11.08

Wow, Aku Bisa Menulis

Kebiasaaan: Cerita Jordan, Andrea, Sheila on 7
Judul di atas setahu saya ditulis pertama kali oleh Hernowo, seorang motivator, penulis ternama Indonesia, serta CEO Mizan Bandung. Judul tulisannya itu pula yang kemudian dijadikan judul buku yang pernah diterbitkan oleh PIP PP IRM Periode 2004-2006 dimana tulisan Hernowo menjadi kata pengantar buku tersebut. Karena itu, berikut ini cuplikan cerita Hernowo tentang Michael Jordan (2007: 9).
Suatu ketika, setelah mencetak pretasi besar dalam sejarah hidupnya sebagai pemain basket, Michael Jordan ditanya oleh seorang wartawan televisi.
“Apa yang membuat Anda mampu menyelesaikan bola hingga mendekati angka 50 poin?”
“Keinginan,” jawab Jordan sembari mata tajamnya menata mata sang wartawan.
“Saya memang mempunyai keinginan untuk mencetak angka yang banyak dalam setiap pertandingan,” lanjutnya.

Keinginan? Apakah hanya keinginan yang mampu memotivasi Jordan untuk berprestasi dalam setiap pertandingan basketnya? Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, coba kita lihat teori Stephen R. Covey. Dalam bukunya yang cukup menjadi referensi berbagai kalangan, The Seven Habits, Covey menjelaskan tentang apa yang disebut dengan “habit” atau kebiasaan. Menurutnya, kebiasaan merupakan titik pertemuan antara pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill), dan keinginan (desire).

Ketiga lingkaran itu dipertemukan jadi satu dan di tengah-tengah pertemuan itu diberi arsir dan terciptalah apa yang disebut sebagai KEBIASAAN. Covey mengatakan, Pengetahuan adalah paradigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Ketrampilan adalah bagaimana melakukannya. Dan keinginan adalah motivasi (keinginan untuk melakukan). Agar sesuatu bisa menjadi kebiasaan dalam hidup, kita harus mempunyai ketiga unsur tersebut.

Kita kembali ke Jordan. Dia merupakan atlet terbaik yang pernah dilahirkan oleh NBA dan dikenal memiliki ketrampilan sangat tinggi dalam bermain basket. Bahkan nama Jordan sempat disemati dengan sebuah istilah yang hanya dimiliki oleh pesawat terbang: Air Jordan. Dalam sebuah film, Space Jam, Jordan sempat digambarkan sebagai pemain basket yang tidak punya lawan tanding di bumi ini sehingga harus dicarikan lawannya dari planet lain.

Hernowo meyakini, pengetahuan Jordan tentang bola basket juga tak kalah hebat dari ketrampilannya memainkan bola basket itu sendiri. Jordan adalah teladan kedisiplinan, tak kenal kata menyerah, dan pekerja keras dalam meraih sebuah hasil. Lalu, bagaimana dengan keinginan Jordan dalam meraih prestasi tinggi ketika bermain basket? Inilah yang menurut Hernowo menjadi salah satu aspek penting yang dimiliki Jordan. Jarang ada seorang atlet berprestasi yang mengeluarkan pernyataan seperti Jordan. Sebagaimana ditulis oleh Hernowo, yang menjadi pendorong kuat meraih prestasi adalah keinginan. Sekalipun Jordan memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang hebat, tetapi tidak memiliki keinginan yang tinggi untuk berprestasi, apa jadinya? Mungkin Jordan tak akan bisa seperti sekarang jika dia tidak memiliki keinginan. Keinginan – meski sulit diprediski bagaimana kita mendapatkan, memilikinya, dan caranya supaya kita punya keinginan – merupakan unsur pembeda yang sangat penting apakah orang hebat satu dengan orang hebat yang lain dapat meraih sukses.

Kita juga tentu mengenal Andrea Hirata, peraih beasiswa pendidikan ke Eropa, yang menjadi tokoh muda inspiratif disebabkan novel dahsyatnya Laskar Pelangi beserta satu paket tetraloginya yang sempat menyihir jutaan pembaca dan penggemar setianya di tanah air, bahkan hingga mancanegara. Kita bisa memahami, bahwa masih banyak orang yang lebih pintar dan memiliki ketrampilan dahsyat dibandingkan seorang Andrea. Yang membedakan Andrea dan orang-orang hebat itu adalah bahwa Andrea memiliki keinginan yang kuat akan mimpinya yang sudah ditancapkan di dadanya sejak dia kecil.

