14.50

Surat Rachel untuk Farel (Heart)

Farel sahabatku, aku menulis surat ini sambil mengenang persahabatan kita yang penuh dengan kegembiraan dan tawa. Sejak kecil main basket bersama-sama, berlari-larian di kaki bukit. Kamu buatkan aku mahkota indah dari dedaunan. Semua itu terlalu indah untuk kukenang.

Persahaban kita begitu dekat. Sampai tiba saatnya kamu jatuh cinta pada Luna. Sulit sekali kujelaskan bagaimana perasaanku. Aku gembira melihat kamu bahagia. Tapi entah kenapa aku tiba-tiba merasa kehilangan. Kadang aku cemburu karena kamu gak punya banyak waktu lagi untukku. Sungguh aku sangat terpukul ketika dokter bilang, kakiku harus diamputasi.

Tanpa kaki aku gak akan bisa main basket lagi sama kamu, sambil tertawa bekejaran dalam hutan. Pada akhirnya aku menyadari, aku gak ingin kehilangan kamu Farel. Tapi saat perpisahan itu pasti akan datang juga. Karena aku tahu, kamu sangat mencintai Luna. Dan suatu ketika kamu akan menikahinya.

Aku gak mau ada kata-kata perpisahan di antara kita, Farel. Untuk itulah akhirnya aku memutuskan untuk mendonorkan hatiku pada Luna. Dengan hati yang ada di tubuh Luna, maka aku bisa terus mendampingimu, Farel. Bahkan sampai kamu menikah dan punya anak. Lalu hatiku yang kudonorkan di tubuh Luna, aku bisa terus bersamamu.

Melalui hatiku yang kini ada di tubuh Luna, dengan cara itu aku mencintaimu.

14.27

Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya". "Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu saja," jawab si Profesor

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?" "Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?" Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap.

Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah,
Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan.

Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."

Profesor itu terdiam.

11.48

HP, Antara Kebutuhan dan Keinginan

Di tahun 90-an, HP masih menjadi barang langka dan hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu atau klas menengah ke atas. Tetapi pada millenium ketiga ini, yakni awal tahun 2000an, HP menjadi teman akrab dan familiar di tangan masyarakat, baik orang biasa maupun kalangan menengah ke atas. Bahkan sudah menjadi menjadi semacam aksesoris yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Jika tidak ada teman bicara, maka HP bisa menjadi teman yang menghibur.

Sebenarnya fungsi HP untuk menunjang proses komunikasi menjadi lebih cepat, mudah, dan praktis. Kita tidak perlu lagi pergi ke wartel untuk menelpon seseorang. atau tak harus kerim surat lewat jasa pos yang memakan waktu cukup lama, belum lagi ongkos kirim mahal. Di HP sudah ada fasilitas Short Message Service (SMS) yang fungsinya sama dengan surat. Hanya dengan ganti rugi 350 perak, pesan singkat langsung sampai ke tujuan. Dengan HP, kita bisa berbuat apa saja, bisa miscal-miscalan, mencari kenalan, godain orang, mengancam orang, menipu dan segala perbuatan yang positif maupun negatif.

Lebih-lebih sekarang ini jenis dan fasilitas yang ada di HP tidak sekedar alat komunikasi saja. Banyak variasi yang bisa dipilih oleh para konsumen. Baik dari segi warna, bentuk, cashing, ringtone, gambar, minta info dan games. Bahkan sudah semarak dengan fasilitas rekam suara, foto, radio dan lain-lain. Maka ketika beli HP dengan fasilitas lengkap seperti di atas, kita tidak perlu lagi beli tustel, tape recorder dan radio. Ringkas, mudah, dan ringan. Tetapi harganya memang agak mahal sedikit.

Bagi remaja, HP menjadi trend dan rumor tersendiri. Seolah-olah kalau tidak mempunyai HP tidak Pe-De dan nggak gaul. Bisa dilihat, hampir semua remaja dan sebagian pelajar sekolah selalu memegang HP. Entah itu HP orang tuanya ataupun hasil dari beli sendiri. Dan harga sangat variatif, dari yang murah sampai yang mahal, ratusan ribu hingga lima jutaan. Dan Counter HP pun sudah berjejer di sepanjang jalan raya. Di mana-mana tercantum tulisan-tulisan, seperti: tukar tambah HP, dicari HP dengan harga mahal, di sini dijual HP dengan harga murah, dan juga harga pulsa dari yang puluhan ribu hingga ratusan. Entah itu simpati, mentari, E-M3, Pro-XL, kartu Halo, Jempol, Frends, Flexi dan sejenisnya. Semua sangat bervariatif sesuai dengan dompet remaja.

Gejala dan fenomena ini menjadi hal yang baru bagi kehidupan kita. Di mana semua orang ikut terjun dan terlibat di dalamnya. Bagi remaja yang ingin ikut-ikutan, maka dia selalu mengikuti perkembangan info. Dan berita soal HP bisa didapatkan melalui majalah, koran, internet, dan media lainnya. Informasi mudah didapat dan diakses. Bahkan HP sekarang sudah menjadi sebuah maenan yang digandrungi remaja. Dia rela berkorban untuk membeli HP terbaru dan selalu gonta-ganti.

Di balik itu semua, ada sesuatu yang menjadi problem bagi perkembangan psikologis, terkhusus bagi remaja, yakni kehilangan kesadaran. Dia akan ikut dengan arus gelombang dan terninabobokan dengan barang-barang baru. Remaja kadang kala ingin semua kebutuhannya terpenuhi. Berbagai cara akan dilakukan, termasuk mungkin mencuri. Budaya seperti ini menjadi tidak baik, karena kedudukan HP telah menguasai sebagian hidup manusia, padahal seharusnya kitalah yang menguasai teknologi.

Maka kita perlu cermat memposisikan antara HP sebagai sebuah kebutuhan dan HP sebagai sebuah keinginan. Mungkin bagi orang kaya, itu tidak masalah, tetapi bagi orang pas-pasan atau kaum miskin bagaimana? Karena itu, nafsu haruslah dikekang dengan akal kita, sehingga kita dapat berfikir sesuai dengan kondisi kebutuhan. Ketika ingin membeli HP, maka prioritas utama adalah membeli HP yang bisa buat telpon dan sms saja. Selebihnya bukanlah hal yang penting. Dan sisa uang dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lain, semisal membeli buku bacaan, ditabung, atau membeli pulsa.

Ketika kita berbicara dengan pola fikir “keinginan”, maka tidak ada pertimbangan lain kecuali seuatu yang kita inginkan itu harus tercapai dan berhasil. Maka di situ nafsulah yang berbicara. Sedangkan jika melihat sesuatu dengan sudut pandang “kebutuhan”, maka kita akan melihat pada kondisi pribadi, baik keuangan maupun pertimbangan lainnya. Dan kita bisa belajar bijaksana terhadap diri sendiri. Melalui inilah proses belajar menjadi dewasa bisa tertanam. Dan nilai-nilai pendidikan juga tumbuh dengan sendirinya. Maka untuk memilih HP haruslah sesuai dengan kebutuhan, bukan mengikuti keinginan dan nafsu.

Pernah dimuat di Kuntum