13.16

Papua: Malam Kayak Hong Kong, Pagi Jadi Singkong

Saat menulis catatan ini, penulis berpikir kalau rentang waktu yang ditulis antara data (saat berkunjung ke Jayapura) dengan tulisan ini sangat jauh. Sudah setahun lebih (sejak Maret 2007) penulis berkunjung ke belahan Indonesia bagian timur itu, ketika ada tugas organisasi untuk mengawal proses musyawarah IRM Papua. Dalam sidang redaksi, diputuskan bahwa persoalan waktu bukanlah menjadi alasan utama sebuah tulisan tidak layak baca. Yang penting adalah pesan mendalam yang hendak disampaikan pada tulisan tersebut. Dari kesepakatan itulah tulisan ini lahir.

Masih tersimpan dalam ingatan, kunjungan ke Papua itu terjadi seminggu setelah terbakarnya pesawat Garuda di Bandara Adisucipto Yogyakarta (7/3/2007). Tentunya rasa khawatir terhadap jenis transportasi udara ini sempat menyelimuti pikiran penulis saat di udara bersama pesawat Merpati. Perjalanan di udara yang menghabiskan sekitar enam jam itu sempat transit di Makassar dan Timika.

Ketika detik-detik pendaratan (landing) di Bandara Sentani Jayapura, penulis melihat negeri Papua dari atas. ”Begitu luas, banyak pegunungan, awan, ada pula danau-danau kecil, dan rumah-rumah di pinggir sungai,” ingatku. Perjalanan dari bandara menuju lokasi masih menempuh waktu sekitar satu jam lebih. Untuk beberapa hari, penulis tinggal di kompleks perumahan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Kebetulan saat itu MUI Papua sedang menyelenggarakan pelatihan Dai Se-Papua selama enam bulan alias setengah tahun.

”Waw, ini sangat fantastis,” ungkapku kepada salah satu panitia ketika kutanya tentang kegiatan selama di MUI tersebut. Peserta yang hadir adalah utusan masing-masing daerah Se-Provinsi Papua. Sebagian besar dari mereka orang Muhammadiyah. Karena itu, mereka juga membawa anal-anak dan istrinya ke lokasi acara. ”Kayak mau pindah rumah aja,” gumamku saat itu.

Inilah pertama kalinya penulis menginjakkan kaki di tanah Papua. Dulu ketika SD, penulis hanya bisa menggambar peta Papua di atas kertas dan hanya bisa membayangkan apakah mungkin akan bisa ke sana. Tapi mimpi-mimpi itu berbalik menjadi kenyataan. Penulis pun jadi teringat dengan pepatah, bermimpilah kamu, niscaya Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.ternyata, untuk keliling Indonesia tidak harus menjadi presiden. Tapi di IRM saja sudah cukup untuk mengenal Indonesia dan keragamannya.

Masyarakat yang tinggal di kota itu cukup multietnik, seperti layaknya di kota-kota besar lainnya. Penduduknya sudah majemuk. Banyak juga orang Jawa, Sulawesi, dan Sumatera. Bahkan ketua PWM Papua saja asli dari Palembang, Sumatera Selatan. Hanya saja, sebagian dari mereka masih ada yang keturunan Papua. Selain itu, gaya hidup mereka sudah modern. Pakaian mereka layaknya pakaian yang dipakai masyarakat pada umumnya. Toko-toko dan pasar pun sudah ramai. Namun harga-harga di sana relatif lebih mahal bila dibandingkan dengan harga-harga di Yogyakarta.

Penulis masih ingat, ketika makan ikan bawal bakar di pinggiran pelabuhan Jayapura. Satu porsi harganya 40 ribu. Itu sudah dengan minuman dan sayuran lainnya. Menunya lumayan lengkap. Jika harga tersebut dibandingkan dengan harga di Yogyakarta, sangat jauh berbeda. Di Yogyakarta uang 10 ribu sudah cukup untuk itu semua.

Di tengah-tengah acara musyawarah tersebut, penulis juga bertemu dengan wakil bupati Kota Jayapura yang juga orang Muhammadiyah dan masih memiliki rumah di Maguwoharjo, Sleman. Kebetulan anaknya kuliah di UGM. Selain itu, penulis juga berkunjung ke sekolah Muhammadiyah Kota Jayapura. Ini satu-satunya SMA Muhammadiyah di Kota Jayapura. Letaknya satu kompleks dengan kampus STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi) Jayapura. Di samping itu, Muhammadiyah Kota Jayapura memiliki juga TK, SMP, dan panti asuhan Muhammadiyah. Lokasi antara satu dengan yang lainnya saling berdekatan.

Kepala sekolah SMA-nya bernama Ahmad Dahlan. Penulis diminta untuk memberikan pengajian umum di lapangan setelah mereka berolah raga. Mereka sangat antusias dengan apa yang penulis sampaikan. Ketika diajak untuk menyanyikan lagu Sang Surya, sebagian besar mereka bisa menyanyikannya. Lebih herannya lagi, ada beberapa siswa yang beragama non-Islam bisa menyanyikannya dengan suara lantang di bagian paling depan.

Ketika penulis bertanya tentang agama siswa di sekolah tersebut, maka Pak Dahlan menjelaskan, sekitar 10 persen lebih siswanya beragama non-Islam. ”Mereka tidak berpikir ini sekolah Islam atau tidak, Mas. Tapi kualitas dan alumninya,” terangnya. ”Atau bisa saja, karena mereka kejauhan saat memilih sekolah lain, akhirnya memilih SMA Muhammadiyah dengan alasan dekat dengan rumah mereka,” tambahnya sembari tertawa bersama.

Hal ini pun terjadi juga di kampus STIKOM yang 80 persen mahasiswanya beragama non-Islam (pernah ditulis di majalah ini juga). ”Kita tidak bisa menolak mereka, Mas. Justru keuangan yang lancar dari mereka yang non-Islam itulah,” cerita Pak Nur, Rektor III STIKOM Jayapura. Hal ini pun sebenarnya terjadi juga di Kupang, NTT.

Dari pengalaman ini, penulis berpikir bahwa Muhammadiyah memang sangat besar dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkannya. Inilah wajah Muhammadiyah yang rahmatan lil ’alaimin (bermanfaat bagi siapa saja tanpa memandang suku, agama, dan ras). Cita-cita ini sesuai dengan tujuan Muhammadiyah, terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (the real Islamic sociecity).

Muhammadiyah tidaklah berwajah sangar/penuh kekerasan. Ia juga tidak suka memaksa orang untuk sesuai dengan keinginannya. Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang mengajak siapa saja untuk saling menghormati perbedaan, toleransi terhadap beda keyakinan, serta tidak menyelesaikan persoalan melalui jalur kekerasan. Muhammadiyah, seperti yang pernah dinyatakan oleh Prof. Dr. HM. Dien Syamsuddin, MA, Ketua Umum PP Muhammadiyah, sangat mengecam terhadap segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh siapa pun dan atas nama organisasi apa pun.

Muhammadiyah Papua memberi pengalaman berharga kepada kita semua, bahwa perbedaan bukanlah menjadi penghalang untuk berdakwah. Justru di situlah, Muhammadiyah membuktikan dirinya untuk bisa bermanfaat (useful) bagi siapa saja.

Selama tinggal di Jayapura, penulis selalu melihat pegunungan tinggi yang penuh dengan rumah dan pepohonan lebat. Banyak bangunan rumah yang terletak di lereng-lereng gunung. Saat malam hari, penulis pernah diajak jalan-jalan keliling Kota Jayapura. Di suatu tempat, penulis berhenti dan mengamati Kota Jayapura dari ketinggian. Tiba-tiba suara Pak Nur muncul. ”Mas, Papua ini kalau malam kayak Hong Kong, tapi kalau siang kayak singkong,” ungkapnya sembari tertawa kecil. Penulis pun langsung paham dengan pernyataan tersebut.

Saat malam hari, Jayapura (yang mencerminkan ibu kota Papua) diterangi lampu-lampu kecil baik di lereng-lereng gunung maupun di pusat peradabannya (pasar dan bangunan kota). Jadi, Jayapura seperti dikelilingi kunang-kunang di setiap sudut gunung. Sedangkan di siang hari, segala jenis pepohonan terlihat besar dan menjadi pemandangan yang masih alami.

Selain itu, penulis juga sempat heran ketika salah seorang panitia mencarikan taksi untuk menghantarkan kepulangan penulis. Soalnya, selama di Papua penulis belum pernah melihat taksi. Pikir penulis, mungkin taksi di sini sangat spesial dan hanya untuk orang-orang tertentu. Tetapi jenis taksi yang dimaksud di Papua adalah mobil angkot kecil alias mikrolet. ”Ya Allah. Kirain apaan,” gumamku sambil tersenyum ketika panitia mempersilahkan penulis untuk menaiki taksi yang dimaksud bersama beberapa panitia lain yang ikut menghantarkanku ke bandara. Sepanjang perjalanan itu pula, banyak rumah di pinggir laut (kebetulan jalur darat satu-satunya terletak di pinggir laut).

Banyak hal yang membuat pengalaman penulis bertambah. Keanekaragaman, perbedaan konsep tentang sesuatu, semangat, dan penghormatan terhadap tamu. Semua itu tentunya didapatkan di Muhammadiyah saat pergi ke Papua.

Ridho Al-Hamdi

20.19

Say No to Fuel Price Increase

Ridho Al-Hamdi, Chairman at Central Board of Muhammadiyah Student Association

On Friday evening (May, 23rd 2008) our government decided again, that fuel (BBM) price is increasing by 28,7 percent. Previously, in SBY-JK era, fuel price increases happened twice, first on March, 1st 2005 and second on October, 1st 2005. At the limited conference led by Minister of Finance, Sri Mulyani, in the office of Minister of Coordinator for Economics at Banteng Court Area, Central Jakarta, a decision on fuel price increases was submitted by Minister of Energy and Human Resources, Purnomo Yusgiantoro.

For now, the premium price is Rp 6,000 previously Rp 4,500 in October 2005 and Rp 2,400 in March 2005. Gasoline becomes Rp 5,500 previously Rp 4,300 in October 2005 and Rp 2,100 in March 2005. Kerosene becomes Rp 2,500 previously Rp 2,000 in October 2005 and Rp 700 in March 2005.

After this decision, our national politics becomes heated. Many people from various groups criticize and demonstrate in the street. One demonstration extended along HI circle to the President’s palace. They were organized by Young Men’s Activator Network, Student Action Front, Front of Farmer Evocation and Fisherman, Commission of Indonesia Paupers for Justice, and Indonesia Impecunious People’s Association. The demonstration finished in chaos. The police arrested many people among the demonstrators.

The other demonstration happened in front of Indonesia’s parliament (DPR RI) by several students. The action finished in chaos and there were three students injured. On Friday afternoon, before the decision on fuel price increases, hundreds of UNAS students met in their campus in Pasar Minggu area, South Jakarta. The students blockaded Pajaten Raya road for their action. After this occurrence, there was a clash between students and police. This caused FISIPOL UNAS building to be damaged. In this occurrence too, there were 141 students brought to the police office. The same demonstration happened in other areas like Yogyakarta and Makassar.

Many rejection came from whoever, such us political observers, economic scientists, activists, political parties, NGOs (non-government organization), etc. There are some people that according to palace perspective reject fuel price increases, such us Rizal Ramli (former Minister for Economic Coordination in Gus Dur era), Wiranto (General Chairman of Hanura Party), and Fuad Bawazir (former Minister of Finance). But our government still persists with their decision, there are even some parties supporting this decision.

As you know, fuel price increases cause our transportation price to increase. Almost all transportation becomes more expensive, like train, bus, plane, even ojek (motorcycle) and pedicab. So, this policy can not make our life becomes comfortable. The next question is what is the impact of fuel price increases on students in Junior and High School? It must be answered.

There are several impacts of fuel price increases on our students. First, the transportation price becomes expensive. If we take a bus (like Kopaja, Kopata, or Mickrolet), we must pay almost twice as much. On the other hand, if we take a motorcycle, we must pay more to buy gasoline. So, we must scrimp when we spend our money. Second, book prices increase. When we buy books, sometimes we must think again, again, and again. Will our money be enough for several days after we buy those books? Huh, we are confused by this policy. A policy which does not advocate to people. Therefore, we must say no to fuel price increases.

11.02

Pelatihan Kader TMU Tingkat Nasional di Lampung

Pimpinan Pusat IRM sukses menyelenggarakan Pelatihan Kader Paripurna Tingkat Nasional Taruna Melati Utama pada tanggal 1-12 Juli 2008. Bertindak sebagai tuan rumah dalam pelatihan ini adalah PW IRM Lampung dengan mengambil lokasi acara di Villa 21 Gisting, Tanggamus.

Acara yang dibuka oleh Drs. Dahlan Rais (Sekretaris PP Muhammadiyah) ini mengambil tema ”Menafsir Gerakan Pelajar Baru di Era Globalisasi”. Acara ini dihadiri oleh berbagai kalangan baik NU, Muhammadiyah, maupun masyarakat dan pejabat daerah setempat. Acara ini menghadirkan pembicara dari berbagai tokoh tingkat nasional. Diantaranya Dr. Haedar Nashir, M.Si. (Ketua PP Muhammadiyah), M. Busyro Muqoddas, M.Hum. (Ketua Komisi Yudisial RI), Zulkifli Hassan (Sekjen DPP PAN dan Ketua Fraksi PAN DPR RI), Triaswati (Sekretaris PP Aisyiah), Imam Cahyono (Project Officer Globalisasi The Prakarsa Jakarta), dan Joko Sustanto dkk (Maarif Institute).

Tema sentral dalam pelatihan ini adalah globalisasi. Artinya, globalisasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus segera direspon oleh IRM atau IPM ke depan. Karena kalau tidak, kita akan tertinggal oleh kereta api zaman yang melaju dengan cepat. Ada empat kelompok materi yang dibahas secara berkesinambungan.

Pertama, membahas tentang apa itu globalisasi yang mengakibatkan dua arus utama, fundamentalisme agama (Islam Transnasional) dan fundamentalisme pasar (neoliberalisme). Melihat fenomena ini, apa yang harus disikapi oleh Muhammadiyah dan IRM? Tentunya, IRM tidak terjebak pada salah satu arus dari kedua arus yang ada. Tetapi bisa berpikir kritis dan bertindak tepat terhadap globalisasi yang merupakan sebuah ancaman sekaligus sebuah tantangan.

Kedua, membahas tentang apa yang harus dilakukan oleh IRM sebagai gerakan Islam yang berbasis pelajar terhadap neoliberalisme dan Islam Transnasional. Karena itu, IRM harus menjadi gerakan pelajar kritis dan tentunya berpihak pada pelajar. Karena itu, sejak sekarang IRM harus mempersiapkan strategi perjuangannya beserta agenda aksinya.

Ketiga, membahas tentang kefasilitatoran. Materi ini menjadi salah satu materi penting sebagai dasar bagi aktor-aktor IRM dalam mendesain dan mengelola sebuah pelatihan di wilayahnya, terutama di setiap perkaderan-perkaderan yang ada.

Keempat, membahas tentang agenda aksi. Untuk merespon globalisasi, IRM telah menyiapkan agenda aksi yang terdiri dari 6 jenis: Pengajian Islam Rutin (PIR), Sekolah Kader, Gerakan Iqra, Gerakan Budaya Tanding, Gerakan Kewirausahaan, dan Gerakan Advokasi Pelajar (GAP). Harapannya, keenam agenda aksi ini mampu membentengi nilai-nilai yang terkandung dalam maksud dan tujuan IRM tanfidz Medan (terbentuknya remaja muslim yang berakhak mulia, berilmu, dan terampil).

Selain itu juga, para peserta diajak untuk mengunjungi tiga lokasi yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap globalisasi. Pertama, pesantren salafi sebagai bentuk pertahanan ideologi Islam di tengah ideologi pasar-kapitalis. Kedua, pabrik pembuat tahu sebagai respon atas banyaknya menu-menu barat yang berorientasi hedonis (glamour). Ketiga, paguyuban seni reog sebagai lawan atas budaya pop yang semakin lama semakin mengikis budaya lokal.

Dengan materi-materi di atas, TMU kali ini menjadi starting point menuju perubahan nama menjadi Ikatan Pelajar Muhamamdiyah (IPM) yang akan dideklarasikan pada tanggal 28 Oktober 2008 saat Muktamar di Solo. Lampung telah menjadi saksi sekaligus tempat bersejarah atas perubahan nama itu.

Ridho Al-Hamdi

Ketua Pimpinan Pusat IRM