Bagi kita yang pernah mengalami perkembangan belantika musik era jelang tahun 2000, Sheila on 7 pernah berjaya saat itu dengan tembang-tembang popnya yang mampu menjadi magnet bagi kaum muda di masanya. Ketika saya pernah mewawancarainya untuk sebuah media sekolah, ada satu hal yang masih saya ingat, yaitu pertanyaan yang pernah saya ajukan kepada band asal Jogja itu. Saat itu saya bertanya, apa rahasia di balik kesuksesan band kalian yang mampu menciptakan lagu-lagu monumental? Kelima anggota yang saat itu digawangi oleh Duta, Eros, Adam, Anton, dan Sakti menjawab tanpa ada perbedaan: Latihan dan kerja keras. Saya bisa menyimpulkan, bahwa latihan dan kerja keras tidak mungkin tercipta tanpa kebiasaan yang dilakukan oleh kelima personilnya. Kedisipilinan menjadi salah satu kunci yang harus ditanamkan dalam diri kita.

Mengapa Kok Kita Menulis?
Pertanyaan ini menjadi sangat mendasar bagi siapapun yang ingin memulai atau tidak sama sekali tertarik dengan dunia tulis-menulis. Kita akan memulai dari pernyataan, bahwa manusia hidup butuh eksistensi dan pengakuan dari orang lain. Banyak orang yang ketika hidupnya dikenang, dipuja, bahkan diagung-agungkan oleh kebanyakan manusia yang lain. Namun, setelah beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan, dan beberapa tahun kemudian, dia dilupakan begitu saja. Sebaliknya, ada orang yang namanya tetap dikenang meskipun sudah puluhan tahun bahkan ratusan dan ribuan tahun orang itu meninggal. Apa yang membuat nama orang itu selalu abadi?
Jawabannya tidak lain adalah karya orang itu selama hidup bagi manusia yang ditinggalkannya. Kita tentu mengenal tiga filsuf ternama asal Yunani yang hidup Sebelum Masehi (SM): Socrates, Plato, dan Aristoteles. Juga dengan empat imam madzhab yang masyhur di kalangan umat Islam: Imam Maliki, Imam Hanbali, Imam Hanafi, dan Imam Syafii. Begitu juga dengan ilmuwan Islam lain seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, Imam Ghazali, Ibnu Rusyd, Al-Kindi, Al-Farabi, serta kalangan intelektual Islam kontemporer seperti Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Mohammad Abduh, Fazlur Rahman, Yusuf Qardhawi, dan lain sebagainya. Di kalangan ilmuwan psikologi ada Sigmund Frued, di kalangan sosiologi ada Aguste Comte dan Max Weber, serta di kalangan ilmuwan ekonomi Adam Smith. Tak lupa kita juga mengenal Galileo, Newton, dan Albert Einstein. Selain itu, kita juga mengenal tokoh revolusioner seperti Karl Marx yang berkat karyanya Das Capital mampu memberikan inspirasi perubahan bagi orang-orang besar dunia seperti Soekarno, Lenin, Stalin, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Mereka yang kita sebutkan namanya tak lain karena memiliki karya.

Untuk berkarya pun tak mengenal usia, bahkan sekalipun usia mereka lebih singkat dari yang lainnya, namun nama mereka berpuluh-puluh tahun tetap menjadi inspirasi bagi jutaan pembacanya. Kita ingat dengan Anne Frank yang terkenal dengan buku hariannya yang diberi judul The Diary of Anne Frank dan telah diterjemahkan lebih dari 60 bahasa di dunia, Ahmad Wahib dengan bukunya Pergolakan Pemikiran Islam, dan Soe Hok Gie dengan Catatan Seorang Demonstran. Sekalipun usia mereka tidak lebih dari 30 tahun, bahkan masih belasan tahun, namun nama mereka menjadi inspirator jutaan umat maunisa. Karenanya, banyak karya yang sama sekali tidak dilirik orang ketika penulisnya masih hidup, tetapi menjadi perburuan banyak orang setelah puluhan atau ratusan tahun penulisnya meninggal. Karenanya, tak heran jika Milan Kundera berujar, “Novel yang hidup ketika pengarangnya mati.” Persis ucapan Tan Malaka: “Suaraku akan lebih nyaring dari dalam kuburan.” Atau rintihan Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Itulah yang menyebabkan hampir setiap orang ternama pasti selalu memiliki tulisan atau karya.

