13.29

600 Tahun Pelayaran Laksamana Cheng Ho


Panglima angktan laut ini telah lebih dulu menjelajahi Samudra Pasifik dan Hindia hampir seabad sebelum Columbus menemukan Amerika.


Ekspedisi Laksamana Cheng Ho telah tercatat dalam tinta emas sejarah. Pelayaran armadanya ke berbagai daerah itu memiliki aspek sebagai perekat hubungan antarmasyarakat dan budaya. Tak ayal, jika hingga saat ini banyak kajian yang membahas dan mengupas tuntas tentang sosok kharismatik ini beserta makna pelayarannya, termasuk dalam tulisan ini.

Menurut sejarah Dinasti Ming (Ming Shi) Cheng Ho lahir pada tahun 1371 M di Desa He Dai, Kabupaten Kunyang, Provinsi Yunan, Barat Daya Cina. Keluarganya bermarga Ma, dari suku Hui yang mayoritas beragama Islam.

Ma Hei merupakan nama kecil Cheng Ho, tapi dia memiliki nama lain, yakni Sam Po (Sam Poo atau San Po) dalam dialek Fujian atau San Bo dalam dialek bahasa nasional Tiongkok (Mandarin). Dia anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Ma Hadzi, sedangkan ibunya bernama Wen. Keluarga ini mengaut agama Islam.

Ayah Cheng Ho adalah seorang pelaut dan Muslim taat. Tercatat dia pernah menunaikan ibadah haji, begitu juga dengan kakek dan buyutnya. Sampai saat ini keluarga besar Ma atau Cheng merupakan penganut Islam yang taat.

Sejak kecil Cheng Ho sering mendengar cerita ayahnya tentang perjalanan naik haji dengan kapal layar selama berminggu-minggu. Banyak rintangan yang dihadapi, seperti hujan badai, iklim yang berbeda-beda dari waktu ke waktu serta keanekaragaman adat istiadat. Ia terpesona juga oleh kisah-kisah perjalanan ke Barat yang dibawa kakek dan ayahnya ketika berhaji ke Makkah. Sejarah mencatat, pengalaman sang ayah ini memberikan pengaruh besar bagi perjalanan hidup Cheng Ho.

Sejumlah sumber menyebutkan, sejak kecil Cheng Ho fasih berbahasa Arab dan Cina. Ketika umur 12 tahun, Yunan yang kala itu di bawah kekuasaan Dinasti Yuan berhasil direbut oleh Dinasti Ming. Para pemudanya ditawan, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim/ pelayan istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang direkrut secara paksa untuk mengabdi kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (kini Beijing).

Pada masa itu, kedudukan kasim pada umumnya tidak begitu disukai dan tidak dihargai oleh masyarakat Tiongkok. Tetapi, Cheng Ho mampu merubahnya. Ia selalu menyempatkan diri untuk membaca berbagai literatur dan ikut bertempur dalam peperangan antara pihak Zhu Di dan penguasa pusat Dinasti Ming. Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak gagah melawan musuh-musuhnya hingga akhirnya tahta kaisar berhasil direbut Zhu Di. Sebagai penghargaan, Cheng Ho diangkat sebagai kepala kasim intern.

Ketika kaisar merencanakan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuahn Dinasti Mongol (1368 M), tanpa ragu-ragu Cheng Ho mengajukan diri untuk memimpin ekspedisi ke berbagai penjuru negeri itu. Kaisar terkejut sekaligus terharu mendengar permintaan itu lantaran risiko besar yang akan dihadapi.

Maka, misi akbar itu dimulai pada bulan Juli 1405 M. Cheng Ho resmi menjadi laksamana. Laksamana adalah gelar untuk seseorang sebagai panglima angkatan laut. Perjalanannya pun dimulai. Namun, sebelum berangkat para rombongan menunaikan shalat terlebih dahulu di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian).

Perlayaran pertamanya terdiri dari 27.870 orang yang diangkut dengan 317 kapal. Orang yang dibawanya adalah pelaut, pegawai sipil, penerjemah, seniman, tentara, petugas kesehatan, dan ahli cuaca.

Kapal pusaka yang ditumpangi Cheng Ho merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya 138 m (44,4 zhang) dan lebar 56 m (18 zhang). Kapal itu diduga berkapsitas 2.500 ton dengan desain bagus dan dilengkapi teknologi mutakhir (pada masa itu) seperti kompas magnetik.

Ekspedisi pertama menyinggahi wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera dan Jawa). Ketika berkunjung ke Samudera Pasai ia menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Tempat kunjungan di Sumatera adalah Palembang dan Bangka. Kemudian singgah ke Tanjung Priok dan Cirebon melalui jalur Laut Jawa.

Saat sedang menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) sakit keras. Mereka mendarat di pantai Simongan, Semarang, dan tinggal sementara. Tetapi, Wang akhinya menetap dan menjadi cikal bakal warga Tionghoa di sana. Wang, yang kini dikenal sebagai Kyai Jurumudi Dampo Awang, juga mengabdikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awing Sam Po Kong) dan membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.

Persinggahan selanjutnya adalah Tuban dan Gresik. Di dua daerah ini Cheng Ho mengajarkan tata cara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan. Berlanjut ke Surabaya, bertepatan dengan hari Jum’at, maka Cheng Ho menyampaikan khutbah di hadapan para warga di sana.

Ekspedisi kedua dan ketiga berhasil menjangkau India dan Srilanka. Berikutnya menjelajah Timur Tengah dan mencapai pantai paling timur Benua Afrika. Ekspedisi terakhir berhasil mencapai Laut Merah.

Konon, satu kapal besar armada Cheng Ho bisa mengangkut penumpang yang ada di tiga kapal pimpinan Colombus saat menyeberangi Atlantik setelah 87 tahun kemudian. Nama ketiga kapal itu adalah Nina, Pinta, dan Santa Maria. Sungguh suatu inovasi dunia maritim/ pelayaran laut pada saat itu. Waktu itu, kapal Cheng Ho sudah memiliki kompartemen kedap air yang baru muncul di kapal Eropa ratusan tahun kemudian. Itu semacam alat agar air laut tidak bisa masuk ke kapal. Hebat kan.

Sepanjang melaut, Cheng Ho menjadi niagawan/ pedagang sukses lintas samudera yang pertama. Ia mempersembahkan hadiah, yaitu: sutra, porselen, perhiasan emas dan perak dari kaisar kepada para pemimpin di pelabuhan asing dan membawa barang-barang dari mancanegara seperti karet dan seekor Jerapah.

Oleh sebagian orang Cheng Ho dianggap sebagai tokoh yang tak disukai sebelum ia menuntaskan perjalanan terakhirnya. Sebagian besar catatan sejarahnya pun dihancurkan. Meski begitu, penguasa melindungi rumah keluarga Cheng Ho di Nanjing, tapi rumah itu sering kali ditutup. Kamar-kamarnya digunakan untuk menyimpan barang-barang peninggalan masa lampau.

Pada tahun 1430 M, enam tahun setelah kaisar mangkat/ meninggal, Cheng Ho mengakhiri ekspedisinya pada usia yang ke-60. Dalam perjalanan pulang, ia meninggal ketika armadanya mencapai India tahun 1433 M. Potret pejuang yang meninggal dalam perjalanan

Pada bagian terakhir dari abad ke-15, kaisar baru tak lagi mendukung pelayaran jarak jauh itu. Alasannya karena biaya besar dan ketentuan agama yang mereka anut mengajarkan, tidak ada sesuatu yang bisa dipelajari dari dunia luar. Akhirnya negara itu memasuki periode isolasi hingga abad ke-20, yang memungkinkan kekuatan Eropa menguasai samudera.

Sebagai seorang muslim, Laksamana Cheng Ho juga tak melupakan kemakmuran masjid. Pada tahun 1413 M ia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Di tahun 1430 M memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar.

Bagi para pejabat Cina, berakhirnya ambisi maritim Cina secara tiba-tiba 600 tahun yang lalu menjadi isyarat lain, yaitu Cina adalah raksasa lembut dengan niat baik yang abadi. Beberapa pakar ada yang menganggap Cheng Ho memperlakukan orang asing sebagai barbar/ tidak beradab dan sebagian negara asing dianggapnya sebagai negara jajahan. Kendai begitu, nama Cheng Ho punya gaung di Asia.

Ada sebuah teori yang sejauh ini belum terbukti, bahwa salah satu kapal Cheng Ho karam di batu karang dekat Pulau Lamu. Lokasi itu di lepas pantai kawasan yang kini bernama Kenya. Saat itu, orang-orang yang selamat berenang ke pantai, lalu menikahi warga setempat dan menjadi nenek moyang Cina-Afrika.

Selama 28 tahun Cheng Ho telah memimpin armada raksasa untuk mengunjungi lebih dari 30 negara. Di setiap negari yang disinggahi, dia merajut persahabatan dan perdamaian lewat seni, budaya, dan pendidikan. Selain itu dia juga menanamkan nilai-nilai toleransi beragama.

Kini, pada bulan Agustus 2005, untuk memperingati ulang tahun Cheng Ho yang ke-600 pemerintah setempat membangun replica kapal Cheng Ho, dan sebuah museum baru senilai 475 milyar di Nanjing. Semua itu untuk mempromosikan Cheng Ho sebagai duta budaya bahari yang perkasa bagi bangsa yang kuat tapi menginginkan perdamaian. Perayaan itu juga diperingati di Semarang.

Yogyakarta, 10 Desember 2007

0 komentar: