan peristiwa heroik yang diteladankan oleh panutan kita Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS. Pada hari ini, jutaan manusia, dari berbagai etnik, suku, dan bangsa di seluruh penjuru dunia, mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil, sebagai refleksi rasa syukur dan sikap kehambaan mereka kepada Allah SWT. Sementara jutaan yang lain sedang membentuk lautan manusia di tanah suci Makkah, menjadi sebuah panorama menakjubkan yang menggambarkan eksistensi manusia di hadapan kebesaran Allah Yang Maha Agung. Mereka serempak menyatakan kesediaannya untuk memenuhi panggilan-Nya, “Labbaika Allahumma labbaik, labbaika lasyarikalaka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak.”

Dalam kesempatan pagi hari yang mulia ini, izinkan kami menyampaikan khutbah tentang menjadi manusia yang bermartabat untuk bangsa yang bermartabat. Menjadi manusia yang bermartabat berarti menjadi manusia yang memiliki harga diri, tidak mudah diremehkan orang lain bahkan ditakuti lawan, serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, kita menentang segala bentuk kejahatan yang tidak memanusiaan manusia, seperti penjajahan dalam arti fisik maupun non fisik. Dalam pembukaan UUD kita telah dikatakan, bawah segala bentuk penjajahan di atas dunia tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sebagaimana. Karena itulah, menjadi pribadi yang bermartabat harus berani menegakkan dan menunjung tinggi nilai-nilai kebenaran di atas segala-segalanya tanpa pandang bulu.

Secara hakiki, menjadi manusia yang bermartabat merupakan proses menjadi insan yang bertaqwa. Insan yang bertaqwa adalah hamba yang mendekatkan diri pada Sang Khaliq dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena itu, derajat taqwa tidak memandang kaya atau miskin, presiden atau rakyat jelata, tampan dan cantik atau buruk. Posisi taqwa dapat diraih oleh siapa saja dan dari latar belakang sosial ekonomi apa saja. Allah SWT telah berfirman dalam QS. Al-Hujuraat ayat 13 yang berbunyi:

Yaa ayyuhannas inna kholaqnaakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnaakum min syu’uban wa qobaaila lita’aarofuu. Inna akromakum ‘indallahi atqookum. Innallaha ‘alimun khobiir. (Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu sekalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia derajatnya di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal).

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd
Ma’asyirol mu’minin wal mu'minaat raimakumullah

Jika kita merefleksikan tentang berbagai peristiwa nasional akhir-akhir ini, kita seolah sulit menemukan sosok manusia yang bermartabat seperti mencari setetes embun di tengah padang pasir yang gersang. Runtuhnya orde otoriter dan berganti dengan orde reformasi diharapkan membawa pada perubahan. Tetapi itu semua seperti dongeng belaka di siang hari. Sudah lebih dari satu dekade orde reformasi berjalan, kita hanya disajikan berbagai sinetron dan sandiwara politik yang kian lama semakin membodohi generasi muda. Para pemimpinnya bukan memberikan sikap teladan, tetapi sibuk memoles diri dengan sejuta atraksi. Kita bisa melihat betapa sibuknya mereka melakukan lawatan studi banding ke berbagai negara di tengah rakyat sedang menderita. Sebagian petinggi di parlemen tetap ngotot melanjutkan pembangunan gedung senayan menjadi gedung supermegah. Sejumlah kasus korupsi yang mahadahsyat yang dilakukan oleh segelintir orang telah juga menggegerkan seantero negeri ini. Begitu juga dengan bentuk pelemahaman terhadap KPK sebagai simbol penegak keadilan.