Di lain hal, kita tidak bisa mengenal siapa nama-nama presiden di negara-negara terkenal di dunia ini karena mereka tidak memiliki karya atau pernah menulis buku. Karena itulah Erwin Gruwell, sebagaimana dikisahkan dalam film Freedom Writers, menekankan pada murid-muridnya untuk menulis apa yang selama ini pernah mereka rasakan. Miss G (sebutan murid-muridnya pada guru tercintanya itu) dengan keras mengatakan, mengapa kita hidup harus saling caci-maki, membatasi segalanya secara fisik, serta saling bunuh-membunuh. Apa kita akan dikenang orang setelah kita mati demi membela teman segeng kita? Pertanyaan berupa pernyataan itu menyentak para muridnya sehingga para muridnya memiliki kesadaran untuk tak saling bunuh di antara mereka dan mulai menumpahkan pengalaman-pengalaman mereka ke dalam sebuah tulisan. Dengan adanya tulisan itu, mereka ingin mengatakan bahwa: Kita pernah ada.
Dari sini kita dapat mengerti mengapa menulis itu menjadi bagian dari pilihan hidup. Kita ingat dengan ungkapan bahasa Arab: Khoirunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia yang lainnya). Menulis dan mengungkap fakta adalah salah satu cara kita bahwa kita adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, menulis bukanlah paksaan tapi kebiasaan yang harus kita tanamkan untuk kebaikan orang lain.

Cara Memulai Menulis
Ada banyak cara bagi kita untuk memulai membiasakan menulis. Namun, cara termudah adalah memulai menulis berdasarkan pengalaman. Jika kita menulis tentang kejadian-kejadian yang pernah kita alami, seolah tangan terasa ekspresif dan memiliki kebebasan mutlak dalam menuangkan kata-kata. Hal ini pun yang pernah saya rasakan. Jujur, saya adalah tipe seorang penulis yang susah dipaksa untuk menulis topic tertentu, apalagi harus merespon fenomena baru yang datang silih berganti. Inilah yang menyebabkan saya mungkin tidak selalu muncul di media massa. But, itulah penulis. Masing-masing memiliki perbedaannya.

Menulis diary atau catatan harian adalah cara termudah bagi kita untuk mulai membiasakan menulis. Dengan menulis catatan harian, kita tidak merasa terbebani atau tiba-tiba kita tidak mendapatkan inspirasi. Dengan menulis catatan harian, kita sekadar menuangkan apa yang telah kita alami. Banyak hal yang unik yang tentu kita alami dalam hidup ini, mulai dari mimpi kita yang aneh-aneh, curhat kita dengan teman dekat, kegilaan dan kegokilan teman-teman di komunitas kita, serta kejadian-kejadian lucu dan unik di sekitar kita. Mungkin kita merasa senang dengan kejadian-kejadian itu, tapi alangkah lebih menariknya jika kejadian-kejadian unik itu kita tumpahkan ke dalam tulisan. Soalnya, beberapa hari kemudian kejadian itu susah untuk kita ingat kembali.

Selain itu juga, mungkin tiba-tiba muncul ide di kepala kita saat kita sedang melamun di kamar, nongkrong di WC, atau saat sedang duduk di bis atau di kereta karena perjalanan yang sangat panjang. Bahkan, saya terkadang mendapatkan ide di tengah-tengah sedang dalam keadaan sholat. Saya juga kurang tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Itulah ide, muncul tanpa disangka-sangka dari arah yang tidak bisa ditebak. Jika ide-ide cemerlang itu tidak kita tuangkan, amat sangat disayangkan jika pada akhirnya hilang ditelan oleh sifat pelupa kita.

