Kebiasaaan: Cerita Jordan, Andrea, Sheila on 7
Judul di atas setahu saya ditulis pertama kali oleh Hernowo, seorang motivator, penulis ternama Indonesia, serta CEO Mizan Bandung. Judul tulisannya itu pula yang kemudian dijadikan judul buku yang pernah diterbitkan oleh PIP PP IRM Periode 2004-2006 dimana tulisan Hernowo menjadi kata pengantar buku tersebut. Karena itu, berikut ini cuplikan cerita Hernowo tentang Michael Jordan (2007: 9).
Suatu ketika, setelah mencetak pretasi besar dalam sejarah hidupnya sebagai pemain basket, Michael Jordan ditanya oleh seorang wartawan televisi.
“Apa yang membuat Anda mampu menyelesaikan bola hingga mendekati angka 50 poin?”
“Keinginan,” jawab Jordan sembari mata tajamnya menata mata sang wartawan.
“Saya memang mempunyai keinginan untuk mencetak angka yang banyak dalam setiap pertandingan,” lanjutnya.
Keinginan? Apakah hanya keinginan yang mampu memotivasi Jordan untuk berprestasi dalam setiap pertandingan basketnya? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, coba kita lihat teori Stephen R. Covey. Dalam bukunya yang cukup menjadi referensi berbagai kalangan, The Seven Habits, Covey menjelaskan tentang apa yang disebut dengan “habit” atau kebiasaan. Menurutnya, kebiasaan merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), dan keinginan (desire).
Ketiga lingkaran itu dipertemukan jadi satu dan di tengah-tengah pertemuan itu diberi arsir dan terciptalah apa yang disebut sebagai KEBIASAAN. Covey mengatakan, Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Ketrampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi (keinginan untuk melakukan). Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus mempunyai ketiga unsur tersebut.
Kita kembali ke Jordan. Dia merupakan atlet terbaik yang pernah dilahirkan oleh NBA dan dikenal memiliki ketrampilan sangat tinggi dalam bermain basket. Bahkan nama Jordan sempat disemati dengan sebuah istilah yang hanya dimiliki oleh pesawat terbang: Air Jordan. Dalam sebuah film, Space Jam, Jordan sempat digambarkan sebagai pemain basket yang tidak punya lawan tanding di bumi ini sehingga harus dicarikan lawannya dari planet lain.
Hernowo meyakini, pengetahuan Jordan tentang bola basket juga tak kalah hebat dari ketrampilannya memainkan bola basket itu sendiri. Jordan adalah teladan kedisiplinan, tak kenal kata menyerah, dan pekerja keras dalam meraih sebuah hasil. Lalu, bagaimana dengan keinginan Jordan dalam meraih prestasi tinggi ketika bermain basket? Inilah yang menurut Hernowo menjadi salah satu aspek penting yang dimiliki Jordan. Jarang ada seorang atlet berprestasi yang mengeluarkan pernyataan seperti Jordan. Sebagaimana ditulis oleh Hernowo, yang menjadi pendorong kuat meraih prestasi adalah keinginan. Sekalipun Jordan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang hebat, tetapi tidak memiliki keinginan yang tinggi untuk berprestasi, apa jadinya? Mungkin Jordan tak akan bisa seperti sekarang jika dia tidak memiliki keinginan. Keinginan – meski sulit diprediski bagaimana kita mendapatkan, memilikinya, dan caranya supaya kita punya keinginan – merupakan unsur pembeda yang sangat penting apakah orang hebat satu dengan orang hebat yang lain dapat meraih sukses.
Kita juga tentu mengenal Andrea Hirata, peraih beasiswa pendidikan ke Eropa, yang menjadi tokoh muda inspiratif disebabkan novel dahsyatnya Laskar Pelangi beserta satu paket tetraloginya yang sempat menyihir jutaan pembaca dan penggemar setianya di tanah air, bahkan hingga mancanegara. Kita bisa memahami, bahwa masih banyak orang yang lebih pintar dan memiliki ketrampilan dahsyat dibandingkan seorang Andrea. Yang membedakan Andrea dan orang-orang hebat itu adalah bahwa Andrea memiliki keinginan yang kuat akan mimpinya yang sudah ditancapkan di dadanya sejak dia kecil.
