13.03


In Bridging Program Community

Ini merupakan minggu pertama aku menjadi dosen di Bridging Program FE UII. A Nice experience for me. Teaching, discuss about motivation, games, etc. Bertemu dengan rekan-rekan yang energik, progresif, care, saling support, serta mahasiswa yang macem-macem. Kadang capek, kadang melelahkan, tapi harus tetap memberikan yang terbaik.

Sekedar untuk tau aja, Bridging Program (BP) merupakan salah satu program yang ada di FE UII yang menjembatani mahasiswa yang baru saja lulus SMA menunju jenjang perkuliahan dengan dibekali oleh skill serta penanaman nilai-nilai Islami. Dengan ada BP ini diharapkan mahasiswa benar-benar bisa menjadi dan memahami, bahwa dirinya adalah mahasiswa yang siap menjadi anak panah untuk republik negeri ini. Apalagi meminjam analisa Anies Baswedan (2007), rulling elite Indonesia 2020 ke depan adalah para pengusaha atau entrepreneur. Hal ini tepat sekali jika diterapkan pada teman-teman yang ngambil mata kuliah di FE UII. Jika kita percaya pada ramalan Baswedan, merekalah kelak yang mampu menjadi salah satu pioner bagi perkembangan republik kita tercinta ini.

So, ada hal yang berbeda antara BP dengan mata kuliah lain. Jika di matakuliah lain hanya sekadar transfer of knowledge, maka di BP dimasukkan juga transfer of values and skills (asal gak transfer of money aja, hihihi…). So, mejadi dosen di BP pun ada nuansa tersendiri. Tidak sekadar menjadi dosen pada umumnya dosen lain, tapi juga harus menjadi partner, teman dalam diskusi, termasuk teman saat curhat (asal jangan sampe lama-lama lho ya curhatnya)…

At least, moga ini adalah awal perjalanan yang baik. Seperti pesan saat workshop di Wisma Joglo alias Wisma Jomlo (versi Pak Iweng), kita jadikan BP untuk mewujudkan team yang sinergis bla, bla, bla… untuk kemandirian (wkwkwk… lupa aq rek)… ada yang bisa bantu? Thanks for all…

Lt. 3 BP FE UII, 13.05 WIB (Waktunya Iuntuk Boboxss)

14.20

Menengok Potret Muhammadiyah Lokal


Muhammadiyah kini telah berumur satu abad. Spektrum gerakannya telah dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di berbagai bidang kehidupan. Sejak didirikan oleh Kyai Dahlan hingga sekarang, Muhammadiyah tidak hanya berkembang di Yogyakarta sebagai kota kelahirannya. Dengan kegigihan para aktivisnya dalam menyebarkan agama Islam, Muhammadiyah di awal perkembangannya telah mencolok di beberapa daerah seperti Pekalongan dan Minangkabau. Di samping itu, yang menjadi perhatian bersama juga, Muhammadiyah telah berkembang di tanah Bima (NTB) sejak 1930-an dengan berbagai kelebihan yang disajikan penulisnya dalam buku ini.
Syarifuddin Jurdi secara sistematis menjelaskan Muhammadiyah Bima mulai dari awal kelahiran, perkembangan, kiprah kemasyarakatan di bidang pendidikan dan kesehatan, serta peran yang dimainkan oleh Ortom-ortom setempat dengan berabagai dinamikanya yang beragam. Selain itu, penulis buku ini yang juga mantan aktivis IMM menjelaskan pola hubungan antara Muhammadiyah Bima dengan pemerintah (negara) lokal, terutama dalam memajukan proses demokratisasi lokal untuk mendorong terciptanya good governance dan clean governance.
Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari buku ini. Pertama, Muhammadiyah Bima lahir dan berkembang bukan dari tokoh Muhammadiyah Jogja atau Jawa sebagai pusat pergerakan organisasi ini. Muhammadiyah Bima justru lahir dari mubaligh Muhammadiyah Sulawesi (M. Sanan) yang merupakan salah satu kader didikan Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah dari tanah Minang. Secara historis, Muhammadiyah Bima merupakan hasil perjuangan dari elite-elite Muhammadiyah Sulawesi dan Minang.
Kedua, sekalipun jauh dari pusat peradaban Muhammadiyah di tanah Jawa, Muhamamdiyah Bima telah berkipah pada masyarakat setempat dengan memajukan dan memodernisasi kehidupan melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Hal ini terbukti dengan berdirinya RS PKU Muhammadiyah Bima dan sejumlah institusi pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, Pondok Muhammadiyah Bima, hingga perguruan tinggi semisal Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Bima dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Muhammadiyah Bima.
Ketiga, elite-elite Muhammadiyah Bima juga terlibat dalam urusan politik kenegaraan lokal. Keterlibatan itu terbukti dengan turut bergabungnya sebagian elite Muhammadiyah Bima dalam Komite Nasional Indonesia (KNI) Bima, menjadikan Muhammadiyah Bima sebagai pendukung utama Masyumi pada Pemilu 1955, dan bergabungnya beberapa tokoh Muhammadiyah Bima ke Parmusi. Di era Orde Baru, sikap-sikap politik yang dimainkan oleh Muhammadiyah selalu mendapat pertentangan dari rezim yang berkuasa. Di samping itu, Muhammadiyah Bima turut melakukan tindakan-tindakan konkrit, seperti kampanye anti-korupsi, tetap aktif melawan gerakan kristenisasi, serta mendukung penguatan civil society dan proses demokratisasi politik lokal (misal Pilkada).
Namun, dalam buku ini tidak dijumpai pembahasan spesifik yang berbicara tentang kekurangan maupun tantangan yang dihadapi oleh Muhammadiyah Bima yang dapat dijadikan evaluasi kritis bagi gerakan Muhammadiyah di masa kini dan masa mendatang. Setidaknya, dengan adanya satu sub pembahasan tersebut, aktivis Muhammadiyah di daerah lain dapat mengambil pelajaran dari pergerakan Muhammadiyah Bima.
Terlepas dari itu, buku ini telah memberikan sumbangsih pengetahuan dan sharing pengalaman dari Muhammadiyah Bima untuk para aktivis di berbagai daerah. Karena setiap daerah memiliki cerita yang unik dan kearifan lokal yang tidak akan dijumpai di daerah lain. Di samping itu, buku ini diharapkan dapat memotivasi PDM-PDM lain untuk dapat mendokumentasikan sejarah dan spirit perjuangan mereka menjadi sebuah buku (atau apapun bentuknya) untuk dibaca oleh generasi Muhammadiyah mendatang, sehingga para penerus gerakan ini tidak melupakan sejarah.

Ridho Al-Hamdi
Pengurus Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR)
PP Muhammadiyah 2010-2015

14.59

LSB-CSPP Adakan Diskusi Keislaman dan Pelatihan Kewirausahaan Bagi Aktivis Gerakan Laskar Islam

Yogyakarta – Pada tanggal 13-18 Desember 2010 Lembaga Sangga Buana (LSB) bekerjasama dengan Center for Social and Public Policy (CSPP) mengadakan sebuah acara bertajuk Diskusi Keislaman dan Pelatihan Kewirausahaan bagi para aktivis pemuda dan laskar Islam Se-DIY dan sekitarnya. Para peserta kegiatan ini terdiri dari ormas-ormas Islam dan aktivis masjid seperti, Masjid Az-Zahri, Tariqot Qodariyah wa Naqsabandiyah, Badko TPA Kota Yogyakarta, risma Masjid Al-Mustaghfirin, Majelis Attawabbin, risma Masjid Mu’adz bin Jabal, risma Kokam Prambanan, Forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta (FSRMY), Jamaah Tabligh, dan lain sebagainya. Acara ini berlangsung di Balai Diklat Perindustrian dan Perdagangan Jl. Gedong Kuning No. 140 B Yogyakarta.

Kegiatan ini diadakan selama enam hari. Diharapkan, dari pelatihan ini dapat menghasilkan enterpreneur-enterpreneur muda yang profesional sehingga dapat menambah lapangan pekerjaan di masyarakat. Materi yang diberikan antara lain, seperti gerakan Islam dan kemandirian ekonomi umat, umat Islam dan perkembangan teknologi multimedia, budaya dan karakter sosial masyarakat, model gerakan Islam, jihad, dakwah, dan ahlul kitab, serta praktek berwirausaha semisal budidaya cacing dan jamur (tiram dan kuping). Para pembicara yang hadir antara lain seperti Amir Panzuri (APIKRI), Triyono, Bambang Karsono, Mohammad Shofan, Francis Wahono, Sarjudi, HS Amnoto, dan Dian Nafi. (rah)