13.07

Saatnya IRM Kembali Ke Pelajar

Sebentar lagi, salah satu ortom Muhammadiyah berbasis pelajar dan remaja akan menghadapi perhelatan akbar bernama Muktamar yang ke-15 di Medan, Sumatera Utara. Acara yang digelar selama lima hari ini bukan hanya sekedar untuk berlibur ke kota Batak. Tetapi pada momen inilah, bagaimana eksistensi IRM dalam kancah global kembali dipertanyakan.

Organisasi yang sudah berumur 45 tahun sejak kelahirannya 18 Juli 1961 ini telah banyak melahirakan tokoh, potikus, ilmuwan, atau sekedar guru dan pendidik biasa. Namun lain dulu lain sekarang, IRM harus mencoba kembali merefleksikan eksistensi dirinya pada era sekarang dengan melihat apa yang telah diperbuat pada masa lalu sehingga bisa membuat sejarah pada masa yang akan datang. Era di mana, struktur sosial semakin mengekang keberadaan masyarakat sekitarnya. Lalu apa yang telah diperbuat oleh IRM selama ini? Siapa yang diperjuangkan? Dan siapa yang dilawan?

Pertanyaan di atas telah menggugah IRM khususnya para aktivis yang terlibat di dalamnya untuk bangun dan bangkit dari tidur panjangnya. Bangkit tidak sekedar diam dan melakukan aktivitas apa adanya. Tetapi bangkit untuk kembali membangun dan memperbaiki bangunan-bangunan yang selama ini sudah mulai rapuh. Kita mencoba mempertanyakan dan menguji ulang, masih relefankah strategi yang telah diperjuangkan IRM? Apa bangunan-bangunan yang perlu diperbaiki, dipertegas, dan dikokohkan? Meminjam istilah filsafat, apa epistemologi gerakan yang telah digunakan IRM selama ini?

Dari pertanyaan di atas, akan melahirkan pula pertanyaan, siapa basis yang akan diperjuangkan oleh IRM? Masih relevankah dasar-dasar gerakan dan AD/ART IRM? Bagaiaman dengan rutinitas program yang selama ini telah dijalani IRM, sesuaikah dengan maksud dan tujuan IRM atau malah semakin menjauh karena organisasi ini sangat besar tanpa ada kontrol?

Sejak era reformasi 1998, kondisi bangsa sudah mulai berubah. Dulu, perjuangan IPM (sebelum berganti menjadi IRM) masih di bawah tekanan pemerintah rezim orde baru. Karena itu, tidak banyak kebijakan yang bisa diperbuat oleh IRM, sehingga IRM hanya memiliki semboyan Tiga Tertib: Tertib Ibadah, Tertib Belajar, dan Tertib Organisasi. Kini, berbagai macam gerakan bisa berbuat dengan sebebas mungkin melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat. IRM pun harus kembali berpikir ulang, sudahkah gerakan yang berbasis pelajar ini memperjuangkan rakyatnya?

Kelahiran IRM tidak terlepas dari semakin banyaknya sekolah-sekolah Muhammadiyah yang berkembang sehingga Muhammadiyah sangat memerlukan organisasi pelajar untuk membentengi akidah para pelajar Muhammadiyah dari serangan orang-orang komunis pada saat dulu (1960-an). Karena itu, bukan menjadi perdebatan lagi kalau basis IRM adalah pelajar dan hingga kini pun tetap pelajar. Hanya saja namanya yang berubah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah karena desakan pemerintah saat itu, tahun 1992, untuk tidak boleh menggunakan kata “pelajar”.

Penulis kira, muktamar di Medan nanti menjadi momen yang paling berharga bagi IRM untuk melakukan pembelaan kepada basis utamanya, pelajar. Ini bukan berarti IRM harus back to IPM. Selama ini, IRM telah jauh dari realitas yang akan digarap. IRM tidak angakt bicara ketika ada persoalan naiknya BBM pada bulan Oktober 2005 lalu? Seharusnya IRM bisa membela basisnya. Silahkan BBM naik tetapi transportasi untuk pelajar Se-Indonesia tetap tidak naik atau bahkan ada keringanan. Tidak ada pembicaraan tentang hal ini. Persoalan UN beberapa waktu lalu, peran IRM terlihat kurang signifikan untuk mencoba melakukan perubahan pada level kebijakan. Padahal, menterinya orang Muhammadiyah. Seharusnya, menjadi lebih mudah bagi IRM untuk melakukan perubahan pad level kebijakan. Tapi hal ini tidak dilakukan lantaran apa yang diperjuangkan IRM tidak jelas.

Dalam maksud dan tujuan IRM telah tertulis, “Terbentuknya remaja muslim yang berakhlak mulia dan berilmu dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhoi oleh Allah Subahanahu wata’ala.” Point utama gerakan IRM adalah mewujudkan remaja muslim yang berkahlak mulia dan berilmu. Jika ada sesuatu apa pun yang tidak mendukung untuk mewujudkan remaja yang berdedikasi ke arah akhlak mulia dan berilmu maka itu adalah musuh IRM. Sebagai contoh, jika televisi tidak menunjang ke arah akhlak mulia dan berilmu, maka televisi menjadi musuh IRM dan harus diperangi.

Kesadaran Kritis dan Realitas Pelajar
Mejadi pilihan yang tepat jika paradigma kesadaran kritis sebagai ruh gerakan IRM di era sekarang. Kesadaran kritis dimaknai sebagai bentuk kesadaran tertinggi di antara kesadaran naif dan kesadaran magis. Lalu, kaitannya dengan gerakan IRM apa? IRM sebagai gerakan berbasis pelajar harus sadar kalau anggotanya sekarang banyak menjadi korban pada segala aspek, baik pada aspek sosial, potilik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Pada aspek sosial, pelajar yang suka tawuran langsung divonis sebagai destroyer/perusak kenyamanan. Padahal para pemvonis itu tidak tahu apa yang melatarbelakangi tawuran itu terjadi. Di bidang politik, pelajar hanya berfungsi sebagai makanan empuk ideologi-ideologi politik tertentu. Mereka hanya dijadikan pelengkap kampanye dan rela berjam-jam di bawah panasnya terik matahari. Mengecat badannya sesuai dengan warna parpol yang disegani, dan mengganti suara motor dengan yang lebih nyaring. Berharap mereka mendapat hiburan, kaos oblong, dan uang sebagai pencuci mulut.

Pada ranah ekonomi, pelajar menjadi santapan empuk para kapitalis. Mereka hanya mementingkan keuntungan pribadi dan menjerumuskan pelajar dengan segala bentuk rayuan untuk membeli produk-produknya tanpa pandang bulu. Pada akhirnya, budaya konsumerisme dan pop menghantui kehidupan pelajar kapan pun dan di mana pun mereka berada. Apalagi sekarang sudah ada sarana media massa sebagai salah satu cara para kapitalis meracuni pelajar dengan berbagai propaganda dan kampanye produk.

Kesadaran kritis yang diciptakan tentunya harus dilakukan setahap demi setahap. Para aktivis yang terlibat di dalamnya tentu harus dipahamkan terlebih dahulu dengan paradigma yang sedang diusung. Jika tidak demikian, ditakutkan para aktivisnya menjadi latah dengan kata-kata ”kesadaran kritis” hingga akhirnya malah menjadi anti-kritis.

Ada beberapa indikator sebuah gerakan atau seseorang dianggap kritis. Indikator ini tentunya meliputi aspek personal atau aktivis IRM maupun gerak langkah IRM sebagai organisasi. Pertama-tama indikator kritis ditandai dengan adanya upaya untuk sadar bahwa realitas sosial itu tidak tetap, tetapi dapat berubah-ubah menuju kondisi yang lebih baik. Ini adalah tugas setiap orang sebagai pemimpin di dunia ini. IRM pun harus memulainya sekarang. Kepekaan dan kepedulian adalah langkah selanjutnya sebagai bentuk konsekuensi dari sadar. Ia harus mampu memahami berbagai kontradiksi yang sedang terjadi di segala aspek. Peduli menunjukkan rasa tanggung jawab dan komitmen bahwa realitas sosial harus terus dirubah menuju kondisi yang lebih baik.

Pada akhirnya aksi/tindakan nyata merupakan langkah terakhir dari rangkaian tradisi kritis. Aksi merupakan bentuk keterlibatan yang sebenarnya dalam proses perubahan. IRM yang mewakili kaum pelajar harus menunjukkan sikap keberpihakannya dengan jelas. Keberpihakan itu tentunya tidak hanya dikerjakan oleh IRM sendirian, akan tetapi harus melibatkan semua komponen dalam suatu komunitas sosial yang memiliki tujuan yang sama. Misal, IRM bekerja sama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama (IPNU), dan LSM lain yang memiliki kepedulian terhadap dunia pelajar. Dengan demikian, gerakan IRM akan dipandang sebagai gerakan yang memiliki karakter visioner dan pelopor.

Agenda IRM ke Depan
IRM kembali ke pelajar, kiranya menjadi pilihan yang tepat bagi IRM yang sedang mengusung paradigma kesadaran kritis. Pelajarlah umat yang akan dibela oleh IRM. Kesadaran kritis terkait erat dengan hubungan struktur sosial dan kebijakan pemerintah. Untuk itu, banyak agenda yang nanti harus diperbincangkan oleh IRM pada muktamar yang ke-15 nanti. Agenda yang perlu diperbincangkan adalah fokus basis Gerakan IRM: pelajar atau remaja, kebijakan-kebijakan terkait dengan permusyawaran dan struktur IRM, program-program yang akan diperbincangkan, serta profil kader IRM.

Menjadi hal yang perlu diagendakan pula, persoalan keroposnya nilai-nilai ideologi Muhammadiyah yang tertanam pada jiwa para aktivis IRM. Sudahkan mereka benar-benar memahami dan menjalankan khittah perjuangan Muhammadiyah? Karena itu, proses ideologisasi di tingkatan internal IRM perlu dimassifkan, mengingat ini juga yang menjadi agenda persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya. Proses kaderisasi menjadi pilihan yang tepat. Pengkaderan Taruna Melati dari tingkat dasar hingga purna harus dioptimalkan sedemikian baik. Dari tingkatan pusat hingga ranting harus ada taruna melati. Karena, jika proses kaderisasinya mati maka tunggu saat kehancuran sebuah organisasi atau gerakan. Optimalisasi proses pengkaderan menjadi agenda penting yang sedang dijalankan oleh Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah periode sekarang.

Realitas ini tidak bisa dihindari atau ditinggalkan begitu saja. Muhammadiyah ke depan menjadi tanggungan generasi angkatan Muda sekarang. Hal yang lumrah ketika kaderisasi menjadi poin penting untuk segera digembar-gemborkan di segala level dari pusat hingga ranting. Bagaimana dengan IRM sekarang?

Ridho Al-Hamdi
Ketua Kader PW IRM DIY

(Pernah dimuat SM, 2006)

17.14

Wajah Yogyakarta Pascagempa

Hampir semua warga Daerah Istimewa Yogyakarta tidak tahu kalau tiba-tiba pada Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 5.54 (versi lain ada yang mengatakan 5.56) terjadi gempa tektonik dari Laut Selatan berkekuatan 5,9 skala Richter (versi Badan Meteorologi Universitas Gadjah Mada 6,2 skala Richter). Tanpa diduga, guncangan selama kurang lebih satu--dua menit itu langsung merobohkan ratusan rumah warga terutama di daerah Kabupaten Bantul.

Awalnya, warga sekitar mengatakan gempa itu berasal dari Gunung Merapi. Tetapi sebagian lain mengatakan gempa berasal dari arah pantai Selatan (Parangtritis). Akhirnya, warga yang dari selatan (Jalan Parangtritis) berlari menuju utara, dan yang dari utara (dekat Gunung Merapi) berlari ke selatan. Terjadilah keributan di tengah-tengah Kota Yogyakarta.


Warga menjadi kalut dan kacau. Semua kendaraan seketika itu banyak yang saling bertabrakan dan jatuh di jalanan karena guncangan gempa. Orang-orang yang berada dalam rumah, keluar menuju tanah lapang. Semua aktivitas terhenti.


Suasana mencekam dan teror psikologis menghantui warga. Menjadi suatu kewajaran karena baru kali ini gempa berkekuatan di atas 5,9 skala Richter menggoyang Kota Gudeg.


Suasana mencekam itu ditambah lagi dengan datangnya isu yang mengatakan akan datang tsunami. Orang-orang berteriak, "Ada air! Ada air!" Tetapi, itu hanyalah suara-suara tidak bertanggung jawab yang memperkeruh suasana.


Aliran listrik saat itu juga mati. Media koran tidak terdistribusikan dengan baik dan berita televisi tidak ada. Satu-satunya media yang menjadi pusat informasi adalah radio lokal Yogyakarta, Sonora FM.


Warga yang ingin menghubungi dan memberi informasi ke Sonora harus menggunakan telepon genggam. Itu pun tidak langsung nyambung, tersendat-sendat.


Warga menjadi trauma dengan gempa seperti ini, sehingga ketika mendengar suara mirip gempa langsung lari ke luar. Begitu seterusnya. Hal ini disebabkan adanya berita yang mengatakan akan ada gempa susulan.


Kondisi psikologis saat itu memang tidak baik. Bisa dikatakan gempa yang terjadi pada pagi hari itu adalah teror psikologis.


Kejadian ini memang tidak pernah diduga-duga. Sebenarnya, yang diperkirakan mengguncang Yogyakarta adalah Gunung Merapi. Tetapi, itulah alam, yang tidak bisa ditebak dengan tepat secara teoretis.


Pascagempa, Bupati Kabupaten Bantul, Idham Samawi, mengimbau seluruh warga Bantul dan DIY pada umumnya untuk tidur di luar rumah pada malam pertama pascabencana karena gempa susulan bisa terjadi tiba-tiba.


Warga harus selalu waspada dengan adanya gempa susulan. Secara teoretis, tsunami tidak akan terjadi.


Sebab, kalaupun terjadi, seharusnya 5--10 jam setelah gempa pagi harinya atau tsunami, akan ada gempa lebih kuat lagi dari gempa sebelumnya. Tetapi, kemungkinan kecil kalau ada gempa yang lebih besar. Ini berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi UGM.


Kondisi Yogyakarta rusak berat. Banyak bangunan yang roboh dan rata dengan tanah, terutama daerah Bantul. Sebab itu, semua lembaga pendidikan meliburkan diri. Bahkan, ada universitas yang akhirnya tidak melaksanakan ujian akhir semester lantaran kampusnya tidak layak lagi digunakan.


Warga di daerah Bantul banyak yang mengungsi ke daerah utara (Kota Yogyakarta dan Sleman). Bahkan, ada yang mengungsi ke daerah lain di luar DIY. Tindakan serupa pun dilakukan para pendatang, terutama mereka yang berstatus mahasiswa.


Banyak dari mereka yang akhirnya memutuskan balik ke kampung halaman. Alasannya, selain menghindar teror psikologis, kampus dipastikan libur. Sehingga tidak ada aktivitas lagi. Mungkin mereka berpikir, lebih baik pulang kampung saja daripada menjadi korban bencana.


Dari data terakhir, lebih 5.000 korban yang meninggal pascagempa tersebut. Sejak hari pertama, pihak televisi selalu memberitakan kejadian gempa tersebut.


Bantuan berbagai pihak berdatangan silih berganti. Banyak posko-posko yang didirikan baik oleh pemerintah, LSM, organisasi independen, ormas, orsospol, maupun warga sekitar. Di jalanan, banyak orang yang meminta-minta bantuan hanya untuk menyambung hidup mereka.