Realitas demikian semakin meyakinkan kita pada syair lagu ciptaan Franky Sahilatua yang berjudul “Perahu Retak”: Dalam salah satu syairnya dikatakan:

… Tapi ku heran, di tengah perjalanan, muncul lah ketimpangan / Aku heran, aku heran, yang salah dipertahankan / Aku heran, aku heran, yang benar disingkirkan …Tanah pertiwi, anugerah ilahi, jangan ambil sendiri / Tanah pertiwi, anugerah ilahi, jangan makan sendiri / Aku heran, aku heran, satu kenyang seribu kelaparan / Aku heran, aku heran, keserakahan diagungkan

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd
Jamaah kaum muslimin wal muslimaat yang dimuliakan Allah

Menjadi manusia yang bermartabat di era yang serba antah berantah ini bagaikan mencari satrio piningit yang ditunggu-tunggu ummat. Karena itu, tidak ada kata lain, untuk menjadi manusia yang bermartabat harus dimulai dengan kerja keras. Ada tiga cara untuk menjadi kaya. Pertama, lahir dari keluarga raja. Namun, tidak banyak dari kita yang lahir dari kelas bangsawan. Jika kita menempuh dengan cara ini, maka sedikit orang yang akan menjadi kaya. Kedua, menikah dengan keturunan raja. Sayangnya, kerajaan bukanlah mesin produksi yang setiap saat melahirkan anak dan dinikahkan dengan banyak manusia. Cara kedua ini tidak dapat ditempuh oleh semua manusia, karena kebanyakan dari kita tidak dapat menikah dengan keturunan raja. Ketiga, bekerja keras. Hanya dengan cara inilah kita bisa menjadi orang kaya. Dengan kerja keras, kita semakin menghargai hasil jerih payah dari setiap tetes keringat kita. Dari kerja keras pula, kita yakin bahwa manusia dapat meraih hasilnya karena dia telah melewati segala rintangan yang dihadapinya.

Allah SWT sendiri sudah berkali-kali mengingatkan pada ummatnya, bahwa Dia tidak akan pernah membebankan pada manusia kecuali manusia itu mampu melakukannya, sebagaimana firmannya: Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha (QS. Al-Baqarah: 286). Karena itu, sesulit apapun pekerjaan yang kita lakukan, kita harus yakin bahwa kita masih dapat melakukannya. Jangan pernah mengatakan “tidak” sebelum melakukannya. Hal yang demikian diperkuat juga dalam firman-Nya QS. Al-Insyirah ayat 5-6 yang berbunyi: Fa inna ma’al ‘usri yusraa. Inna ma’al ‘usri yusraa (Artinya: Maka sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan itu ada kemudian. Sekali lagi, bersamaan dengan kesulitan terselip kemudahan). Karena itu, mereka yang menyerah adalah orang-orang yang tidak pandai bersyukur akan karunia yang Allah berikan kepada mereka. Kita tidak sadar, masih banyak orang yang memiliki kelemahan fisik, namun mereka tetap berusaha bahkan berprestasi hingga di tingkat internasional. Allah sendiri sudah mengingatkannya dalam QS. Ibrahim ayat 8 yang berbunyi:

Lain syakartum laa aziidannakum walaain kafartum inna adzabii lasyadiid. (Artinya: Jika engkau bersyukur, maka Aku akan menambahkan lagi kepadamu. Sedangkan jika engkau kufur dari nikmatku, sungguh adzabku sangat pedih).

Karena itu, setinggi apapun jabatan, kita harus tetap bersyukur pada Sang Khalik dan tetap bersajaha sebagaimana yang dicontohkan oleh Sultan Hamengkubuwono IX seperti dikisahkan dalam buku Tahta Untuk Rakyat. Suatu ketika (Tahun 1946) Sultan mengendarai mobil jip-nya dari Sleman menuju Jogja. Di tengah jalan, seorang wanita menyetop Sultan dan meminta untuk mengantarkannya ke Pasar Kranggan di Jogja. Sultan kemudian turun dan menolong wanita itu mengangkat barang dagangannya ke atas jip-nya dan mengantarkannya hingga sampai ke tujuan yang dimaksud. Setelah sampai, Sultan membantu menurunkan barang-barang dagangan milik wanita tersebut. Kemudian, ketika wanita itu ingin membayar ongkos, Sultan menolak, terus pergi. Setelah pedagang itu tahu kalau yang mengantarkannya adalah Ngarsa Dalem, ia langsung jatuh pingsan.

Kisah ini menunjukkan, sekalipun seorang raja tetapi tetap memberikan pertolongan kepada sesama manusia dan bahwa perubahan itu harus muncul dari diri kita seperti sebuah ungkapan dari Uskup Anglikan:

“Di kala aku masih kanak-kanak yang penuh imajinasi, aku berkeinginan untuk merubah dunia. Kemudian aku berpikir bahwa itu terlalu sulit buatku. Maka aku turunkan niatku untuk merubah keluargaku saja. Ternyata itu sulit juga bagiku. Dan tatkala aku tiba di pembaringan, aku menyesal mengapa dahulu aku tidak merubah diriku saja, karena dengan aku merubah diriku maka keluargaku, masyarakatku, negaraku bahkan dunia ini pun akan meniru diriku dan mereka akan merubah semuanya.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillhil hamd
Hadiri Jamaah Shalat Iedl yang dirahmati Allah

Dari sini kita bisa memahami, bahwa Islam harus dihadirkan sebagai agama yang dapat membentuk manusia yang bermartabat. Jika manusia satu dengan manusia yang lain sudah saling memupuk dirinya menjadi insan yang bermartabat, kita yakin negeri ini akan menjadi negeri yang bermartabat di hadapan negara yang lain. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kita harus dapat menunjukkan panji-panji Islam yang mulia, bukan justru wajah anarkisme sebagaimana kritik Muhammad Abduh, cendikiawan Mesir: Al-Islamu mahjubunun min muslim (Islam itu tertutup bagi umat Muslim sendiri). Islam semakin menjauh dari umat Muslim karena umat Muslim terlalu dangkal dalam memahami nilai-nilai ajaran Islam.

Sebagai penutup, mari kita berdoa bersama-sama kepada Allah SWT agar penduduk negeri ini menjadi insan yang bertaqwa baik di hadapan-Mu maupun di hadapan umat yang lainnya:

Ya Allah Pemilik Alam Semesta… Setiap saat kami merasa tidak dapat melaluinya. Kami merasa sendiri dan kehilangan arah. Dunia terasa gelap adanya. Kami tidak tahu jalan mana yang kami dapat melewatinya.

Ya Rahman Ya Rahim… Setiap detik kami telah melakukan banyak kesalahan. Kami merasa tidak bisa bertaubat. Kami bingung terhadap setiap keputusan yang telah kami perbuat. Semua seolah menghantui pikiran dan jiwa kami. Namun, Engkau selalu berpesan: “Jangan pernah menyerah dan putusa asa. Aku selalu ada di sisimu”.

Ya Alim Ya Hakim… Sekalipun kami menjauhi-Mu, engkau selalu dekat dengan kami bahkan lebih dekat dari urat nadi kami. Bimbinglah kami dan jangan biarkan kami menuju jalan kesesatan. Hanya engkau pemberi petunjuk.

*) Naskah ini disampaikan pada Khutbah Idhul Adha 1432 H di Halaman SMK Muhammadiyah 2 Muntilan Magelang, 6 November 2011 M.

11.47

Islam and Politics in the Era of Democracy: The Variants of Political Elite in Muhammadiyah on the Dynamics of Islam Politics of 1998-2010

Politically, the collapse of the New Order regime gives opportunities for Islamic interest groups to re-debate the dynamics relationship between Islam (religion) and politics (state). As the political power of moderate group, Muhammadiyah’s elites have strong influence in determining the pattern of Islam-politics relationship. Muhammadiyah’s elites who sat as both executive and legislative position mostly becomes the mediator of various fragmented political power. It can be seen from the facts in which happened recently, for instance, the emergence of the Islamic political parties, the emergence of supporter of the Jakarta Charter as the state principle, and terrorism issue nationwide-which always attached a term of “jihad” as Islamic ‘tradition’ since the birth of Islamic society.

This topic is surely interesting subject to study in particular when the discourse of relationship between Islam and politics has been marginalized along the New Order era by imposing the only legal principle of Pancasila as state ideology within society. This study describes the politics of stream and charismatic leadership of civil society organization by taking a case study of Muhammadiyah. The argument was built in relation to the fragmented political behavior of Muhammadiyah’s elite (period 1998-2010) in response to Islam and political issues. According to Putnam, the characterristic of elites is determined how they influence the decision making process. In very same way, elite here can be understood as Muhammadiyah’s cadre those who officially become leader in Central Board of Muhammadiyah both in Yogyakarta and Jakarta. They generally have strong influences to organizational polices. Moreover, in order to conduct data and information I use a qualitative approach as method-logy of research. The techniques of collecting data are by conducting interviews and analyzing documentation. The collected data then are analyzed and interpreted descriptively to get reliable and validity conclusion.