Bagi kita yang pernah mengalami perkembangan belantika musik era jelang tahun 2000, Sheila on 7 pernah berjaya saat itu dengan tembang-tembang popnya yang mampu menjadi magnet bagi kaum muda di masanya. Ketika saya pernah mewawancarainya untuk sebuah media sekolah, ada satu hal yang masih saya ingat, yaitu pertanyaan yang pernah saya ajukan kepada band asal Jogja itu. Saat itu saya bertanya, apa rahasia di balik kesuksesan band kalian yang mampu menciptakan lagu-lagu monumental? Kelima anggota yang saat itu digawangi oleh Duta, Eros, Adam, Anton, dan Sakti menjawab tanpa ada perbedaan: Latihan dan kerja keras. Saya bisa menyimpulkan, bahwa latihan dan kerja keras tidak mungkin tercipta tanpa kebiasaan yang dilakukan oleh kelima personilnya. Kedisipilinan menjadi salah satu kunci yang harus ditanamkan dalam diri kita.
Mengapa Kok Kita Menulis?
Pertanyaan ini menjadi sangat mendasar bagi siapapun yang ingin memulai atau tidak sama sekali tertarik dengan dunia tulis-menulis. Kita akan memulai dari pernyataan, bahwa manusia hidup butuh eksistensi dan pengakuan dari orang lain. Banyak orang yang ketika hidupnya dikenang, dipuja, bahkan diagung-agungkan oleh kebanyakan manusia yang lain. Namun, setelah beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, dan beberapa tahun kemudian, dia dilupakan begitu saja. Sebaliknya, ada orang yang namanya tetap dikenang meskipun sudah puluhan tahun bahkan ratusan dan ribuan tahun orang itu meninggal. Apa yang membuat nama orang itu selalu abadi?
Jawabannya tidak lain adalah karya orang itu selama hidup bagi manusia yang ditinggalkannya. Kita tentu mengenal tiga filsuf ternama asal Yunani yang hidup Sebelum Masehi (SM): Socrates, Plato, dan Aristoteles. Juga dengan empat imam madzhab yang masyhur di kalangan umat Islam: Imam Maliki, Imam Hanbali, Imam Hanafi, dan Imam Syafii. Begitu juga dengan ilmuwan Islam lain seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi, serta kalangan intelektual Islam kontemporer seperti Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Mohammad Abduh, Fazlur Rahman, Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya. Di kalangan ilmuwan psikologi ada Sigmund Frued, di kalangan sosiologi ada Aguste Comte dan Max Weber, serta di kalangan ilmuwan ekonomi Adam Smith. Tak lupa kita juga mengenal Galileo, Newton, dan Albert Einstein. Selain itu, kita juga mengenal tokoh revolusioner seperti Karl Marx yang berkat karyanya Das Capital mampu memberikan inspirasi perubahan bagi orang-orang besar dunia seperti Soekarno, Lenin, Stalin, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Mereka yang kita sebutkan namanya tak lain karena memiliki karya.
Untuk berkarya pun tak mengenal usia, bahkan sekalipun usia mereka lebih singkat dari yang lainnya, namun nama mereka berpuluh-puluh tahun tetap menjadi inspirasi bagi jutaan pembacanya. Kita ingat dengan Anne Frank yang terkenal dengan buku hariannya yang diberi judul The Diary of Anne Frank dan telah diterjemahkan lebih dari 60 bahasa di dunia, Ahmad Wahib dengan bukunya Pergolakan Pemikiran Islam, dan Soe Hok Gie dengan Catatan Seorang Demonstran. Sekalipun usia mereka tidak lebih dari 30 tahun, bahkan masih belasan tahun, namun nama mereka menjadi inspirator jutaan umat maunisa. Karenanya, banyak karya yang sama sekali tidak dilirik orang ketika penulisnya masih hidup, tetapi menjadi perburuan banyak orang setelah puluhan atau ratusan tahun penulisnya meninggal. Karenanya, tak heran jika Milan Kundera berujar, “Novel yang hidup ketika pengarangnya mati.” Persis ucapan Tan Malaka: “Suaraku akan lebih nyaring dari dalam kuburan.” Atau rintihan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Itulah yang menyebabkan hampir setiap orang ternama pasti selalu memiliki tulisan atau karya.
Di lain hal, kita tidak bisa mengenal siapa nama-nama presiden di negara-negara terkenal di dunia ini karena mereka tidak memiliki karya atau pernah menulis buku. Karena itulah Erwin Gruwell, sebagaimana dikisahkan dalam film Freedom Writers, menekankan pada murid-muridnya untuk menulis apa yang selama ini pernah mereka rasakan. Miss G (sebutan murid-muridnya pada guru tercintanya itu) dengan keras mengatakan, mengapa kita hidup harus saling caci-maki, membatasi segalanya secara fisik, serta saling bunuh-membunuh. Apa kita akan dikenang orang setelah kita mati demi membela teman segeng kita? Pertanyaan berupa pernyataan itu menyentak para muridnya sehingga para muridnya memiliki kesadaran untuk tak saling bunuh di antara mereka dan mulai menumpahkan pengalaman-pengalaman mereka ke dalam sebuah tulisan. Dengan adanya tulisan itu, mereka ingin mengatakan bahwa: Kita pernah ada.
Dari sini kita dapat mengerti mengapa menulis itu menjadi bagian dari pilihan hidup. Kita ingat dengan ungkapan bahasa Arab: Khoirunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia yang lainnya). Menulis dan mengungkap fakta adalah salah satu cara kita bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, menulis bukanlah paksaan tapi kebiasaan yang harus kita tanamkan untuk kebaikan orang lain.
Cara Memulai Menulis
Ada banyak cara bagi kita untuk memulai membiasakan menulis. Namun, cara termudah adalah memulai menulis berdasarkan pengalaman. Jika kita menulis tentang kejadian-kejadian yang pernah kita alami, seolah tangan terasa ekspresif dan memiliki kebebasan mutlak dalam menuangkan kata-kata. Hal ini pun yang pernah saya rasakan. Jujur, saya adalah tipe seorang penulis yang susah dipaksa untuk menulis topic tertentu, apalagi harus merespon fenomena baru yang datang silih berganti. Inilah yang menyebabkan saya mungkin tidak selalu muncul di media massa. But, itulah penulis. Masing-masing memiliki perbedaannya.
Menulis diary atau catatan harian adalah cara termudah bagi kita untuk mulai membiasakan menulis. Dengan menulis catatan harian, kita tidak merasa terbebani atau tiba-tiba kita tidak mendapatkan inspirasi. Dengan menulis catatan harian, kita sekadar menuangkan apa yang telah kita alami. Banyak hal yang unik yang tentu kita alami dalam hidup ini, mulai dari mimpi kita yang aneh-aneh, curhat kita dengan teman dekat, kegilaan dan kegokilan teman-teman di komunitas kita, serta kejadian-kejadian lucu dan unik di sekitar kita. Mungkin kita merasa senang dengan kejadian-kejadian itu, tapi alangkah lebih menariknya jika kejadian-kejadian unik itu kita tumpahkan ke dalam tulisan. Soalnya, beberapa hari kemudian kejadian itu susah untuk kita ingat kembali.
Selain itu juga, mungkin tiba-tiba muncul ide di kepala kita saat kita sedang melamun di kamar, nongkrong di WC, atau saat sedang duduk di bis atau di kereta karena perjalanan yang sangat panjang. Bahkan, saya terkadang mendapatkan ide di tengah-tengah sedang dalam keadaan sholat. Saya juga kurang tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Itulah ide, muncul tanpa disangka-sangka dari arah yang tidak bisa ditebak. Jika ide-ide cemerlang itu tidak kita tuangkan, amat sangat disayangkan jika pada akhirnya hilang ditelan oleh sifat pelupa kita.
Dalam hal penuangan ide, meminjam tulisan yang ada di buku Wow, Aku Bisa Menulis (2007: 32-33), saya sering mengalami hal-hal yang ajaib begitu mulai menekan tombol-tombol huruf di keyboard notebook atau laptop. Saya seolah melancarkan ketikan saya secara bebas seperti seorang yang sedang berselancar di atas laut. Bebas, mengalir, dan cepat tersaji. Pada akhirnya, saya merasakan betapa ada sesuatu muncul dan membentuk kalimat tersendiri seperti “jaringan”. Di dalam jaringan itu ada semacam kabel yang dengan cepat saling terjulur dan saling berhubungan antara satu kabel dengan kabel yang lainnya. Di kepala saya langsung terjadi hubungan dahsyat antara pengalaman yang satu dengan pengalaman yang lainnya. Mengalir cepat dan deras hingga tak terasa tulisan telah banyak. Kalau sudah begini, menulis menjadi sangat asyik dan menyenangkan.
Hampir mayoritas penulis buku-buku bestseller karyanya terinspirasi oleh kisah nyata, bahkan kisah pribadi sang penulis. Nizami dengan Laila Majnun, Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Bumi Manusia, Hilman W. dengan Lupus, Moammar Emka dengan Jakarta Undercover, Iip Wijayanto dengan Sex in the Kos, Muhidin M. Dahlan dengan Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur, Habiburrahman El Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta, Abidah El Khalieqy dengan Perempuan Berkalung Sorban, Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi, Ahmad Fuadi dengan Negeri 5 Menara, Raditya Dika dengan Kambing Jantan dan lain sebagainya.
Mereka semua memiliki karakter tersendiri dalam menulis dan membawakan alur ceritanya. Karenanya, janganlah kita meremehkan pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami. Sumber inspirasi yang paling terdahsyat di dalam hidup ini adalah pengalaman itu sendiri. Amat disayangkan jika kita melewatkan pengalaman kita dengan begitu saja. Banyak hal yang berharga dari dalam diri kita untuk berbagi pada orang lain yang terkadang kita tidak memahaminya.
Membaca untuk Meledakkan Ide
Ada banyak alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas membaca. Bisa jadi karena dia sudah tertarik dengan judul buku itu sebelumnya, sehingga dia beli ke toko buku dan langsung melibas habis. Ada juga untuk mengisi kekosongan waktu, seperti membawa komik atau bacaan ringan saat pergi ke luar kota karena butuh waktu panjang di perjalanan. Daripada duduk bengong, mending baca buku. Atau bisa jadi membaca buku karena sebuah tuntutan seperti membaca buku-buku teks kuliah. Mau tidak mau kita harus membacanya karena untuk tugas kuliah dan harus dipresentasikan di kelas. Namun, bagaimanapun juga, membaca adalah aktivitas pilihan. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memaksa kita untuk membaca.
Namun, ada hal yang perlu diingat, bahwa membaca akan memudahkan kita untuk berpikir terbuka. Secara tiba-tiba, bacaan bisa menginspirasi tindakan kita untuk melakukan sesuatu. Selain itu, perbendaharaan kata menjadi semakin kaya, sehingga ketika kita menulis tidak kesusahan dalam memilih diksi atau pilihan kata. Rangkaian tulisan menjadi lebih menarik dibaca orang. Di sinilah apa yang disebut “rasa bahasa” akan terasa dengan sendirinya. Karena itu, mulailah membaca apa saja yang paling kita sukai. Janganlah membatasi bacaan, sehingga membuat diri kita tertutup dengan sebuah keniscayaan dan perbedaan yang merupakan bagian dari rahmat Allah.
Membaca itu ibarat kita makan. Jika kita banyak membaca, keinginan atau permintaan dari dalam diri untuk memuntahkan tulisan itu akan muncul dengan sendirinya. Ide-ide yang bagaikan jejaring itu dengan sendirinya akan mengarahkan pikiran kita untuk memunculkan ide baru lagi. Karena itulah, membaca merupakan bom waktu yang cukup spektakuler bagi para penulis. So, mulailah sejak sekarang untuk mengatakan: WOW, AKU BISA MENULIS!
Ditulis dan disampaikan dalam Pelatihan "Calon Peneliti Muda" yang diadakan oleh IMM Cabang Jember, 23 April 2011 di Unmuh Jember, Jawa Timur.
Ridho Al-Hamdi
About Me
- @ridhoalhamdi
- Lecturer at Department of Govermental Studies, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Indonesia. His interest topics are Islam and Politics, Politica Party and election Studies, political behavior, Political Communication and political marketing. Now, He resides in Yogyakarta, Indonesia. Further communication, please contact him in e-mail: ridhoalhamdi@yahoo.com
Bridging Community (Management's Class)
- Adjie Setiyawan
- Agustin Nuriel
- Ainil Izzah
- Al-Amin Reza
- Alit Unagi
- Andry Kumala
- Anne Khairunnisa
- Ardana Pratista S
- Arief Firmansyah
- Arief Wicaksono
- Arifuddin Try Utomo
- Arziannisa Azwary
- Bob Maulana
- Debi OS
- Faaza Fakhrunnas
- Fajar Praharu
- Fajar Prasetya
- Fakhrul Arief
- Gestian
- Haryo Agung P.
- Hasanuddin
- Ibnu Suryo
- Jati Pertiwi
- Khamid Rifan
- Lhia Dwi
- Lusitania Maretasari
- Luthfiyana Puspowati
- M. Noor Fahmi
- M. Siswandi
- Miftahul Jannah
- Nafta Caustine F.
- Nia Widya Ningrum
- Ova
- Putri Oktovita Sari
- Retti Mutia
- Rifqi Romadhon
- Rizkika Awalia
- Rochana K. Windati
- Sehly El Farida
- Septiara N.
- Setyasih Handayani
- Sheila Aqla RV
- T. Zeyfunnas
- Tatag Julianto
- Toga Melina Kartikasari
- Wahyu Indra
- Windi Hamsari
- Yuda Pratama Putra
Bridging Community (Economical Class)
- Agung Purnama M
- Aprinia Wardany
- Dicky Hidayat
- Dony Mahardika
- Eko Pranata
- Ericka Betty R.
- Fajar Ramadhan A
- Febri Septiawan
- Fita Fatimah
- Fitri Fauzia
- Fitri Fauziah
- Hasbi Ashshiddiq
- Ilham Farih
- Karmila PW
- Mela Melindasari
- Nita Sari Astuti
- Noor Rahmalita S
- Nopi Haryanto
- Nur Indah Hardianti
- Nuzyl Denni K
- Phian Ingdriansyah
- Puspita Maharani
- Ririd Dwi Septiani
- Said Hendra
- Setya Afriya
- Siska Budiningrum
- Tomi Putra
- Yenny Anggriani
- Yoga Prasetyo
My Followers
My Friends
- Abdul Halim Sani
- Abdul Munir Mulkhan
- Agus Wibowo GK
- Ali Usman
- Arifin "Bukan" Ilham
- Awaluddin Jalil
- Chandra
- Deni Pakek Weka
- Deni Weka
- Dharono Global TV
- Mas Jidi PECOJON
- Masmulyadi
- Masmulyadi (Dua)
- Meitria Cahyani
- Mudzakkir
- Muhammad Al-Fayyadl
- Muhibbudin Danan Jaya
- Musyaffa Basir
- P-Men IRM Sulsel
- Robby H. Abrar
- Rully
- Saiful Bari
- Tatag Julianto
Institutions
Gerakan mahasiswa Islam Indonesia merupakan salah satu kekuatan klas sosial di kalangan universitas yang dihimpun oleh kalangan mahasiswa pada jenjang strata satu (S1). Sebagian dari gerakan mahasiswa ini ada yang menjadi organisasi resmi (intra) kampus seperti IMM, tetapi ada juga yang hanya menjadi organisasi tidak resmi (ekstra) kampus. Itu semua tergantung dengan kebijakan universitas masing-masing.
Berikut ini akan dipaparkan singkat tentang masing-masing gerakan mahasiswa Islam di Indonesia.
1. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lahir pada tanggal 5 Februari 1947 atas prakarsa Lafran Pane dan rekan-rekannya dari STI (Sekolah Tinggi Islam)/ UII di Yogyakarta. Beberapa tokoh HMI yang cukup ternama adalah Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, Ahmad Wahib, Amien Rais, Akbar Tandjung, Anas Urbaningrum, dll. Gerakan HMI terpecah menjadi dua kubu ketika rejim Orde baru sedang gencar-gencarnya menanamkan ideologi pancasilanya. Karena itu, bagi mereka yang mendukung pancasila sebagai dasar gerakan mereka menyebutnya ”HMI DIPO”. DIPO merupakan nama lokasi mereka di Jakarta yang artinya Jalan Diponegoro. Sedangkan bagi mereka yang menolak asas pancasila menamakan diri sebagai ”HMI MPO”. MPO: Majelis Penyelamat Organisasi. Pada era Orde Lama, HMI merupakan satu-satunya organisasi mahasiswa Islam yang cukup militan.
2. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Lahir 14 Maret 1964. Para pendirinya adalah Djazman Al-Kindi, A. Sulamo, Sudibyo Markus, Kastolani, Slamet Sukirnanto, Amien Rais, Dzulkabir (dari mahasiswa UGM), Rosyad Sholeh dan A. Muis dari IAIN Yogyakarta. Selain itu, kelahiran IMM sebenarnya merupakan respon atas fenomena akan dibubarkannya HMI oleh rezim yang berkuasa, karena pada saat itu Soekarno telah membubarkan Masyumi sebagai satu-satunya representasi kekuatan politik umat Islam. Mahasiswa-mahasiswa Muhamamdiyah yang tergabung dalam HMI merasa perlu membuat gerakan sendiri mengingat HMI akan dibubarkan. Selain itu, kampus-kampus Muhammadiyah mulai berkembang sehingga perlunya dibuat organisasi Muhammadiyah berbasi mahasiswa. Ciri gerakan IMM adalah pengembangan nalar intelektual sehingga mempunyai motto “Unggul Intelektual, Anggun dalam Moral”.
3. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Lahir pada tanggal 17 April 1960 dengan ketua pertamanya Chalid Mawardi dari mahasiswa IAIN. Kemunculan PMII merupakan respon terhadap ketidakterlibatan mereka secara aktif karena pada saat itu HMI lebih dikuasai oleh kalangan mahasiswa reformis-modernis. Selain itu, kelahiran PMII merupakan salah satu dampak dari keluarnya NU dari partai Masyumi. Bagi kalangan HMI, PMII dianggap sebagai pengkhianat atas kesepakatan umat Islam pada tahun 1949 yang mengakui bahwa hanya HMI sebagai satu-satunya gerakan mahasiswa Islam di Indonesia.
4. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI(. Adalah gerakan mahasiswa Islam yang memiliki corak perjuangan Islam yang akhir-akhir ini lebih militant di banding dengan yang lainnya. Bahan bacaan mahasiswanya pun tidak terlepas dari tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Pola pendidikan dan kaderisasinya juga ketat serta lebih memilih paradigma yang cenderung tekstual. Isu-isu yang diangkat pun seputar isu Islam, palestika, lawan Israel-Amerika, dll. Bagi sebagian pengamat, KAMMI merupakan organisasi yang melahirkan kader-kader dakwah dan sebagian yang lain ke jalur politik (PKS).
Yogyakarta, 18 Mei 2011
Kita tentu ingat dengan tiga kata yang terpampang secara permanen di tembok sekolah saat kita duduk di bangku SD: “Cerdas, Taqwa, Terampil”. Ketiga kata tersebut telah menemani hari-hari kita di awal kita mengenal ilmu pengetahuan. Mungkin saat SD kita belum bisa memaknai secara penuh dan melaksanakan tiga kata tersebut. Karena keseharian kita selalu dihiasi oleh permainan dan canda tawa. Namun, keberadaan tiga kata tersebut setidaknya telah menjadi ruh yang terus menjiwai kita menjadi manusia beradab di tengah tantangan zaman yang berubah dari waktu ke waktu.
Kini, ketika kita telah beranjak dewasa, menjadi seorang mahasiswa di sebuah universitas ternama dan telah bekerja di perusahaan terkenal tingkat internasional, kita baru menyadari, bahwa tiga kata yang telah tertanam sejak SD tersebut memiliki kekuatan dahsyat yang mendorong alam bawah sadar kita untuk menjadi insan mulia, berpengetahuan luas, dan menguasai keterampilan teknologi. Dalam konteks tulisan ini, tiga kata “Cerdas, Taqwa, Terampil” diartikan dengan kata yang berbeda namun memiliki makna yang sama, yaitu “Pengetahuan, Moral dan Keterampilan”.
Tulisan ini ingin mengajak kepada para mahasiswa, sebuah status sosial tertinggi dalam masyarakat modern, untuk kembali memahami hakikatnya sebagai manusia dan perannya dalam kehidupan modern di era globalisasi yang terus berjalan dengan cepat. Jika kita tidak dapat mensiasati dan menguasai tantangan zaman, maka kita akan dilindas dan ditelan oleh zaman itu sendiri. Karena itu, sudah saatnya mahasiswa sebagai kelompok intelektual dan aktor perubahan mengambil perannya untuk mengendalikan zaman menuju masyarakat yang berkeadaban.
A. Menguasai Pengetahuan dan Teknologi
Adalah Sukardi Rinakit (2008), seorang pengamat politik nasional, bercerita, bahwa dirinya pernah mengunjungi negara China dan India. Ketika Rinakit bertanya kepada anak-anak China, apa cita-cita kalian? Anak-anak China menjawab dengan serentak: “Mengalahkan Amerika!!!” Terbuktilah, semangat melawan Amerika diwujudkan dengan adanya perangkat hardware, sehingga muncul beragam produk-produk China dengan segala macam merk yang mampu menyaingi produk-produk buatan Amerika.
Kemudian, ketika Rinakit bertemu dengan anak-anak India dan bertanya, apa cita-cita kalian? Anak-anak India menjawab dengan serentak pula: “Mengalahkan Amerika!!!” Terbuktilah, semangat melawan Amerika diwujudkan dengan adanya perangkat software, sehingga tak jarang orang-orang India saat ini banyak yang menguasai perusahaan-perusahaan di Amerika. So, bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Rinakit melanjutkan ceritanya dengan menjawab sedikit lelucon: Anak-anak Indonesia sukanya dengan underwear. Artinya, anak-anak Indonesia tidak terlepas dengan pikiran-pikiran negatif yang merusak moral dan kepribadian mereka.
Dari cerita di atas, ada satu hal yang menarik untuk dijadikan perhatian bersama, bahwa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa Indonesia untuk dapat memajukan negeri ini dan bertarung dalam kancah internasional. Menurut Amien Rais (2008), salah satu kelemahan republik ini adalah rakyatnya tidak mampu menguasai teknologi dan tidak berani bertarung dengan negara-negara adidaya. Pada akhirnya, mental negara kita inlander (lemah) serta tidak berdaulat baik secara ekonomi maupun politik.
Realitas inilah yang seharunya mampu diperankan oleh mahasiswa. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh para mahasiswa. Pertama, kuasailah bahasa internasional. Bahasa adalah alat komunikasi. Sekalipun kita cerdas, namun tanpa komunikasi yang baik, kita tidak akan dapat menyampaikan gagasan-gagasan kita secara menyeluruh kepada orang lain. Artinya, jika kita tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa internasional, maka kita akan lemah secara pengetahuan. Dalam konteks kekinian, bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang saat ini menjadi alat komunikasi antar warga negara.
Kedua, belajarlah pada peradaban yang lebih maju. Jika saat ini Amerika merupakan kiblat peradaban dan ilmu pengetahuan, maka kita harus mengakui dan mau belajar pada Amerika. Berusahalah mencari scholarship agar kita bisa belajar hingga ke pusat peradaban. Dalam teori perang dikatakan, untuk mengalahkan musuh, kita harus belajar pada musuh. Artinya, jika kita ingin mengalahkan Amerika, maka kita harus belajar pada Amerika, seperti yang dilakukan oleh anak-anak India dan China saat ini.
Ketiga, fokuslah pada satu disiplin ilmu tertentu. Setelah kita mampu menguasai bahasa internasional sebagai alat komunikasi dan telah berusaha untuk belajar pada musuh, maka kita harus memusatkan konsentrasi pada satu bidang keilmuan tertentu. Pelajarilah secara mendalam dan detail ilmu yang kita miliki, sehingga kita menjadi pakar pada ilmu tertentu. Jika kita ingin menguasai ilmu managemen, maka kuasailah ilmu tersebut secara serius. Jika ingin menjadi psikolog, maka kuasailah teori-teorinya. Begitu juga jika kita ingin menjadi dokter. Dengan tiga tahapan tersebut, mahasiswa Indonesia dapat menjadi orang ternama di tingkat internasional.
B. Memperkuat Landasan Moral Pribadi
Yang membedakan antara peradaban Barat dengan peradaban Timur adalah soal moral. Barat tidak begitu mementingkan arti moral, sehingga free sex dan gonta-ganti pasangan bukanlah masalah besar, bahkan free sex menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Berbeda dengan Timur yang sangat memperhatikan moral. Untuk hidup bermasyarakat saja penuh aturan dan tata krama, apalagi menyangkut persoalan moral personal. Karena itu, dalam tradisi Timur, keperawanan perempuan sangatlah berharga terutama dalam tradisi Jawa, sehingga jarang ada perempuan yang keluar pada malam hari di atas jam sembilan. Jika ada perempuan yang keluyuran pada malam hari, secara moral dia akan mendapatkan label negatif.
Kita bisa berkaca pada kejadian akhir-akhir ini yang menimpa musisi ternama tanah air, Nazriel Ilham alias Ariel Peterpan, yang divonis hukuman penjara karena melakukan free sex dengan artis ternama dan adegan pornonya telah tersebar di dunia maya. Orang mengakui kepiawaian Ariel dalam bermusik. Namun, karena keburukan moralnya, karir dan nama baiknya menjadi rusak.
Kisah Ariel menjadi cambuk bagi para mahasiswa, bahwa moral merupakan landasan yang sangat penting untuk menunjang karir seseorang. Karena perilaku yang amoral, seseorang bisa tersungkur ke lembah nista. Kita lihat saja cerita Antasari Azhar, mantan ketua KPK, yang terdampar di balik jeruji penjara akibat tuduhan cinta segitiganya dengan perempuan bernama Rani, seorang cady di lapangan golf. Atau tersebarnya adegan porno Yahya Zaini (politisi Golkar) dengan seorang penyanyi dangdut yang menyebabkan Yahya dipecat dari anggota DPR sekaligus dari Golkar. Karir dan reputasinya jatuh secara tiba-tiba.
Mereka yang sukses saja mendadak bisa miskin akibat perilaku yang amoral, apalagi mahasiswa yang masa depannya belum jelas. Karena itu, kita sangat berharap pada para mahasiswa untuk benar-benar mampu menjaga moral dan akhlak pribadi mereka. Masa depan bangsa ini ada di tangan kalian. Jika para mahasiwa sudah tergerus oleh nikmatnya rayuan-rayuan syahwat, maka republik ini tidak akan berumur panjang. Jika hal ini terus terjadi, tak lama kemudian: “Kita akan menjadi orang asing di negeri sendiri”.
Bekalilah kepribadian kita dengan landasan iman yang kuat dan kokoh, sehingga langkah kita menuju pintu kesuksesan tidak berhenti di tengah jalan. Jangan gara-gara sedikit perbuatan nista, usaha kita selama ini menjadi sia-sia. Ini sebuah perjuangan yang sangat berat. Jika para founding fathers kita berjuang melawan para penjajah, saatnya kita berjuang melawan diri kita sendiri untuk kemenangan republik ini menjadi bangsa yang mandiri secara ekonomi di hadapan negara yang lain.
C. Mengembangkan Keterampilan
Kini banyak institusi-institusi pendidikan yang menawarkan jurusan-jurusan ketrampilan. Bahkan, keberadaan SMK dan sekolah menengah kejuruan lainnya merupakan salah satu jawaban untuk menghadapi tantangan global. Orang lain tidak bisa mengetahui kemampuan kita jika kita tidak memiliki keterampilan pada satu bidang tertentu. Seorang sarjana teknik elektro, tetapi tidak bisa mengotak-atik alat-alat elektronik, dia tidak akan diterima di sebuah perusahaan elektronik. Begitu juga dengan seorang sarjana pertanian yang tidak pernah praktek cara bercocok tanam, akan menemukan kesusahan ketika terjun dalam dunia usaha pertanian.
Karena itu, di era yang serba tanpa skat ini, keterampilan menjadi sebuah keharusan bagi para mahasiswa untuk mewujudkan kesuksesan masa depannya. Saat ini, banyak sarjana pengangguran. Bahkan setingkat magister pun tak kalah banyaknya yang masih menganggur dan belum mendapatkan pekerjaan. Persoalannya adalah, mental yang dibangun oleh institusi pendidikan kita adalah mental pekerja, bukan creator atau pencipta lapangan pekerjaan. Alhasil, angka statistik pengangguran setiap tahunnya selalu meningkat. Mengapa demikian? Jawabannya ada di pundak masing-masing mahasiswa.
Keberadaan UKM-UKM di kampus seharusnya mampu memberikan solusi atas persoalan ini, sehingga hobi para mahasiswa bisa berlanjut terus hingga ke jenjang pekerjaan. Tanamkanlah pada diri para mahasiswa “jiwa-jiwa kreatif” agar selalu menjadi lulusan yang dapat menciptkan keterampilan yang beragam. Jika hal ini dapat dilakukan oleh para mahasiswa sejak di awal bangku kuliah, maka setelah mereka lulus tidak usah dikhawatirkan lagi ke arah mana mereka bekerja. Karena mereka mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
Bentuk-bentuk keterampilan yang bisa diasah sejak mahasiswa adalah keterampilan berwirausaha atau berdagang, keterampilan menjadi pendidik (guru atau dosen), keterampilan menjadi pemimpin (politisi atau pemimpin daerah), keterampilan menulis (jurnalis atau wartawan media), dan segala bentuk keterampilan lainnya yang dapat disah sejak kuliah, semisal bernyanyi. Dengan bekal yang telah ditanamkan sejak muda, para mahasiswa yang telah lulus tidak akan mengalami kegagapan teknologi.
Dari sini kita dapat mengetahui, bahwa menguasai ilmu pengetahuan, memperkuat landasan moral, dan mengembangkan keterampilan merupakan strategi tepat yang harus dimiliki oleh para mahasiswa untuk menghadai tantangan global. Jika kita tidak mampu menaklukkan tantangan itu, maka kita sendiri yang akan ditaklukkan oleh tantangan itu. Karenanya, persiapkanlah segalanya sejak sekarang. Ingatlah spirit “Cerdas, Taqwa, Terampil” yang sudah mendarahdaging sejak SD dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita menjadi manusia yang sukses mengadapi era tekonologi.
Yogyakarta, 15 April 2011