Mereka tak punya malu lagi, entah itu laki-laki maupun perempuan. Tujuan mereka hanya satu, bisa bertahan hidup.


Jalanan di daerah Yogyakarta menuju Bantul akhir-akhir ini menjadi padat. Orang lalu lalang untuk mengirim dana dan logistik ke daerah-daerah bencana.


Setiap rumah sakit selalu penuh dengan korban-korban jiwa. Toko-toko dan warung makan banyak yang tutup, sehingga bagi pendatang yang ingin mencari makan agak kesusahan. Harga bensin tiba-tiba naik hingga belasan ribu per liter, begitu juga dengan harga-harga barang lain.


Walaupun logistik selalu datang dari mana-mana, tetap saja masih ada daerah yang belum terjamah posko-posko bencana, terutama daerah pedalaman dan pelosok. Tim relawan kami (Posko Muhammadiyah) sangat kebingungan menangani hal ini.


Banyak hal yang belum tertangani, pendataan masih lemah, serta logistik yang keluar masuk belum tercatat dengan rapi. Karena masyarakat panik, akhirnya rumah mereka ditinggalkan begitu saja.


Banyak rumah yang kehilangan, baik itu perabotan dapur, alat-alat elektronik, sepeda motor, hingga ternak sapi dan kambing. Saat-saat yang mencekam inilah kesempatan menjarah dilancarkan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.


Bahkan, di salah satu kampus di Yogyakarta, ada toko buku yang hancur dan akhirnya hampir semua bukunya dijarah warga sekitar. Tidak heran jika lagu ciptaan Ebit G. Ade menghiasi suasana ini, terutama bait lagu yang mengatakan, "masih ada tangan yang tega berbuat nista".


Ini wajah Daerah Istimewa Yogyakarta pascabencana. Perekonomian hancur dan warga harus kembali menata ulang kondisi bangunan tempat tinggalnya. Salah satu radio memberitakan untuk memulihkan kembali DIY membutuhkan waktu sekitar satu tahun.


Tak ada kata lain selain uluran bantuan saudara-saudara yang ada di Nusantara ini. Sekecil apa pun bentuk bantuan itu sangat berharga untuk membangun kembali salah satu daerah istimewa ini.


Pernah dimuat Harian Lampung Post, Kamis 8 Juni 2006

16.50

Televisi Sebagai Tanda Era Goblogisasi

Penulis mempunyai keponakan. Namanya Reni. Kini dia sedang duduk di bangku SMP. Tentunya keponakan itu bukan di Jogja, tapi di Metro (Lampung). Penulis sempat bersamanya untuk beberapa minggu. Awalnya, keluarga paman saya ini tidak memiliki televisi, apalagi komputer. Namun hidup harus berubah dan kehidupan keluarga paman saya pun ikut berubah. Mereka kini memiliki televisi, komputer pun ada dua buah.

Kini, kebiasaan menonton televisi tidak bisa dilepaskan oleh Reni. Bahkan remot pun harus dia yang memegang. Tak ada seorang pun yang boleh mengambilnya tanpa seizin Reni. Kebiasaannya yang dulu rajin mengikuti tadarus tiap sore hari di masjid, kini menjadi jarang disebabkan tontonan gosip yang selalu menghadirkan artis-artis cantik dan terkenal. Shalat Maghrib dan Isya’ di masjid pun mulai ditinggalkannya secara perlahan-lahan. Itu juga disebabkan karena program televisi yang menyajikan tayangan sinetron anak muda penuh glamour dengan soundtrack lagu dari band-band papan atas negeri ini.

Sang ibu pun tak ingin ketinggalan dengan anaknya. Saat malam hari, ibu tiga anak ini rutin menyaksikan program acara sinetron keluarga dan misteri ilahi. Sang ayah hanya mendapat jatah pagi hari untuk menonton siaran berita. Itu pun terbatas waktunya. Karena jam tujuh harus sudah berangkat ke sekolah. Maklum, beliau mejabat sebagai kepala sekolah di desanya.

Kita pun masih ingat dengan sederetan film-film ternama berkelas internasional semisal Titanic dan The Lord of The Ring yang sempat mewarnai dunia pertelevisian kita. Hadir pula film-film remaja yang akhirnya bertengger di panggung televisi, seperti AADC, Dealova, Eifel… I’m in Love, dan Cinta Pertama. Bahkan ada yang dijadikan cerita serial seperti yang terjadi pada film Heart.

Dalam kontes musik, lahir band-band baru yang hampir keseluruhannya dirajai oleh anak muda. Lagu-lagu mereka pun hampir tiap jam selalu mewarnai program acara televisi. Ada yang dijadikan soundrack film, soundtrack iklan, siaran 10 tembang hits dalam negeri, atau konser di berbagai tempat di tanah air. Tentunya satu sama lain saling menggaet penggemarnya. Ribuan kaset mereka pun tercecer di pinggir jalan.

Televisi merupakan tanda dari globalisasi. Dia lahir dari rahim modernisasi. Modernisasi yang terkadang tak selalu membawa kebahagiaan. Menjadi sesuatu hal yang sulit untuk menolak kehadiran televisi di era goblogisasi dan gombalisasi yang serba tanpa skat dan batas ini. Seolah, televisi telah menjadi salah satu menu wajib dalam keluarga. Mungkin, slogan “Matikan TV-mu” hanya menjadi gonggongan anjing yang ditinggalkan kafilah.

Ironis memang. Karena kita telah masuk ke dalam ‘lubang hitam’ modernisasi dan menjadi agak sulit untuk keluar dari lubang tersebut. Televisi telah menjadi bius yang mampu menghipnotis jutaan manusia secara perlahan-lahan tanpa disadari oleh manusia itu sendiri. Seluruh program acaranya telah menjadi pil yang mampu menawarkan ilusi-ilusi indah. Para produser pun telah berhasil meninabobokan kita, tertutama kawula mudanya.

Walaupun kita sudah mengetahuinya, tetapi tetap saja belum sadar. Generasi muda yang seharusnya mampu melawan proses pembodohan ini, ternyata telah terlena dengan tayangan-tayangan tersebut. Meminjam istilah Sigmund Freud, televisi adalah ilusi yang harus dimusnahkan! Karena dia telah menawarkan janji-janji palsu yang merusak identitas generasi muda.

Hal ini bukan menandakan bahwa televisi divonis seratus persen sebagai media yang tidak berguna. Sebenarnyanya banyak juga tayangan lain yang bermanfaat bahkan harus ditonton, semisal berita, liputan khusus (investigasi, buser, dll), discovery, national geographic, english learning, dan bedah tokoh. Lalu, bagaimana dengan tayangan-tayangan sampah yang tidak bermoral? Tinggalkan! Cari aktivitas lain yang bisa menghindarkan kita dari sekedar menonton program yang tidak berguna itu.

Sekarang, apa yang harus kita perbuat sebagai warga biasa? Tidak ada! Karena kita bukan direktur utama dari sebuah stasiun televisi, bukan produser pada sebuah program acara, dan bukan pula sutradara atau penulis skenario dalam proses pembuatan alur cerita film.

Yang bisa kita lakukan hanya meninggalkan produk mereka dan mencari produk lain yang lebih berkualitas. Tapi terkadang kita masih senang dengan produk yang kurang berkualitas tersebut. Karena produk yang kurang berkualitas biasanya malah lebih nikmat ditonton. Sekarang, kita hanya bisa memilih: Ingin menjadi budak televisi atau membebaskan diri dari perbudakan tersebut. Tulisan ini belum bisa memberikan solusi, tetapi hanya mengingatkan kembali apa yang telah kita perbuat dalam hidup ini. Karena hidup harus selalu direfleksikan!

Papringan, December 22, 2007