The research findings indicate that politics of stream and charismatic model of leadership in Muhammadiyah doesn’t work effectively. It was proven by some evident by seeing the diversities of political attitude of Muhammadiyah’s elites at certain time. The elite’s attitude alone can be classified into four variations. First of all is the transformative-idealistic-the political attitude which emphasizes on Islam thought with humanity vision in order to resolve social problems. Second is moderate-idealistic-the political attitude which believes in political Islamic is the inevitably requirement. This attitude is not in the extreme position neither right nor left. Third is a realistic-critical-the political attitude which emphasizes on substantial values rather than symbolic values. They avoid violence and formalistic way as the means of propaganda. Last but not least is an accommodative-pragmatic-the political attitude which easily cooperates to everyone and is not in one particular extreme attitude. This attitude is looking forward to seeking political opportunities to attract sympathy from Islamic groups.

Finally, the variations of elite attitude were deeply influenced by many causes that could be categorized, at least, into two main causes. First is sociological background, such as education, employment, personal relation, and individual political orientation. Second is the organizational factor, such as vision of Muhammadiyah, Muhammadiyah political statements, and historical continuity. In short, each factor basically has its own degree of influence in determining elite attitude related to the political issues.


Ridho Al-Hamdi, MA
This executive summary submitted in partial fulfillment of the requirement for Master Degree (MA) in Department of Political Science, Islamic State University of Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Advisor is Dr. Dodi Ambardi, MA and Co-Advisor is Dra. Ratnawati, SU.

13.39

Epistemology of Occidentalism: Study on Hanafi's Thoughts

By Ridho Al-Hamdi

More than two centuries that orientalism was able to construct itself as a civilization has strong power than others. It often called “The West”. While “The East” constructed as a weak civilization and still in inferior position. The dichotomist category causes various critiques from some scholars. Therefore, we need an academic study to balance of orientalism studies. The emergence of Occidentalism as a modern theory will criticize the West (European awareness) from non-West perspective. As a result, there is a balancing analysis on the civilization. To some extends, this study will focus on Hassan Hanafi’s thoughts particularly on al-Turats wa al-Jadid (the legacies and the modern). Hanafi is an Egypt Scholar who was graduated from Sorbone University of France.

Occidentalism still becomes a modern science that has not fundamental orientation yet. Therefore, I believe that we must analyze it deeply and philosophically. There are some questions must be answered here, such as how is standardization on the truth for Hanafi’s Occidentalism? From which the sources of the Occidentalism obtained? How are the methods for studying on the Occidentalism?

Methodologically, this study uses literature references to explain on the epistemology of Hanafi’s Occidentalism. The prime source is a book with title Muqaddimah fi ‘Ilmi al-Istighrab – Introduction to Occidentalism (Cairo: al-Dar al-Faniah, 1991). In addition, this study uses secondary sources that can to complete the whole analyses. The method for data collecting uses historical continuity, taxonomy analysis as well as interpretation.

Above all, the epistemology of Hanafi’s Occidentalism consists of sources, methods, and tolo ukur the truth. The sources of this study is Europe awareness that consists of three steps i.e. construction, structure and the fate of European awareness. This study use two methods i.e. dialectic-historical and phenomenology. For the standardization on truth of this study consists of al-Ana (Self) as a subject from al-Akhar (the others), removing the myth on the cosmopolite civilization, European awareness as an object of study, the self liberation as well as the equality of civilization.

The sources of European awareness consist of two things, the published sources and the unpublished sources. The published sources are Greek-Roman and Jewish-Christian. While the unpublished sources are old East and European territorial. The structure of European awareness can be seen into some ideologies such us Nationalism, Atheism, Fascism, Zionism, Nazism and Racialism.

This executive summary submitted in partial fulfillment of the requirement for Bachelor Degree (S1) in Department of Theology and Philosophy, Islamic State University of Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Advisor is Dr. Alim Roswantoro and Co-Advisor is Dr. Zuhri.