Dalam hal penuangan ide, meminjam tulisan yang ada di buku Wow, Aku Bisa Menulis (2007: 32-33), saya sering mengalami hal-hal yang ajaib begitu mulai menekan tombol-tombol huruf di keyboard notebook atau laptop. Saya seolah melancarkan ketikan saya secara bebas seperti seorang yang sedang berselancar di atas laut. Bebas, mengalir, dan cepat tersaji. Pada akhirnya, saya merasakan betapa ada sesuatu muncul dan membentuk kalimat tersendiri seperti “jaringan”. Di dalam jaringan itu ada semacam kabel yang dengan cepat saling terjulur dan saling berhubungan antara satu kabel dengan kabel yang lainnya. Di kepala saya langsung terjadi hubungan dahsyat antara pengalaman yang satu dengan pengalaman yang lainnya. Mengalir cepat dan deras hingga tak terasa tulisan telah banyak. Kalau sudah begini, menulis menjadi sangat asyik dan menyenangkan.

Hampir mayoritas penulis buku-buku bestseller karyanya terinspirasi oleh kisah nyata, bahkan kisah pribadi sang penulis. Nizami dengan Laila Majnun, Pramoedya Ananta Toer dengan tetralogi Bumi Manusia, Hilman W. dengan Lupus, Moammar Emka dengan Jakarta Undercover, Iip Wijayanto dengan Sex in the Kos, Muhidin M. Dahlan dengan Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur, Habiburrahman El Shirazy dengan Ayat-ayat Cinta, Abidah El Khalieqy dengan Perempuan Berkalung Sorban, Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi, Ahmad Fuadi dengan Negeri 5 Menara, Raditya Dika dengan Kambing Jantan dan lain sebagainya.

Mereka semua memiliki karakter tersendiri dalam menulis dan membawakan alur ceritanya. Karenanya, janganlah kita meremehkan pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami. Sumber inspirasi yang paling terdahsyat di dalam hidup ini adalah pengalaman itu sendiri. Amat disayangkan jika kita melewatkan pengalaman kita dengan begitu saja. Banyak hal yang berharga dari dalam diri kita untuk berbagi pada orang lain yang terkadang kita tidak memahaminya.

Membaca untuk Meledakkan Ide
Ada banyak alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas membaca. Bisa jadi karena dia sudah tertarik dengan judul buku itu sebelumnya, sehingga dia beli ke toko buku dan langsung melibas habis. Ada juga untuk mengisi kekosongan waktu, seperti membawa komik atau bacaan ringan saat pergi ke luar kota karena butuh waktu panjang di perjalanan. Daripada duduk bengong, mending baca buku. Atau bisa jadi membaca buku karena sebuah tuntutan seperti membaca buku-buku teks kuliah. Mau tidak mau kita harus membacanya karena untuk tugas kuliah dan harus dipresentasikan di kelas. Namun, bagaimanapun juga, membaca adalah aktivitas pilihan. Tidak ada paksaan bagi seseorang untuk memaksa kita untuk membaca.

Namun, ada hal yang perlu diingat, bahwa membaca akan memudahkan kita untuk berpikir terbuka. Secara tiba-tiba, bacaan bisa menginspirasi tindakan kita untuk melakukan sesuatu. Selain itu, perbendaharaan kata menjadi semakin kaya, sehingga ketika kita menulis tidak kesusahan dalam memilih diksi atau pilihan kata. Rangkaian tulisan menjadi lebih menarik dibaca orang. Di sinilah apa yang disebut “rasa bahasa” akan terasa dengan sendirinya. Karena itu, mulailah membaca apa saja yang paling kita sukai. Janganlah membatasi bacaan, sehingga membuat diri kita tertutup dengan sebuah keniscayaan dan perbedaan yang merupakan bagian dari rahmat Allah.

Membaca itu ibarat kita makan. Jika kita banyak membaca, keinginan atau permintaan dari dalam diri untuk memuntahkan tulisan itu akan muncul dengan sendirinya. Ide-ide yang bagaikan jejaring itu dengan sendirinya akan mengarahkan pikiran kita untuk memunculkan ide baru lagi. Karena itulah, membaca merupakan bom waktu yang cukup spektakuler bagi para penulis. So, mulailah sejak sekarang untuk mengatakan: WOW, AKU BISA MENULIS!

Ditulis dan disampaikan dalam Pelatihan "Calon Peneliti Muda" yang diadakan oleh IMM Cabang Jember, 23 April 2011 di Unmuh Jember, Jawa Timur.

0 komentar: