13.21

Cerpen SIM

Sudah sejak kelas dua SMA dulu aku mau bikin SIM, Surat Izin Mengemudi untuk motor. Ya, sekitar lima tahun yang lalu. Sekarang aku sudah kuliah semester enam di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Aku memang seorang perantau dari Sumatera, tapi sudah menetap lama di Jogja. Kurang lebih sembilan tahun, sejak masuk SMP.

Niat itu nggak kesampaian lantaran aku belum punya KTP Jogja. Di akhir kelas tiga aku mencoba membuat KTP Jogja atas nama keluarga bapak kosku, Pak Bagong. Seharian aku mengurus administrasinya dari tingkat RT, Puskesmas, hingga Kecamatan. Setelah itu menunggu satu minggu. Semua habis sekitar sepuluh ribuan.

Keesokannya aku bertanya-tanya tentang pembuatan SIM kepada Pak Bagong. Kata beliau nggak usah saja, karena hanya akan ditipu polisi.

“Nak, kamu itu gak bakalan dapat SIM kalau nggak punya uang banyak,” jelasnya sambil menyeruput kopi pahitnya.

“Lha, memang butuh duit berapa, Pak?” tanyaku heran.

“Rp 150 ribu. Itu sudah beres.”

“Kok mahal banget. Kata Pak RT cuma habis 75 ribu. Memang bapak tahu dari mana?”

“Iku, tetangga samping kosmu seminggu yang lalu baru saja buat SIM juga.”

“Ooo,” anggukku.

Niatku untuk membuat SIM tidak kesampaian, karena kondisi keuangan ngepas. Sebenarnya sih bisa kalau mau dipaksakan, tapi uang untuk makan sebulan bakal ludes.

***

Di akhir kelas tiga keinginan buat SIM muncul lagi, karena hampr kuliah. Kucoba bertanya pada Fauzan, temen sekelas, yang sudah buat.

“Zan, kemarin buat SIM habis berapa?”

“Rp 180 ribu.”

“Ha!!! Bukannya Rp 75 ribu. Kok mahal sekali?” tanyaku melotot.

“Ya, memang segitu. Ceritanya, saat aku tes tertulis rambu-rambu lalu lintas dan praktek naik motor nggak lulus. Kucoba kedua kalinya tetep nggak lulus juga. Aku tanya apa yang salah, polisi itu nggak mau memberi tahu. So, aku nembak saja.”

“Trus gimana?”

“Setelah itu aku nuggu sejam, cek kesehatan, sidik jari, foto, langsung jadi.”

Lag-lagi aku urungkan niat itu lantaran kondisi keuangan ngepas. Sebenarnya sih bisa kalau mau dipaksakan, tapi uang itu untuk bayar pendafataran masuk kuliah.

Setahun kemudian, setelah aku pindah kos dan punya motor, dapat kabar kalau pembuatan SIM naik lagi menjadi Rp 200 ribu. Aku nggak habis pikir, “Kapan aku bisa buat SIM?” Padahal harga semakin naik.

Selama nggak punya SIM itu pula aku sudah ditilang empat kali. Pertama, siang hari saat pulang kuliah aku harus mengeluarkan uang dari kocek Rp 20 ribu untuk pelanggaranku itu. Kedua, menjelang shalat Subuh saat aku pulang dari sebuah pelatihan dan sengaja menerobos lampu merah. Tak diduga, nggak jauh di depanku polisi langsung menyetop. Awalnya aku harus membayar Rp 35.000. Kemudian kutawar menjadi Rp 20 ribu. Ketiga, 20 ribu saat pulang dari Parangtritis. Keempat, Rp 20 ribu lagi sepulang dari rumah teman di Bantul.

Keadaan yang demikian itu membuatku was-was jika akan mengendarai motor. Nggak nyaman. Mata harus siap sedia kalau-kalau ada cegatan. Kemudian membelokkan arah roda motor dan kabur. Usaha seperti ini kerap kulakukan. Tetapi ini bukanlah solusi yang jitu buat menangani permasalahan tidak punya SIM.

Jika ingin buat aku nggak punya uang sebanyak itu. Lagian aku gak mau juga melalui jalur licik seperti itu. Tapi, apa aku harus seperti ini terus? Selalu ditilang polisi. Bisa-bisa uang sebulan apes dan nggak bisa makan. Aku dibuat pusing sama kepolisian itu.

“Seharusnya polisi itu kan mengayomi masyarakat, bukan malah membuat risau,” renungku suatu hari. Dan hasil renunganku itu diiyakan banyak teman serta tetangga-tetangga lain yang sudah jadi korban. Mereka dengan terpaksa harus mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan kartu pengaman itu. “Aku nggak habis pikir, sebenarnya apa yang diinginkan pihak kepolisian itu?”

***

Akhir-akhir ini aku sering menjumpai polisi melakukan rasia di jalan. Seminggu bisa dua sampai tiga kali. Keadaan ini membuatku semakin panik.

Kuputuskan saja kalau aku harus membuat SIM. Kusiapkan uang sebanyak Rp 200 ribu. Ini hasil permintaanku dari orang tua. Aku mengajak teman untuk membantu dalam proses pembuatan kartu itu. Namun, temanku melontarkan pertanyaan.

“Emang kamu sudah siap uang berapa?”

“Rp 200 ribu.”

“Nggak cukup. Sekarang naik lagi, jadi Rp 250 ribu.”

“Busyet dah, mahal amat,” celetukku sambil mengerutkan dahi.

“Mau jadi apa nggak?”

Setelah dipikir-pikir, aku tetap lanjut untuk membuat SIM. Dengan penuh pertimbangan kuambil sebagian uang jajan untuk menutupi kekurangan itu. Terpaksa bulan ini aku harus ngirit.

Jum’at, jam 10 pagi, aku dan temanku itu pergi ke Kapolres. Setelah parkir motor, bapak setengah tua itu mendekatiku dan menawarkan jasa SIM.

“Mas, buat SIM baru atau perpanjangan?”

“Buat baru, Pak,” jawabku sambil berjalan menuju arah kantor pembuatan SIM.

“Mau tak bantu nggak? Cukup Rp 270 ribu. Rp 20 ribu untuk cek kesehatan, Rp 10 untuk sidik jari. Selebihnya untuk formulir, foto, dan jasa kami.”

Dengan jawaban serinci itu aku bertambah pusing. Kucuekkan saja orang itu, lalu aku menuju ruang pembuatan SIM. Terpampang jelas di tembok, “Untuk pembuatan SIM baru Rp 75.000. Untuk perpanjangan Rp 60.000”. Tulisan lainnya, “Ingat, banyak calo! Jangan sekali-kali main curang”.

“Jika harganya segitu, selebihnya mereka apakan? Bagi hasil dengan teman sekerja? Ah, masa sih polisi, sebagai abdi negara, tega melakukan pemerasan terhadap rakyat? Nggak mungkin,” pikirku.

Aku duduk lama di bangku panjang itu sambil melihat orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sedang ngisi formulir, tes lalu lintas, cek kesehatan, dan kesibukan lainnya.

Dengan sikap tegas aku mengambil formulir itu. kuisi lalu kuserahkan ke ruang tes. Saat tes tertulis tentang tanda-tanda lalu lintas aku bisa menjawab semua. Tes naik kendaraan gak ada salah. Kesehatan mataku baik. Aku yakin pasti lolos. Esoknya aku dipanggil dan dinyatakan tidak lolos.

“Kenapa nggak lolos, Pak?”

“Ada yang salah.”

“Saat apa? Seingatku semua benar.”

“Itu katamu! Sudah nggak usah berdebat. Anda mau mengulangi lagi atau dengan cara lain?”

“Saya tes lagi saja, Pak!”

“Baiklah. Silahkan ambil formulir lagi,” jawabnya penuh ketus.

Kuambil lagi dan kuisi sesuai dengan prosedur yang ada. Saat tes tertulis dan praktek tidak ada yang salah sama seperti sebelumnya. Begitu juga dengan kesehatan mataku. Tapi, saat diumumkan tetap saja tidak lulus. Aku ngotot dan membentak polisi itu dengan menggebrak meja. Semua tatapan orang yang ada di ruangan itu terfokus ke arahku.

“Anda mau apa, Mas!” bentak polisi lain.

“Saya tidak sepakat dengan cara ini!!!”

“Lalu?”

“Saya heran dengan kedudukan polisi yang seharusnya mengayomi masyarakat, tapi malah membuat bencana. Anda-anda ini kan abdi negara, seharusnya santun dengan kami!!!” sergahku sambil menuding para polisi yang ada di ruangan itu.

Dari arah belakang seseorang memborgol tanganku.

“Anda kami tahan, karena berlaku tidak sopan di kantor kepolisian,” jawabnya sambil memaksaku jalan menuju sel.

“Hei, saya salah apa? Mengapa mereka yang licik itu tidak ditahan,” berontakku.

“Diam. Duggg!!!”

Tiba-tida tangan polisi itu mendarat di Pundakku. Aku pingsan, tak sadarkan diri. Kemudian aku terbangun dan sudah mendapatkan diri di dalam sel. Sementara temanku masih berdebat dengan polisi itu.

“Sial. Dasar polisi keparat,” kesalku.

Esoknya aku dikeluarkan dari sel dan terdaftar di kepolisian sebagai salah satu orang yang telah berbuat tindak pidana.

“Ya sudah, Pak. Sekarang kalau mau buat SIM cepat berapa?”

“Rp 270.000.”

Kuambil uang dari saku tiga lembar seratusan ribu. Kebetulan dari kemarin aku sengaja bawa uang segitu buat jaga-jaga. Semua berjalan dengan cepat. Tak lebih dari satu jam. Formulir diisikan. Tinggal cek kesehatan dan sidik jari. Lalu foto dan menunggu pengambilan. Selesai. Setelah itu pulang.

Tak kusangka, atas nama uang mereka rela menjual simbol “Abdi Negara” kepada rakyat. Ini bukan sikap budi pekerti.

Patangpuluhan, 2 Juli 2005

13.14

Negeri Plesetean

Seorang ibu penjual mie ayam di salah satu sudut utara kota Yogyakarta mengeluh tentang kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Ibu yang memiliki anak dua ini hanya bisa bersedih melihat kenyataan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Menurutnya, pemerintah bukanlah manusia, melainkan setan. Setan yang tidak mau mendengarkan keluhan manusia. Setan adalah makhluk yang dengan seenaknya sendiri bertindak. Sama halnya dengan pemerintah yang asal main kebijakan. Lalu apa bedanya?

Ia bukan seorang pejabat teras atas yang bisa memberikan kebijakan sesuai dengan kepentingannya. Bukan seorang penulis cerdas yang mampu menuangkan pikirannya lewat media massa. Bukan pedagang yang sukses dengan meraih segala keuntungannya. Bukan pula orator yang mampu berdemo turun ke jalan. Tetapi dia seorang ibu rumah tangga dan rakyat biasa yang hanya bisa mengeluh dan menangis ketika musibah menimpanya. Tidak ada pekerjaan lain kecuali berjualan mie ayam demi menghidupi keluarganya, termasuk biaya pendidikan bagi anaknya. Si suami sekaligus kepala rumah tangga sudah meninggal.

Di wajahnya tidak ada sedikit pun senyuman yang memberi isyarat tanda kebahagiaan dan keceriaan. Setiap hari hanya mengeluh dan gelisah melihat bangsa Indonesia, bangsa yang telah menjadi darah dagingnya. Baginya, kenaikan harga BBM ini musibah terbesar yang dialami seumur hidupnya. Bu Sunarsih, demikian biasa dipanggil, mengatakan musibah ini “wes nekak gulu”. “Mending enak hidup di era Pak Harto, harga gak ada yang mahal,” demikian ia menghibur diri. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu kalau Indonesia di era Presiden Soeharto meninggalkan hutang di sana-sini.

Semua barang telah naik termasuk peralatan dan jenis bahan makanan untuk penjualan mie ayamnya. Dari harga minyak, mie mentah, dan bumbu-bumbu lainnya. Sebelum keputusan harga BBM naik, mie ayam Bu Sunarsih dua ribu rupiah. Tetapi setelah tanggal 1 Oktober 2005, saat Menteri Perekonomian Indonesia, Abu Rizal Bakrie, membacakan keputusan tentang naiknya harga BBM, harga mie ayam Bu Sunarsih menjadi dua ribu tiga ratus. Sebenarnya dia tidak tega menaikkan harga mie ayamnya, karena merasa kasihan melihat anak-anak kos yang ada di samping kanan-kirinya kurang mampu secara finansial. Tetapi harus bagaimana lagi. “Kalau tidak dinaikkan, saya tidak bisa belanja,” demikian akunya dengan penuh gelisah. Di tengah kegelisahan ini masih ada orang yang merasah kasihan kepada orang lain. Inilah sebuah perbuatan mulia yang patut ditiru.

Sambil mengaduk mie ayamnya, ibu itu terus mengomel dengan para pembelinya tanpa akhir. Seolah dunia ini sudah kejam terhadapnya. Tentunya ini hanya cerita kecil yang sering kita jumpai di masyarakat pada umumnya. Teriakan-teriakan tak terdengar seperti ini pasti banyak dijumpai pada mereka yang memiliki ekonomi sempit. Pertanyaanya, apakah mereka tidak mengamuk? Jelas mengamuk bung! Tetapi ekspresi amukannya tidak seperti pertarungan di sidang DPR yang hampir terjadi adu jotos. Tidak pula sekejam pembantaian Amerika terhadap Irak. Bentuk amukannya dipendam di dalam dada, seolah bersikap dewasa terhadap kebijakan pemerintah. Ada keinginan untuk memberontak, tetapi mereka tidak memiliki kekuatan seperti layaknya partai politik. Padahal jika mereka menyadari betul, kekuatan tertinggi adalah rakyat. Tinggal bagaimana rakyat menyatukan kekuatan itu, lalu menghantam para elit penguasa yang tuli dan buta. Bisakah kita kita gelisah seperti kegeliasahan yang dirasakan oleh Ibu Sunarsih?

Para mahasiswa dan ilmuwan kampus yang selama ini dianggap sebagai orang yang memiliki kesadaran tinggi telah berkoar-koar di sepanjang jalan. Mereka memperjuangkan hak-hak rakyat yang selama ini telah terenggut oleh sebagian kepentingan oknum. Tetapi toh usaha mereka sia-sia belaka. Tak ada respon positif dari pemerintah, bahkan dengan demo-demo seperti itu pemerintah semakin kebal dan tahan banting. Ha, ha, ha, kayak barang dagangan saja.

Tak tertinggal masyakarat desa yang tidak mengerti apa-apa tiba-tiba terkena imbas dari musibah yang melanda bangsa ini. Bangsa yang telah mereka anggap sebagai nenek moyang dan leluhur agung. Bangsa yang telah merdeka selama 66 tahun tetapi rakyatnya masih saja dalam “belenggu hitam” oleh penguasa bejat. Lalu apa arti merdeka, kalau rakyatnya masih terjerat di dalam semak-semak rumput. Rezim Orde Baru telah mengekang akal pikiran manusia, asas tunggal yang harus dipakai di dalam hidup keseharian rakyat Indonesia hanyalah pancasila. Bagi mereka yang melawan akan dibunuh. Inikah bentuk kemerdekaan? Kemerdekaan yang telah melahirkan kekejaman terhadap rakyatnya. Ampuni kami, Tuhan.

Tak heran, jika kenaikan BBM dikaitkan dengan meledaknya bom Bali kedua. Kalau boleh diplesetkan, BBM adalah “Bom Bali Meledak”. Jika BBM naik maka bom bali akan naik (baca: meledak) pula. Ada juga yang mengatakan BBM adalah “Bola-Bali Mundak”. Sehingga sebagian orang mengatakan SBY-JK adalah singkatan dari ”Susah Bensin Ya-Jalan Kaki”. Ha, ha, ha...

Di tengah banyaknya musibah yang menimpa bangsa Indonesia, masih saja ada plesetan miring. Plesetan itu pun mengandung unsur kebenaran. SBY singkatan dari Susilo Bawahannya Yusuf. Kenyataannya memang demikian bukan? Wapres Jusuf Kalla lebih bisa menguasai Parlemen DPR dari pada SBY. Terkadang segala keputusan Wapres melebihi peran presiden. Lucu sekali bangsa ini. Bangsa yang oleh Koes Plus dilukiskan, bukan lautan hanya kolam susu/ kail dan jala cukup menghidupimu/tiada badai tiada topan kau temui/ ikan dan udang menghampirimu/Orang bilang tanan kita tanah surga/ tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Tapi kenyataannya?

Sedikit lelucon. Di sebuah toko ada sederetan jam yang dijual. Semua jam menunjukkan karakter negaranya masing-masing. Jenis jamnya ada yang lambat, tapi ada pula yang kencang. Ketika seorang pembeli menanyakan mana jam milik orang Indonesia. Si penjual mengatakan, tidak ada. Lalu ke mana? Dipakai untuk baling-baling helikopter. Sebuah ledekan yang menunjukkan tingkat korupsi Indonesia begitu cepat dan tinggi. Ada-ada saja, Mas.

Ini pertanda apa wahai bangsaku, bangsa yang hingga kini masih saja mengagung-agungkan demokarsi. Seolah demokrasi di atas segala-galanya. Tapi sudahkah paham apa itu demokrasi? Jangan-jangan selama ini kita telah salah memahami apa itu demokrasi. Pernah ada seorang mahasiswa yang berdemo dan berkoar-koar tentang demokrasi. Kemudian menggedor pintu salah satu ruangan kelas kampus dan memaksa orang yang sedang hikmat belajar untuk ikut berdemokrasi. Inikah tindakan demokrasi? Secara tidak langsung dia tidak konsisten dengan pendiriannya. Berfikir demokrasi tapi tidak bertindak demokrasi.

Kegelisahan yang dialami Ibu Sunarsih di atas mungkin tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kasus-kasus yang lebih besar seperti gempa dan tindakan kriminalitas. Tapi jika teriakan-teriakan kecil itu sudah di ambang batas dan tidak memiliki kesabaran lagi, maka mereka bisa menjadi orang yang lebih brutal dari permainan musik underground. Puncak kesabaran ada batasnya, Bung. Jika batas itu sudah lewat maka singa hutan bisa dihantam.

Wahai bangsaku, lihatlah kami yang berada di pinggiran desa ini. Jangan membuat kami yang sudah sengsara menjadi lebih sengsara. Habis sudah kesabaran di dalam dada ini. Dada yang setiap hari ditusuk oleh duri-duri kecil. Saatnya bagi kami untuk menuntut kepada anda wahai pemerintah. Kami berhak atas diri anda, karena anda adalah perwakilan rakyat yang memperjuangkan rakyat, bukan memperjuangkan kepentingan pribadi atas nama kepentingan rakyat. Inilah kejahatan yang harus segera dibunuh.

Dunia sudah kejam. Dengan kekejaman itu wajar jika ada seseorang yang akhirnya memilih jalan bunuh diri. Mungkin inilah pilihan terbaik baginya dari pada dia tersiksa di dunia. Bagi mereka yang bunuh diri mungkin mengatakan, “Tuhan Maha Bijaksana terhadap keputusan yang aku pilih. Biarlah orang menilai semaunya sendiri. Inilah jalan yang terbaik bagiku. Jalan yang telah Engkau berikan padaku, karena Engkaulah pembuat takdir itu.”

Janganlah bersedih, karena kesediahan itu akan datang setiap hari. Buatlah hari-harimu dengan plesetan-plesetan ceria. Niscaya kau akan tetap bahagia. Tugas kita sekarang adalah bangkit. Hai, Pemerintah! Orang yang kerjaannya suka merintah. Merintah rakyat yang tertindas. Janganlah engkau yang berada di istana membuat kebijakan seenaknya sendiri. Pikirkan kami yang berada di sudut desa terpencil. Kami punya anak dan istri yang setiap hari selalu meminta keinginannya masing-masing. Ya, Allah berilah keadilan kepada kami, kepada bangsa Indonesia, bangsa yang sedih bin pesetan.

(Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Idul Adha Gunung Kidul)

13.07

Saatnya IRM Kembali Ke Pelajar

Sebentar lagi, salah satu ortom Muhammadiyah berbasis pelajar dan remaja akan menghadapi perhelatan akbar bernama Muktamar yang ke-15 di Medan, Sumatera Utara. Acara yang digelar selama lima hari ini bukan hanya sekedar untuk berlibur ke kota Batak. Tetapi pada momen inilah, bagaimana eksistensi IRM dalam kancah global kembali dipertanyakan.

Organisasi yang sudah berumur 45 tahun sejak kelahirannya 18 Juli 1961 ini telah banyak melahirakan tokoh, potikus, ilmuwan, atau sekedar guru dan pendidik biasa. Namun lain dulu lain sekarang, IRM harus mencoba kembali merefleksikan eksistensi dirinya pada era sekarang dengan melihat apa yang telah diperbuat pada masa lalu sehingga bisa membuat sejarah pada masa yang akan datang. Era di mana, struktur sosial semakin mengekang keberadaan masyarakat sekitarnya. Lalu apa yang telah diperbuat oleh IRM selama ini? Siapa yang diperjuangkan? Dan siapa yang dilawan?

Pertanyaan di atas telah menggugah IRM khususnya para aktivis yang terlibat di dalamnya untuk bangun dan bangkit dari tidur panjangnya. Bangkit tidak sekedar diam dan melakukan aktivitas apa adanya. Tetapi bangkit untuk kembali membangun dan memperbaiki bangunan-bangunan yang selama ini sudah mulai rapuh. Kita mencoba mempertanyakan dan menguji ulang, masih relefankah strategi yang telah diperjuangkan IRM? Apa bangunan-bangunan yang perlu diperbaiki, dipertegas, dan dikokohkan? Meminjam istilah filsafat, apa epistemologi gerakan yang telah digunakan IRM selama ini?

Dari pertanyaan di atas, akan melahirkan pula pertanyaan, siapa basis yang akan diperjuangkan oleh IRM? Masih relevankah dasar-dasar gerakan dan AD/ART IRM? Bagaiaman dengan rutinitas program yang selama ini telah dijalani IRM, sesuaikah dengan maksud dan tujuan IRM atau malah semakin menjauh karena organisasi ini sangat besar tanpa ada kontrol?

Sejak era reformasi 1998, kondisi bangsa sudah mulai berubah. Dulu, perjuangan IPM (sebelum berganti menjadi IRM) masih di bawah tekanan pemerintah rezim orde baru. Karena itu, tidak banyak kebijakan yang bisa diperbuat oleh IRM, sehingga IRM hanya memiliki semboyan Tiga Tertib: Tertib Ibadah, Tertib Belajar, dan Tertib Organisasi. Kini, berbagai macam gerakan bisa berbuat dengan sebebas mungkin melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan rakyat. IRM pun harus kembali berpikir ulang, sudahkah gerakan yang berbasis pelajar ini memperjuangkan rakyatnya?

Kelahiran IRM tidak terlepas dari semakin banyaknya sekolah-sekolah Muhammadiyah yang berkembang sehingga Muhammadiyah sangat memerlukan organisasi pelajar untuk membentengi akidah para pelajar Muhammadiyah dari serangan orang-orang komunis pada saat dulu (1960-an). Karena itu, bukan menjadi perdebatan lagi kalau basis IRM adalah pelajar dan hingga kini pun tetap pelajar. Hanya saja namanya yang berubah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah karena desakan pemerintah saat itu, tahun 1992, untuk tidak boleh menggunakan kata “pelajar”.

Penulis kira, muktamar di Medan nanti menjadi momen yang paling berharga bagi IRM untuk melakukan pembelaan kepada basis utamanya, pelajar. Ini bukan berarti IRM harus back to IPM. Selama ini, IRM telah jauh dari realitas yang akan digarap. IRM tidak angakt bicara ketika ada persoalan naiknya BBM pada bulan Oktober 2005 lalu? Seharusnya IRM bisa membela basisnya. Silahkan BBM naik tetapi transportasi untuk pelajar Se-Indonesia tetap tidak naik atau bahkan ada keringanan. Tidak ada pembicaraan tentang hal ini. Persoalan UN beberapa waktu lalu, peran IRM terlihat kurang signifikan untuk mencoba melakukan perubahan pada level kebijakan. Padahal, menterinya orang Muhammadiyah. Seharusnya, menjadi lebih mudah bagi IRM untuk melakukan perubahan pad level kebijakan. Tapi hal ini tidak dilakukan lantaran apa yang diperjuangkan IRM tidak jelas.

Dalam maksud dan tujuan IRM telah tertulis, “Terbentuknya remaja muslim yang berakhlak mulia dan berilmu dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhoi oleh Allah Subahanahu wata’ala.” Point utama gerakan IRM adalah mewujudkan remaja muslim yang berkahlak mulia dan berilmu. Jika ada sesuatu apa pun yang tidak mendukung untuk mewujudkan remaja yang berdedikasi ke arah akhlak mulia dan berilmu maka itu adalah musuh IRM. Sebagai contoh, jika televisi tidak menunjang ke arah akhlak mulia dan berilmu, maka televisi menjadi musuh IRM dan harus diperangi.

Kesadaran Kritis dan Realitas Pelajar
Mejadi pilihan yang tepat jika paradigma kesadaran kritis sebagai ruh gerakan IRM di era sekarang. Kesadaran kritis dimaknai sebagai bentuk kesadaran tertinggi di antara kesadaran naif dan kesadaran magis. Lalu, kaitannya dengan gerakan IRM apa? IRM sebagai gerakan berbasis pelajar harus sadar kalau anggotanya sekarang banyak menjadi korban pada segala aspek, baik pada aspek sosial, potilik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Pada aspek sosial, pelajar yang suka tawuran langsung divonis sebagai destroyer/perusak kenyamanan. Padahal para pemvonis itu tidak tahu apa yang melatarbelakangi tawuran itu terjadi. Di bidang politik, pelajar hanya berfungsi sebagai makanan empuk ideologi-ideologi politik tertentu. Mereka hanya dijadikan pelengkap kampanye dan rela berjam-jam di bawah panasnya terik matahari. Mengecat badannya sesuai dengan warna parpol yang disegani, dan mengganti suara motor dengan yang lebih nyaring. Berharap mereka mendapat hiburan, kaos oblong, dan uang sebagai pencuci mulut.

Pada ranah ekonomi, pelajar menjadi santapan empuk para kapitalis. Mereka hanya mementingkan keuntungan pribadi dan menjerumuskan pelajar dengan segala bentuk rayuan untuk membeli produk-produknya tanpa pandang bulu. Pada akhirnya, budaya konsumerisme dan pop menghantui kehidupan pelajar kapan pun dan di mana pun mereka berada. Apalagi sekarang sudah ada sarana media massa sebagai salah satu cara para kapitalis meracuni pelajar dengan berbagai propaganda dan kampanye produk.

Kesadaran kritis yang diciptakan tentunya harus dilakukan setahap demi setahap. Para aktivis yang terlibat di dalamnya tentu harus dipahamkan terlebih dahulu dengan paradigma yang sedang diusung. Jika tidak demikian, ditakutkan para aktivisnya menjadi latah dengan kata-kata ”kesadaran kritis” hingga akhirnya malah menjadi anti-kritis.

Ada beberapa indikator sebuah gerakan atau seseorang dianggap kritis. Indikator ini tentunya meliputi aspek personal atau aktivis IRM maupun gerak langkah IRM sebagai organisasi. Pertama-tama indikator kritis ditandai dengan adanya upaya untuk sadar bahwa realitas sosial itu tidak tetap, tetapi dapat berubah-ubah menuju kondisi yang lebih baik. Ini adalah tugas setiap orang sebagai pemimpin di dunia ini. IRM pun harus memulainya sekarang. Kepekaan dan kepedulian adalah langkah selanjutnya sebagai bentuk konsekuensi dari sadar. Ia harus mampu memahami berbagai kontradiksi yang sedang terjadi di segala aspek. Peduli menunjukkan rasa tanggung jawab dan komitmen bahwa realitas sosial harus terus dirubah menuju kondisi yang lebih baik.

Pada akhirnya aksi/tindakan nyata merupakan langkah terakhir dari rangkaian tradisi kritis. Aksi merupakan bentuk keterlibatan yang sebenarnya dalam proses perubahan. IRM yang mewakili kaum pelajar harus menunjukkan sikap keberpihakannya dengan jelas. Keberpihakan itu tentunya tidak hanya dikerjakan oleh IRM sendirian, akan tetapi harus melibatkan semua komponen dalam suatu komunitas sosial yang memiliki tujuan yang sama. Misal, IRM bekerja sama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama (IPNU), dan LSM lain yang memiliki kepedulian terhadap dunia pelajar. Dengan demikian, gerakan IRM akan dipandang sebagai gerakan yang memiliki karakter visioner dan pelopor.

Agenda IRM ke Depan
IRM kembali ke pelajar, kiranya menjadi pilihan yang tepat bagi IRM yang sedang mengusung paradigma kesadaran kritis. Pelajarlah umat yang akan dibela oleh IRM. Kesadaran kritis terkait erat dengan hubungan struktur sosial dan kebijakan pemerintah. Untuk itu, banyak agenda yang nanti harus diperbincangkan oleh IRM pada muktamar yang ke-15 nanti. Agenda yang perlu diperbincangkan adalah fokus basis Gerakan IRM: pelajar atau remaja, kebijakan-kebijakan terkait dengan permusyawaran dan struktur IRM, program-program yang akan diperbincangkan, serta profil kader IRM.

Menjadi hal yang perlu diagendakan pula, persoalan keroposnya nilai-nilai ideologi Muhammadiyah yang tertanam pada jiwa para aktivis IRM. Sudahkan mereka benar-benar memahami dan menjalankan khittah perjuangan Muhammadiyah? Karena itu, proses ideologisasi di tingkatan internal IRM perlu dimassifkan, mengingat ini juga yang menjadi agenda persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya. Proses kaderisasi menjadi pilihan yang tepat. Pengkaderan Taruna Melati dari tingkat dasar hingga purna harus dioptimalkan sedemikian baik. Dari tingkatan pusat hingga ranting harus ada taruna melati. Karena, jika proses kaderisasinya mati maka tunggu saat kehancuran sebuah organisasi atau gerakan. Optimalisasi proses pengkaderan menjadi agenda penting yang sedang dijalankan oleh Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah periode sekarang.

Realitas ini tidak bisa dihindari atau ditinggalkan begitu saja. Muhammadiyah ke depan menjadi tanggungan generasi angkatan Muda sekarang. Hal yang lumrah ketika kaderisasi menjadi poin penting untuk segera digembar-gemborkan di segala level dari pusat hingga ranting. Bagaimana dengan IRM sekarang?

Ridho Al-Hamdi
Ketua Kader PW IRM DIY

(Pernah dimuat SM, 2006)